NovelToon NovelToon
Romantic Scent

Romantic Scent

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:662
Nilai: 5
Nama Author: Reviie Aufiar

Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Kesan

Hal-hal yang tidak disengaja sekarang menjadi sebuah uji coba untuk memulai. Bunga-bunga di taman masih kuncup, angin kala itu berhembus tidak terlalu kencang. Untuk pagi yang indah sambil menatap cermin dan merapikan pakaian yang dikenakan pagi ini.

Langkah kaki tegak menyusuri lorong ke arah ruang makan keluarga, sudah terlihat dua orang duduk nyaman disana. Rona menduduki kursinya yang telah disiapkan dengan tenang ia menggenggam tangan Emily.

“Kakak sudah baikan?” Tanya dengan nada khawatir.

“Aku sudah tidak apa-apa jangan khawatirkan aku.” Tangan Emily menggenggam tangan Rona.

“Mari kita makan.” Ucap Nathan mengheningkan haru dari suasana yang sedikit canggung.

“Mari kita nikmati, bukan begitu Rona?” Ungkap Emily dengan senyuman.

Wajahnya terlihat sedikit lebih pucat, balutan di dahinya tertutup dengan baik. Perlahan ia memakan sedikit demi sedikit makanannya.

“Baiklah. Kuharap kakak istirahat saja untuk hari ini, sisanya akan aku urus.” Rona tak bergeming, bahkan tak berniat membuat kakaknya itu melakukan hal berat.

“Aku sudah tidak apa-apa, aku tidak akan keluar kediaman untuk hari ini.” Emily menggenggam tangan Rona dengan hangat.

“Aku akan memeriksa kereta kuda. Kau bisa langsung ke Tempat Festivalnya Rona.” Nathan menatap wajah Rona. Terlihat segaris luka yang sudah mengering di sudut dahinya.

“Baiklah terima kasih bantuanmu Nathan.” Rona menghabiskan makanannya dan menyeduh teh nya perlahan.

“Izinkan Gray mengikutimu.” Pinta Nathan.

“Baiklah.”

Gadis itu segera bangkit dari kursinya dan segera berpamitan pergi. Bagi Rona waktu adalah segalanya, dia tetap harus berpacu dengan keadaan.

Rona hanya menatap sekeliling dalam bayangannya ia melihat seseorang itu menginjakan kaki disini, langkah kaki itu terus melaju dengan jalan cepat dan segera menuju kandang kudanya. Ia menatap kuda hitam pemberian Dean yang sampai sekarang belum ia beri nama.

Kilas balik yang terjadi tadi malam tidak membuatnya takut. Hentakkan kuda semakin kencang keluar dari pintu kediaman White diikuti oleh Pengawal Pribadi Nathan. Yaitu Gray.

Rona melirik ke samping, lelaki itu bisa mengimbangi kecepatan kudanya.

“Sial nona Muda Keluarga White ini cepat juga.” Gam Gray dalam hati.

Hentakan demi hentakkan melaju kencang.

Pak…pak…pak

Mereka hampir sampai pada tujuan, Rona tak menghiraukan jalanan dan hanya memacu kudanya saja, sesekali ia menaburkan bubuk di pepohonan saat ia melintasinya. Rona melirik ke sebelah terlihat Gray cukup jauh darinya.

“Syukurlah ia tak melihat apa yang kutaburkan.” Gumam Rona dalam hati.

Saat ini Rona penuh waspada pada siapapun, baik pada rekan bisnisnya, Nathan dan juga pengawalnya. Bahkan seseorang yang masih harus ia selidiki dengan benar. Namun Dean? Akankah ia juga adalah orang yang harus diwaspadai?

Kali ini Rona tidak langsung ke stand Festival namun menuju tempat pendistribusian dagangannya. Rona menuruni kudanya dan menaruhnya di dekat sebuah kantor, lalu mengikatnya.

Mata Rona menoleh ke arah Gray, ksatria pengawal yang diutus Nathan mengikutinya. Lelaki itu bertubuh tinggi dan berwajah sedikit lonjong, memiliki mata indah berwarna merah darah. Jarang sekali ada orang yang seperti dirinya. Mata indahnya itu ditutupi oleh kacamata dengan frame kotak. Rambut panjang yang terikat.

“Gray, kau bisa tunggu disini sebentar. Saya akan masuk dan tidak akan lama.” Tanpa menunggu jawaban Rona memasuki kantor tersebut.

“Baik nona.” Sebelum ia menjawab gadis itu sudah tak terlihat.

Gray yang hanya berdiri tegak menyandar di depan. Kantor tersebut berpikir keras, menatap sekeliling dan mengulang perkataan dan sikap Rona selama ini.

