NovelToon NovelToon
Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Tamat
Popularitas:146.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ratih mirna sari

Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.

Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.

Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.

Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan

Sheerin menarik tubuhnya untuk kembali bersembunyi di balik tembok saat Nindi dan Bima berjalan melewatinya. Nindi masih sempatnya memberi kode dengan mengedipkan sebelah matanya, Sheerin mengangguk pelan di balik tembok sana pertanda mengerti.

"Lihat apa?" Tanya Bima saat menyadari jika Sheerin sedari tadi menoleh kebelakang, Bima jadi penasaran, ingin ikut melihat apa yang menjadi objek pandangan istri dua harinya itu.

Nindi dengan cepat mengalihkan perhatian Bima agar tidak usah ikut-ikutan menoleh kebelakang.

"Bukan apa-apa kok kak, ayo!" Nindi meraih lengan Bima, Bima mau tidak mau jadi tidak jadi menoleh ke belakang, merekapun akhirnya kembali berjalan, Nindi bergelayut di lengan Bima takut Bima kembali menoleh kearah Sheerin lagi, dengan begitu jika sampai terjadi Nindi bisa dengan sigap mengalihkan lagi perhatian Bima.

Tak lama setelah kepergian Nindi dan Bima, Sheerin melihat beberapa petugas mendorong brangkar keluar dari ruang operasi. Sheerin merasa tidak asing dengan sosok yang terbaring lemah di atas brangkar itu.

'Itu ayah.' Sheerin membatin dengan matanya yang berkabut saat melihat sang ayah terbaring tidak berdaya disana. Sakit rasanya ketika melihat orang yang dia sayangi sedang berjuang antara hidup dan mati, dan yang lebih menyakitkannya lagi, Sheerin hanya bisa melihat Lukman dari kejauhan tanpa bisa menyentuhnya.

'Maafin aku ayah, disaat ayah sakit seperti ini aku malah nggak ada di samping ayah. Aku udah terlanjur terjebak dengan permainanku sendiri. Entah bagaimana caranya aku mengakhiri ini semua? Sedangkan aku merasa semuanya jadi semakin rumit. Tapi percayalah ayah, aku sayang ayah.' Air mata Sheerin lolos begitu saja dibalik kacamata hitamnya.

Terlihat mama Anya beranjak dari duduknya, dan beberapa saat dia berbincang dengan petugas, sebelum akhirnya mama Anya mengikuti kemana petugas membawa ayahnya pergi.

'Ayah pasti akan dipindahkan keruang rawat inap, gue harus ikutin.' Sheerin menarik lebih tinggi masker yang dia gunakan sampai hampir menyentuh mata untuk menghindari terjadinya ketahuan.

Sebisa mungkin Sheerin bersikap biasa, agar tidak ada orang yang curiga jika dia sedang memata-matai seseorang.

Dengan santai dia berjalan jauh dibelakang petugas, mengikuti kemana ayahnya dibawa, baginya ini adalah jarak yang cukup aman.

Sepertinya mama Anya sama sekali tidak merasa sedang dibuntuti, dia tetap berjalan sambil memainkan ponselnya. Hah, bener-bener ya si mama Anya ini, nggak dimana-mana kerjaannya main ponsel saja, author do'ain biar dia kesandung terus ponselnya jatuh dan rusak.

Mereka sampai di sebuah ruang rawat inap, saat melewati ruangan itu, Sheerin sekilas membaca nama ruang rawat inap itu.

Ruang Kemuning nomor 5, ya, Sheerin akan menemui ayahnya secara diam-diam nanti setelah keadaannya memungkinkan, saat mama Anya lengah atau bahkan pergi dari sana. Sheerin kembali menunggu, memantau keadaan dari zona amannya.

Entah berapa lama dia harus menunggu, sedangkan waktu sudah semakin sore, tapi tak apa, demi bertemu dengan sang ayah Sheerin akan tetap menunggu berapa lamapun waktunya, bahkan mungkin waktu selama ini belum bisa menebus kesalahannya karena telah meninggalkan sang ayah demi mencari kesenangannya sendiri.

