NovelToon NovelToon
Sepetak Ruang Gelap

Sepetak Ruang Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Pembunuhan / Kriminal / Sudah Terbit
Popularitas:576.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dwi Wahyudi

Dharma adalah seseorang yang rasional dan pemberani. Namun, kali ini dia menghadapi hal-hal di luar akal sehatnya. Peristiwa-peristiwa mengerikan terjadi ketika dia sedang menyiapkan hadiah pernikahan berupa sebuah rumah. Ternyata sejarah kelam yang pernah terjadi di tempat itu berkaitan dengan asal-usul Nirmala, sang calon istri.

Sekelompok orang misterius muncul dan mengancam hidup mereka demi menguasai harta peninggalan zaman penjajahan. Di saat yang bersamaan, kehadiran narasumber novel "Pengakuan Pembunuh" karya Nirmala memaksa Dharma untuk menghadapi dosa masa lalu keluarganya.

Inilah sajian novel thriller dengan racikan horor, sejarah, romantisme, dan misteri yang unik.


~Dwi Wahyudi~
FB/Instagram: dewey.whjudy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lezat, kan?

"Kakekmu Tjip berjanji bahwa dia akan menyelamatkanku dan memberiku keturunan dari benihnya sendiri!"

"Apa? Lalu mengapa kamu menagihnya padaku? Bukankah paman bahkan sudah menikahi dan memberimu anak?"

"Pamanmu? Kau kira dia mampu menghamiliku? Namun, aku begitu menyayanginya meskipun dia mandul."

"La--lalu anak siapa Tomi dan Mika itu?"

"Tomi ... panjang umur. Baru saja kau bicarakan sudah muncul," kata Ruri sambil memperhatikan monitor yang menyorot ke teras.

Melihat kedatangan Tomi dari layar itu, Dharma teringat gambar di dinding kamar yang dibuatnya waktu kecil. Ada dua anak laki-laki sedang bermain dan satu anak perempuan memegang pisau. Merekalah teman bermain sekaligus adik-adik Dharma sebelum paman memindahkannya sekolah ke pondok di luar kota.

"Dulu kau begitu akrab dengannya seperti adik kandungmu sendiri. Aku juga ingat bagaimana bayi merah itu menagis begitu keras memecah keheningan malam. Alih-alih dibuang ke jurang, sepertinya dengan sengaja dia ditinggalkan di depan gerbang rumah. Pamanmu itu terlalu baik hati memungutnya."

"Jadi Tomi dibuang orangtuanya?"

"Orang-orang yang tak tahu arti sebuah keluarga. Miris sekali ...."

"Kamu kira dirimu mulia?" sentak Dharma.

"Setidaknya aku memberinya arti sebuah keluarga. Ah, tetapi dia tidak doyan daging manusia, berbeda sekali dengan Mika."

"Menjijikkan! Mana mungkin manusia memakan daging sesamanya?"

"Hmm ... bukankah kamu sudah habis banyak?" tanya Ruri dengan seringai lebar dan mata yang melotot.

"Ti--tidak mungkin yang kumakan tadi pagi!" pekik Dharma.

"Leezattt, kan?!?"

Argh ...

Juih!

Juih!

***

"Kamu tidak ikut, Nirmala?"

"Tidak, Bu. Acara TV lagi seru."

"Sekalian periksa kandunganmu," saran Ibu Siti.

"Nanti Nirmala periksanya tunggu Mas Dharma pulang saja, Bu." Nirmala kehilangan konsentrasinya sehingga tidak mendengar secara jelas percakapan terakhir Obi dengan si penelepon misterius itu.

"Baiklah, itu ibu tinggal kontrol kesehatan dulu. Keburu malam dan banyak antrean. Bapak juga sudah nungguin di luar."

"Iya, Bu. Hati-hati di jalan."

Nirmala memilih tinggal di rumah karena tidak ingin terlewat siaran langsung tentang Obi. Siaran langsung yang sempat kacau setelah serangan salah satu orangtua korban dan penelepon misterius itu kini disela oleh iklan. Nirmala yang sempat dibuat tegang oleh kejadian tersebut menyempatkan diri membuat minuman hangat di dapur. Sambil menunggu air memanas, Nirmala menelepon Dharma.

***

"Kamu betul, 2 pasang os costae fluctuantes," cakap Obi kepada pria di sambungan telepon siaran langsung itu. "Aku terlupa karena begitu banyaknya korbanku. Tiga pasang os costae sporia adalah milik korban kelima yang belum selesai aku ceritakan di novel pertama. Tak lama lagi yang kedua akan segera terbit."

"Kau kira aku akan membiarkanmu melanjutkan novelmu? Mengakui pembunuhanku yang lainnya?"

"Sudah jelas akulah pelakunya, kau ini siapa? Fans yang ingin dapat tanda tanganku? Kalau berani jelaskan identitasmu yang sebenarnya!" pancing Obi.

"Hahaha ... aku takkan membuat sebuah kesalahan sepertimu."

