"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.
Repan menetap di Kota Bogor.
Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.
Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.
Bagaimana kelanjutannya..?
"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Roni membuang puntung rokok dari mulutnya, menginjaknya sampai padam di atas tanah, lalu melangkah maju dengan angkuh. Sorot matanya dingin, memancarkan kesombongan yang mutlak.
"Boleh juga cara mainmu," ucap Roni lempeng.
"Anak buahku bahkan nggak sempat menyentuh ujung bajumu."
Repan meliriknya sekilas. Di sekelilingnya, sembilan belas berandalan motor sudah terkapar di aspal sambil mengerang kesakitan memegangi tubuh mereka.
"Aku sengaja menyisakan kamu paling terakhir," sahut Repan santai.
"Biar jadi tontonan penutup yang seru buat anak-anak sekolah."
Roni menyeringai sinis, tapi sepasang matanya langsung berkilat penuh dengan hasrat membunuh.
"Sayangnya... aku bukan tipe orang yang suka dijadikan tontonan gratisan!"
Wushhh!
Secara tak terduga, tubuh Roni melesat cepat dan menghilang dari posisinya berdiri.
Braaakkk!
Sebuah tendangan geledek menghantam gerbang besi di posisi tepat di belakang Repan. Besi tebal itu langsung melengkung parah dan berderit keras sebelum akhirnya terlepas dari engselnya dan ambruk ke tanah.
Kalau saja Repan telat menghindar sepersekian detik tadi, bisa dipastikan tulang rusuknya sudah remuk dihantam tendangan itu.
Wush! Wush! Wush!
Pukulan bertubi-tubi langsung dilancarkan oleh Roni. Pergerakannya sangat cepat, agresif, dan dipenuhi dengan pengalaman bertarung jalanan yang matang. Mulai dari tendangan berputar, kombinasi tinju, sampai serangan lutut bertubi-tubi menghujani pertahanan Repan.
Namun, Repan tetap bersikap tenang. Berkat kemampuan Kick Boxing level duanya, tubuhnya meliuk fleksibel, memutar, dan bergeser dengan sangat lincah, meloloskan diri dari semua serangan Roni dengan tingkat presisi yang tinggi.
Buk! Buk! Buk!
Kini giliran Repan yang melancarkan serangan balasan.
Pukulan kilatnya melesat maju, namun Roni masih sanggup menahannya dengan pertahanan yang solid. Lengan Roni tampak bergetar hebat setiap kali berbenturan dengan kepalan tangan Repan, tetapi cowok kekar itu masih mampu bertahan di posisinya.
Wushhh!
Roni melompat ke udara, melayangkan dua tendangan sekaligus yang mengincar kedua sisi kepala Repan secara bersamaan.
Buk! Buk!
Repan menyilangkan kedua lengannya untuk menangkis benturan keras itu, membuat tubuhnya terdorong mundur hingga beberapa langkah ke belakang.
"Ternyata ilmu bela dirimu lumayan juga, ya?" gumam Roni sambil melempar senyum tenang yang meremehkan.
Repan justru terkekeh sinis. "Kamu pikir kamu sudah berhasil menyudutkanku? Barusan itu cuma pemanasan, tahu."
"Kalau memang merasa jago, coba maju dan serang balik aku."
Repan membalasnya dengan sorot mata yang menajam tajam. "Jangan sampai menyesal, ya."
Wushhh!
Repan melesat ke depan laksana peluru yang lepas dari selongsongnya. Tinju kirinya meluncur deras dan menghantam telak bagian dada Roni.
Buk!
Tanpa memberi jeda, tinju kanannya menyusul cepat menghajar pelipis lawan.
Buk!
'Sialan! Pukulannya berat banget! Apa anak ini sebenarnya atlet profesional?!' batin Roni panik setengah mati.
Roni berusaha keras menahan rasa sakit, namun wajahnya mulai memucat. Akibat tenaganya yang terkuras, posisi tangannya melorot turun—membuat pertahanannya terbuka lebar.
Duaaarrr!
Sebuah pukulan uppercut yang mengarah ke atas langsung menghantam telak ulu hati Roni.
"Uakkkhhh!" Roni langsung membungkuk dalam dengan wajah tersiksa, menahan rasa mulas yang membuatnya hampir muntah.
Repan nggak memberikan ruang untuk bernapas. Pukulan kiri disusul pukulan kanan kembali dilayangkan dengan brutal.
Buk! Buk!
Cairan merah kental langsung muncrat dari hidung Roni yang patah. Repan kemudian memutar poros tubuhnya dengan cepat.
Wushhh!
Sebuah tendangan berputar yang sangat keras menghantam telak sisi wajah Roni.
Braaakkk!
Tubuh kekar Roni sampai terbang layaknya layang-layang putus dan menghantam permukaan tanah dengan keras. Cowok itu sempat terguling beberapa kali sebelum akhirnya terkapar diam tak sadarkan diri di atas aspal.