Sambil menunggu mama Anya keluar dari sana, Sheerin mengirimi Nindi pesan WhatsApp.

'Nindi, ayah udah dipindahin keruang rawat inap, suruh mama buat hadir di acara pemakaman om Arya, biar gue bisa leluasa menemui ayah.'

Sementara itu, Nindi dan Bima melihat jasad om Arya didorong masuk kedalam ambulance menggunakan brangkar untuk selanjutnya dibawa ke rumah duka dengan wajah yang sama-sama sedih, meskipun hanya wajah Nindi yang mendominasi kesedihan, sedangkan Bima, bisa dibayangkan bagaimana wajah datar yang sedang bersedih? Jangan dibayangkan!

Meskipun keduanya baru mengenal om Arya, bahkan hanya bertemu satu kali saja, tapi Nindi merasa sangat berhutang Budi kepadanya, bagaimanapun juga dia yang telah menyatukannya dengan cinta pertamanya. Ya, begitu besar jasa om Arya dalam hidup Nindi.

Tiba-tiba saja ponselnya bergetar tanda ada pesan chat masuk, dengan cepat Nindi membukanya.

'Oke, gue usahain ya She!'

Kemudian perempuan itu sedikit berpikir dengan keras setelah membaca pesan dari Sheerin, dengan alasan apa dia bisa menggiring mama Anya keluar dari ruang rawat inap Lukman? Nindi menggigit bibir bawahnya, belum menemukan ide yang bagus.

Bima yang menyadari kebimbangan dalam diri Sheerin palsu itu, memutuskan untuk bertanya secara langsung.

"Pesan dari siapa?" Tanya Bima.

Nindi terkesiap.

"Ehh, ini dari operator nawarin kuota murah, hehe." Jawab Nindi sambil cengengesan.

"Oh, ya sudah ayo kita susul ambulance nya." Seru Bima.

"Ambulance nya udah pergi ya kak?" Benar saja, ambulance yang membawa jenazah om Arya sudah hilang dari pandangan Nindi, bahkan Nindi tidak mendengar suara mesin ambulance itu dinyalakan, saking berpikir dengan kerasnya.

Merekapun akhirnya masuk kedalam mobil untuk selanjutnya mengikuti ambulance ke rumah duka. Nindi tidak ingin Sheerin menunggu lebih lama, akhirnya dia menelfon mama Anya untuk datang agar ikut mengurusi pemakaman om Arya.

***

Ternyata tidak perlu waktu yang begitu lama untuk menunggu mama Anya keluar dari ruang rawat inap ayahnya, dari posisinya Sheerin bisa melihat mama Anya berjalan tergesa-gesa menjauhi ruangan itu.

Sheerin cepat-cepat menunduk sambil mengetik pesan pada Nindi saat mama Anya berjalan melewatinya.

'Nindi, mama Anya udah pergi. Thanks ya!'

'Mama pergi? Padahal tadi pas gue telfon dia, dia malah marahin gue, katanya urus aja om Arya sendiri, dia lagi sibuk. Gue kira dia sibuk urusin ayah loe.'

'Nggak Nindi, tadi mama pergi kaya buru-buru gitu. Dia mau pergi kemana ya?'

'Gue juga nggak tau, tapi gue yakin dia nggak akan pulang kerumah sekarang, jangan dipikirin lah, cepet loe temui ayah loe sebelum dia balik lagi.'

'Oke.'

Kemudian Sheerin berjalan mendekat kearah ruangan ayahnya berada, dengan tangan gemetar dia membuka handle pintu. Jantungnya melemah saat melihat banyaknya alat yang terpasang di beberapa bagian tubuh Lukman, ayahnya itu pasti sangat tersiksa dengan itu semua.

