Adli Aplosso suami dari Almara memutuskan menikah lagi karena nyaris lima tahun pernikahan mereka tidak dikaruniakan anak.
Saat frustrasi tidak disentuh lebih dari tiga bulan oleh suaminya sendiri yang sibuk dengan istri keduanya Alma tidak sengaja memiliki hubungan skandal dengan sepupu suaminya.
Sean Aplosso, yang selalu menganggap dirinya sebagai pemerkosa karena sudah menodai Alma.
Seharusnya itu menjadi hal yang buruk. Saat Sean menawarkan penjara, hukum, polisi dan jaksa kepada Alma, agar Sean dipenjara, Alma menolak karena berpikir ini bukan salah Sean, tapi kesalahan di kedua pihak jadi saya tidak perlu menjebloskan diri sendiri ke penjara. Alma tidak mau berurusan dengan hukum apalagi suaminya. Toh tak ada bayi yang akan dikandung karena dia mandul.
Tapi saat terbukti sebagai perempuan sempurna yang tidak mandul, Alma ternyata hamil. Dan Sean memaksa untuk bertanggungjawab untuk menikahi Alma, suami dari Alma dan Ayah dari bayi itu. Meskipun Sean akan menjadi Ayah dan Suami dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33: Alma Butuh Suasana Baru?
Setelah kening Sean biru lelaki itu mengeluarkan diri dari air. Pakaian yang dia kenakan benar-benar basah kuyup, menciptakan setiap tetesan yang jatuh mengenai lantai. Sean diam sebentar, menyaksikan wajah masam tuannya Dex menelan ludah. Air mata Sean larut dalam air yang membasahi kepala dan tubuhnya. Bibirnya yang pucat bergetar, kedua tangannya sudah mengepal seerat mungkin.
"Sial," Sean memaki. "SIAL!" Teriakannya membahana. Langkah Sean mengentak, lalu memperodak-adik seluruh isi kamar mandi. Dex hanya bisa terperanjat melihat tuannya mendadak mengamuk. Teriakan Alma, tangisannya dan tatapan memelasnya saat terjebak di dua lengan Sean membuat Sean semakin merasa bersalah, rasa muaknya pada diri sendiri semakin meletup-letup.
Sean memukul kaca di kamar mandi yang langsung retak parah. Semua perabotan mandi dihamburkannya ke lantai atau dilemparnya ke dalam genangan air di dalam bathub. "Singkirkan bathub itu!" Sean berteriak murka. "SINGKIRKAN!" Dia menatap Dex tajam. Dex hanya bisa menelan ludah. Dia belum bergerak karena tidak mungkin kedua tangannya bisa mengangkat bathub sebesar itu dan membuangnya. Dex perlu bantuan orang-orang dewasa lain. Tapi mendapati Dex yang lelet, Sean mengerang. "SIALAN!"
"Keringkan juga kolam renang di bawah!" Sean berteriak sambil mengeluarkan diri dari ruangan. "Lalu timbun dengan apapun!" Mendengar raungan Sean, Dex hanya menelan ludah. Tak ada kata selain kepatuhan, sekalipun Dex saja tidak berani mengatakan iya.
Sean turun sambil mengeluarkan ponselnya, dihubunginya siapapun yang ada di keluarga Aplosso pusat. "Kudengar ada acara keluarga dua hari lagi, benar?"
Saat Sean bertanya yang ditanyai mengangguk. "Benar, Tuan Sean."
"Adli juga diundang?"
"Satu keluarga besar Aplosso semuanya diundang. Tapi sesuai permintaan Anda selama dua tahun belakangan sampai ke seterusnya menolak semua undangan jika ada acara besar keluarga Aplosso, lagi-lagi kami bersedia menerima absennya Anda—"
"Aku datang! Berikan satu surat undangan untukku agar nanti bisa masuk!"
Suara Sean cukup meninggi, yang diteriaki tentu saja tersentak kaget.
"Baik ...."
"Dan pastikan satu hal. Adli harus datang bersama istrinya. Bukan yang kedua, tapi kedua-duanya!"
Sekalipun heran yang diperintah hanya bisa mengangguk.
Sean mematikan sambungan. Napasnya sudah berantakan. Teringat Alma lagi, lelaki itu hanya bisa meringis. Sean ingin bertemu wanita itu, tapi di rumahnya tentu saja ada Adli. Sean tidak bisa leluasa. Apalagi Adli sendiri yang bilang, lelaki itu tidak boleh mampir jika ada Alma di dalam rumahnya.
>><<
Jangan-jangan Aldo itu benar-benar hanyalah ilusi?
Alma termenung, sampai sore dia menunggu Aldo datang. Tapi sosok yang sudah dianggapnya hantu itu tidak kunjung datang. Seakan benar, Aldo selama ini hanyalah halusinasi yang Alma buat sendiri karena tidak terima Aldo meninggalkannya. Nyaris malam, Adli pulang. Alma hanya merindukan Aldo muncul saat Adli tidak ada, tapi saat Adli pulang, pikiran Alma teralihkan.
Adli datang dalam keadaan sadar, tidak seperti tadi malam yang kacau-balau karena mabuk.
"Kenapa kamu terlihat sangat sedih?" Adli bertanya sambil menghadap wanita itu.
