Hubungan antara dua orang yang saling mencintai tentu saja akan lebih membahagiakan jika ada restu kedua orang tua di dalamnya. Namun, bagaimana akhirnya jika setelah semua usaha dilakukan, tapi tetap saja tidak ada kata restu untuk hubungannya?
Ini tentang Arasellia. Gadis dari kalangan biasa yang selalu kesulitan mendapatkan restu dalam setiap menjalin hubungan.
"Kalau pada dasarnya mereka udah nggak suka sama aku, mau aku kasih mereka uang semiliar juga nggak akan mengubah apa pun."
"Kalau misal berubah, emang kamu punya uang semiliar?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vin Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suka
Sore itu, ketika Elang pulang dari rumah Ara dengan hati tersayat-sayat, ia mendapati Ajeng berada di rumahnya dan tengah mengobrol dengan sang ibu
Dari pertama kali Elang mengenalkan Ajeng pada Bu Rini sewaktu masih SMA, ibunya memang langsung menyukai gadis itu. Jadi, tidak heran kalau ia melihat Ajeng yang kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa sekaligus mandiri membuat ibunya semakin mengagumi gadis itu.
"Kamu udah dari tadi di sini?" tanya Elang begitu ibunya masuk ke dalam.
Ajeng mengangguk. "Kamu abis dari mana?"
"Melipir sebentar doang cari hiburan."
"Bukan dari rumah Ara?"
Elang meneguk ludah dan menghindari tatapan Ajeng.
"Kamu nggak mau coba lihat aku lagi, Lang?"
"Maksud kamu apa?" Elang pura-pura bodoh.
Dengan keberanian yang ada, tiba-tiba saja Ajeng menangkup pipi Elang agar menghadapnya. Ia tatap dalam iris gelap lelaki yang membuatnya tidak bisa berpaling bahkan setelah bertahun-tahun lamanya.
"Ayo, kita mulai semuanya dari awal."
Secara tiba-tiba pula, Elang menurunkan tangan Ajeng dari wajahnya. Ajeng yang ada di depannya sekarang benar-benar berbeda dengan Ajeng yang ia kenal delapan tahun yang lalu. Ajeng yang lemah lembut dan pemalu kini telah berganti menjadi seseorang yang berani.
"Jeng ...."
"Apa? Kamu mau nolak aku?" Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. "Aku kayak nggak ada harga dirinya, ya, Lang, kayak gini ke cowok. Tapi, perlu kamu tahu kalau perasaanku nggak pernah berubah dari dulu sampe sekarang. Kamu tahu? Aku nggak pernah pacaran lagi sejak putus dari kamu. Nggak peduli berapa banyak cowok yang nyoba deketin aku. Sayangku tetep kamu."
"Tapi, aku sayang Ara."
Hati Ajeng mencelos. Isak tangisnya seketika terdengar. "Lupain dia, Lang. Toh, ibu kamu juga nggak setuju. Aku nggak dekat sama Ara, tapi sebagai perempuan aku tahu gimana rasanya dipandang sebelah mata karena aku juga pernah merasakan hal yang sama."
Sebelah alis Elang terangkat. "Bukannya tadi kamu bilang nggak pernah pacaran sejak kita putus?"
Ajeng meraih beberapa lembar tisu yang ada di meja ruang tamu rumah Elang untuk menghapus air matanya. "Aku pernah jadi pacar pura-pura temen kampusku dulu. Dan ya, ibunya dia nggak suka sama penampilanku yang katanya terlalu terbuka. Padahal aku udah dateng dengan baju sesopan mungkin." Ia tersenyum miris diakhir kalimatnya.
"Lang ...." Kali ini Ajeng meraih tangan lelaki yang lagi-lagi terdiam usai mendengar ceritanya.
"Mungkin dulu aku suka ngeluh waktu kita LDR sampe akhirnya milih buat udahan, tapi sekarang aku udah jauh lebih dewasa. Jadi, please kasih aku kesempatan."
"Aku cuma akan nyakitin kamu, Jeng."
"Pelan-pelan, Lang. Kita bawa enjoy aja hubungan ini. Please ...." Ajeng menatap penuh harap.
Tatapan itu sama seperti ketika Ajeng dengan berat hati harus melepasnya kuliah di ibu kota. Elang tidak tega. "Are you sure?"
"Sure."
"Tolong bilang aku kalo aku nyakitin kamu dan ... kamu boleh pergi kalo kamu nggak kuat sama aku."
"Itu nggak akan pernah terjadi. Aku nggak bakal lepasin kamu lagi," kata Ajeng dengan kedua sudut bibir terangkat. "Lang ... boleh aku peluk kamu?" pintanya yang dibalas dengan anggukan oleh Elang.
