Rachel, harus merelakan tubuhnya menjadi taruhan dalam pesta lajang seorang teman dekatnya demi menyelamatkan nyawa ibunya yang membutuhkan biaya besar untuk operasi.
Namun ternyata pertemuannya malam itu dengan Milano Arkana Putra membawanya untuk hidup menjadi partner ranjang dari laki-laki itu yang ternyata adalah seorang CEO di kantornya tempat dia bekerja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hangus
🍀 Delapan bulan kemudian.
"Aku janji, aku akan pulang secepatnya setelah urusanku selesai." kata Milan sambil mengecup kening Rachel dan mengelus perut buncitnya.
"Aku tidak apa-apa Milan, ada mama dan papa yang akan selalu menjagaku dan anak kita."
"Iya Milan kau tenang saja, ada mama dan papa disini. Lebih baik kau fokus pada urusan pekerjaanmu saja." kata mamanya.
"Tapi bagaimana jika anak itu tiba-tiba lahir?"
"Hahahaha kau berlebihan Milan, usia kandunganku baru tujuh bulan, selesaikan pekerjaanmu dulu di Surabaya, jangan terlalu memikirkan aku dan anak kita." kata Rachel lagi.
"Baik.. Baikkk sayang, aku pergi dulu ya. Mama, aku titip Rachel ya."
"Iya Milan."
"Papa mana?"
"Papa sedang tidak enak badan, dia ada di kamar."
Milan pun kemudian mengangguk lalu mulai berjalan meninggalkan Rachel dan mamanya dan masuk ke dalam mobil.
"Rachel."
"Iya Ma, kenapa?"
"Sepertinya mama hari ini tidak bisa menemanimu kontrol ke dokter kandungan. Papa sedang tidak enak badan, kau pergi sendiri diantar Pak Surya ya."
"Iya ma, tidak apa-apa. Rachel bisa sendiri."
"Hati-hati Rachel."
"Iya Ma." kata Rachel kemudian keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil diantar oleh sopir pribadinya ke rumah sakit.
Setelah satu jam lamanya Rachel berada di rumah sakit, dia akhirnya selesai melakukan kontrol kehamilan. Saat dia keluar dari ruang pemeriksaan dokter, netranya tertuju pada seorang wanita hamil yang kini tengah duduk di ruang tunggu.
'Bukankah itu Vania?' kata Rachel dalam hati.
Perlahan Rachel pun mendekati wanita tersebut.
"Vania?" panggil Rachel pada wanita itu.
Wanita itu pun kemudian memalingkan wajahnya.
"Ra.. Rachel." jawab wanita itu.
"Vania, kau juga sedang kontrol kehamilan?"
"Iya."
"Kenapa kau tidak bersama Gibran?" tanya Rachel yang membuat Vania tampak sedih.
"Aku sudah lama bercerai dengan Gibran, dan ini bukanlah anak Gibran."
"Oh." jawab Rachel singkat sambil menyembunyikan perasaan kagetnya.
'Pantas saja saat itu Gibran berani merayuku, jadi dia sudah bercerai dari Vania.' kata Rachel dalam hati.
"Lalu mana suamimu?"
"Oh dia di rumah." jawab Vania sambil tersenyum kecut.
"Vania, setelah memeriksakan kehamilanmu ikutlah pulang bersamaku, aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak usah Rachel, aku tidak mau merepotkanmu. Aku juga sedikit sungkan dengan Milan."
"Kau tidak perlu khawatir, aku juga ke sini sendiri karena Milan sedang pergi ke Surabaya." kata Rachel sambil menggenggam tangan Vania.
"Terimakasih Ra, aku ke dalam dulu ya." kata Vania saat mendengar namanya dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter.
"Iya, aku tunggu kau disini." jawab Rachel.
Setelah setengah jam, akhirnya mereka pun keluar dari rumah sakit.
"Pak Surya, kita antar teman saya dulu." kata Rachel pada supir pribadinya.