Repan mengembuskan napas pendek untuk menstabilkan kondisinya. Pandangannya kemudian beralih, menatap perlahan ke arah Drian yang tengah terduduk lemas di samping tembok sekolah dengan tubuh yang gemetaran hebat.
"Tu-tunggu! Aku nggak ada urusan lagi sama kamu, Bang! Aku cuma... aku cuma—"
"Kamu sudah berani menghina adikku," potong Repan dengan nada suara datar, namun sepasang matanya menatap sedingin es.
"Dan ini adalah konsekuensi yang harus kamu tanggung."
Repan langsung menjangkau dan mencengkeram jemari tangan Drian.
"A-apa?! Jangan! Tolong tunggu dulu—"
Traaakkk!
Sebuah jeritan histeris langsung menggema keras membelah keheningan di antara hamparan tubuh anak-anak geng motor yang terkapar.
"Aaagggrrrhhhiii!" Drian melolong kesakitan sambil memegangi jari telunjuknya yang kini tampak bengkok ke arah yang tidak wajar.
Repan menundukkan kepalanya, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Drian.
"Kalau sampai kamu berani menampakkan batang hidungmu lagi di depan adikku... aku nggak akan ragu untuk mematahkan jari-jarimu yang lain. Satu per satu. Sampai kamu belajar cara menjadi manusia yang punya sopan santun."
Repan melepaskan cengkeramannya begitu saja, lalu berbalik arah meninggalkan lokasi.
Di depan gerbang SMA Negeri 7 Bogor, pemandangan sore itu benar-benar mirip seperti area pembantaian.
Dua puluh personel Geng GBA tergeletak berlumuran darah di atas aspal, pentolan mereka pingsan tak berdaya, dan Drian masih menangis histeris meratapi jarinya yang patah.
Hari itu juga, satu nama baru dipastikan bakal mengguncang seluruh wilayah Bogor Timur. Repan, si murid beasiswa yang kerap dijuluki mesin ATM berjalan, kini berubah menjadi sosok menakutkan yang sama sekali nggak bisa disentuh.
Arinda segera berlari kencang menghampiri Repan yang masih berdiri di dekat area gerbang. Meskipun seragam kakaknya dipenuhi debu jalanan, aura kepemimpinan yang dingin dari diri cowok itu sama sekali nggak luntur.
"Kak... sudah cukup," ucap Arinda dengan nada memohon. Tangannya menggenggam lembut lengan Repan yang jemarinya masih mengepal dengan erat.
Sorot mata Repan awalnya masih menatap tajam ke arah Drian yang merintih kesakitan. Namun, begitu merasakan sentuhan lembut dari jemari adiknya, ketegangan di wajahnya perlahan mencair dan pandangannya melunak.
"Cukup, Kak... ayo kita pergi dari sini sebelum teman-temannya yang lain datang lagi untuk membalas dendam," ajak Arinda lagi, kali ini dengan vokal yang sedikit bergetar karena khawatir.
Repan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan emosinya, lalu mengangguk pelan.
"Ya sudah... ayo kita pulang."
Arinda tersenyum lega. Gadis itu langsung menggandeng erat tangan kakaknya, berjalan menjauh dari area pertempuran yang kacau tersebut.
Di belakang mereka, dua puluh personel Geng GBA masih bergelimpangan di atas tanah sambil meringis kesakitan, bahkan beberapa di antaranya masih belum sadarkan diri.
Sementara itu, layar ponsel para siswa yang menonton di balik pagar tampak menyala di mana-mana. Mereka yang selama ini hanya bisa diam karena sering ditindas oleh geng motor tersebut, kini berebut merekam video dan memotret momen langka itu untuk disebarkan.
Suara kasak-kusuk, ekspresi ketidakpercayaan, hingga sorak-sorai kecil mulai meramaikan udara sore. Semua orang sadar hari ini, peta kekuatan di sekolah telah berubah total.
Geng GBA yang selama ini menjadi momok menakutkan, akhirnya berhasil dipermalukan secara telak.
Di sudut kota yang lain, tepatnya di sebuah bangunan proyek terbengkalai yang selama ini dijadikan markas besar oleh Geng GBA, suasananya terasa berbanding terbalik.
Asap rokok tampak mengepul tebal di ruangan itu, ditemani dentuman musik keras yang diputar asal-asalan. Namun, ekspresi wajah orang-orang di dalamnya terlihat sangat tegang.
"Bos! Coba lihat ini!" seru salah satu anak buah geng sambil berlari panik dengan ponsel yang digenggamnya.
"Di media sosial... video kita lagi viral, Bos! Anggota kita habis dihajar orang!"
Angga, sang ketua tertinggi Geng GBA, tampak sedang duduk di atas sebuah sofa usang dengan botol minuman keras di tangannya.
