Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kevin Tahu
Pagi itu Kevin datang ke sekolah lebih awal dari biasanya.
Bukan karena semangat belajar — Kevin Aditya Pratama tidak pernah datang lebih awal karena semangat belajar sejak kelas satu SMA dan tidak ada alasan untuk mengubah kebiasaan itu sekarang. Ia datang lebih awal karena semalam tidak tidur dengan benar dan berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit terasa lebih tidak produktif dari duduk di kantin sekolah yang sepi sambil minum susu kotak.
Leo berbaring di kaki ranjangnya saat Kevin pergi.
Harimau itu sudah jauh lebih baik dari insiden duel di lapangan — secara fisik tidak ada yang salah, dokter hewan hunter yang ayahnya panggil ke rumah mengkonfirmasi itu. Tapi ada sesuatu yang berbeda pada cara Leo tidur sekarang, sesuatu yang kecil dan sulit didefinisikan tapi Kevin perhatikan karena ia sudah bersama Leo sejak harimau itu masih seukuran kucing besar — cara telinga Leo sesekali bergerak bahkan saat tidur dalam, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang tidak ada di dalam ruangan.
Kevin tidak tahu apa yang Leo dengarkan.
Tapi ia punya firasat tidak menyenangkan bahwa itu ada hubungannya dengan monyet kecil berbulu kusam yang seminggu lalu duduk santai di atas kepala Leo di lapangan sekolah.
---
Kantin sekolah pukul enam empat puluh sepi dengan cara yang terasa seperti kemewahan — meja-meja yang biasanya penuh suara dan sikut-sikutan sekarang kosong sampai tiga perempat, cahaya masuk dari jendela timur dengan sudut yang hanya ada di jam segini, dan Bu Lastri penjaga kantin yang biasanya sibuk sekarang cukup tidak sibuk untuk menatap Kevin dengan ekspresi terkejut saat ia memesan susu kotak dan duduk di sudut.
Kevin tidak mengambil sudut yang biasa ia tempati saat kantin ramai — bukan sudut terbaik untuk dilihat orang, tapi sudut terbaik untuk melihat orang.
Ia mengambil susu kotaknya, duduk, dan berpikir.
Masalahnya bukan Rio Albert.
Atau lebih tepatnya — masalahnya bukan Rio Albert yang ia pikir menjadi masalahnya. Harimau yang dikalahkan monyet, F-rank yang jawabannya di kelas lebih akurat dari catatan buku paket, anomali dungeon pelabuhan yang waktunya terlalu pas — semua itu adalah gejala dari sesuatu yang Kevin belum bisa definisikan dengan tepat.
Dan Kevin Aditya Pratama tidak nyaman dengan hal-hal yang belum bisa ia definisikan.
---
Seseorang duduk di seberang mejanya.
Kevin mengangkat matanya dari susu kotaknya.
Maya — captain ekstrakurikuler riset dungeon, rambut dikepang dua, seragam yang selalu rapi dengan cara yang tidak berusaha keras untuk terlihat rapi. Meletakkan nampan sarapannya di meja dengan cara seseorang yang sudah memutuskan akan duduk di sini sebelum sampai di kantin dan tidak memerlukan konfirmasi dari siapapun.
"Boleh?" tanya Maya — tapi dengan nada yang menunjukkan bahwa pertanyaan itu adalah formalitas, bukan pertanyaan sungguhan.
Kevin menatapnya. "Biasanya kamu tidak sarapan di sini."
"Biasanya kamu tidak datang sepagi ini." Maya duduk, membuka nampannya. "Jadi kita sama-sama di luar kebiasaan hari ini."
---
Kevin tidak langsung menjawab.
Ia mengenal Maya dari ekstrakurikuler yang berbeda — mereka tidak akrab, tidak bermusuhan, berada di lingkaran sosial yang berbeda tapi sesekali bersinggungan di titik-titik tertentu seperti pagi ini di kantin yang sepi. Maya adalah tipe yang Kevin kategorikan sebagai *tidak perlu diperhatikan tapi tidak bisa diabaikan sepenuhnya* — terlalu cerdas untuk diabaikan tapi tidak cukup berada di jalur kepentingannya untuk diperhatikan secara aktif.
"Ada yang perlu dibicarakan?" tanya Kevin langsung.
"Mungkin." Maya makan sarapannya satu suap sebelum melanjutkan. "Atau mungkin saya hanya kebetulan sarapan di tempat yang sama denganmu."
"Kamu tidak tipe yang kebetulan."
Maya menatapnya. "Kamu juga tidak tipe yang datang lebih awal karena tidak bisa tidur kecuali ada sesuatu yang mengganggu pikirannya."
---
Keheningan selama beberapa detik.
