NovelToon NovelToon
La Señorita

La Señorita

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:15M
Nilai: 4.9
Nama Author: Alianna Zeena

Karena terlilit hutang, Lucia harus rela menjadi pelayan di sebuah mansion dan mengabdikan dirinya pada pria yang menjadi tuannya. Bukan hal mudah untuk Lucia bekerja di sana, tuannya adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di Madrid.

Louis nama pria yang mendapat julukan jaguar hitam. Dengan masa lalunya yang kelam, dia membunuh tanpa kasihan. Hatinya dingin tidak tersentuh, hanya ada kekejaman dalam hidupnya.

Lucia mencoba tidak terlibat apa pun dengan Louis. Sayangnya, malam yang kelam memaksa Lucia menerima semua benih dari Louis. Sampai akhirnya Lucia hamil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alianna Zeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

La Señorita 30 : Segundo embarazo

Vote sebelum membaca😘😘

.

.

Klab malam masih terbangun, tidak mempedulikan matahari yang sebentar lagi muncul ke permukaan. Suara musik memenuhi gendang telinga Norman begitu dia memasuki lantai dansa, dimana tidak sedikit orang yang berpesta alkohol. Beberapa wanita yang mencoba menyentuhnya dia abaikan, Norman naik ke lantai paling atas, di mana hanya ada koridor panjang menuju satu pintu.

Begitu terbuka, matanya disuguhi oleh Louis yang sedang merokok di sofa, botol alkohol tergeletak di mana-mana, membuat pria itu sedikit kehilangan kesadarannya. Ini sudah fatal. Norman melangkah lebar, dia mengambil paksa botol yang hendak diteguknya dan menyimpannya di meja.

"Señor, sadarlah, apa yang terjadi?"

Bukannya menjawab, tubuh Louis limbung. Rokok hampir saja mengenai tubuhnya jika Norman tidak mengambilnya, dia mematikan benda itu, memberikan bantalan sofa pada Louis yang kini terbaring di atasnya.

Norman duduk di sisi lain, menatap lantai yang dipijaknya, bagaimana dirinya bisa melihat situasi di bawah sana. "Señor, senjata yang kau inginkan selesai dibuat."

Louis tidak menjawab, matanya tetap terpejam.

"Aku pikir bagus jika kau membuka klab dan bar di Asia, keuntungan bisa berlipat ganda."

Meskipun nada suaranya rendah, Norman mendengar dengan jelas gumaman Louis. "Uangku banyak, tapi kebahagiaan tidak bisa aku dapatkan."

"Apa yang terjadi, Señor?"

"Lucia ingin pergi, dia ingin keluar dari tempatku," ucapnya dengan tangan terlipat di dada. Sepertinya dia mulai bisa mengendalikan tubuhnya. Pria itu hanya memakai kaos kutang dan celana panjang, membuat tatto ditubuhnya terlihat dengan jelas. "Dia tidak percaya kalau aku mencintainya."

"Kau mencintainya, Señor?"

"Ya, aku menyukainya sejak pertama kali dia datang, tapi komitmenku pada Penelope menutup semuanya. Sampai aku melihatnya, bagaimana dia berjuanh untuk kebahagiaan Louisa…..," ucapnya dengan suara merendah. "Dia wanita hebat di usianya yang masih muda."

"Media geger karena kau memperkenalkannya pada dunia."

"Sí, aku pikir dia akan bahagia, nyatanya dia marah besar. Mengira aku menyamakannya dengan Penelope."

Norman terdiam, cerita itu membuatnya ingin minum alkohol dari botol yang masih utuh. "Jadi, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku tidak melakukannya, mereka berdua memiliki ruang khusus di hatiku. Lucia jauh diatas Penelope, dia memberiku apa yang aku butuhkan dalam hidup."

"Jadi…. Kau benar-benar mencintainya?"

"Aku mencintainya," ucap pria dengan bulu-bulu halus di dagunya itu. "Aku ingin dia bahagia."

"Maka lepaskan dia jika itu yanh diinginkan Señorita."