Frans memberi kode bahwa lokasi penelepon itu sudah ditemukan. Najwa tampak sibuk menulis sesuatu terkait pembicaraan telepon itu.

"Apa maksudmu? Kesalahan apa?"

"Identitas," jawab pria di telepon itu.

"Sekarang sudah jelas, kau hanya penelepon gelap yang cuma iseng. Bahkan identitasmu tidak jelas," hardik Obi.

"Ghost Writer-mu seharusnya kau tak pernah membocorkan identitasnya. Itu bisa berbahaya bagi dirinya. Sampai jumpa."

Tut

Tut

Tut

"Sial!" Obi beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Frans.

"Maaf, saudara Obi. Kita sedang siaran langsung," sela Najwa yang tak ingin situasi kacau kedua kalinya.

Tampak Najwa berusaha keras seprofesional mungkin mengendalikan acara. Kamera pun terpaksa mengekor ke arah Obi sebelum siaran terputus dan diisi iklan.

"Sudah dilacak, posisinya di ...." Frans belum sempat menyelesaikan kata-katanya.

"Rumah Nirmala! Kau pikir aku bodoh? Segera kirim orang ke sana! Sial!"

"Maaf, bisakah kita lanjutkan acara ini?" Najwa mendekati Frans dan Obi kini sama-sama sibuk dengan HP-nya.

Tuuttt

Tutt

Tuut

"Telepon sibuk terus! Sedang apa kau Nirmala ... angkatlah!" Obi yang semakin panik mencoba menelepon lagi beberapa kali.

***

"Halo. Assalamualaikum, Mas Dharma."

"Wa'alaikum salam ...."

"Bagaimana hasilnya, Mas? Semoga saja Obi salah sangka terhadap Tante Ruri ya?" tanya Nirmala sambil menyeduh air panasnya.

"Foto-foto itu cuma mirip saja."

"Syukurlah, Mas. Terus kapan kamu pulang?"

"Mungkin agak lama, ada sedikit urusan warisan." Dharma terpaksa berbohong karena saat ini Ruri sedang mengancamnya dengan belati di leher.

"Ya sudah, Mas. Aku lagi nonton siaran Obi di TV, sepertinya pembunuh sebenarnya sudah muncul tadi di telepon."

"Siapa pelaku sebenarnya?"

"Hmmp ... to--tolong! Hmpph ...!" teriak Nirmala tertahan.

"Ha-halo! Nirmala! Apa yang terjadi? Halo!?!" teriak Dharma yang khawatir keselamatan Nirmala.

Klotak!

Prang!

Suara permintaan tolong Nirmala dan pertikaian hingga ada gelas yang pecah itulah yang terakhir kali didengar oleh Dharma. Ruri mengambil telepon, menyelipkannya ke belahan dada meski sambungan telepon belum ditutup. Jemari lentiknya mengelus lembut bibir Dharma.

"Berdoalah ... berdoa agar dia menurut perintahku dan tidak menyakiti Nirmala."

"Si--siapa lagi itu? Siapa yang menangkap Nirmala?"

"Adikmu yang paling kecil!" kata Ruri penuh misteri.

"Tidak mungkin!" Dharma tidak ingat ada lagi adik selain Tomi dan Mika di kenangan masa kecilnya.

Terlihat sebuah mobil berhenti di teras. Empat orang dewasa berpenampilan ala mahasiswa keluar, dua laki-laki dan dua perempuan.

"Ah, Mika sudah membawakan makan malam! Akan sedikit repot malam ini." Ruri menyumpal mulut Dharma dan meninggalkannya sendirian.

Tak

Tak

Tak

***

Dharma sedang kalut atas keselamatan Nirmala. Tangan dan kakinya telah ditarik-tariknya dengan paksa namun tak ada yang berubah dengan ikatan yang membelenggunya. Tak ada yang bisa dilakukannya dalam keadaan terikat dan mulut tersumpal celana dalam seperti ini. Butiran keringat mulai membasahi sekujur tubuhnya. Perlahan harapannya untuk lolos telah sirna, apalagi mengetahui bahwa Nirmala juga tertangkap oleh salah satu anak Tante Ruri. Napasnya tersengal-sengal merutuki kebodohan dan kesembronoannya menyikapi cerita Obi.

Dilihatnya salah satu monitor, tampak Mika dan tiga temannya sedang mengobrol di ruang tamu ketika Ruri dan Tomi datang menyapa. Setelah bercakap-cakap sebentar, Ruri dan Tomi menuju dapur.

Langit yang sedari sore tadi mendung sudah terdengar meneteskan rinai hujan. Beberapa kali cahaya kilat mengejutkan, disusul suara guntur yang menggelegar. Ruri mulai menyiapkan berbagai bumbu dan sayuran. Dengan celemek di dada dan pinggang kini penampilannya mirip seorang koki restoran. Dengan tenang dan cekatan ia menggerakkan pisaunya mengiris-iris berbagai bahan yang dibutuhkan.

