Menceritakan dua kisah, antara Gibran anak broken home yang bertemu dengan Caramel. Dari pertemuan yang tak terduga, membuat Gibran merubah sikapnya secara perlahan demi mempertahankan hubungannya. Disisi lain dirinya juga harus mengalami penderitaan selama berada di rumahnya.
Selamat membaca:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Rooftop
...Selamat Membaca📖...
Pulang sekolah ini, Caramel harus mengikuti rapat antar kelas. Yang seharusnya di wakili oleh ketua dan wakil ketua kelas, namun Ervan Mahesa sedang sakit dan tidak masuk sekolah dari kemarin. Mau tidak mau, Caramel sebagai Sekertaris harus menemani Fania untuk mengikuti rapat.
Tadi dia juga memberikan pesan kepada Gibran, jika dia tidak bisa datang ke rooftop tepat pulang sekolah. Namun Gibran tidak masalah jika harus menunggu dirinya, sampai acara rapat selesai.
Satu jam kemudian, acara selesai. Caramel melirikkan matanya kearah jam di tangannya, sudah pukul 15:15. Apakah Gibran masih menunggunya? Dia mengambil ponselnya untuk mengabari Gibran, namun ponselnya sudah mati. Tadi malam dia lupa untuk mengecas ponselnya.
"Mau pulang sekarang?" tanya Karin, ketua kelas XII IPS 2.
"Nanti,"
"Ya udah, gue duluan ya."
Caramel mengangguk, kemudian Karin pergi meninggalkannya.
Caramel menaiki anak tangga dengan cepat, sungguh dia tidak sabar ingin bertemu cowok itu. Tapi apakah Gibran masih berada di sana? entahlah, yang penting dia harus memastikannya.
Sesampainya di rooftop, dia langsung menghampiri Gibran yang sedang duduk di kursi sambil bermain game onlaine di ponselnya.
"Hai," sapa Caramel. Gibran menoleh kearahnya.
"Duduk." Gibran menepuk jok kursi di sampingnya.
Caramel tersenyum dan duduk di samping kiri Gibran. Jarak keduanya sangat dekat, membuatnya sedikit tidak nyaman.
"Udah lama ya? maaf tadi ada rapat antar kelas." ucapnya
"Lumayan, udah satu jam gue disini."
Caramel membulatkan matanya, tidak yakin jika cowok ini benar-benar menunggunya selama ini.
"Ada apa, lo nyuruh gue kesini?"
Caramel terdiam saat, Gibran menyenderkan kepalanya di pundalnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak begitu cepat, gimana ini? Ia menoleh ke wajah Gibran, wajahnya begitu lusuh, dia memejamkan matanya.
"Sebentar."
Caramel mengangguk. Dia masih menetralkan detak jantungnya. Ada apa dengannya?
Hampir sepuluh menit keduanya tidak ada yang bicara. Apakah cowok ini tidur? pundak Caramel mulai pegal. Dia menepuk pelan pipi Gibran. Melihat dengan dekat wajahnya, tidak bisa dipungkiri lagi Gibran memang tampan. Bahkan sangat tampan, pantas saja banyak kaum hawa yang mengejarnya termasuk Sandrina.
"Gib." Gibran membuka matanya, secara perlahan. Dia tau pasti gadis ini sudah mulai pegal. Tadinya Gibran hanya ingin bersander sebentar dipundaknya, namun rasa kantuk dan lelah membuatnya tertidur. Ya semalam dirinya bergadang di rumah Rival, dia tidak pulang kerumah. Tau sendiri lah apa alasanya.
"Maaf."
"Nggak pa-pa kok. Lo lagi banyak masalah ya?"
"Nggak juga si, cuma ngantuk aja."
Caramel memutarkan sendinya, untuk mengurani rasa pegal di lengannya. Kemudian mengedarkan pandanganya ke langit.
"Jangan banyak begadang nanti lo sakit."
Gibran memperhatikan wajah Caramel dari samping.
"Satu lagi, jangan telat makan nanti lo kena bisa kena maag." Caramel menoleh kesamping, melihat Gibran yang sudah menatapnya terlebih dulu. Membuatnya memundurkan kepalanya, karna kaget. Gibran hanya tersenyum, belum pernah ada wanita yang memperhatikan dirinya dari masalah sesepele itu.
"Lo cerewet juga ya." ucap Gibran, sambil tersenyum. "lo juga perhatian, pantes saja ketiga temen lo itu betah sama lo."
"Mereka itu sahabat aku. Kita saling perhatian satu sama lain, walau kadang Putri sama Naura suka berantem."
