WARNING!!!!
BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN!!!
Mengisahkan dua orang pria dan wanita yang terlibat sebuah pernikahan tanpa cinta. Tetapi sama-sama saling membutuhkan pernikahan tersebut demi kepentingan masing-masing.
Menghadapi pria yang dingin dan kaku, Naja sering menahan sesak karena tindakan dan ucapan pria yang telah menjadi suaminya itu.
Sedangkan Excel, yang tidak pernah berhubungan dengan wanita selain Mikha, harus menyesuaikan diri dengan istrinya yang ceroboh dan pemarah.
Mampukah mereka mempertahankan pernikahan mereka?
Hanya cerita biasa ajah, hiburan semata!
Alur selow Yess ✌, no visual di dalamnya...visual di taro di igeh...
21+ AREA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikirkan Caramu Berhenti
Hari-hari Naja berganti begitu saja, tanpa terasa sudah hampir satu bulan Naja bekerja di kantor tunangan Mikha. Selama beberapa minggu juga Naja menjalani hidup tenang, malah sepi sejak Tara memutuskan pulang kampung beberapa minggu lalu. Hari ini Naja bekerja seperti biasa dan pulang saat matahari sudah berganti rembulan.
Jalan menuju kos Naja memang terang benderang, tetapi ada beberapa sudut yang tidak terpapar cahaya. Sehingga ketika melewati tempat itu Naja harus mempercepat langkahnya. Pun dengan malam ini, Naja merapatkan penutup kepala yang terhubung dengan jaketnya. Ada beberapa pria tampak berkumpul di beberapa titik sambil bermain gitar dan berceloteh tak jelas.
Naja mempercepat langkah seperti biasa apalagi satu dua orang itu mulai memperhatikan Naja. Pagar kos Naja sudah terlihat dan beberapa langkah lagi dia akan sampai di kosnya. Telinga Naja menajam menangkap suara langkah mendekat, tetapi dia enggan menoleh. Takut jika dia malah panik dan tidak bisa berlari.
GREP
Naja membeku seketika, napasnya naik turun tak terkendali. Sambil memejam Naja mencoba menarik tangannya.
“Na ... meski gue masih muda, tapi kalau lo lari kaya tadi gue bisa mampus ...,” suara amat familiar terdengar tersengal-sengal.
“Mas Samuel?” Naja berbalik secepat kilat. “maaf Mas, aku kira tadi orang jahat yang ngikutin, makanya aku lari ....”
Samuel masih membungkuk menumpu lutut, pria berambut cepak dan jangkung itu tampak mengatur napasnya.
“Wajah hensam begini kau bilang jahat? Jahat dari mana coba? Samuel itu olwes imut dan menggemaskan, hatinya lembut bagai adonan kue bolu ...,” Sam mengedipkan kelopak matanya berulang. Senyum lebar pria itu terlihat imut dengan gingsul di kedua sudut bibirnya.
“Jangan lama-lama lihatin gue! Nanti jatuh cinta ... kan gue yang repot.” Tusukan di pipi Naja menyadarkannya dari lamunan.
“Ih ... jangan colek-colek Mas, nanti Mas Samuel duluan loh yang jatuh cinta sama aku ...,” balas Naja ketus sambil mengusap pipi bekas telunjuk Sam seolah banyak sekali kuman bersarang di sana.
“Yee ... ogah! Masa jatuh cinta sama bocah?”
“Aku udah 23 bentar lagi 24, udah bukan bocah lagi.” Sungut Naja. Selalu saja orang mengatai dirinya bocah.
“Makanya singkirin tu poni,” Sam menyugar poni Naja yang langsung mempertontonkan dahi lebar Naja. “eh ... rupanya buat nutupin jenong, ya?” tawa Samuel meledak. Sementara Naja dengan bibir maju beberapa senti menurunkan lagi poninya dengan kedua tangannya.
“Mas Sam nyebelin ...!” Seru Naja sambil berbalik meninggalkan Sam yang masih tergelak.