Mata Louis terbuka seketika, dia menatap tajam langit-langit ruangannya yang terbuat dari kaca layaknya kristal. Norman melanjutkan, "Jika itu yang memang diinginkannya, yang akan membuatnya bahagia, maka lepaskan saja dia. Setidaknya biarkan dia merasakan perbedaan hidup dengan atau tidaknya tanpa kau, Señor."

"Bagaimana jika ada yang berbuat jahat padanya?"

"Berapa antek-antekmu yang tersebar di seluruh Spanyol? Dia aman," ucap Norman membuat pemilik manik hitam itu semakin termenung.

"Melepaskannya?"

"Setidaknya biarkan dia merasakannya."

Louis menutup matanya dengan telapak tangan, dia membuang napas kasar. Dapat Norman lihat, tuannya sedang dalam situasi yang sangat sulit, perasaan memang menghancurkan segalanya. "Dimana senjata itu?"

"Aku menyimpannya di apartemen. Satu lagi berita baik, Señor."

"Apa?"

"Aku menemukan file milio Nona Amelia."

Pemilik manik hitam itu seketika menegakan tubuh, dia menerima tablet yang diberikan Norman. "Semua isinya adalah kejahatan kita, seperti yang kau duga. Aku sudah membereskan semuanya, kau bisa melakukan apapun yang kau mau pada Amelia."

"Bagaimana kau melakukannya?" Tanya Louis.

"Ya?"

"Bagaimana kau melakukannya?"

Norman menegakan tubuh mendapat tatapan tajam dari Louis. "Aku yakin kau sudah tahu aku bisa meretas dengan baik."

"Nilai plus untukmu," ucap Louis berdiri, dia mengambil kaos dari dalam lemari kecil di sudut ruangan yang gelap. 

"Kau akan pergi ke mana, Señor?"

"Beritahu Charlie untuk mengirim senjata itu ke mansionku." Meninggalkan Norman sendirian di dalam ruangan. Louis menaiki lift yang menuju langsung pada basement. Waktu masih menunjukan pukul dua lewat lima belas menit. Jalanan mulai sepi, membuat Louis bisa mengedarai lebih cepat. 

Suara mesinnya begitu halus, bugatti hitam berhenti di depan sebuah gedung apartemen. Lobi masih menyala, tapi tidak ada yang berjaga. Louis masuk ke sebuah ruangan yang dia kenal.

Memasuki kamar, melihat Amelia yang memakai gips di leher tertidur nyenyak. Pria itu sengaja membuat suara dengan menutup pintu dengan kencang. 

Membuat manik wanita itu terbuka, dia menyadari siapa yang datang. "Oh, Louis, aku minta maaf atas perbuatanku saat itu. Temani aku malam ini."

Louis berdiri tepat di samping Amelia, wanita itu kesulitan bergerak, bahkan dari tidurnya. "Siapa yang merawatmu?"

"Oh, kau khawatir? Seorang perawat akan datang pagi nanti. Tidurlah di sebelahku, Louis."

"Aku menemukan file yang kau sembunyikan, Amelia."

Senyuman di wajah wanita itu luntur. "Tidak mungkin," ucapnya dengan nada rendah. "Aku menyimpannya dengan baik."

"Dan hacker terbaikku melakukannya dengan sempurna," ucap Louis mendekatkan bibirnya ke telinga Amelia. Dia berbisik, "Jika kau berani sedikit saja mendekati keluargaku, akan aku masukan kau ke penjara, beserta dengan ayahmu, Amelia."

Matanya melotot, menahan kesal pada pria bermanik hitam. "Kau akan kalah berurusan dengan ayahku, dia mentri pertahanan, ka--"

"Kalian ada di bawah kendaliku. Aku beri kau satu kesempatan, Amelia, jauhi kekasih dan anakku."

Ketika Louis melangkah menuju pintu, Amelia menghentikannya dengan suara tawa yang keras. "Kekasih? Aku pernah mencakar kekasihmu, Louis, dia pernah bersujud di bawah kakiku. Apa yang kau lakukan saat itu?"

