Mohon diharapkan sopan dalam berkomentar.
Sebelum membaca novel ini disarankan membaca perjodohan karena hutang yang pertama dulu ya, karena ini adalah cerita lanjutan perjodohan karena hutang pertama.
Disini saya akan menceritakan tentang kehidupan anak-anak mereka, yang tentunya tidak kalah seru dengan para orang tua mereka.
Danis adalah anak dari Risa dan Denis, Danis yang terbiasa hidup mewah dan tidak pernah kekurangan tapi tiba-tiba Denis mengambil semua fasilitas yang Denis berikan pada Danis.
Dan tentunya kenapa Denis mengambil semuanya, Denis punya alasan tertentu dan ingin membuat anaknya bisa menghargai apa yang dia punya bukan menghambur-hamburkannya tidak jelas.
Sampai akhirnya Danis hidup menjadi laki-laki biasa karena hukuman dari sang papa dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat membenci laki-laki kaya.
Dan pertemuan itu membuat Danis jatuh hati pada gadis itu. Tapi bagaimana cara Danis jujur pada gadis itu kalau dirinya adalah anak orang kaya? Sedangkan gadis itu sangat membenci laki-laki kaya. Ya tentunya sang gadis juga punya alasan kenapa dia bisa membenci laki-laki kaya.
Penasaran dengan cerita cinta mereka? Dan bagaimana nanti Danis akan mengatakan kejujuran pada sang gadis.
Baca yuk karya Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32.Sikap manis Danis.
Tapi sebelum menuju ke tempat ruang makan para pegawai, Danis menarik Anin ke tempat yang sepi. Ia memepetkan Anin pada tembok lalu mengunci tubuh Anin dengan tubuh kekarnya.
"Kamu mau apa? Jangan macam-macam!" Anin memelolotkan matanya, rasanya ia ingin menerkam Danis tapi Danis semakin mendekatkan wajahnya membuat Anin bisa merasakan hembusan nafasnya.
Visual Anin dan Danis.
Sungguh debaran jantung Anin lebih kencang dari biasanya, dan mungkin Danis juga bisa merasakannya.
"Jantungku, berhentilah berdetak! Aish Danis mau apa?" Batin Anin dalam hatinya.
Wajah mereka semakin dekat, hembusan nafas satu sama lain bisa mereka rasakan satu sama lain.
"Danis, kamu mau apa?" Lirih Anin yang tubuhnya sudah gemetaran.
Padahal ini bukan pertama kalinya Danis mencium Anin, tapi Anin begitu deg-deggan.
Danis tidak memberikan jawaban dan akhirnya ia mendaratkan ciuman dibibir mungil milik Anin.
"Cup...." Danis mendaratkan bibirnya dibibir Anin, dan pada akhirnya mereka sama-sama menikmati ciuman mereka.
Setelah beberapa lama, Danis melepaskan ciumannya. Lalu ia tersenyum pada Anin.
"Ingat, jangan dekat-dekat dengan Rifki!" Danis melonggarkan dirinya dari diri Anin, lalu ia mengandeng tangan Anin dengan mesra.
Anin terus ngedumel tidak jelas, tapi Danis enggan mendengarnya dan terus berjalan menuju ke ruang makan para pegawai.
"Lain kali, kalau mau menciumku itu bilang-bilang!" Omel Anin sambil berjalan.
"Kalau aku bilang-bilang, pasti kamu akan menolak." Jawab Danis, tanpa menoleh kearah Anin yang ada dibelakangnya.
Sebelum sampai diruang makan para pegawai, Anin melepaskan tangannya dari tangan Danis.
.
.
Mereka makan siang bersama seperti biasanya, setelah selesai makan siang mereka kembali bekerja.
.
.
Jam menunjukkan pukul 8 malam, Danis dan Anin seperti biasanya mereka pulang kerja berdua. Sesampainya di depan rumah tiba-tiba ponsel Danis berbunyi.
"Tunggu sebentar, aku ada telpon!" Danis merogoh saku celananya, lalu ia mengambil ponsel miliknya.
"Dafa, menelponku ada apa?" Batin Danis dalam hatinya.
Danis mengangkat telpon dari Dafa dan Anin berdiri disamping Danis.
"Siapa yang menelponnya?" Batin Anin dalam hatinya.
"Hallo Dafa." Sapa Danis.
"Oh, Dafa yang menelpon. Aku kira seorang gadis yang menelponnya, akan aku jewer nanti jika itu sampai terjadi." Batin Anin dalam hatinya.
"Hallo Danis, ada klien penting besok pagi jam 8 pagi dan dia ingin bertemu denganmu." Kata Dafa dengan nada serius.
"Baiklah!" Jawab Danis singkat dan langsung mematikan saluran teleponnya.
"Ada-ada saja, harus bertemu dengan klien kalau besok aku izin cutti kerja, aku harus bilang apa pada Anin?" Batin Danis dalam hatinya.
Anin terus melihat Danis, lalu memegang bahu Danis dengan pelan.
"Apa, ada yang terjadi?" Tanya Anin, agak sedikit kawatir pada kekasihnya itu.
"Tidak ada, aku besok harus pergi menjenguk kedua orang tuaku yang sedang sakit. Jadi aku besok mau izin untuk cutti kerja," Jawab Danis, ia terpaksa berbohong pada Anin.