“Eh ... jangan pergi dulu,” Sam segera berlari menghadang Naja. Sam mendengus saat melihat Naja masih merengut. “lo mau kabar gembira ngga dari gue?” suara Sam berubah tegas.
Naja menyipit, tidak mempercayai Sam yang mungkin bisa saja hanya membual untuk menghiburnya. Meski seumur hidup Naja baru Ai seorang, pria yang akrab dengannya, tapi Naja hafal betul sifat pria slenge’an seperti Sam.
Sam berdecak sambil mengalihkan perhatian pada langit malam yang gelap, sebelum kembali menatap Naja lagi. “Mulai besok lo kerja sama gue dan lo bikin gambar-gambar kaya yang gue minta kemarin. Bayaran lo udah gue transfer ke rekening lo ... karena hp lo seharian ngga aktif ... makanya gue samperin lo kemari. Ngerti?”
Naja melongo, “Mas ngga bercanda kan?”
“Ngapain gue becandain bocah kaya lo ...nanti malah kejer, gue yang repot.”
“Hape ku mati Mas mungkin, setelah makan siang aku ngga pegang hape sampai sekarang.”
“Pantes, buruan nyalain ... gue harap itu ngga terlalu murah sebagai harga gambar lo yang lumayan itu.”
“Naja masuk dulu ya Mas ... mau nge charge hape.” Naja menerobos Sam yang melongo melihat Naja yang disangkanya akan kegirangan sampai jingkrak-jingkrak.
Sam hanya mampu menggelengkan kepala. “basa basi kek, makasih atau diajak mampir gitu ... dasar bocah!” gerutu Sam dengan bahu terangkat.
“Mas Sam ...!” seru Naja. Sam memutar kepalanya, tapi tubuhnya tetap memunggungi Naja. “Makasih ya Mas ... kapan-kapan Naja akan berterima kasih dengan benar.” Teriak Naja sambil melambaikan tangannya.
Sam melingkarkan telunjuk dan ibu jarinya sambil terus berjalan menjauhi Naja. Tetapi senyum kepuasan terbit di kedua sudut bibirnya.
**
Tidak sabar Naja menancapkan soket pengisi daya pada ponselnya dengan kabel yang tak pernah meninggalkan stop kontak yang melekat di dinding. Sembari menunggu daya terisi, Naja melangkah ke kamar mandi. Menyegarkan badan yang terasa lengket dan lelah. Tangan Naja menadah keran yang mengucurkan air, bermain sejenak dengan aliran yang sedikit terhambat itu. Mungkin ada kotoran yang menyumbat pipa penghubung keran dengan tangki air.
Beberapa hari terakhir, Ai lebih sering menghubunginya. Ya, seharusnya dia senang, tetapi semakin sering Ai menceritakan dirinya dan juga kegiatannya malah membuat Naja bosan. Tidak ada lagi topik tentang mereka yang terpaut dalam pembahasan di antara keduanya. Ai dengan dunia baru yang luar biasa dan Naja menjadi pendengar setia yang selalu memuji pencapaian Ai.
Entah berapa lama Naja melamun, hingga percikan air dan juga luberan air dari bak yang tak seberapa besar itu membasahi baju dan kakinya. Naja mengesah dalam, membuang rasa yang tidak seharusnya ada.
“Mungkin ini wajar, karena kami menjalani hubungan jarak jauh. Semoga aku dan Ai bisa melewati ujian yang tinggal menyisakan beberapa waktu saja.” Naja menyudahi perasaan aneh itu dengan mengguyur sekujur tubuhnya dengan air dingin.
Telunjuk Naja mengetuk pelan meja belajar Tara yang digunakan Naja untuk menumpu siku yang sedang menopang dagu. Bersenandung lirih mengusir sepi yang menguasai ruangan berukuran 4x4 meter ini. Handuk masih melilit kepalanya, sesekali manik matanya melirik lambang baterai yang belum terisi separuh. Naja mengesah, lalu disambarnya ponsel itu dan menekan tombol power yang terletak di samping benda pipih tersebut.