Louis membalikan badan, dia hanya menatap dan membiarkan Amelia melanjutkan, "Kekasihmu itu jalang, aku pernah menggunakannya untuk pria lain. Dia menjijikan."

Wajah pria itu santai, tapi tidak dengan senjatanya. Dia menodong ke arah Amelia, peluru siap diluncurkan. "Dan takkan biarkan kau melakukannya lagi."

"Kau mau membunuhku? Mengotori tanganmu demi wanita jalang itu?"

Tidak segan, Louis menembakan peluru di kaki Amelia, membuat wanita itu menjerit kesakitan. "Louis! Beraninya kau!"

"Selanjutnya kepalamu," ucapnya mengarahkan itu pada kepala Amelia.

Wanita itu menggeleng kuat. "Kau akan ditemukan, kau akan dipenjara oleh ayahku."

"Aku akan lebih dulu membunuhnya jika perlu, Amelia."

Wanita itu terdiam, dia menelan ludah kasar melihat pria itu menampilkan wajah datar. Tidak ada permainan di sana, membuatnya ketakutan setengah mati. Dengan penuh keraguan, Amelia berkata, "Jangan lakukan ini… maafkan aku…."

"Ulangi perkataanku, Amelia."

"Sí." Masih dengan bibirnya yang bergetar.

"Lucia adalah wanita terhormat, jauh lebih tinggi diatasku."

Amelia menelan ludah kasar, rasa sakit di kakinya membuat dia melakukannya, "Lucia adalah wanita terhormat, jauh lebih tinggi di atasku."

Baru Louis menurunkan senjatanya, dia menatap darah yang mengalir di kaki Amelia. "Dokter akan tiba dalam 10 menit."

***

Sampai pukul 4 dini haripun, Lucia enggan menutup matanya. Dia termenung, menatap selama beberapa jam catatan yang ditinggalkan Louis, tanpa disadarinya, Lucia menjatuhkan air mata tepat di catatan tangan Louis untuknya.

'Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menerimanya? Apakah dia serius? Mencintaiku?'

Sampai akhirnya Lucia memutuskan untuk pergi ke balkon, di mana dia membuang cincinnya di sana. Balkon, atau lebih tepatnya seperti beranda, memiliki jacuzzi yang sudah direnovasi, satu pohon besar dan kursi taman juga rumput yang terawat. 

Dia menatap pecahan figura, membuatnya mengingat bagaimana Louis membuangnya dengan penuh amarah. Berbekal pencahayaan senter, Lucia mencarinya. "Dimana kau berada cincin?"

Hingga akhirnya dia bisa menemukan benda berkilauan itu, dibawah pohon besar. Lucia mengambilnya, senyuman tidak luntur dari wajahnya. "Akhirnya, aku menemukanmu," ucapnya lalu mengenakan cincin itu. 

Lucia bergegas masuk ke dalam, melihat jam sebelum duduk di sofa dan mencoba menghubungi Louis untuk bicara. Perempuan itu menggigit tangannya merasa gugup, dia harap pria itu ingin membicarakan hal ini. Lucia mencoba meyakinkan, jika Louis serius, dia takkan berhenti di sini.

Beberapa kali, yang Lucia dengar hanya panggilan tunggu. Membuatnya berinisiatif untuk turun ke lantai bawah dengan buket di tangannya. Lucia ingin bunga itu tetap hidup, dia menuangkan air pada vas kaca, menatanya hingga membentuk hiasan yang sangat indah. Pita emas dia gunakan untuk melingkari vas, begitu cantik apalagi terkena sinar matahari.

Manik birunya menatap sekeliling, orang-orang sedang terlelap dalam letihnya. Lucia mengambil makanan dari dalam kulkas. Dua keripik kentang ukuran jumbo, apel, anggur dan buah semangka, juga umbi-umbian. 

Lucia membawanya ke ruang tamu, memakannya di sana sambil menatap jam. Berharap Louis pulang dengan segera. 

"Kenapa dia belum pulang juga? Apa aku terlalu kasar?" Tangannya memegang jantungnya yang berdetak lebih cepat. "Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya tidak ingin cintaku bertepuk sebelah tangan."

