Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.
"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.
"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma pria
Pesta pernikahan Aira dan Ibrar telah usai. Mereka berdua muncul di depan pintu apartemen Ibrar tanpa di antar keluarga. Bukan karena tidak ada yang peduli, tapi Aira menolak di antarkan. Meskipun ayah dan ibu berniat mengantar, Aira menolak.
Ibrar membuka kunci apartemennya dan membuka pintu.
"Aku bisa membawanya sendiri," tolak Aira saat Ibrar hendak mengangkat tasnya yang berisi pakaian.
"Sepertinya itu ringan." Aira memang tidak membawa banyak pakaian. "Aku bisa membiarkanmu membawanya. Masuklah ...." Aira menghela napas terlebih dahulu sesaat sebelum kakinya menginjak apartemen milik Ibrar. Matanya membulat melihat isi bagian dalam apartemen ini. Terasa asing. Karena ini pertama kalinya dia masuk.
Satu persatu barang dan letak perabot di perhatikan bola mata perempuan ini. Canggung. Langkah Aira ragu-ragu dan canggung. Ibrar menemukan kecanggungan ini saat melihat Aira yang berjalan di belakangnya.
"Aku pikir kamu sudah tahu bagian dalam apartemenku, karena mendadak kamu bilang ingin tinggal denganku."
Aira menoleh sekilas. Kemudian melihat ke depan lagi. "Itu tidak mungkin. Kita baru saja kenal."
"Meskipun sudah hampir setengah tahun lebih kita bekerja di satu perusahaan?" Ibrar melebarkan bukaan tirai hingga sinar matahari semakin menyinari seluruh ruangan. Aira menyipitkan mata. Beradaptasi dengan sinar matahari yang silau.
"Memangnya kita berdua pernah menceritakan kehidupan kita msing-masing?" Aira menoleh pada Ibrar yang berdiri di dekat jendela.
"Aku tahu soal kamu."
"Bukan. Kamu hanya mendengar soal aku dari keluargaku yang tak sengaja ternyata mengenalmu lebih dulu," bantah Aira.
"Itu benar juga. Namun secara garis besar, aku tahu kamu."
"Terserah. Bagiku tetap tidak. Kita baru saja kenal." Aira kembali larut dalam mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru apartemen.
"Jadi ada yang menceritakan aku di belakangku?" selidik Ibrar tanpa bermaksud menginterogasi. Dia sudah punya banyak kandidat tersangka. Ada Wira kakak iparnya atau bahkan Yuta. Pria yang banyak gaya dan banyak bicara itu.
"Tebak saja," kata Aira bukan dengan niatan ingin bercanda karena nada bicaranya datar. "Dimana aku harus meletakkan tas bajuku ini?"
"Itu kamar kita," tunjuk Ibrar. Kaki Aira tidak segera melangkah. Alisnya menyatu seraya memandang Ibrar dengan dingin.
"Kita? Kamar kita?" tanya perempuan ini dengan mata menyipit.
"Iya."
Aira mendecak kesal. "Tolong. Kamu paham benar aku tidak mencintaimu dan terpaksa menikah denganmu. Mana mungkin aku harus tidur satu kamar denganmu. Jangan membuat buruk situasi kita, Brar."
"Jadi kamu ingin kita tidur terpisah?"
"Itu jelas," ujar Aira melihat Ibrar dengan keyakinan penuh. Ibrar terdiam dengan kedua bola matanya memandang Aira dengan arti yang tidak di mengerti. Aira melihat bola mata itu. Ada banyak macam ekspresi yang mewakili sorot mata itu. "Kamu tahu, pernikahan ini muncul dari satu sisi Brar ... " Aira berusaha meminta Ibrar mengingat lagi perbincangan soal mereka berdua di awal.
"Aku tahu, Ai. Hanya saja aku juga perlu menenangkan diri dari ketidaksiapanku untuk berpisah kamar darimu." Aira membuang muka ke arah lain. Ibrar sangat berterus terang. "Pakailah kamar ini dulu." Ibrar sudah berdiri di depan pintu kamar yang di sebutkan tadi. Membukanya perlahan.
"Itu kamarmu," tolak Aira.
"Ya. Saat ini memang iya, tapi aku akan memindahkan barang-barangku ke kamar di seberang." Kali ini Ibrar menunjuk sebuah pintu di kamar seberang. "Masuklah. Letakkan tasmu di dalam."
Aira akhirnya menurut. Kakinya mengikuti langkah Ibrar dari belakang. Aroma pria. Saat Aira masuk, aroma pria menyapa indera penciumannya. Sekejap, Aira menunduk.