Sheerin benar-benar tak kuasa menahan sakit dihatinya, seolah diapun merasakan kesakitan yang dirasakan Lukman, tanpa sadar dia menitihkan air mata sambil berlari mendekat kearah sang ayah, Sheerin mendekap tubuh lemah itu, menangis sejadi-jadinya disana, benar-benar menyesali semua yang terjadi kepada orang-orang terkasihnya, pamannya telah tiada, sekarang ayahnya

Ini semua adalah kesalahan dirinya, dia tidak bisa menjaga dan melindungi mereka dengan benar, dia malah memilih pergi demi menghindari perjodohan. Tidak, ini adalah kesalahan mama Anya, ya, mama Anya, dia yang membuat Sheerin mengambil keputusan ini, dia mengekang hidup Sheerin dan membuatnya terbelenggu. Sehingga membuat batin Sheerin tertekan dan ingin pergi meninggalkan semuanya termasuk orang-orang yang dia cintai.

"Maafin aku yah, aku memang bukan anak yang baik, mungkin setelah inipun aku nggak bisa berada disamping ayah. Tapi ini untuk sementara waktu ayah, setelah aku bisa berdiri diatas kakiku sendiri, aku akan kembali. Aku nggak mau mama Anya kembali menghalangi jalan di hidupku, setelah itu aku berjanji akan sepenuhnya berbakti kepada ayah." Sheerin bicara dengan berderai air mata sambil memegangi tangan ayahnya yang berselang infus, tanpa terasa tangan Lukman jadi basah akibat air mata Sheerin.

Yang diajak bicara tetap bergeming, dia benar-benar ada di alam bawah sadarnya, belum ada tanda-tanda Lukman akan sadar dalam waktu dekat ini. Tapi dengan begitu Sheerin bebas mengutarakan semua isi di hatinya tanpa melihat kekecewaan atau kemarahan dimata ayahnya itu. Juga tanpa membongkar kedok mama Anya yang sebenarnya.

Lama Sheerin menangis dalam pelukan ayahnya, satu-satunya orang yang dia miliki, tapi Sheerin telah mengecewakannya. Sheerin benar-benar menikmati moment ini, yang mungkin tidak akan dia dapatkan untuk beberapa waktu kedepan. Dia menumpahkan segala keluh kesah dan caci makinya untuk mama Anya yang telah menghancurkan segalanya.

***

Mata Sheerin terlihat membengkak setelah beberapa jam menangis di kamar rawat ayahnya, tapi orang-orang tidak bisa melihatnya karena Sheerin menyembunyikannya di balik kaca mata hitamnya.

Dari kejauhan, tepatnya dibalik pohon nangka, Sheerin mengintip acara prosesi pemakaman om Arya. Betapa menyedihkannya dirinya itu, dia bahkan tidak bisa menjadi orang pertama yang mengajikan pamannya itu, ini adalah pilihan dirinya sendiri yang meminta Nindi untuk menjadi dirinya, tentu saja ini adalah konsekuensi yang harus dia tanggung sendiri.

Acara pemakaman itu terasa khidmat, tidak terlalu banyak orang yang mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya, Sheerin merasa sedih. Saat ustadz melafazkan beberapa ayat suci, Sheerin ikut mengaminkan jauh dari posisinya berada.

Mendo'akan agar om Arya mendapat tempat terlayar disisi-Nya, om Arya adalah orang yang baik, Sheerin yakin Tuhan dengan suka rela mau memberikan syurga untuknya.

'Berdamailah disana om, om nggak akan mendapatkan masalah disana, om juga nggak akan merasakan sakit hati lagi. Do'akan juga biar aku disini bisa menyelesaikan masalahku dengan baik.'

Sheerin melihat satu persatu orang mulai meninggalkan pemakaman om Arya, hanya tinggal Nindi dan Bima yang masih bersimpuh didepan pusara yang masih basah itu.

