Ruby harus menghabiskan hari-harinya di atas kursi roda, setelah di vonis lumpuh pasca kecelakaan yang di alaminya dua tahun lalu
Ruby juga harus rela kehilangan kedua orang tuanya dan calon buah hatinya, yang selama ini dinantikan bersama sang suami Alex Graham.
Hati Ruby semakin hancur saat dia mengetahui perselingkuhan Alex bersama sahabatnya rebecca, yang sudah Ruby anggap saudara sendiri.
Kenyataan pahit pun harus dia telan saat Ruby mengetahui bahwa sang suami hanya mengincar harta warisan Ruby semata.
Akankah Ruby mampu membalas semua rasa sakit hatinya?
hai...salam kenal, ini adalah karya pertama saya, mohon maaf kalau masih banyak typo
☺️☺️☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma_bhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Kini Ruby, sudah berjalan dengan normal kembali, tanpa bantuan tongkat atau pun di bantu oleh orang lain. setelah rutin melakukan beberapa terapi yang dapat menguatkan otot-otot saraf di punggung belakangnya. Ruby begitu semangat dan berusaha bangkit dari keterpurukannya, dia memaksa Boy untuk menyuruh Amber mengajarinya ilmu bela diri agar menjadi tangguh sepertinya, Ruby juga mengubah penampilannya, agar terlihat lebih berani dan terkesan dewasa.
Kini penampilan manis dan wajah lembut berubah menjadi wanita yang arogan dan anggun, senyum ramah yang biasa dia perlihatkan berganti dengan wajah dingin dan datar, sekarang Ruby menghabiskan hari-harinya dengan terus berlatih dan belajar untuk menjadi wanita tangguh, dia membuang jauh sifat lemahnya dan berganti dengan wanita tak tersentuh.
Tapi Ruby tetap bersikap hangat dan manis, apabila bersama orang-orang terdekatnya, seperti bibi lili dan Boy tentunya, yang sikap posesifnya bertambah, dan itu membuat Ruby cegah dan juga merasa bahagia, Ruby juga sudah membuka hatinya dengan paman posesif mesumnya itu.
Sedangkan Boy, yang melihat berubah Ruby, bertambah posesif, bagaimana tidak Rubynya yang dulu begitu manis dan lugu, berganti Ruby yang anggun dan dewasa. Apalagi penampilan Ruby yang lebih terbuka dan terlihat seperti wanita arogan yang seksi, kini Ruby yang dulu penampilannya lugu dan lembut telah hilang.
"Apa, kau yakin baby ingin kembali sekarang.?
Boy bertanya dan memeluk Ruby dari belakang yang sedang menikmati pemandangan yang ada di sekitar villa Boy.
"Aku, sangat yakin paman,! ucapnya yakin sambil membalikkan badannya, kini mereka saling berhadapan dengan boy yang masih memeluk pinggang Ruby.
"Sudah, waktunya aku mengambil semua milikku, paman! dan mereka sudah terlalu lama menikmati semua hakku," jadi sudah saatnya untukku menghancurkan mereka." ucap Ruby dengan sorot mata yang penuh dengan dendam,
"Cukup, keluarga paman Carlos yang menjadi, korban ketamakan mereka, paman! aku tidak ingin ada korban lagi." ucap Ruby yang kini berubah sendu dan memeluk erat tubuh Boy, Ruby merasa sangat bersalah, karena melindungi dan menjaga hak Ruby, semua keluarga pengacara Carlos, menjadi korban kejahatan Alex dan Rebecca.
Boy, memperat pelukannya saat mendengar tangis Ruby yang tertahan. "Suhtt! jangan menangis, baby! kau akan membuatku, sakit mendengar tangismu ini." bisik Boy sambil meraih wajah Ruby dan menghapus air mata sang puja hatinya itu.
"Berhentilah menangis, baby! rengek Boy yang masih melihat Ruby menitikkan air matanya.
"Tangismu ini, bisa membuat di sini terluka." ujar boy sambil meletakkan tangan Ruby di dadanya.
