Alesha Az-Zahra jatuh cinta pada pandangan pertama dengan guru SMA nya yang tampan, setahun memendam perasaan suka pada guru itu akan kah Alesha memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya?
"Hm," jawaban pak Rezel yang singkat padat dan tidak jelas itu membuat Alesha ingin menembaknya dengan serius, menembak dengan pistol, senapan atau sniper kalau perlu.
Mencintai pak Rezel itu melatih kesehatan mental Alesha, selain sikap nya yang galak dan menyebalkan dia juga kalau bicara sangat tidak jelas. Bicara pendek menyebalkan, bicara panjang malah lebih menyebalkan!
Di mata seorang Alfarezel Savian, Alesha adalah seorang gadis yang terlihat sangat mirip dengan seseorang di masalalu nya. Hal itu membuat nya cukup tertarik pada gadis itu, sampai suatu hari gadis itu datang dan menyatakan perasaan pada nya.
Siap mengikuti cerita mereka? Jangan lupa klik favorit terlebih dahulu agar mendapat notifikasi saat update :)
follow akun ig @_lisaautmptri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisaautmptri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
First Kiss Jilid 2
Alesha berlari duluan masuk ke dalam mobil, malas sekali menjawab pertanyaan itu.
Masa iya sih dia harus menjawab, iya saya tergila-gila dengan bapak! Mau di taruh dimana coba
harga diri nya yang memang sudah tidak bernilai di hadapan pak Rezel. Pemuda
itu tidak bisa menahan senyuman nya melihat gadis kecil yang sekarang sudah di
dalam mobil, mengerjai Alesha sepertinya menjadi hobi baru yang membuat nya
senang sekarang.
“ Jadi bagaimana?” tanya pak Rezel setelah mobil melaju keluar dari kawasan sekolah.
“ Apa nya pak?” tanya Alesha tidak mengerti, gadis itu tengah meneguk minuman yang di temukan nya masih utuh di dashboard mobil.
“ Sayang,” kata pak Rezel sarkas, semakin membuat gadis itu mengernyit bingung, pak Rezel berdecak sebal. Dia sering lupa kalau pacar kecil nya itu memiliki otak yang lemah
berpikir, jadi tidak akan mengerti maksud ucapan nya yang hanya sepatah dua
patah.
“ Berhenti memanggil teman mu sayang!” pak Rezel menoleh kaca spion, tidak ingin Alesha melihat perubahan raut wajah nya barusan.
“ Bilang dulu bapak cemburu pada saya,” gadis itu kembali menggoda pak Rezel dengan tatapan berbinar, seperti nya berharap sekali pak Rezel akan mengucapkan kalimat itu.
“ Mengaku dulu kamu tergila-gila pada saya,”
“ Mati aja kamu pak! Harga diri bapak setinggi langit apa?” desis Alesha tanpa suara, gadis itu
meremuk botol nya karena kesal.
“ Bapak tenang saja, hati saya ini hanya untuk bapak kok. Bukti nya setahun ini saya tidak pernah berpaling dari menyukai bapak kan? Ya memang sih saya suka khilaf kalau melihat
yang ganteng, tapi hati saya tidak pernah berpaling dari bapak kok, sumpah!” ujar
Alesha seyakin mungkin. Gadis itu tidak menyadari apa yang di ucapkan nya
sebelum mendengar pak Rezel berkata..
“ Berarti kamu memang tergila-gila
dengan saya ya,” tanya pak Rezel dengan wajah menyebalkan nya itu, Alesha
mendengus buang muka, kenapa malah dia
lagi yang terpojok jadi nya.
Karena kamu hanya fokus dengan saya,sampai tidak menyadari banyak yang
memperhatikanmu.
Dan sepanjang perjalanan pun mereka habiskan dengan berdebat perkara cemburu dan tergila-gila, Alesha di buat terpojok berkali-kali karena ucapan pak Rezel yang
benar ada nya. Alesha yang mengaku pada semua orang yang dikenalnya kalau pak
Rezel adalah calon suami nya, Alesha yang selalu curi-curi pandang saat mereka
berpapasan dan semua aib-aib Alesha di sebutkan oleh pak Rezel. Gadis itu sudah
gelisah ingin cepat sampai di rumah, sudah tidak tahan ingin mencekik pak Rezel
yang menyebalkan. Mana dia mengatakan itu semua dengan wajah tampan, namun
menyebalkan itu lagi!
“ Terimakasih pak,” Alesha melepas sabuk pengaman nya, gadis itu membuka pintu mobil sudah mau keluar, namun masuk lagi setelah melupakan sesuatu. Ritual yang satu ini tidak
boleh di lupakan kan?
Alesha mendekatkan diri ingin mencium pipi pak Rezel seperti biasa, pemuda itu juga tengah fokus menatap depan. Jadi dia akan mencuri ciuman lagi, hahaha. Namun tanpa di
sangka, pak Rezel menoleh dan alhasil Alesha mencium bibir nya bukan pipi!
Alesha cepat-cepat menjauh.
“ Bapak kenapa menoleh sih?!” tanya gadis itu kesal menutup mulut nya dengan kedua tangan, pak Rezel terkekeh kecil.
“ Kamu mau mencium saya tanpa izin lagi?” tuding nya dengan nada mengejek, Alesha jadi tersenyum kikuk karena tertangkap basah.
“ Tapi kan bapak seharusnya tidak menoleh, ah sudah lah terimakasih pak. Hati-hati di jalan ya,”
Cup.
Pak Rezel menoleh lagi saat gadis itu berhasil melakukan niat awal nya, hah dia kecolongan lagi, tidak menyangka Alesha masih berani melakukan nya setelah dia sengaja menoleh tadi.