Jika dilihat-lihat, Bima memang tampan, pantas saja Nindi bisa dengan cepat jatuh hati kepada laki-laki itu. Bima juga dengan setia mengurusi semuanya dari awal sampai akhir, mendampingi Nindi yang hanya seorang diri, menandakan jika dia orang yang setia.

Apa Sheerin mulai menyesal? Tidak, Sheerin tidak boleh menyesal, ini adalah keputusan yang telah dia ambil, egois jika dia berpikir dia menyesal.

Sheerin mengirimi Nindi pesan chat, masih ada banyak hal yang harus dia bicarakan, yang belum sempat mereka bahas waktu di kedai kopi tadi, karena Sheerin keburu panik juga sedih mendapatkan kabar buruk yang menimpa ayah dan pamannya.

'Nindi, temui gue sekarang. Ini penting, gue tunggu ditoilet umum deket pos belakang

pemakaman.'

Sementara itu.

"Kita pulang sekarang!" Seru Bima.

"Iya kak." Merekapun beranjak kemudian melangkah pergi dengan berat hati, kasihan juga om Arya sendirian didalam sana, pasti gelap dan juga dingin. Begitu dengan bodohnya Nindi berpikir.

Tiba-tiba ponselnya bergetar, Nindi dengan cepat membukanya.

"Emm, kakak duluan ke mobilnya ya, aku mau ketoilet dulu sebentar." Ucap Nindi.

"Aku antar." Balas Bima.

"Ehh, nggak usah kak, aku suka agak lama, nanti kakak bosen lagi nunggunya. Kakak tunggu dimobil aja nggak apa-apa, kan?" Nindi berusaha meyakinkan Bima.

"Yakin?" Tanya Bima.

"Iya, yakin 100%, hhe." Jawab Nindi.

"Ya sudah." Balas Bima.

"Kakaknya pergi dulu." Perintah Nindi.

Bima merasa aneh dengan sikap Sheerin yang seperti ini, kenapa? Tapi Bima tidak ambil pusing, diapun kemudian pergi berlalu setelah berkata.

"Jangan lama-lama, sebentar lagi magrib, tidak baik masih ada di pemakaman."

Nindi mendadak jadi merinding mendengar perkataan terakhir Bima, kak Bima ada benarnya juga, tidak bagus anak perawan menjelang malam masih berkeliaran dikuburan, apalagi saat melihat kak Bima semakin pergi menjauh. Nindi bergidik ngeri, kemudian secepat kilat dia berjalan ke tempat yang dimaksud Sheerin.

***

"Gue udah mengambil keputusan Nindi." Ucap Sheerin setelah mereka saling berhadapan.

"Keputusan apa?" Tanya Nindi bingung.

"Loe harus mempertanggung jawaban perbuatan loe ini." Jawab Sheerin.

"Memangnya apa salah gue She?"

"Karena loe udah menikahi laki-laki itu, itu diluar kesepakatan kita." Ucap Sheerin.

"Iya memang, tapi bukannya awalnya loe memang minta gue gantiin loe buat nikah sama kak Bima kan?"

"Iya gue tau, tapi waktu itu loe nolak permintaan gue itu."

"Gue nolak karena ada banyak alasannya, tapi gue udah bilang sama loe kan? Cinta datang tanpa diduga, gue mau menikahi kak Bima karena gue cinta dia. Plis Sheerin, jangan paksa gue buat pisah lagi sama dia, jangan rebut dia dari gue, pliis. Gue udah terlanjur nyaman sama dia, dia baik banget sama gue. Dia laki-laki pertama yang bersikap lembut sama gue, memperlakukan gue layaknya perempuan sungguhan." Nindi menghiba, wajahnya sengaja dibuat semenyedihkan mungkin agar dikasihani oleh Sheerin.

Sheerin ingin tertawa sambil terpingkal mendengar penuturan Nindi, apa lagi dengan wajahnya yang memelas seperti itu.

"Gue nggak akan rebut kak Bima loe itu, loe tenang aja. Tapi loe harus mengganti nya dengan yang lain." Ucap Sheerin.