Tomi memasuki ruang bawah tanah tempat Obi berada. Melintasinya seakan tiada siapa pun di sana meski Dharma mengerang memanggilnya. Sebuah lemari pendingin dibuka, lalu dua potong daging dikeluarkan. Persis di sebelah Dharma, daging itu di potong-potong dengan pisau daging yang besar.

Dharma belum menyadari daging apa itu hingga dilihat dengan mata kepalanya sendiri ada jari-jari kaki di ujungnya. Dia terhenyak kaget. Jumlahnya masih lengkap 5 buah jari, dengan bagian jempol di sebelah kiri.

Dak!

Dak!

Dak!

Tangan Tomi begitu kuat menghantam daging beku itu, menjadikannya lembaran-lembaran yang siap untuk dimasak. Bahkan tulang kaki tersebut dapat diremukkannya dengan sekali pukul. Tubuh tambun itu seperti tak kehilangan sedikit tenaga pun sedari tadi.

Semua yang terjadi di hadapan Dharma bagaikan mimpi buruk. Inilah keluarga yang bersamanya saat kecil. Entah apa yang dilakukan Tante Ruri hingga Tomi dan Mika bisa menjadi seperti itu. Aroma masakan mulai tercium sampai ke hidung Dharma. Kontan saja hal ini membuatnya sangat muak.

Tomi sudah menyelesaikan pekerjaan dan mengantarkan hasilnya ke dapur. Meja yang tadi digunakannya masih berlumur darah yang beku, bercampur sisa-sisa daging dan tulang yang terlalu kecil untuk di bawa. Satu benda tampak menarik perhatian Dharma. Itu adalah pisau besar milik Tomi yang tertinggal, tetapi sayang jaraknya terlampau jauh dari jangkauan tangan Dharma.

Mika, adik angkat yang tak konsisten memanggil Dharma dengan sebutan "mas", "bang", atau "kakak" itu menggadeng si mahasiswa botak ke lantai atas. Dari monitor, Dharma bisa melihat semua yang mereka berdua lakukan di kamar Mika itu. Bagai menonton adegan di film 21+ tanpa sensor, Dharma tak mengira Mika bisa seganas itu di hamparan pulau kapuk.

Dengan posisi mirip menunggang kuda pacuan dalam sebuah lomba, Mika seperti kesetanan memacunya menuju garis finish. Rambutnya yang sebahu terkibas tak beraturan menandakan hentakan dan goyangan yang begitu liar. Setelah beberapa menit mahasiswa botak itu sepertinya sudah melepaskan getah putihnya dan kewalahan mengimbangi permainan, tetapi Mika menahannya saat hendak pergi keluar kamar. Kini terlihat Mika sedang berusaha keras, membangkitkan lagi adik kecil milik pria botak itu untuk pertandingan ronde kedua.

Pemandangan di layar monitor sebelahnya, mahasiswa keriting dan si pirang pacarnya mulai menikmati jamuan makan malam Tante Ruri. Mereka tampak lahap menghabiskan hidangan daging di meja makan. Sedangkan Ruri tampak begitu tenang mengamati mereka. Seperti dugaan Dharma, tak lama kemudian dua mahasiswa itu pingsan, persis seperti yang pernah dialaminya.

(Bersambung)

1
Aryani M.S
mudah2n aku bisa jadi penulis horor kek kamu thor
Erni SS
Makin seru bikin penasaran
Erni SS
Luar biasa
Erni SS
Lumayan
Niswah
ngeri and seruuuuu
Niswah
Luar biasa
Sinta Dwi lestari
g
Anik New
sumpah serem fotonyas
Anik New
ikut ngoss ngosan aku🤭🤭
IG: _anipri
inikah racauannya?
IG: _anipri
kalau aku takutnya kalau ada katak? hii, takut katak aku. apalagi rumahnya banyak lumut dan masih lembap
FJ
update lagi dong Kak sampai Tamat
deyura
Aku berhari hari maraton dan belum sempet like, huhu. Sukaa! plot twist banget ceritanya. Semangat Thor!
Liani Purnapasary
astaga kagett aq, ga berani lihat tutup mata 😅😅
💎hart👑
👣👣👣
Aqilla
ninggal jejak
tamatin yg versi darma dulu dong
pengejaran darma ga dilanjutkan ini?yahhh padahal lagj seru2 nya..kenapa bab selnjutnya mlh ganti yg versi nirmala
cerita negri sendiri pun jika dikemas dengan baik serta pas akan menjadi menarik..seandainya di filmkan pasti sangat meren karena berbagai genre di sematkan romantis,action,mistis,horor,misteri,petualangan.walaupun nonfiksi(tetapi masih bs ditelaah secra logis dan realistis?tetapi bnyak sekali pembelajarannya.
karya seperti inilah yg disebut karya berkualitas.wajib di apresiasi..
very good and so interesting.
thank you to the writer.
adik damar balas dendam itu.apa mungkin inspektur reyhan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!