“Gadis itu sulit sekali ditebak, aku masih penasaran dengan sosok hitam yang memasuki lantai dua tadi malam. Apakah mungkin?” Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di benak Gray.

Sosok hitam yang lolos dari pantauan para penjaga tadi malam berkeliling kediaman White tak mengetahui siapa sosok tersebut.

Gray yang tadi malam langsung melapor pada Nathan Pun tak tahu sosok itu musuh yang baru saja menyerang atau mungkin penyusup baru.

Lamunan Gray tersadar saat Rona melewatinya dan mengambil kudanya yang ada di sebelahnya.

“Apakah kau kurang tidur?” Tanya Rona yang langsung menaiki kudanya.

“Tidak nona. Aku hanya memperhatikan sekitar dengan serius.” Nada suara yang sedikit gugup.

“Ayo pergi, urusanku sudah selesai. Hiyakkk.” Rona lagi-lagi meninggalkan Gray yang selalu satu langkah di belakangnya.

“Baik nona.” Gray langsung mengambil kudanya dan mengejar Rona.

Postur tubuh Rona saat berkuda sangat bagus, jarang sekali ada gadis yang bisa menaiki dan memacu kuda sehebat dirinya. Gray benar-benar mengakui kemampuan gadis itu.

Luka yang ada dilengannya pun tak menjadi penghalang untuk digerakkan, padahal memacu kuda butuh tangan yang kuat dan lengan yang kokoh dalam mengendalikan kuda. Gray terus berpikir keras tentang nona muda tersebut.

Bahkan kuda yang ia kendarai adalah kuda yang paling mahal yang hanya bisa dimiliki bangsawan kelas atas dan pihak kerajaan.

Laku kuda itu berlalu, tarikan cukup keras membuat kuda itu menaikkan kaki depannya dengan suara lantang. Sebuah rombongan melewati mereka, sisa dua hari lagi menuju acara puncak festival tersebut.

Akan ada acara malam dengan kembang api yang meriah disertai dengan lampion harapan. Beberapa orang telah mengumpulkan kertas harapan dan menyebarkan perahu kertas di dekat sungai.

Gray yang ikut menarik kuat kudanya tersebut hampir jatuh karena rombongan tersebut mendadak menerobos mereka, untungnya Gray bisa menjaga keseimbangannya.

“Kau tak apa? Aduh.” Tanya Rona sambil memegang lengannya.

“Nona kau berdarah lagi!” Gray sedikit tersentak melihat darah menembus baju bagian lengan gadis itu.

“Tenanglah aku baik-baik saja, ayo cepat.” Rona kembali menarik kudanya dan berjalan menuju stand tersebut.

Terlihat orang-orang telah mengantri membeli anggur dan Paman Bil telah datang bersama Ben untuk mengatur tempat untuk susu botol produksi milik mereka.

“Susu segar, anggur mahal, susu segar.” Teriaknya memanggil pembeli.

“Paman.” Melambai Rona langsung membantu lelaki itu.

“Astaga nona lenganmu.” Teriak Rose yang baru saja membawa sekeranjang makan siang, melihat lengan bagian atas majikannya itu.

Paman Bil langsung mendekati Rona dengan mata melotot yang hampir keluar.

Ben langsung membereskan keranjang yang dijatuhkan Rose.

“Nona apa ini? Jangan membuatku cepat mati.” Hentaknya.

Rose langsung menarik Rona kedalam dan mendudukkannya di belakang membuka baju bagian lengannya dan membersihkan luka yang terbuka itu kembali memerbannya. Rona kembali ke bagian depan penjualan. Paman Bil menatapnya dengan tegas.

Rona mendekati lelaki tua itu dan memijat bahunya, tenang saja paman aku sangat sehat. Lalu melirik Gray yang berdiri kaku mematung di sebelah Paman Bily.

“Baiklah nona, setidaknya kau harus memberitahuku apa yang terjadi tadi malam. Tapi syukurlah kau membawa pengawal disini.” Lirik paman Bil kepada Gray.

“Tuan Nathan selamatkan aku dari tatapan maut ini. Lebih baik aku berperang mengalahkan seribu musuh. Daripada melihat seorang lelaki yang akan menikamku seakan aku menyakiti anak perempuannya.” Gumam Gray salam hati dengan keringat yang membasahi dahi sampai ke dagunya.

Pasar dadakan karena festival tersebut lebih ramai dari hari-hari sebelumnya. Pelanggan berdatangan dari penjuruh wilayah untuk menikmati festival dan membeli berbagai macam barang termasuk anggur dan susu milik Rona.

Rona menatap sekeliling dan menyadari betapa hangatnya orang-orang yang ada disekitarnya. Sejenak ia tak ingin kehilangan momen bahagia saat ini, walaupun hanya sekilas. Walaupun hanya sebentar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!