Lucia terus mengemil, hingga dia sadar semuanya telah habis dalam waktu singkat. Dia juga sadar nafsu makannya meningkat, moodnya berubah-ubah setiap waktu, juga mual yang melanda setiap waktu, di situasi saat dirinya tidak senang. "Aku harap kau tidak muncul di waktu yang salah."

Lucia bicara pada perutnya sendiri. "Bukannya aku tidak menginginkanmu, Nak, hanya saja situasinya sedang tidak memungkinkan sekarang."

Tangannya mengambil botol minuman, dalam beberapa teguk botol itu kosong. "Oke, aku akan berlatih."

Lucia menegakan tubuhnya. "Jika Louis datang aku akan berkata, aku minta maaf atas apa yang terjadi sebelumnya, aku emosi. Jika kau benar-benar serius, bisa kita membicarakannya lagi?" 

Terdiam sesaat sebelum menggeleng. "Apa itu kalimat yang pas?" Tanyanya pada diri sendiri.

"Apa yang kau lakukan di sini, Lucia?"

"Tuhan!" Dia memegang dadanya yang berdetak kencang. "Kau mengagetkanku, Andrean."

Pria itu meminta izin lewat tatapan, untuk duduk bergabung dengan Lucia. Melihat banyak bekas makanan, Andrean menggeleng. "Kau makan dengan lahap."

"Sí, aku agak lapar."

"Kenapa kau belum tidur?"

"Aku sedang menunggu Louis," ucapnya membuat alis Andrean terangkat. Lucia melanjutkan, "Sebenarnya…. Dia memintaku untuk menjadi istrinya."

"Benarkah? Itu bagus, aku melihat berita tentangmu di dunia bisnis, Louis membawamu ke pesta tadi malam 'kan?"

"Ya…." Lucia membuat pola bulatan abstrak dengan kakinya. "Masalahnya aku berpikir semua yang diucapkannya adalah kebohongan. Aku juga berpikir Louis ingin menikahiku karena Louisa."

"Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"Karena Louis menyayangi Louisa, sepenuh hatinya."

"Boleh aku berpendapat?"

Lucia mengangguk.

"Aku pikir, awalnya Louis memang hanya menyayangi Louisa, sampai dia menyadari betapa besar peranmu membesarkan putrinya. Cinta tidak selalu harus dari pandangan pertama, Lucia, terkadang hal kecil menumbuhkan perasaan lebih dari cinta, yaitu kasih sayang. Louis ingin memilikimu, membuatmu bahagia."

Lucia termenung, dia mengingat kembali kalimat Louis. "Dia bilang menyukaiku sejak pertama bertemu."

"Ah." Pria yang dipenuhi uban itu tersenyum. "Perasaannya tumbuh sejak dulu, dan semakin jelas saat sekarang."

"Tapi kenapa dia membiarkan Amelia menyakitiku saat itu? Jika dia sudah menyukaiku."

"Karena dia masih kebingungan, perasaannya belum bisa dia definisikan dengan benar, Lucia."

Menarik napas dalam, Lucia mengangguk. "Terima kasih pendapatmu, Andrean. Aku akan ke atas."

"Biarkan aku yang membereskan," ucapnya menahan Lucia yang hendak membereskan bekas cemilannya. "Tidurlah, ini sudah larut."

"Terima kasih, Andrean," ucapnya berjalan mengambil vas bunga ke lantai dua. 

Sebelum pergi ke kamarnya, Lucia mengintip dari ambang pintu. Dia tersenyum melihat klonning Louis terlelap penuh ketenangan. "Good night, Louisa."

Bunga itu diletakan di nakas, berdampingan dengan jam beker. Cincin yang melingkar di jemari membuat Lucia tersenyum sepanjanh waktu, begitu pas dan juga indah. Tidak bisa Lucia definisikan kebahagiaannya saat dia membayangkan dirinya dan Louis benar-benar menikah, bahagia untuk selamanya.

Sayangnya, bayangan itu tidak bertahan lama bahkan untuk sebuah imajinasi. Ketika Lucia menelpon kembali Louis, panggilan itu terangkat.