Waktu berjalan begitu cepat, nggak kerasa mereka sudah mengobrol, bercanda dan tertawa hampir dua jam. Di ujung barat langit pun sudah berubah warna menjadi jingga, membuat pemandangan menjadi lebih indah dilihat dari atas gedung sekolah. Mereka berdua memutuskan untuk pulang sekarang juga. Namun sebelum melangkah pergi Caramel menarik tangan Gibran hingga tepi gedung.
"Dulu aku pernah pergi sama bunda ke bogor, terus kita berdua pergi ke bukit. Disana bunda nyuruh aku untuk teriak sekeras kerasnya, melepas semua masalah yang nggak bisa kita ungkapin secara langsung." Caramel menoleh kearah Gibran. "Aku mau kamu teriak sekarang juga."
Gibran menoleh kearah Caramel. "Buat?"
Caramel menghela nafas. "Tutup mata kamu dan bayangin semua masalah kamu itu. Terus kamu teriak sekeras mungkin."
Gibran mengikuti semua yang diucapkan Caramel, pertama dia memejamkan matanya. Kemudian berteriak sekeras mungkin.
"Aaaaaa!"
Caramel menoleh kearah Gibran, dia memegang tangan kiri cowok itu. Kemudian ikut memejamkan matanya, dia mengayuh kedua tangannya.
"Aaaaah!" Teriak mereka berdua.
Entah mengapa, yang diucapkan gadis ini benar. Sekarang dia benar-benar lega, dengan segala masalahnya. Mereka berdua membuka matanya dan menoleh secara bersama. Kemudia tertawa puas.
"Gimana?"
Gibran mengangguk. Dia masih tertawa, karna lega sekarang.
"Gue nggak pernah liat lo ketawa seperti ini." ucap Caramel, membuat Gibran berhenti tertawa.
Gibran menatap tangan kirinya yang masih berpegangan dengan tangan gadis itu. Entah sejak kapan tangannya berpegangan seperti ini.
"Maaf," Caramel langsung melepaskan genggamanya. "Ayok pulang."
Mereka berjalan menuruni anak tangga, untung saja pintunya tidak di kunci. Namun, gerbang sekolah sudah ditutup dan terkunci. Tak ada cara lain mereka harus menaiki pagar sekolah, seperti waktu dulu yang mereka pernah lakukan juga.
Gibran membantu Caramel untuk naik dan turun pagar. Hingga mereka mendarat dengan selamat.
Motor Gibran masih berada didalam area sekolah. Namun Gibran tak mempermasalahkannya, motor itu bisa dia ambil besok saat sekolah.
Sebelum pulang, Gibran mengajak Caramel untuk makan terlebih dahulu. Caramel menyetujui ajakan Gibran, karna tadi dia sudah meminta izin kepada Alana jika dia pulang terlambat. Agar keluarganya tidak mencarinya lagi seperti kejadian kemarin. Dia memilih makan somay di dekat taman.
Mereka mengunakan angkot untuk menuju tempat tujuan.
Dirinya sudah biasa menaiki angkot, namun sepertinya tidak dengan cowok ini. Dia kelihatan sangat kepanasan, terlihat kancing baju bagian atasnya dia lepas dan jaket yang dia kenakan juga Ia lepas. Caramel mendorong jendela angkot, sehingga ada udara yang masuk.
"Lo nggak pernah naik angkot ya sebelumnya?"
"Pernah dulu. Kalo lo sering?"
"Hampir tiap hari gue naik buat berangkat sama pulang sekolah. Kadang juga naik bajai."
"Bajai?"
"Iya, nanti kapan-kapan gue ajak lo naik bajai, mau?"
Gibran mengangguk, tidak yakin.
Sesampainya di taman, mereka langsung turun. Dan mencari penjual somay yang ada. Hari sudah gelap, suasana diluar juga sangat dingin dari pada di dalam angkot tadi. Mereka berdua duduk dikursi taman, sambil menunggu pesanan datang.
Gibran melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Caramel.
"Pakai, nanti lo masuk angin. Gue yang kena omel sama bunda lo."
"Kok bunda sih?"
"Karan gue yang udah ngajak lo main, nanti lo pulang terus sakit. Gimana?"
"Nanti nggak ada yang ngomelin lo, lagi. Hahha."
"Dasar."
Sejak di rooftop tadi, mereka banyak bercerita satu sama lain. Dari hal yang kecil hingga masalah pribadi. Sejak itu lah mereka terlihat sangat dekat, walau sejujurnya mereka juga masih janggung satu sama lain.
Bersambung....
salam my Kids My Hero
kisah Aluna
Aq msh setia..
aq msh setia lh nungguin....
semangat terus berkarya ya thor.. ceritamu bagus.. aku suka 👍👍