Di luar kantin suara sekolah yang mulai terisi — langkah kaki di koridor, pintu yang dibuka dan ditutup, suara guru yang datang lebih awal dari murid untuk alasan yang berbeda-beda.
Kevin minum susu kotaknya sekali.
"Rio Albert," katanya akhirnya. Bukan pertanyaan.
"Rio Albert," Maya mengkonfirmasi dengan nada yang tidak memberikan lebih dari konfirmasi.
"Kamu tahu sesuatu tentang dia."
"Saya tahu beberapa hal tentang banyak orang." Maya minum air mineralnya. "Pertanyaannya adalah apakah yang saya tahu tentang Rio relevan dengan apa yang sedang kamu pikirkan."
Kevin menatap Maya dengan cara yang sudah sangat terlatih — cara yang biasanya membuat orang merasa sedang dibaca lebih dalam dari yang nyaman. "Apa yang kamu tahu?"
Maya meletakkan gelas mineralnya.
"Saya tahu bahwa laba-laba di pergelangan tangannya tidak ada dalam database spesies manapun yang pernah dikatalog tim riset kami." Ia menatap Kevin langsung. "Saya tahu bahwa energi residual yang tertinggal setelah duel kalian di lapangan tidak cocok dengan profil hewan Warrior I manapun yang pernah tercatat. Dan saya tahu bahwa ada seseorang dari Asosiasi Hunter Regional yang datang ke sekolah ini tiga minggu lalu karena anomali dungeon — bukan karena laporan resmi, melainkan karena seseorang menelepon mereka."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada yang sangat netral.
Sangat netral dengan cara yang tidak netral sama sekali.
---
Kevin tidak mengubah ekspresinya.
Tapi jarinya di atas meja bergerak satu kali — gerakan kecil yang ia hentikan sebelum berkembang menjadi apapun yang lebih terlihat.
"Kamu tidak sedang menuduh saya," kata Kevin.
"Saya tidak pernah menyebut kata menuduh," jawab Maya.
"Tapi itu yang kamu implikasikan."
"Yang saya implikasikan adalah bahwa ada aksi dan konsekuensi, dan kadang konsekuensi dari satu aksi menciptakan rantai yang lebih panjang dari yang diperhitungkan saat aksi itu diambil." Maya menatap mejanya sebentar sebelum kembali ke Kevin. "Itu bukan tuduhan. Itu fisika."
---
Kevin menatap Maya selama tiga detik.
Kemudian melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan — menyandarkan punggungnya ke kursi, melepaskan postur tegak yang sudah menjadi default-nya sejak cukup lama untuk tidak diingat kapan mulainya, dan menatap langit-langit kantin dengan cara seseorang yang sedang mengizinkan dirinya untuk tidak terlihat terkontrol selama beberapa detik.
"Ayah saya," kata Kevin pelan. "Tahu sesuatu tentang Rio yang tidak saya tahu."
Bukan pertanyaan. Bukan kepada Maya. Lebih seperti sesuatu yang sudah ada di dalam kepalanya dan baru sekarang menemukan cara untuk keluar dalam bentuk kata-kata.
Maya tidak berkomentar.
"Ayah saya tidak pernah bilang jangan mendekati orang tanpa alasan yang jelas," lanjut Kevin, masih ke langit-langit. "Tapi tentang Rio ia bilang itu. Dan tidak menjelaskan kenapa." Ia menurunkan pandangannya kembali ke meja. "Ayah saya selalu punya alasan untuk segalanya. Tapi alasannya tentang Rio — ia simpan sendiri."
"Mungkin," kata Maya pelan, "karena alasannya adalah sesuatu yang ia pikir kamu tidak siap dengar."
Kevin menatap Maya.
"Atau," lanjut Maya dengan nada yang sama, "sesuatu yang ia sendiri belum sepenuhnya mengerti dan tidak mau menyampaikan setengah-setengah."
Ponsel Kevin bergetar di sakunya.
Ia mengeluarkannya — refleks yang sudah terbentuk terlalu lama untuk dihentikan bahkan di momen yang tidak memerlukan ponsel.
Satu pesan masuk. Dari nomor ayahnya.
Bukan pesan panjang. Tidak ada penjelasan, tidak ada konteks, tidak ada basa-basi yang biasanya ada dalam pesan ayahnya yang selalu terstruktur bahkan dalam komunikasi informal sekalipun.
Hanya satu kalimat.
*"Rio Albert adalah anak Adrian Albert. Tanya saya malam ini kalau kamu mau tahu lebih lanjut."*
Kevin membaca kalimat itu tiga kali.
Layar ponselnya masih menyala di tangannya. Di seberang meja Maya yang menatap sarapannya dengan cara seseorang yang sudah selesai menyampaikan apa yang perlu disampaikan dan sekarang memberikan ruang untuk prosesnya.