Pak Rezel menarik tangan Alesha yang sudah membuka pintu lebih lebar, gadis itu
terjerembah ke dalam pelukan nya. Pak Rezel melingkarkan tangan nya di pinggang
Alesha, mengeratkan pelukan nya pada gadis kecil itu.
Alesha membeku dalam pelukan pak Rezel, merasakan hangat nya pelukan pemuda itu dan betapa wangi nya tubuh pak Rezel.
“ Gadis nakal,” ujar pak Rezel dengan masih mempertahankan senyuman.
Hari-hari setelah itu, Alesha merasa hubungan nya dengan pak Rezel mulai membaik dan berjalan dengan normal, ya walaupun masih belum sampai tahap normal seperti orang lain. Namun pak Rezel sudah tidak semenyebalkan saat awal mereka berpacaran, pemuda itu
sudah lebih sering tersenyum atau tertawa sekarang. Namun yang masih belum
hilang adalah sikap menyebalkan nya yang selalu membuat Alesha ingin membunuh
nya atau membunuh diri sendiri karena tidak mampu menahan kesal.
Seperti sekarang, Alesha di buat kesal setengah mati karena hampir sepuluh menit dia disini namun pak Rezel masih belum menoleh dari buku yang sedang di baca nya. Hahh menyebalkan sekali, padahal jelas-jelas pak Rezel melihat nya saat duduk tadi.
Alesha sengaja mengetuk-ngetuk meja agar pemuda itu menoleh dari buku yang
sedang di baca nya.
“ Jangan berisik,” suara pak Rezel terdengar, tanpa menurunkan buku yang menutupi wajah nya.
“ Lalu kenapa bapak memanggil saya kesini kalau tidak ingin bicara dengan saya?” tanya Alesha membalik kasar lembaran buku nya.
“ Agar kamu belajar,” pak Rezel mengambil buku matematika dari rak yang tak jauh dari tempat duduk nya. Alesha merengut semakin malas, sudah ingin pergi dari sini kalau pak Rezel tidak lebih dulu menyuruh nya agar duduk di samping pemuda itu.
“ Kemari, biar saya mudah menjelaskan.” Pak Rezel menepuk kursi di samping nya, gadis itu dengan semangat mendekat. Kapan lagi coba duduk sedekat itu dengan pak Rezel dan
berduaan, pikiran Alesha sudah berlarian kemana-mana.
Gadis itu duduk dengan semangat dan senyuman lebar, pak Rezel
mengeluarkan buku tulis dan sebuah pensil. Setelah menjelaskan beberapa materi
pemuda itu membuat soal dan setelah nya menyerahkan pada Alesha.
“ Coba kerjakan,” perintah nya dengan nada galak seperti yang biasa ia lakukan saat di kelas.
Seperti biasa nya, suasana perpustakaan itu cukup sepi, murid-murid sudah kehilangan minat mendatangi tempat itu.
Gadis itu mulai mencoret-coret di kertas, pak Rezel memilih kembali membaca buku sembari menunggu Alesha mengerjakan soal nya.
Huaaahh
ini soal apa sih? Aku gak ngerti sama sekali! Ayolah otak bodoh, masa soal
gampang begini kamu gak ngerti. Buang dulu Rezel sebentar dari pikiran mu!
“ Sudah belum?” tanya
pak Rezel sembari melirik dan menemukan gadis itu belum menuliskan apapun
kecuali nama nya.
“ Apa ini? Kenapa jawaban nya nama saya?” tanya pak Rezel marah, merebut kertas itu dari tangan Alesha.
“ Ha?” tanya Alesha dengan tampang bodoh, kapan dia menulis nama pak Rezel coba? Masa iya sih dia tidak sadar melakukan nya.
“ Kamu tidak mengerti?” suara pak Rezel terdengar jengah.
Alesha menggeleng sembari tersenyum, membuat pemuda itu semakin mengerang kesal.
“ Apa saja yang kamu lakukan di kelas, soal begini saja tidak bisa mengerjakan?” pak Rezel menunjuk kertas itu dengan nada semakin marah.
“ Memikirkan bapak,”
Jawaban Alesha yang
terdengar bercanda semakin membuat nya marah, pemuda itu menggebrak meja pelan.
“ Saya sedang tidak bercanda,” menatap Alesha dengan iris tajam nya.
“ Saya juga serius pak, saya memang memikirkan bapak kalau di kelas.”
Pak Rezel menghembuskan nafas panjang, kehilangan kata-kata setelah mendengar jawaban Alesha. Sudah lah
otak nya Alesha itu hanya berfungsi sedikit dan hanya dihabiskan untuk memikirkan nya
juga, mau jadi apa gadis itu nanti kalau tetap begitu?! Pak Rezel menggetuk kepala gadis itu keras, agar pikiran nya berfungsi
sedikit.
“ Ah, sakit pak!” Alesha meringis, menjauhkan diri dari pak Rezel sembari memegangi kepala nya yang berdenyut.
“ Saya mau kembali, jangan keluar dari sini sebelum menyelesaikan soal itu.” pak Rezel bangkit dari duduk nya dengan kesal.
“ Kan sebentar lagi masuk pak, bapak mau saya bolos pelajaran lain karena disini dan mengerjakan tugas bapak?” tanya gadis itu tersenyum.
Pak Rezel mendengus saja lalu meninggalkan Alesha, setelah nya gadis itu juga memilih kembali ke kelas. Malas sekali kalau menghabiskan waktu sendirian disitu dengan
mengerjakan soal, lebih baik kembali ke kelas dan mengobrol bersama teman-teman
nya.
semangat thor 😊
enak kan zel pak rezel 🤣🤣🤣🤣🤣