Demi keluarganya dia rela menanggalkan gelar yang diraihnya hingga dia larut dalam statusnya sebagai ibu rumah tangga dengan segala kesibukan mengurus rumah dan dua anak balitanya.
Sampai pada akhirnya pengkhianatan suami dan hinaan yang tiada henti dari mertuanya menyadarkan dia untuk bangkit dan merubah dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon thatya0316, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Meminta restu
Sepulang dari acara nikahan Rama dan Tania, Senyum terus mengembang dari kedua sudut bibir Gilang. Hatinya merasa senang karena harapannya untuk memiliki janda dua anak sebentar lagi akan terwujud. Dia terus memacu mobilnya merasa tidak sabar untuk segera sampai ke rumahnya.
Mobil pun terparkir dengan rapi di garasi rumah Gilang. Setelah anak-anak turun dari mobilnya, Gilang segera membangunkan Amanda yang tertidur selama perjalanan. Perlahan Gilang mendekat ke arah Amanda. Tangannya terulur mengelus pipi Amanda dengan lembut.
Merasa ada yang menyentuh pipinya, Amanda pun perlahan membuka matanya. Dia sedikit terkaget saat mendapati Gilang tepat berada di depan wajahnya. Ibu dua anak itu pun langsung tersenyum canggung pada lelaki yang sudah melamarnya.
"A, terlalu dekat," ucap Amanda dengan malu-malu.
"Manda, kenapa malu? Bukankah sebentar lagi kita juga menikah seperti Rama dan Tania?" tanya Gilang dengan menatap lekat wajah Amanda.
"A, apa Aa serius? Bagaimana dengan orang tua A Gilang? Apa mereka pasti akan menyetujui hubungan kita? Jujur, aku khawatir keluarga A Gilang menentang hubungan kita karena aku hanya orang biasa." Amanda menundukkan kepalanya. Namun, Gilang segera mengangkat dagunya agar Amanda melihat ke arahnya.
"Lihat, mataku Manda! Orang tuaku pasti akan menyetujui hubungan kita. Kalau kamu tidak keberatan, minggu depan kita berkunjung ke rumah orang tuaku." Gilang semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Amanda. Sampai hembusan napas keduanya terasa hangat menerpa kulit. Semakin dekat, semakin dekat hingga akhirnya pagutan lembut itu tidak dapat dielakkan lagi.
Gilang semakin memperdalam pagutannya. Dia pun menahan tengkuk Amanda dengan tangan kanannya. Setelah dirasa keduanya merasa puas, barulah Gilang melepaskan pagutannya. Gilang mengelus bibir Amanda dengan tangannya untuk membersihkan sisa saliva
"Ayo turun! Anak-anak pasti sudah menunggu," ajak Gilang.
Amanda pun hanya mengikuti apa yang Gilang katakan. Setelah merapikan sedikit dandanannya, Amanda pun bergegas keluar dari mobil. Dia terus mengikuti langkah kaki Gilang sampai akhirnya tanpa sengaja dia menabrak tubuh tegap duda beranak satu itu.
"Ibu, kapan datang?" tanya Gilang yang mendadak berhenti karena melihat ibunya ada di ruang tamu.
"Sudah ada satu jam, tadi ibu habis ke acara nikahannya Rama. Tapi ternyata ibu hanya melihat ada orang yang sedang melamar. Anak nakal, kenapa kamu tidak memperkenalkannya pada ibu." Bu Rianti hendak bangun dan ingin menjewer kuping putra sulung. Namun, Gilang segera berlindung di balik tubuh Amanda.
"Manda, bilang sama Ibu, kalau kita akan berkunjung ke rumahnya. Dia saja terlalu cepat datang ke mari," ucap Gilang.
Amanda hanya tersenyum dengan apa yang dilakukan oleh Gilang. Dia tidak menyangka, seorang CEO dari perusahaan besar masih suka kena jeweran dari ibunya. "Ibu, kami minta maaf karena belum meminta restu pada Ibu."
Bu Rianti mendekat hendak memeluk Amanda. Dia sebenarnya senang melihat putranya suka bisa membuka hati hati lagi. Namun, sepertinya Langit yang baru datang menjadi salah paham saat melihat neneknya mendekati Amanda. Apalagi di belakang Amanda terlihat papanya yang sedang berlindung.
"Nenek, jangan ganggu bunda! Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakiti Bunda." Langit langsung merentangkan tangannya di depan Amanda.