Wajah cowok itu dipenuhi dengan beberapa bekas luka akibat perkelahian di masa lalu, dan sorot matanya selalu memancarkan hawa kebuasan.
Walaupun statusnya masih merupakan seorang siswa SMA, Angga dikenal luas sebagai petarung jalanan yang sangat kejam.
"Paling-paling juga cuma anggota Eko kita yang kena hajar," sahut Jono, ketua BGA wilayah Bogor Barat, menimpali dengan nada meremehkan.
"Benar, nggak mungkin barisan elite kita bisa kalah semudah itu," tambah Eko dari tim cabang timur.
"Aku yakin ini pasti ulah dari kelompok geng lain. Ada yang sengaja cari masalah sama kita," timpal Bastian, ketua cabang utara.
Namun, anak buah yang membawa ponsel itu justru menundukkan kepalanya dengan tubuh yang gemetaran.
"T-tidak, Bos... yang habis dihajar sampai pingsan itu... Bos Roni. Dan... yang melakukan itu semua cuma satu orang!"
"APA?!" Angga sontak merebut ponsel tersebut secara paksa dari tangan anak buahnya.
Sepasang matanya langsung membelalak lebar begitu menyaksikan rekaman video berdurasi dua menit yang sedang viral itu.
Roni, bersama dengan seluruh rombongan anak buahnya... benar-benar dibantai tanpa ampun oleh satu orang siswa berseragam SMA.
"Bangsat! Dia sudah berani mencoreng nama baik Geng GBA! Bagaimana bisa Roni dan pasukannya tumbang secepat itu?!"
"Sudah kuduga. Si Roni itu memang yang paling lemah di antara kita semua," gumam Eko dengan nada sinis.
"Kalau sampai rekaman video ini tersebar luas ke sekolah-sekolah lain... reputasi kita bisa hancur total. Anak-anak sekolah bakal berani melawan kita nanti," kata Jono sambil menendang kaleng kosong di dekat kakinya hingga terpental.
Braaakkk!
Angga membanting botol minuman di genggamannya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
"Kita nggak bisa tinggal diam!"
"Lalu apa rencana kita selanjutnya, Bos?" tanya Bastian.
"Coba cek di mana lokasi mereka ribut tadi. Di depan gerbang SMA Negeri 7 Bogor, kan? Kita semua bakal merapat ke sana sekarang juga. Tunjukkan pada semua orang kalau Geng BGA belum mati!"
"Hehehe... sepertinya ini bakal jadi hiburan yang menyenangkan," gumam Eko sambil mengepalkan jemarinya hingga berbunyi.
Sementara itu, di sudut Kota Bogor yang lain, Repan dan Arinda akhirnya telah sampai di depan rumah kontrakan mereka. Suasana di sekitar tempat tinggal lama mereka terasa sepi, hanya diwarnai suara langkah kaki dan deru napas mereka yang lambat laun mulai kembali stabil.
"Arinda, cepat kemasi semua barang-barang berhargamu sekarang," ucap Repan tiba-tiba begitu mereka masuk ke dalam rumah.
Arinda langsung terkejut mendengarnya.
"Lho? Kenapa mendadak, Kak? Kita memangnya mau pindah ke mana?"
Repan menatap wajah adiknya sejenak, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang misterius.
"Ada kejutan buat kamu. Pokoknya ikut saja dulu."
Arinda sempat merasa kebingungan, namun akhirnya ia hanya mengangguk patuh. Di dalam lubuk hatinya, gadis itu mulai berspekulasi sendiri. 'Apa Kak Repan mengajakku pindah buru-buru karena takut kalau geng motor tadi bakal datang ke sini untuk balas dendam, ya?'
Namun, satu hal yang sama sekali belum diketahui oleh Arinda... sang kakak sebenarnya telah membeli sebuah rumah mewah senilai miliaran rupiah secara tunai. Dan tempat tinggal baru itu... barulah awal dari rentetan kekayaan tak terbatas yang kini berada di bawah kendalinya.
#NOTE
(Info Tambahan)
Indeks Kekuatan Awal Saat Ini: 50
Regulasi Poin: Repan kini memerlukan alokasi 5 poin atribut untuk menaikkan setiap 1 poin stat kekuatan. (Contoh: jika ingin menambah 10 stat kekuatan, ia harus mengonsumsi 50 poin atribut).
Ketentuan Lanjutan:
Saat stat mencapai angka 60, tarifnya naik menjadi 6 poin per 1 stat kekuatan.
Saat stat mencapai angka 70, tarifnya naik menjadi 7 poin per 1 stat kekuatan.
Saat stat mencapai angka 80, tarifnya naik menjadi 8 poin per 1 stat kekuatan, dan begitu seterusnya (tarif bertambah 1 poin setiap kelipatan 10 kenaikan stat).