Nia sangat mencintai Ronald dan menerima segala kekurangan yang dimilikinya, namun sayang segala cinta yang diberikan hanya dibalas dengan guratan demi guratan luka di hati. Saat Daniel datang dengan cinta baru akankah pintu hati Nia akan terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian
Seminggu sudah Papa selalu membawa sepeda milik Pak Darmawan di dalam mobilnya. Dijaganya baik-baik sepeda mahal tersebut. Mama sudah melihat ada sepeda di mobil Papa dan menanyakan siapa pemilik sepeda tersebut. Papa pun menceritakan tentang pertemuannya dengan Pak Darmawan dan mengapa sepeda tersebut masih ada di dalam mobilnya.
Siang itu Papa baru saja sampai setelah melakukan survey lokasi. Ia meminum air putih di mejanya saat Kepala Bagian Keuangan di Departemennya datang dan memanggilnya.
"Pak Adi"
"Iya, Pak" Papa pun menghampirinya.
"Ayo ikut saya Pak" perintah Pak Kabag. Papa pun mengikuti kemana langkah Pak Kabag. Ternyata Pak Kabag membawa Papa ke ruang meeting. Papa diam saja padahal hatinya bertanya-tanya ada apa dirinya dipanggil, kesalahan apa yang sudah diperbuatnya?
Papa masuk ke dalam ruang rapat mengikuti Pak Kabag. Saat masuk ke dalam Papa terkejut melihat Pak Darmawan sudah duduk dengan mengenakan setelan jas dan terkesan sangat berwibawa dan terpandang.
"Pak Adi"
"Pak Darmawan. Udah sehat Pak?" mereka pun berjabat tangan.
"Berkat Bapak saya sudah sehat" puji Pak Darmawan.
"Ah Bapak bisa saja. Syukurlah Pak kalau sudah sehat" Papa tersenyum senang melihat kesembuhan Pak Darmawan.
Pak Kabag yang merasa kehadirannya tak dibutuhkan pamit meninggalkan mereka berdua. Tak lupa Papa mengucapkan terima kasih dengan Pak Kabag.
"Jadi Pak Darmawan mau ambil sepedanya nih. Tenang Pak setiap hari sepeda Bapak selalu saya bawa di mobil saya" Kata Papa sambil menarik kursi dan duduk di samping Pak Darmawan.
"Oh bukan Pak. Tak masalah sepeda itu mah. Saya justru mau bertemu Bapak"
"Bertemu saya? ada apa ya Pak?" tanya Papa bingung.
"Mau mengembalikan uang Bapak"
"Tak usah Pak. Saya ikhlas kok menolong Bapak" Papa menolaknya namun Pak Darmawan tetap keukeuh ingin mengembalikan uang Papa. Akhirnya Papa menerima setelah Pak Darmawan mengancam akan marah jika Pap tak mau menerima.
"Pak Adi. Jika bukan karena Bapak, saya mungkin sudah tidak ada di dunia ini lagi. Seumur hidup saya berhutang budi sama Bapak"
"Jangan begitu Pak. Sudah sepatutnya saya menolong siapapun yang butuh pertolongan" jawab Papa merendah.
"Saya sangat kesakitan namun tak ada yang berhenti untuk menolong saya, hanya Bapak yang mengulurkan bantuan dan tak ragu menjaminkan dirinya saat saya dirawat. Bapak punya anak perempuan tidak? kebetulan anak laki-laki saya satu-satunya belum menikah. Saya berniat menjodohkan anak-anak kita agar hubungan kita menjadi saudara" pinta Pak Darmawan.
"Saya punya 3 anak perempuan. Yang pertama sudah menikah, yang kedua baru akan menikah 2 bulan lagi dan yang bontot masih sekolah"
"Wah sayang sekali ya Pak. Padahal bisa kita jodohkan dengan anak kedua Bapak"
"Mungkin tidak jodoh Pak. Jodoh tak akan kemana"
"Oh iya Pak, ini kartu nama saya. Hubungi saya kapanpun Bapak butuh bantuan. Saya janji akan bantu sebisa saya. Jangan lupa undang saya ya di pernikahan anak Bapak" Pak Darmawan memberikan kartu namanya sama Papa. Papa pun menerima dan memasukkannya ke saku. "Boleh saya minta nomor hp Bapak?"
"Oh boleh Pak" Papa lalu memberikan nomor Hp nya.
"Baiklah Pak saya pamit pulang dulu. Sekali lagi saya berterima kasih banyak sama Bapak" Pak Darmawan pun memeluk Papa.