Alma tengah melonggarkan dasi yang menjerat leher Adli, menyingkirkan jasnya lalu melepaskan setiap kancing kemeja Adli hingga lelaki itu bertelanjang dada.
Saat Adli sampai di teras rumah, Yura yang menawarkan diri untuk melepas jas dan dasi Adli, tapi Adli menolak. Dia selalu berharap Alma yang melakukannya. Yura hanya bisa menelan pil pedih karena kecewa.
"Kamu kenapa, Alma?" Adli itu peka jika Alma tengah bersedih. Alma menatapnya lalu menggelengkan kepala dengan senyuman, "tidak ada apa-apa ...." Alma meletakkan jas dan kemeja Adli ke keranjang.
"Kamu kenapa, sih?" Adli menyusul dan menangkap punggung Alma dari belakang.
Alma hanya memberikan senyum, dan melonggarkan ikat pinggang Adli. Menariknya hingga lepas, hingga celana panjang Adli jatuh bebas ke lantai, menyisakan celana pendeknya.
"Kuambilkan pakaian ganti, ya?" Alma menjauh dan membuka lemari. Dipilihkannya pakaian yang pas untuk suaminya, Adli hanya bisa mematung dengan ******* napas lelah.
Alma baru saja hendak memakaikan kembali pakaian suaminya, Adli sudah menjerat leher Alma dari belakang. Adli seperti meredam kesal dengan memeluknya. Baginya Alma yang pendiam seperti ini begitu menyebalkan. "Kamu kenapa, sayang?" Kecupan Adli hangat di balik telinga Alma. Tubuh Alma membeku karena tidak nyaman.
"Kupakaikan dulu bajumu, Mas." Alma menyela bujukan suaminya.
"Dasar menyebalkan," Adli mendengus lalu mengalah. Kali ini Adli tidak banyak bicara ataupun membujuk, Alma sudah membalik tubuhnya. Memakaikan Adli celana panjangnya yang baru, kemeja dan jasnya. Alma sedikit menepuk bahunya, menepis debu lalu merapikan ke sekitarnya. Adli tidak tahan untuk tidak mengecup keningnya. Benar saja, kedua telapak tangan besar Adli membungkus kepalanya lalu meredamkan kecupan ke kening Alma. Alma diam, termasuk saat Adli sedikit menurunkan bibirnya dan mencium kulit kening di antara alisnya.
"Besok lusa, ada acara besar di keluarga Aplosso. Kamu mau datang?" Adli bertanya. "Jika tidak mau datang, kubawa Yura saja."
Alma diam sebentar.
"Aku tak mau siapapun menyindirmu lagi apalagi di depan banyak orang, jadi jika kamu tidak mau datang aku akan mengusahakannya agar pihak pusat memakluminya."
Alma mengangguk. Dia juga malas pergi. Adli terlihat kecewa. Sebenarnya daripada Yura, dia ingin membawa Alma. Tapi Adli tidak mau Alma dihina atau disindir siapapun, apalagi di depan Yura. Mereka hanya tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, bahkan Alma sendiri tidak tahu.
"Kamu tidak akan sendiri di rumah ini, banyak ART yang akan menemanimu. Tak apa 'kan?" Adli tersenyum.
Alma berubah tidak nyaman saat Adli mengungkung pinggangnya. Tangan Adli mengusap perlahan, seperti ingin mengulanginya. Alma selalu menjauhkan bibir saat Adli berusaha menggapainya. Adli berusaha meredam kesal, tapi dia cekatan. Alma bukannya ingin menolak, tapi tatapannya terus mengedar ke segala penjuru ruangan. Menerka-nerka dimana penyadap dan dimana kamera, perkataan Aldo yang masih terasa sebagai halusinasi tersebut benar-benar menakuti Alma.
Kesal ditolak terus, Adli bertanya geram. Ditahannya tubuh Alma, "kamu kenapa, sih?"
Saat Adli menghunusnya tajam, Alma memelas ke arahnya. Alma berusaha mengurai tubuh Adli yang merapat, sedikit kulit bibirnya sendiri Alma gigit. "Kita ke hotel saja, ya?"
Tawaran Adli membuat Adli mengerjap lalu terkekeh. "Bosan di rumah sendiri?"
Bukannya begitu, tapi Alma tidak ada pilihan selain mengangguk.
"Di sini agak pengap, ya? Kasurnya kurang empuk, begitu? Jadi kurang nyaman?"
Alma hanya mengangguk. Adli yang berpikir, ruangan ini hangat-panasnya seimbang dan kasur mereka cukup empuk hanya menepuk-nepuk kasurnya sendiri. Teksturnya lumayan, termasuk bantal dan guling. Alma tidak pernah mengeluhkan hal ini sebelumnya. Adli mengatur ulang suhu kamar mereka, AC maupun penghangat ruangan. Tapi sepertinya masih kurang sempurna untuk Alma.
Adli hanya tersenyum tipis. Mau bagaimana lagi jika itu mau Alma. Semalam di hotel tidak buruk. Sekalipun bagi Adli, kamar mereka lebih bagus daripada kamar yang ada di hotel bintang lima. Mungkin Alma butuh suasana baru?
sampe lumutan akoh...
sampe2 ai selingkuh sama tetangga sebelah,eh ..pas ngintip ksni msh blom2 jga ..
semangat y Sean aku ad d pihakmu kok💪😊