"Holla, Señor? Aku tahu perbuatanku keterlaluan, aku ingin membicarakannya lagi, bisakah kau pulang?"

'Siapa ini?'

Tubuh Lucia menegang mendengar suara seorang wanita. Dia menjauhkan telpon itu dari telinga, dia menelpon orang yang benar.

Lucia balik bertanya, "Siapa kau?"

'Aku Dania, siapa kau? Kau ibu Louisa?'

"Apa?" 

'Di sini tertulis kau ibu Louisa,' ucap wanita yang Lucia yakini usianya masih remaja, suaranya jelas berbeda.

"Siapa kau? Dimana Louis?"

'Dia sedang tidur, mau aku bangunkan?'

Dalam satu hari, perasaan Lucia dijungkirbalikan dengan begitu cepat. Perempuan itu menelan ludahnya kasar. "Tidak perlu, selamat malam."

***

"Mum, kemana Daddy pergi?" 

Lucia yang sibuk mengikat rambut Louisa itu enggan menjawab, dia hanya mencium puncak kepala anaknya beberapa kali.

Bibir kecil itu kembali bertanya, "Apa Daddy pergi bekerja?"

"Ya, dia sibuk bekerja. Ayo kita turun untuk sarapan."

Louisa yang selesai dikepang itu membalikan badan, dia menampilkan wajah lesu. "Kapan Daddy pulang?"

Tidak tahan, Lucia menggendongnya, mencium dan membawanya keluar. "Dia akan segera tiba jika Lee berbuat baik, Sayang."

"Oke," ucap putri kecilnya melingkarkan tangan di leher ibunya.

Mereka menuruni tangga, wajah sedih Lucia terlihat jelas oleh Andrean. Louis memang tidak pulang semalaman. Dia mendudukan putrinya di kursi. "Kau ingin roti panggang?"

Louisa mengangguk, membuat Lucia segera berdiri dan mengisyaratkan pada pelayan lain untuk tidak membuatkannya. Pemilik manik biru itu pergi ke dapur, membuat Naomi melihat jelas wajah lesu Lucia. "Señorita, apa kau baik-baik saja? Wajahmu pucat."

"Ya, aku hanya sedikit pusing," ucap Lucia mengusap wajahnya kasar, dia mengoleskan mentega pada roti. "Aku sedikit kurang tidur."

"Biar aku saja yang melakukannya."

"Tidak perlu, aku butuh sesuatu untuk dikerjakan."

Lucia terhenti sesaat saat merasakan pusing di kepala. Naomi mencoba mengambil alih. "Señorita biar aku saja."

"Tidak usah."

"Kau sedang sakit."

Hingga akhirnya Lucia merasakan mual, dia meninggalkan roti dan memuntahkan isi perutnya di westafel. Naomi membantunya dengan memijat tengkuk majikannya. "Aku pikir kau harus istirahat."

"Tolong buatkan sarapan untuk Louisa."

"Aku mengerti." Naomi mengeluarkan sesuatu dari dalam tas apronnya. "Andrean menitipkan ini untukmu."

Lucia menerimanya dengan sedikit tegang, testpack itu yang akan membuktikannya. "Gracias."

Dia mendekat pada putinya. "Mum sedikit sakit, bisa kau sarapan sendiri?"

"Sí, Mum."

"Gracias, Mija."

Dia pergi meninggalkan tempat itu setelah memberi isyarat mata pada Lina untuk menjaga putrinya, begitu pula pada Nanny yang mengambil alih pekerjaannya.

Lucia kembali ke kamar. Dia berhenti sejenak saat mendapatkan notifikasi pesan masuk.

08.09

Louisa'S Dad : Hai, ini aku Dania, Louis masih bersamaku sampai malam nanti. Sampaikan pada putrimu dia baik-baik saja.

Rasa mual itu semakin datang ke permukaan, Lucia berlari ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya. Dengan air mata yang menetes.

Betapa teganya pria itu bersama wanita lain, terlebih dirinya telah menyatakan cinta padanya. Berspekulasi, berpikir kalau pria itu mempermainkannya, menganggapnya wanita bodoh. Lucia menangis, dia meremas dadanya yang terasa sakit.