"Sama-sama Pak. Jaga kesehatan ya Pak. Mari saya antar sekalian mengembalikan sepeda Bapak" Papa pun mengantar Pak Darmawan sampai parkiran lalu mengembalikan sepeda milik Pak Darmawan.
Sesuai janjinya Papa mengundang Pak Darmawan ke acara nikahan Nia. Papa senang sekali orang terhormat seperti Pak Darmawan datang ke pernikahan anaknya.
#Flashback End
******
Papa sudah membulatkan tekad untuk menghubungi Pak Darmawan. Ia lalu menelepon hp Pak Darmawan.
"Pagi Pak Darmawan"
"Pagi. Bapak Adi apa kabar?"
"Saya sehat. Bapak bagaimana?"
"Sehat walafiat Pak. Ada apa nih Bapak menghubungi saya?" tanya Pak Darmawan.
"Saya mau konsultasi sama Bapak. Bisa kita ketemuan Pak?" tanya Papa.
"Boleh. Saya hari ini di kantor Pak. Mau ketemu di kantor saya atau di Pasific Place saja?"
"Oh kantornya sabtu tidak libur ya Pak?"
"Iya. Kantor saya buka setengah hari kalau sabtu"
"Baiklah saya ke kentor Bapak saja ya"
"Baik Pak. Saya tunggu"
******
Papa pamit dengan Nia dan Nesia untuk menemui temannya. Papa mengendarai mobilnya memasuki perkantoran di SCBD. Gedung-gedung menjulang tinggi nan megah. Mobil Papa memasuki gedung kantor Pak Darmawan. Papa takjub melihat betapa mewahnya kantor Pak Darmawan. Benarlah Ia seorang pengacara yang hebat.
Papa memencet lift menuju lantai 21. Sesampainya Ia diatas, Papa menuju meja reseptionis dan meminta bertemu dengan Pak Darmawan. Reseptionis langsung mengantarkan Papa karena memang kedatangannya sudah ditunggu.
"Pak Adi. Sudah saya tunggu-tunggu kedatangannya." Pak Darmawan tersenyum senang melihat kedatangan Papa. Ia lalu mempersilahkan Papa duduk dan menyuruh sekretarisnya membuatkan minuman.
"Maaf kedatangan saya merepotkan Bapak"
"Ah tidak. Tidak pernah ada kata merepotkan buat Pak Adi. Saya senang akhirnya Bapak datang ke kantor saya, dengan begitu tali silahturahmi kita tak pernah putus. Ada apa Pak?"
Sekretaris Pak Darmawan datang membawakan minuman dan cemilan untuk Papa. Setelah sekretaris pergi barulah Papa menceritakan masalahnya.
"Saya malu sebenarnya menceritakan masalah saya Pak. Tapi saya tidak tahu kemana lagi saya harus meminta pertolongan. Putri saya Nia, yang setahun lalu menikah belum juga memiliki momongan, namun mertuanya menyudutkan Ia terus sampai akhirnya semalam Ia pulang ke rumah saya. Nia anak yang baik Pak. Tak pernah Ia membantah suaminya. Jika anak saya yang penurut sampai kabur dari rumah berarti bebannya sudah berat, saya takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Maka dari itu saya menitipkan Nia pada Bapak apabila hal yang tidak diinginkan terjadi." Papa menceritakan kisah Nia dengan berlinang air mata.
Pak Darmawan yang mendengar cerita Papa melihat besarnya cinta yang diberikan kepada anaknya. "Hal tak diinginkan apa maksud Bapak? Perceraian?"
Papa pun mengangguk. Pak Darmawan sekarang tau arah pembicaraannya. Papa meminta Pak Darmawan menjadi pengacara Nia apabila Ia sampai bercerai nanti.
"Jangankan jadi pengacaranya, anak-anak Bapak akan saya anggap sebagai anak saya sendiri. Bapak tak perlu khawatir" janji Pak Darmawan.
"Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih... "Papa berkali-kali mengucap terima kasih pada Pak Darmawan. Hilanglah sudah kekhawatirannya saat ini. Tinggal menghadapi menantu dan besannya nanti.
Papa tak langsung pulang ke rumah, karena Pak Darmawan mengajaknya ngobrol lalu mengajak makan siang di rumahnya. Papa pun mengiyakan ajakan sang sahabat. Papa disambut bak raja oleh keluarga Pak Darmawan. Semua itu karena jasa dan kebaikan yang Papa tanamkan.