"Baik Nyonya."
Mobil tersebut lalu keluar dari rumah sakit dan mulai memasuki jalan utama ibu kota. "Maaf Rachel, kau harus mengantarku sedikit jauh karena sekarang aku tinggal di pinggiran kota."
"Tidak apa-apa Vania, tidak masalah bagiku. Lagipula aku juga sedang tidak sibuk. Anggap saja kau mengajakku berjalan-jalan." kata Rachel sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak, kau memang sangat baik."
Namun saat mobil mereka keluar dari tol luar kota, Pak Surya tampak sedikit merasa cemas sambil sesekali melirik spion mobil.
"Ada apa Pak Surya?" tanya Rachel yang mulai melihat kecemasan di raut wajah Pak Surya.
"Nyonya, sepertinya ada dua mobil yang sedang mengikuti kita." jawab Pak Surya yang membuat Rachel dan Vania ikut merasa cemas.
Mereka lalu menengok ke belakang dan melihat dua buah mobil tampak sedang mengawasi mobil mereka, satu buah mobil SUV dan satu buah mobil jip kini tampak mengikuti mereka.
"Lalu bagaimana ini Pak?" kata Rachel sambil meremas pakainya.
"Kita harus tenang Nyonya Rachel tunjukkan sikap biasa saja." kata Pak Surya.
Namun di saat itu pula kedua mobil yang mengikuti mereka mulai berjalan di samping kanan dan kiri mobil Rachel dan mulai menghimpitnya dan menggiring mobil milik Rachel keluar kota menuju ke jalan yang sepi. Rachel dan Vania pun hanya bisa berdoa sambil berpegangan tangan. Pak Surya yang mulai kehilangan konsentrasi karena kedua mobil tersebut terus menghimpitnya pun hanya bisa pasrah saat salah satu mobil merek jip tersebut menabrak sisi kanan mobil Rachel yang membuat mobil yang sedang berjalan dengan kecepatan tinggi tersebut menabrak pembatas jalan.
DUAAAARRRRRRR
Mobil tersebut pun terbalik, dan kini sayup-sayup mulai terdengar teriakan dari dalam mobil Rachel. Rachel yang melihat Pak Surya kini sudah terdiam dengan luka di sekujur tubuhnya pun hanya bisa menangis. Kemudian dia melirik pada Vania yang merintih kesakitan.
"Rachel... tolong aku badanku terjepit." kata Vania.
Rachel pun sekuat tenaga berusaha keluar dari mobil tersebut. Dan di saat itu pula dia melihat sebuah sepatu pantofel pria tengah berdiri di samping mobilnya.
"Tolong aku." kata Rachel, namun di saat itu pula tiba-tiba pandangan Rachel mulai gelap karena luka di kepalanya. Pria tersebut kemudian menyiram mobil Rachel dengan bensin yang ada di tangannya. Beberapa saat kemudian ledakan pun terdengar.
DUARRRR DUAAARRRR DUAAARRRR
Mobil milik Rachel pun terbakar dan terpental akibat ledakan itu, melihat asap hitam yang membumbung tinggi laki-laki bersepatu pantofel yang kini mengamati di dalam mobilnya pun tersenyum penuh kemenangan.
"Hahahaha... Hahahaha... Akhirnya aku bisa menghancurkan hidupmu, Milan."
🍀🍀🍀
Saat Milan baru saja menyelesaikan meetingnya, dia sangat terkejut karena begitu banyak panggilan di ponselnya dari orang tuanya.
"Ada apa ini? Kenapa mama berulangkali menghubungiku."
Milan pun kemudian menelepon orang tuanya.
[Ada apa ma?]
[Milan kau harus pulang sekarang Nak.] jawab mamanya sambil menangis.
[Ada apa sebenarnya ma?] tanya Milan disertai perasaan yang begitu tak menentu.
[Milan kita bicara di rumah, sebaiknya kau pulang sekarang Nak.]
[Baik ma.] jawab Milan.