Setelah cukup tenang, dia duduk di closet, melakukan test pada benda untuk memastikan dirinya tidak hamil.

Sambil menunggu benda itu bekerja, Lucia menelpon kembali Louis untuk memastikan.

Panggilan pertama ditolak, kedua dibiarkan, hingga akhirnya yang ketiga diangkat.

"Hallo?"

'Hai, Louisa'S Mum, Louis sedang tidur di ranjangku, dia tidak bisa kembali sekarang.'

"Biarkan aku bicara dengannya."

Terdengr wanita di sana mencebik. 'Tidak bisa, dia tidur nyenyak.'

"Aku butuh bicara dengannya."

'Dia kelelahan semalam, tidakkah kau mengerti? Tunggu saja nanti malam, dia akan kembali. Dan jangan membicarakan aku, aku tidak ingin diantara kalian.'

"Setidaknya kirim aku foto yang membuktikan dia ada di sana."

'Huh?'

"Louis bisa saja kehilangan ponselnya dan kau mengambilnya."

Wanita itu tertawa, terdengar dia melangkah disusul dengan suara kamera. Tidak lama Lucia mendapatkan notifikasi pesan masuk berisi Louis yang sedang tidur tengkurap tanpa pakaian, hal yang mana membuat matanya berair. 

'Lihat? Dia mendapatkan kenyamanan di sini, tidak dalam dirimu.'

"Bilang padanya untuk pulang saat bangun, putrinya menanyakan keberadaannya."

'Oke, akan aku coba.'

Begitu telpon dimatikan, air mata Lucia kembali jatuh. Apalagi saat dia melihat hasil testpack, jantungnya berdebar kencang, tangannya gementar. 

Perasaannya bercampur aduk. Marah, sedih, kecewa, menjadi satu yang mana membuat Lucia membuang cincin beserta hasil testpack ke tempat sampah.

Setelahnya dia menggulung diri dalam selimut, sambil memeluk perutnya yang datar. "Maafkan Mum tidak menyambut kedatanganmu dengan baik, Sayang. Keadaannya terlalu rumit untuk sekarang."

---

Love,

ig : @Alzena2108

1
Anonymous
kak dri 2020 nunggu karya yg kya gini lg kak
Bellz
kangen jdi baca ulang, Thor kapan comeback
Anonymous
bodoh bgt si lucia ini tolol
wikha Sandra
🤣🤣🤣
riririrururu
Aku balik lagii🫶🏼🫶🏼🫶🏼
☘️⃟🆑🍾⃝🎐⃟ͧC͠ʜᴀᷫғͧɪᷠɪ̽ɴⷡᴛᷧ͜ᴀͤ
kan nangis lagi tiap sampai di part ini 😭😭😭😭😭
Indry
2025 aq download beberapa aplikasi novel buat cari lagi novel ini, salah 1 yg terbaik menurutku, pertama x baca beberapa taon lalu 😍
Indry
Pertama kali baca pas Covid skrg 2025 download apk ini buat cari la senorita 🤩
Indry
Aku instal lagi karna kangen mau baca la senorita 😍
Nur Janah
udah baca th 2022 , baca lagi sekarang th 2025 tpi heran ya gak lupa alurnya
Meli Pahliani
wanita bodoh dan lemah
Meli Pahliani
Lucia bodoh
Tantri Syawal
i hate this novel but i love this novel/Sob/
Tantri Syawal
aaaa wanita ini terobsesi dengan luis
Tantri Syawal
kenapa ceritanya merendahkan wanita 😭
Travel Diaryska
aleman emg lucia ini lama2, ga demen sama tsundere
Travel Diaryska
menurutku lucia ini terlalu overthinking, dramatic 😩 apa salahnya ubah cara pandang
Travel Diaryska
lama2 capek juga mc nya lemah, louisnya yah gitulah gada perkembangan
Rita Sumarwati
hebbaaattt
ian
zee adakah buku abru tentang julian dan louisa?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!