"Maafkan aku sayang, aku belum bisa jujur untuk saat ini." Sesal Danis dalam hatinya.
"Orang tuamu sakit, apa aku boleh ikut kesana untuk menjenguknya?" Tanya Anin dengan sorot mata lembut.
Danis tersenyum, lalu mengacak-acak rambut Anin dengan tangannya, lalu tangannya berpindah ke pipi mulus Anin.
"Untuk saat ini jangan ya sayang, nanti kalau waktunya sudah tepat. Pasti aku akan mengajak kamu bertemu dengan orang tuaku," Kata Danis dengan senyum bahagia disudut bibirnya.
Anin menganggukan kepalanya pertanda ia paham dengan apa yang dimaksud Danis.
Dalam hati Anin, mungkin karena aku dan Danis pacaran belum lama jadi Danis belum siap, untuk memperkenalkan aku kepada kedua orang tuanya.
"Sudah malam, kamu masuklah! Panggil aku jika terjadi sesuatu!" Danis mencium kening Anin dengan lembut.
"Aku mencintaimu!" Kata Danis setelah ia melepaskan ciumannya dari kening Anin.
"Kamu juga masuklah! Atau aku tidak akan bisa tidur nyenyak gara-gara terus mengingat dirimu," Goda Anin dengan jail, membuat Danis terkekeh lalu menyentil jidatnya dengan pelan.
"Dasar, sudah berani nakal sekarang." Omel Danis dengan senyum penuh arti pada Anin.
"Anin, tetaplah seperti ini! Biarpun suatu saat identitas asliku terbongkar. Aku mohon kamu jangan berubah!" Danis berharap dalam hatinya.
"Tunggu, kamu belum menjawab ungkapan cintaku padamu," Danis tersenyum jail pada sang kekasih.
"Aku mencintaimu Danis." Anin tersenyum, sungguh rasa bahagia.dihati Anin tidak bisa disembunyikan.
"Jangan nakal lagi! Atau aku akan menciummu nanti," Danis terus menatap mata Anin dengan tatapan penuh cinta.
Hal yang paling ditakutkan oleh seorang Danis adalah ketika Anin gadis yang ia cintai tahu kalau dirinya sebenarnya orang kaya. Sedangkan Anin sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki kaya.
"Aku nakal pada kekasihku ini!"Kata Anin sambil membuka pintu rumahnya, lalu ia masuk ke dalam rumahnya, sebelum menutup pintu rumahnya Anin tersenyum pada Danis.
"Selamat malam, tidurlah yang nyenyak sayangku!" Kata Anin, dan langsung menutup pintu rumahnya.
Danis senyam-senyum, lalu ia juga membuka pintu rumahnya.
"Senangnya punya pacar tetanggaan," Gumam Danis dengan tawa kecilnya.
.
.
Dirumah Danis.
Setelah selesai mandi, Danis berganti pakaian lalu membaringkan tubuhnya diatas atas ranjang tempat tidurnya.
"Sungguh, badanku pegel semuanya. Rasanya pingin ada mijitin, jadi pingin cepet-cepet punya istri." Danis tertawa cekikikan sendirian, ia sedang membayangkan jika dirinya punya istri nanti pasti akan senang.
Pikiran Danis jika sudah punya istri, tidur ada yang nemenin, pegel ada mijitin, males makan ada yang nyuapin, pulang kerja ada yang ngurusin, bahkan ada yang setiap malam bisa ia mainin nanti, ntah itu apa hanya Danis yang tahu.
Danis memejamkan matanya sambil memeluk bantal guling, dan bantal guling miliknya diberi nama Anin.
Dirumah Anin.
Anin sudah memakai baju tidur, ia berbaring di atas ranjang tempat tidurnya.
"Kasian Danis, orang tuanya sedang sakit. Aku mau keluar untuk membelikan kue buat orang tua Danis, tapi sudah malam." Anin sedih memikirkan orang tua Danis yang sedang sakit.
Kasian Anin dia di bohongi oleh Danis, ia sampai kepikiran ingin membelikan kue buat orang tua Danis yang sedang sakit.
Malam semakin larut, Anin akhirnya tertidur.
.
.
.
Pagi menunjukkan pukul 6 pagi, Anin sengaja sudah rapi dan dia juga berniat memberikan bekal yang ia buat untuk Danis.
"Di perjalanan pasti dia lapar, jadi aku buatkan makanan untuk kamu sayang." Gumam Anin.
Ia melangkahkan kakinya dengan penuh semangat karena ingin memberikan bekal buatannya Danis.
Ia membuka pintu rumahnya, dan ia melihat Danis buru-buru pergi. Anin hanya memperhatikan Danis yang sudah berlalu dari hadapannya. Anin mendekatkan dirinya ke pagar depan rumahnya ia melihat ke bawa dengan tatapan penuh tanda tanya?
"Danis, dia berpakaian rapi bahkan ia memakai jas dan itu Dafa yang menjemputnya?" Anin ternganga tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat.
"Apa, Danis menyembunyikan sesuatu dariku?"
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
bukannya suara bayi oek.....oek...oek
dasar fani
kasian si rifki
kok sama denisnya namanya...