"Langit, kenapa kamu mudah sekali dipengaruhi oleh papamu? Nenek, hanya ingin menyapa calon menantu nenek." Bu Rianti langsung menyingkirkan tangan Langit dan mendekat ke arah Amanda.
"Maaf Bu! Langit, Bunda baik-baik saja. Tolong jaga Azka ya Nak!" pinta Amanda.
"Ibu senang kalau kamu bersedia menjadi istri putra ibu yang kaku ini. Kamu jangan sungkan pada Ibu. Kapan-kapan menginap di rumah ibu bersama anak-anak," ucap Bu Rianti setelah dia duduk bersama dengan Amanda.
"Terima kasih, Bu! Sudah menerima Manda. Insya Allah kapan-kapan Manda berkunjung ke rumah ibu," ucap Amanda dengan tersenyum tulus.
Sepertinya dia perempuan yang baik. Sampai Langit dan Gilang mudah menerimanya. Aku harus mendesak mereka berdua agar segera menghalalkan hubungannya. Awas saja kalau ada yang berusaha ingin memisahkannya, batin Bu Rianti.
...***...
Sementara di lain tempat, terlihat Apandi sudah mabuk di dalam sebuah tempat karaoke. Dia bersama dengan seorang gadis cantik yang menemaninya sebagai pemandu lagu. Apandi yang setengah sadar menganggap gadis itu sebagai mantan istrinya.
"Manda, aku tidak ikhlas kamu bersama lelaki lain. Kenapa kamu tidak ingin rujuk denganku?" tanya Apandi.
"Aku bukan tidak mau, Mas. Hanya saja Mas pelit sama aku," jawab gadis pemandu lagu yang bernama Ina.
"Aku pelit sama kamu? Kamu ingin uang berapa?Pasti aku kasih." Apandi langsung mengeluarkan uang yang ada di dalam dompetnya dan memberikan semua pada pada gadis itu.
Setelah mendapatkan uang dari Apandi, gadis itu langsung mencari KTP Apandi dan menuliskan pada sebuah kertas. Setelah semua beres, dia kembali menemui Apandi yang sudah tergeletak di atas sofa.
"Makasih ya uang tipsnya yang lumayan banyak. Sekarang lebih baik kamu pulang menemui istrimu karena aku akan melayani pelanggan lain." Baru saja Ina selesai bicara, Apandi langsung menarik tangan gadis itu hingga kini dia berada di bawah kungkungan dia. Apandi langsung mencium gadis itu dengan kasar lalu berpindah pada leher dan meninggalkan beberapa tanda cinta di sekitar leher. Apandi terus mencumbu gadis itu hingga akhirnya gadis itu tersadar. Saat Apandi ingin menjebol gawang pertahanan seorang gadis muda yang memang sudah terbiasa melayani pelanggan karaoke tapi dia tidak pernah sampai menyerahkan mahkotanya.
Plak
Satu tamparan sukses mendarat di pipi Apandi. Namun, bukannya sadar, Apandi yang sudah dikuasai oleh napsu binatang langsung mengobrak-abrik gawang pertahanan gadis pemandu karaoke itu. Suara jeritan kesakitan gadis itu terdengar seperti sebuah simfoni di telinga Apandi sehingga dia terus melanjutkan aksinya sampai mendapatkan pelepasan.
"Makasih Manda, tapi kenapa kamu masih sempit?" Apandi membetulkan kembali celananya lalu dia berlalu pergi meninggalkan gadis malang itu.
Apandi terus berjalan sempoyongan pergi meninggalkan tempat karaoke itu. Saat sampai ke rumah, Citra sudah menunggunya sedari tadi. Dia langsung menghampiri suaminya yang terlihat berjalan sempoyongan.
"Mas, dari mana kamu? Kenapa jam segini baru pulang? Aku menunggu kamu dari tadi, mana uang untuk aku pergi ke salon. Katanya mau ngambil ke ATM." Citra langsung memberondong suaminya yang baru datang.
"Yang kamu pikirkan hanya uang uang dan uang saja. Aku ingin tidur mengantuk," Apandi langsung menyingkirkan Citra yang menghalangi.
"Kamu mabuk, Mas? Ini apa, kamu habis bermain wanita?" tanya Citra saat mencium bau alkohol dari tubuh suaminya.
Apandi terus melangkah menuju ke kamarnya. Dia tidak peduli dengan apa yang Citra katakan. Baginya, dia merasa puas karena sudah mendapatkan kepuasan menikmati tubuh yang dia anggap sebagai mantan istrinya.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...