..........................
"Nggak seharusnya kamu bilang kayak gitu ke Ara tadi."
Suara itu membuat Ajeng sontak memutar tubuhnya. Elang berdiri beberapa meter darinya dengan raut wajah datar.
"Lang, aku ...."
"Ara itu baik. Jangan pernah mikir aneh-aneh tentang dia."
Ajeng hanya bisa menghela napas panjang sekaligus meringis pedih mendengarnya. "Aku cuma takut aja "
"Nggak ada yang perlu kamu takutin. Kamu tahu kontakku juga udah diblokir sama dia."
"Sorry, Lang."
"Minta maaf sama Ara bukan sama aku."
Senyum masam kontan menghiasi wajah Ajeng.
Elang yang melihatnya jadi tak enak hati. "Maaf ...."
"Iya, aku ngerti, kok. Yuk, makan siang." Ajeng melangkah meninggalkan lobi kantor terlebih dahulu.
Elang memandang punggung gadis yang semakin jauh darinya dengan perasaan bersalah. Namun, dengan cepat, ia kemudian menyusulnya.
Sementara Elang dan Ajeng pergi makan siang, dua muda-mudi yang baru keluar dari lift dengan ekspresi berbeda berhasil membuat Fanny yang workaholic menolehkan kepala dan menatap keheranan saat mereka melewati meja perempuan itu.
"Mau sampai kapan, nih, tanganku ditarik-tarik begini," ujar Darma begitu memasuki ruangannya.
Ara sedikit tersentak kala menyadarinya dan dengan segera ia lepaskan tangannya dari tangan Darma. "Kamu ditarik-tarik gitu juga diem aja dari tadi."
"Enak, sih."
Ara tak acuh. Ia mengempaskan tubuhnya di sofa. Nyaman. Padahal baru dua kali ini dia ke sini.
"Tadi siapa, sih?" Darma mengambil dua minuman dingin dari kulkas, lalu memberikan salah satunya pada Ara.
"Mantannya mantan pacarku yang katanya baru balikan sama mantanku."
Minuman di mulut Darma sampai mau muncrat gara-gara jawaban Ara. "Terus cemburu?" katanya sambil terbatuk-batuk.
"Mestinya, sih, gitu. Tapi sayangnya, kok, enggak ya?" Ara membuka segel minumannya, kemudian meneguknya beberapa kali.
"Yang bener?"
"Hmm ... mungkin karena dia udah ngecewain aku berkali-kali kali, ya. Jadi, gampang juga lupainnya. Apalagi kalo inget ibunya. Jujur aku sakit hati banget."
"Ibunya nggak suka kamu?"
Ara menyandarkan tubuhnya. Kepalanya menengadah menatap langit-langit ruangan. "Iya "
"Gara-gara?"
"Aku miskin. Hehe ...." Gadis itu tertawa hambar.
Darma meneguk ludahnya. Tak tahu harus merespons apa.
"Dulu tuh ... toko bapak rame banget." Ara memulai ceritanya dengan suara yang sudah parau duluan. "Keuntungannya udah kekumpul banyak dan niatnya buat gedein toko sama nambah barang, tapi setelah semuanya siap tahu-tahu tokonya dirampok. Barang-barangnya banyak yang diambil. Uang yang di brangkas cuma disisain seratus ribu."
"Terus?"
"Aku memutuskan buat nunda kuliah. Aku minta bapak pake uang yang harusnya buat bayar kampus dijadiin modal buat toko."
"Kamu keren banget!" puji Darma singkat, padat, jelas.
"Keren dari mananya? Kalo keren, mah, ibunya Mas Elang nggak bakal hina-hina aku sama keluargaku."
"Bodo amat kalo itu. Menurutku kamu keren. Titik!"
Mau tak mau Ara jadi tersenyum. "Hidup emang kadang beneran lucu, ya. Baru tadi pagi aku mikir kayak mungkin nggak, sih, suka sama orang padahal baru sebulanan putus. Eh, ternyata malah udah ada yang balikan duluan."
"Emang kamu suka sama siapa?"
"Sama ...." Ara langsung menegakkan tubuhnya menyadari ucapannya, dan ia tidak bisa apa-apa karena ternyata Darma sudah duduk miring menghadapnya sambil bertopang dagu dengan sebelah tangannya. Jangan lupakan alis lelaki itu yang naik-turun dengan maksud menggoda disertai senyuman yang membuat Ara menahan napas.
jujur aku seneng omanya mati
🙈🙈🙈