*Adrian Albert.*
Nama yang tidak asing — tapi asing dengan cara yang berbeda dari nama orang yang tidak pernah didengar. Asing dengan cara nama yang pernah disebut sekali dalam konteks yang tidak cukup jelas untuk diingat tapi cukup signifikan untuk meninggalkan bekas di tempat yang tidak bisa diidentifikasi dengan tepat.
Kevin memutar kembali semua percakapan dengan ayahnya dalam dua minggu terakhir.
Cara Raymond berbicara tentang anomali dungeon pelabuhan. Cara ia datang sendiri ke sekolah tanpa tim, tanpa atribut resmi. Cara ia memberikan instruksi untuk tidak mendekati Rio — bukan dengan nada protektif orang tua yang khawatir anaknya bergaul dengan orang berbahaya, melainkan dengan nada seseorang yang sedang mengelola situasi yang jauh lebih kompleks dari yang permukaannya tampilkan.
Dan sekarang satu kalimat.
*Rio Albert adalah anak Adrian Albert.*
Kevin meletakkan ponselnya di meja dengan gerakan yang lebih pelan dari biasanya.
Maya akhirnya mengangkat matanya dari sarapannya. Menatap Kevin dengan cara yang tidak membaca, tidak menghakimi — hanya melihat dengan cara seseorang yang sudah cukup banyak mengamati untuk tahu kapan sesuatu yang penting baru saja mendarat di seseorang.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Maya.
Kevin menatap mejanya.
Dalam hidupnya yang tujuh belas tahun, ia sudah membangun cara berinteraksi dengan dunia yang sangat spesifik — dari posisi yang selalu lebih tahu, selalu lebih siap, selalu satu langkah lebih depan dari orang-orang di sekitarnya. Bukan karena arogan, atau setidaknya bukan hanya karena arogan, melainkan karena itulah cara ia tahu untuk merasa aman di dalam dunia yang dari kecil menunjukkan kepadanya bahwa nama besar dan posisi kuat adalah satu-satunya perlindungan yang bisa diandalkan.
Tapi pagi ini, di kantin yang sepi dengan susu kotak yang sudah hampir habis dan pesan satu kalimat dari ayahnya di layar ponsel, Kevin Aditya Pratama duduk dengan postur yang sedikit berbeda dari biasanya.
Lebih kecil.
Bukan secara fisik. Secara lain yang lebih sulit didefinisikan.
Seperti seseorang yang baru menyadari bahwa peta yang sudah lama ia andalkan untuk menavigasi dunianya mungkin tidak mencakup wilayah yang lebih luas dari yang ia kira.
"Tidak tahu," jawab Kevin akhirnya.
Jujur dengan cara yang tidak biasa untuknya.
Maya mengangguk — anggukan yang menerima jawaban itu apa adanya, tanpa menambahkan apapun, tanpa mencoba mengisinya dengan sesuatu yang lebih nyaman.
Bel masuk pertama berbunyi.
Murid-murid mulai mengalir masuk ke kantin dari semua arah — suara yang langsung memenuhi ruangan dan menghapus kesunyian yang tadi seperti lembaran kertas yang digulung dan dibuang.
Kevin berdiri, mengambil nampannya.
Menatap Maya sekali.
"Nama itu," kata Kevin. "Adrian Albert. Kamu tahu sesuatu tentangnya?"
Maya menatap balik dengan ekspresi yang menimbang sesuatu selama satu detik sebelum menjawab.
"Tidak banyak," katanya. "Tapi cukup untuk tahu bahwa pertanyaan yang tepat bukan siapa dia." Maya berdiri, mengambil nampannya juga. "Pertanyaan yang tepat adalah kenapa namanya tidak ada di database manapun yang seharusnya mencatatnya."
Kevin menatap Maya yang berjalan keluar dari kantin dengan langkah yang tenang dan tidak terburu-buru, menghilang di antara arus murid yang baru masuk.
Kemudian menatap ponselnya satu kali lagi.
*Rio Albert adalah anak Adrian Albert.*
Kevin memasukkan ponselnya ke saku dan berjalan keluar dari kantin ke arah yang berlawanan dengan arah Maya, melewati arus murid yang berlawanan, dengan pikiran yang untuk pertama kalinya dalam dua minggu ini tidak berputar di sekitar cara mengalahkan atau mengekspos atau mengungguli siapapun.
Melainkan di sekitar satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar dan jauh lebih tidak nyaman dari semua yang sebelumnya.
Selama ini ia bermain di papan yang salah.
Kevin menemui Raymond malam itu. Dan dalam percakapan yang berlangsung di ruang kerja rumah mereka yang besar dan sunyi, Kevin mendengar untuk pertama kalinya cerita yang ayahnya simpan terlalu lama — tentang Adrian Albert, tentang Hana Soekarno, dan tentang apa artinya semua itu bagi keluarga Pratama.
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