"Gue harus ganti pake apa? Gue nggak punya apa-apa." Balas Nindi.

"Loe harus mengganti nya dengan hidup loe." Sheerin menegaskan.

"Maksud loe gimana?" Tanya Nindi semakin pusing.

"Ya, gue akan tetap berpura-pura jadi loe sampai batas waktu yang nggak bisa gue tentukan, dan loe jangan coba-coba kembali ke rumah loe apalagi sampai membongkar semua rahasia ini. Gue ingin hidup bebas seperti burung yang terbang disana." Sheerin menunjuk burung-burung yang berbondong-bondong terbang menuju matahari terbenam.

"Loe bener-bener nggak bahagia dengan hidup loe sendiri Sheerin? Sampai-sampai loe harus meminta hidup orang lain."

"Terserah loe mau bilang gue apa. Gue bukannya nggak bersyukur, gue cuma mau menikmati hidup gue tanpa dikekang, itupun cuma buat sementara. Gue mau kuliah tanpa usikan dari orang lain."

Nindi terdiam, jadi, dia tidak akan bisa bertemu dengan keluarganya sampai batas waktu yang belum dia ketahui, begitu. Ibunya, kak Yuvi. Apa Nindi akan sanggup? Bahkan sekarang saja rasanya dia ingin menangis dipangkuan ibunya. Ternyata masalah orang dewasa itu serumit ini ibuu, kalau boleh memilih, Nindi tidak ingin menjadi dewasa, dia ingin selamanya menjadi bocah yang ketika mendapat masalah, maka ibunya lah yang akan menyelesaikan masalah itu.

"Loe nggak bisa nolak Nindi, lagian ini juga menguntungkan buat loe, loe bisa selamanya bersama sama kak Bima loe itu."

"Semoga loe bahagia jadi gue Sheerin."

"Tolong jaga ayah buat gue."

***

Like dan komentari dulu bagian ini, sebelum a

lanjut ke episode berikutnya...

***Sambil nunggu novel ini up, kepoin juga novel author yang udah tamat yuk, cuma 45 episode.

WANTED : Mengandung banyak bawang***..

1
🌷💚SITI.R💚🌷
sprtiy di bunuh luis sm anya ini
🌷💚SITI.R💚🌷
lanjuuut
🌷💚SITI.R💚🌷
lama² mereka jatuh cinta de..skrng ribut trs tr sdh berpisah br rindu de
🌷💚SITI.R💚🌷
urakan tp kamu suka kan....🤣🤣
🌷💚SITI.R💚🌷
nyimak dl..lanjuut
Asrinda 24
Aku mampir
Imelda Nurrahmah
next
TiiehAtieh: udah habis kak, lanjut baca THE SECRET yuk, masih on going, banyak misterinya disana 🙏
total 1 replies
Imelda Nurrahmah
kejrm banget si bima
Imelda Nurrahmah
keren
anthy haryanti
kasihan banget sih loe levin,,,hampir nggak jadi nikah,,,hehehehe
anthy haryanti
wahhh nindi udah hamidun nih
abimasta
akhirnya nindi punya anak,happy ending selamat ya thor sudah memberikan bacaan yg menarik
anthy haryanti
rumah kosong itu bener2 bakal jadi angker,,,
TiiehAtieh: baca juga ekstra partnya ya kak 😊
total 1 replies
anthy haryanti
waduhhh siapa lagi tuh yg kena
anthy haryanti
siapa tuh yg kena
anthy haryanti
waduhhhh
anthy haryanti
kok aku yg deg degan yah
anthy haryanti
makin seru nihhh
abimasta
aku sudah selesai bacanya..makasih ya thor meskipun saya telat mampir disini
abimasta: menurut ku ceritanya bagus,cm kasian nindi blm punya momongan
total 3 replies
anthy haryanti
wahh kebiasaan si nindi,,kasihankan si tengil,,,hehehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!