TAMAT!!!
Duaaarrrrr!
Suara petir tiba-tiba bergelegar seolah menggetarkan seluruh jagat raya, seketika itu juga Cara berteriak dan merasakan tubuhnya semakin bergetar.
Cara sangat tidak menyukai hujan, terlebih angin dan petir, entah mengapa setiap kali dirinya mendengar suara petir tubuhnya reflek langsung bergetar, jantung nya berdebar begitu kencang dengan napas yang memburu.
"Mamiiii!" Teriak Cara dan langsung menutup kedua telinganya sambil menekuk kaki nya ke kursi.
Mobil segera berhenti menepi dan reflek tubuh Cara langsung di tarik dan di dekap oleh cowok tersebut. Hangat dan nyaman, itulah yang Cara rasakan.
"Sssttthhh i'm here," bisik nya di telinga Cara seketika membuat air mata Cara menetes.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacaran
"Gue serius Kampret!" kata Cara cemberut kesal.
"Lo mabok kayaknya, atau efek laper makanya lo ngelantur. Kuy lah balik buruan makan biar otak lo gak konslet lagi," ucap Satria memberikan helm kepada Cara.
"Lo gak percaya kalau gue serius?" tanya Cara dengan wajah datar nya.
Belum sempat Satria menjawab, Cara pun dengan cepat memajukan wajahnya dan mendekatkan dengan Satria. Semakin dekat dan dekat hingga akhirnya bibirnya kini mulai bersentuhan dengan bibir Satria. Tentu saja Satria terkejut, ia merasa seolah jantung nya berhenti berdetak.
Sedangkan Cara berusaha memejamkan matanya berharap Satria akan mencium nya seperti dulu, namun ternyata Satria hanya diam dan bengong. Merasa kesal karena tidak ada balasan, akhirnya Cara menjauhkan wajahnya dari Satria. Dan seketika itu juga Satria baru sadar bahwa ini nyata dan ia menatap Cara dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kenapa lo gak cium gue kaya waktu itu sih?" tanya Cara dengan kesal.
"Queen lo mau buat gue mati jantungan?" tanya Satria spontan sambil memegang dada nya dengan napas yang memburu.
"Queen?" tanya Cara mengerutkan dahinya.
Deg.
Satria menelan Saliva nya kala menyadari ia keceplosan bicara.
"Kenapa lo panggil gue dengan nama itu?" tanya Cara penasaran malah semakin membuat Satria kelabakan.
"Satria, jawab gue jujur. Kita sudah pernah kenal kan sebelum nya?" tanya Cara.
"Benarkah? kapan?" tanya Satria berusaha menutupi kegugupan nya.
"Kampret! lo jangan bohongin gue! kenapa lo bisa panggil gue Queen? itu nama panggilan dari orang orang terdekat gue?" ucap Cara kesal karena jawaban satria.
"Oh ya? woah bagus dong berarti, bukankah kita pacaran? jadi itu berarti gue juga orang terdekat lo dan gue berhak manggil lo pakai nama itu lagi," kata Satria menaik turunkan alisnya.
"Padahal gue tadi cuma asal doang, karena kita pacaran makanya gue mau lo jadi ratu di hidup gue. Dan karena itu gue manggil lo Queen," jelas nya.
"Ah iya juga ya, oke oke jadi fiks mulai sekarang kita pacaran!" kata Cara dengan senyum mengembang.
"Peraturan pertama, lo harus antar jemput gue ke sekolah SETIAP HARI!"
"Yang kedua, gak boleh telat bales chat dari gue!"
"Yang ketiga, lo ga boleh ganjen ke cewek lain, gue gak mau di madu!"
"Dan yang ke empat, gue pengen di panggil Sayang," kata Cara dengan semangat membuat Satria langsung terkekeh.
'Kamu gak berubah Queen,' gumam Satria dalam hati.
"Dan gue juga gak suka lo deket sama cowok lain selain gue!" ucap Satria datar dan begitu dingin membuat Caramel seketika menelan Saliva nya. Entah mengapa ia merasa tiba tiba udara berubah menjadi dingin saat mendengar ucapan Satria.
"O—oke," jawab Cara terbata.
"Ya udah sekarang kita balik," kata Satria kembali hangat dan membuat jantung Cara kembali berdetak semakin cepat kala melihat senyum di wajah Satria.
"Lo gak mau peluk gue?" tanya Satria saat Cara sudah naik dia ats motor.
"Pengen banget apa pengen aja gue peluk?" kata Cara ketus namun juga tersenyum senang.
"Pengen banget lah, siapa sih yang gak mau di peluk sama pacar," jawab Satria santai.
Tanpa menjawab lagi, Cara pun langsung memeluk Satria dengan erat dan menyandarkan kepalanya di punggung Satria.
Entah mengapa Cara merasa sangat nyaman saat seperti ini. begitupun dengan Satria, selama perjalanan senyum tak pernah lepas menghiasi wajah Satria dari balik helm.