Menjelang petang, Milan akhirnya sampai di rumahnya. Dia begitu terkejut karena kini rumahnya telah begitu ramai dengan sebuah bendera berwarna kuning terpasang di depan rumahnya.
'Oh tidak, ini tidak mungkin terjadi. Siapa yang sudah meninggal?' kata Milan dalam hati sambil menangis kemudian masuk ke dalam rumahnya. Saat memasuki ruang tamu, tampak kedua orang tuanya sedang menangis dan di depannya terdapat sebuah peti jenazah.
'Tidak.' kata Milan sambil mendekat ke arah orang tuanya.
Milan pun hanya bisa diam sambil melihat peti jenazah yang ada di hadapannya itu dengan tatapan kosong. Orang tuanya kemudian mendekat pada Milan dan memeluknya.
"Kau harus kuat Milan." kata mamanya sambil terus menangis dan memeluk Milan.
"Katakan padaku jika ini semua bohong dan hanya lelucon kalian." kata Milan diiringi air mata yang kini mulai deras membasahi pipinya.
"Milan, maafkan mama tidak bisa menjaga Rachel, tapi inilah kenyataannya. Rachel meninggal karena kecelakaan Nak."
"TIDAK MUNGKIN!!! RACHEL TIDAK MUNGKIN MENINGGALKAN MILAN!!"
"Milan, tenangkan dirimu."
"INI SEMUA BOHONG KAN PA? RACHEL SEDANG MENGANDUNG ANAK MILAN! DIA TIDAK MUNGKIN MENINGGALKAN MILAN!"
"Milan, kau harus kuat nak, inilah kenyataannya. Rachel telah meninggal bersama bayinya."
"TIDAK MUNGKIN!!! KALIAN PASTI SUDAH MEMBOHONGIKU! JIKA RACHEL SUDAH MENINGGAL COBA PERLIHATKAN JENAZAHNYA PADAKU! AKU TIDAK MEMBUTUHKAN SEBUAH PETI SEPERTI ITU!!!" teriak Milan.
"Maaf Milan, jenazah Rachel sudah hangus terbakar." jawab mamanya dengan lirih.
"TIDAK.. TIDAK MUNGKIN... RAAACCHHHHEEEELL!!!" teriak Milan yang menggema di seluruh penjuru ruangan.
eh Gibran cuma dimanfaatin sm bininya, krn bininya cintanya sm Arvin.
Milan lama² jatuh cinta beneran sm Rachel, untung Rachel jg cinta & nerima² aja gmn kampretnya Milan..
Smoga akhirnya kecurangan Bela & Gibran ketahuan sm Milan sih..
Milan sm Bela yg asal celap celup siih.. iiiyuuuh..
cm penisirin aja..si evan tanggung jwb k sinta gk stlh keluar dr penjara?
ap ttp gk ya...po akoh yg gk mudeng...
lawong evan gk cinta sinta y gk mw.
cinta celine tp dy yg dh gk mw...
ya..akoh berharap aj mbok si evan mo tanggung jwb
tp kok kyk sih sinta deh...
tp iyo po ora embuh...
otak ke rodo kurang pinter sitik...😄😄
biarknlah para readersss yg gk mudeng...
kl akoh sih mudeng2 wae kok...😄😄😄
hahahaha ....musuh bebuyutan jd ipar ran....
hayoloh...milih sapak....
bpke kandung ank ke apa kekasih baru yg dh inuk2...😉
soalna d judul bab pr1 ni dh ad tulisan 4thn
trs lnjt bawahnya 4 thn lg
jd ngiranya 8 thn.
ngungkapin pndpt.
hrse tulisane d atas judul aj yg 4 thn nya.
jd ben gk galfok....
mangap y thor...✌✌✌
tp tiap bab ttp ksh jempol kok....
rebes pokok ke...👍👍👍
akhirnya ktemu lg ma karya author ku ini....😊
ku sllu menanti karya2 mu thor...
sukses sllu...👍💪👄