"Isshh …! paman lebay." cibir Ruby sambil memukul pelan dada Boy dan mencebikkan bibirnya yang mungil.
"Oh vitaminku." ucap boy dan langsung menyambar bibir Ruby yang sejak tadi mengodanya. Boy melumut bibir manis Ruby dengan lembut dan menyesapnya penuh perasaan, Ruby pun membalas cium Boy sambil merangkul pundak kekar pria tampan di depannya ini. Dua insan itu kini saling menyesap dan mencumbu di bawah cahaya sinar matahari sore yang begitu indah.
"Baiklah, kita kembali ke negara A, kita selesaikan semuanya dan setelah itu, mari kita menikah! ucap Boy yang menempelkan kening mereka.
"ta-tapi," aku tidak pantas untukmu paman, aku hanya seorang mantan istri yang di buang, dan aku yakin masih banyak perempuan di luar sana yang lebih baik dariku paman."ucapnya dengan sendu dan menundukkan kepalanya. Boy meraih dagu Ruby dan mendongak kepalanya, Boy menatap dalam mata Ruby yang indah itu, "cup." kecupan sayang dan tulus Boy, berikan di kening Ruby.
"Rubyku, sayang! kau wanita satu-satunya yang bisa membuatku, merasa perasaan yang tak pernah aku rasakan kepada wanita baby," jadi, hanya kau satu-satunya pemilik hati dan wajah tampanku ini baby," cup" jadi jangan bicarakan itu lagi, karena hanya kau wanita yang begitu aku cintai," I love you, baby." Ruby menatap mata biru Boy dengan perasaan haru, dia begitu beruntung di saat dirinya terpuruk masih ada seseorang yang mencintainya dan menyanyanginya seperti Boy. Ruby tak menjawab ucapan cinta Boy dia hanya mampu memeluk tubuh Boy dengan erat. Boy meraih wajah Ruby dan menyatukan bibir mereka kembali.
"Jadi, kapan kita kembali, paman.? tanya Ruby setelah tautan bibir mereka terlepas, tapi tidak dengan Boy yang masih mengecupi kening wanitanya.
"Terserah, semua keputusan ada padamu, baby." ucap boy yang masih asyik mengecupi bibir Ruby
"Baiklah, kita berangkat besok! "gimana? usul Ruby dengan perasaan antusias, karena dia sudah siap dan yakin membalas semua perlakuan Alex dan Rebecca. Boy hanya mengangguk kepalanya di sela kecupannya di kening Ruby.
"Nikmatlah, keberhasilan kalian, sebelum aku datang dan menghancurkan kalian." batin Ruby dan tersenyum penuh rencana.
"Kita masuk, baby! cuaca mulai dingin," ujar boy sambil mengangkat Ruby di gendongannya dan membawa tubuh mungil itu masuk kedalam villa.
"Turunkan, aku paman, aku bisa jalan sendiri." protes Ruby dan berusah turun dari gendongan Boy.
"Shiit! jangan bergerak terus, baby, kau membangunkannya. erang Boy saat merasakan boy juniornya on.
"Membangunkan siapa? tanya Ruby polos dengan wajah yang begitu mengemaskan.
"Oh, baby! kau begitu menyiksaku." erang Boy lagi dan melumut bibir Ruby sambil terus berjalan memasuki villa.
"Bramm!! Teriak boy memanggil sang asisten, sambil meletakkan Ruby di sofa yang berada di ruang santai villa itu.
"Tuan, memanggil saya? Bram yang sedang berada di taman belakang, menghampiri sang tuan yang memanggilnya tadi.
"Hm! bersiaplah, kita kembali ke negara A besok." perintah Boy. sedangkan Ruby asyik dengan cemilan sambil menonton tv.
"Baik tuan." jawab Bram, dan melangkah keluar villa untuk menyiapkan keberangkatan mereka besok ke negara A.
"Bersiaplah, baby! kita akan bermain-main sebentar, sebelum menghancurkan mereka.!" ucap Boy dengan tersenyum licik. Ruby hanya mengangguk kepalanya dan ikut tersenyum penuh rencana.
"Alex, Rebecca,"I'm coming." gumam Ruby.