Panel notifikasi mendadak penuh, setelah ponsel kembali berfungsi. Naja menunggu beberapa saat hingga dirasa semua pemberitahuan masuk. Manik mata Naja membola sempurna, bibirnya terbuka. Memekik nyaring saat melihat pemberitahuan dana masuk di sms banking. Naja kesulitan membasahi tenggorokannya, bibirnya menghitung jumlah nol yang mengikuti bilangan di depannya. Seolah lupa cara berhitung, Naja mengulang hingga beberapa kali.
“Aku harus menghubungi Mas Samuel.” Dengan cepat Naja mendial nomor dengan nama Samuel lalu melekatkan benda itu ditelinganya.
**
Samuel mengenyakkan tubuh jangkungnya di sofa. Tangan kiri pria itu memegang kaleng minuman bersoda yang sudah terbuka, sedangkan tangan yang lainnya mengangkat ponsel miliknya yang berdering. Bibir tipis sedikit menghitam itu menyunggingkan senyum penuh misteri saat tahu siapa yang menghubunginya. “Sesuai tebakanku, hanya sedikit lebih lama dari yang kuperkirakan.” Gumam Sam lebih ke dirinya sendiri. Segera ibu jarinya menggeser ikon berwarna hijau dan meletakkan ponsel itu di telinga.
“Ya Na ...,” Sam menyelonjorkan kaki panjangnya ke atas meja, merebahkan diri dengan kepala masih tersampir di sandaran sofa. Menggoyang pelan minuman berkarbonasi itu hingga terdengar desis lirih. Manik mata pria itu mengamati obyek di depannya dengan intens.
“Mas ... apa itu ngga kebanyakan?”
Sam tertawa lirih, gadis yang polos, pikirnya. “Lo sedang nyindir gue?”
“Eh ... bukan Mas, sungguh. Itu hanya gambar asal dan ngga jelas loh Mas, masa sampai sebanyak ini?”
“Itu harga yang wajar, bahkan masih tergolong murah Na ... setelah lo kerja sama gue, lo bakal dapet yang lebih banyak.” Sam mengerling seseorang yang sedang memasang telinga mencuri dengar percakapan Sam. Bibir Sam sekali lagi mengembangkan senyum penuh ejekan.
“Tapi Mas, saat ini aku kerja di tempat lain–“
“Gue tahu,” potong Sam cepat. “Lo bisa berhenti dari pekerjaan lo sekarang, gue tahu kok lo kerja dimana, tapi gue bukan orang kaku yang mengharuskan karyawannya masuk kantor. Lo kerjakan gambar lo di rumah, gue bakal kasih batas waktu agar lo ngga main-main.” Sam bangkit dan duduk dengan tegak.
“Saran gue, lo kerja sama gue aja ... lepasin kerjaan lo sekarang. Seriusin bakat lo, gue yakin lo bakal sukses.”
Hening di seberang hingga beberapa jenak.
“Naja ...,” kening Sam berkerut dalam. Pikirnya, Naja ketiduran setelah mendengar celotehannya.
“Ya Mas ... aku masih mikir bukan pingsan.”
“Astaga ...,” Sam menepuk keningnya. Bocah ini sungguh di luar dugaan. “Pikir aja dulu. Pikir caramu berhenti dari pekerjaanmu sekarang ... hahaha.”
Terdengar decakan dari seberang telepon, Sam bisa membayangkan wajah Naja yang sedang cemberut, pasti menggemaskan.
“Udah dulu ya, Na. Gue lagi ada tamu soalnya ....”
“Iya Mas ... Maaf ganggu.”
“Tak masalah ... Bye,” Sam segera mematikan sambungan teleponnya dan melemparnya ke sofa di sebelahnya. Mengangkat tangan di kedua sisi tubuhnya dengan tak acuh.
“Ngga ada yang ngga bisa seorang Sam lakukan,” ucap Sam sambil tersenyum sinis. Sementara si tamu, mendecakkan lidah dengan kesal. Tetapi tak lama kemudian, senyum kepuasan tersemat di sudut bibir tipis sang tamu.
.
.
.
.
.
.
.
.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