"Barangku tidak banyak. Akan cepat selesai jika aku memindahnya mulai sekarang."
"Jika sulit, aku bisa memakai kamar tidur yang tadi." Aira sedikit melunak.
"Tidak. Tidak apa-apa. Kamar di sana lebih sempit karena itu kamar tamu. Lebih baik kamu yang tidur di kamar ini."
Melihat Ibrar mengeluarkan barang-barang miliknya, Aira akhirnya berdiri mendekat.
"Aku bantu." Ibrar menoleh ke belakang. Dimana Aira muncul.
"Jangan. Duduklah. Karena kamu bisa lelah."
"Tidak perlu sungkan. Ini tempat yang akan aku pakai. Aku juga wajib ikut membersihkannya." Aira mendesak. Karena melihat Ibrar bolak-balik sendirian di depannya sambil membawa barang, membuat matanya lelah juga. Ia bangkit untuk membantu.
"Bawa barang yang ringan saja, Ai," pesan Ibrar yang tidak mau Aira kelelahan.
"Aku tidak apa-apa," sahut Aira. Namun beberapa menit saat Ibrar usai memberi nasehat, kaki Aira tersandung barang-barang yang di turunkan dari atas lemari. Beruntungnya Ibrar berhasil tahu itu dan segera menangkap tubuh Aira.
"Ai!" teriak Ibrar. Jika Ibrar tidak cepat, kepala Aira akan terbentur daun pintu lemari.
Napas Aira terengah-engah karena terkejut.
"Hati-hati, Ai ..." kata Ibrar khawatir. Aira mengangguk tanpa sadar. Saat dia mulai bisa menenangkan keterkejutannya, sontak Aira kembali kaget melihat dirinya berada dalam lingkaran lengan milik Ibrar. Secepatnya perempuan ini bangkit dan mundur. Mengkerjap-kerjapkan mata karena mendapati dirinya tadi dalam posisi yang tidak tepat.
"Maaf," ujar Aira sambil menyisir rambutnya dengan tangan dan membalik tubuhnya. Memunggungi Ibrar yang melirik ke arah lengannya yang sempat memeluk tubuh Aira tadi.
"Kamu hampir saja menabrak lemari jika tidak aku tangkap. Itu insiden." Ibrar menurunkan lengannya dan kembali membersihkan barang-barang.
"Aku akan mengeluarkan barang yang di sana." Aira memilih membersihkan barang yang letaknya agak jauh dari Ibrar.
"Ya. Itu juga perlu di keluarkan." Ibrar berusaha bersikap wajar meskipun baru saja dadanya berdebar kencang. Hanya tidak sengaja menangkap tubuh Aira yang hampir jatuh saja jantung Ibrar sudah berdebar. Dia memang telah jatuh cinta pada perempuan ini.
Dering ponsel Ibrar berbunyi. Ibrar melihat layar ponsel.
"Biarkan saja barang-barang ini di tempatnya. Aku akan menerima telepon sebentar di luar. Kamu tidak perlu membereskannya." Aira hanya mengangguk. Setelah pria itu keluar dari kamarnya, Aira merebahkan tubuh di atas ranjang.
Kembali. Aroma pria menembus indera penciumannya. Sekarang aroma itu lebih kuat. Kepala Aira menoleh ke samping. Jelas saja, aroma pria itu melewati hidungnya. Karena saat ini dia sedang terbaring di atas ranjang milik Ibrar. Karena pindahan rumah yang di luar rencana Ibrar, pria itu pasti belum mengganti sprei dengan yang baru.
Tubuh Aira bangkit. Lalu duduk. Melihat ke sekeliling kamar dengan kedua bola matanya. Dia melihat satu persatu barang milik pria itu. Ada rasa ingin menyentuh apa saja yang ada di dalam sini.
Ruangan ini di penuhi oleh warna hitam dan putih. Aira sedikit suka dengan tema kamar sederhana tapi tegas ini. Duk! Sekali lagi Aira terantuk barang dan hampir terjatuh. Bola matanya melebar gemas harus merasakan tubuhnya hampir jatuh lagi.
Kakinya pun melangkah ke arah nakas. Ada bingkai foto kelulusan. Pria itu tersenyum tipis ke arah kamera dengan pakaian toga-nya. Di sampingnya ada seorang perempuan yang dia tahu adalah kakak perempuan Ibrar. Lalu yang satu lagi siapa?
banyak pelajaran yang di dapat
berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?