NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untuk Membalas Dendam

Terlahir Kembali Untuk Membalas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hamzari20

Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Raja dan Pion

Darel melepaskan tangannya, meronta keras agar dia terlepas dari mereka.

Dia berlari, bersujud di bawah kaki Isabella dengan cepat, menyentuh kaki wanita itu dengan erat.

"Isa, aku tahu kamu paling mencintai aku, kan? Tidak mungkin kamu tega melihat aku di hukum?" dia menatap Isabella mencoba menanamkan rasa kasihan di hati wanita itu.

Namun, alih-alih kasihan Isabella justru hanya diam, menatap Darel dengan malas.

Di kehidupan dulu dia pernah di permalukan dan memohon belas kasihan. Namun, jawaban Darel membuat dia mulai menanamkan kebencian yang tak berujung.

Mata Isabella berkilat benci, marah dan ulu hatinya mendadak sesak, kebencian menguasai nya dan itu membuat tangannya terkepal erat.

DUG!

BRUK!

Isabella menendang Darel hingga pria itu jatuh tersungkur di lantai yang dingin. Semua orang tak akan pernah menyangka jika sosok Isabella yang dulu begitu membela Darel hari ini menendang pria itu tanpa ampun.

Darel meringis pelan, memegang perutnya yang nyeri karena tendangan Isabella yang tak main-main.

"Aku tidak akan pernah memaafkan pengkhiatan!" bisik Isabella.

Dia mengkode anak buah Davis untuk membawa dua pengkhianat itu pergi dari sana sebelum kesabaran nya habis karena melihat wajah mereka yang memuakkan itu.

Isabella menarik napas pelan, dia langsung menyandarkan kepalanya di dada Arion dengan cepat seolah meminta perlindungan dari pria itu.

"Kamu akan baik-baik saja!" bisik Arion, memeluk erat pinggang Isabella yang terlihat rapuh.

Sedangkan Melody dan Matthew, keduanya tersenyum saat melihat bagaimana akhirnya sang putri mau menerima Arion sekarang.

Malam harinya.

Suasana rumah terasa tenang dan sepi. Lampu utama sudah padam dan hanya menyisakan lampu meja yang memancarkan hangat.

Isabella kembali ke dalam kamar, suasananya sekarang terasa menenangkan tapi hatinya belum benar-benar merasa tenang jika dua pengkhianat itu masih ada.

Hukuman Davis itu ringan, dia membuat keduanya memilih untuk mati dari hidup dalam keputusasaan. Dan inilah janjinya.

Udara malam itu terasa menggigit dingin, saat Isabella membuka pintu balkon membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang cantik dan terlihat lelah.

Banyak Hal yang Isabella pikirkan, selain dendam terhadap dua orang itu dia juga berniat mencari tahu dalang di balik datangnya Lyra kedalam rumah ini.

"Mereka hanya pion, saat di kehidupan lalu ternyata ada raja yang memerintah kedua pion dan di kehidupan ini aku akan menemukan raja itu!" gumam Isabella.

TOK!

TOK!

Ketukan pintu mengejutkan Isabella yang tengah melamun, sekarang jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam lebih lima belas menit. Saat seseorang mengetuk pintu.

"Isabella, apakah kamu sudah tidur?" suara Melody terdengar dari balik pintu kamar yang tertutup.

Isabella masih berdiri di balkon kamarnya, menatap lama pada pintu itu sebelum dia memutuskan berjalan mendekat.

Pintu di buka. Dan Isabella melihat Melody di sana sedang menatap kearahnya dengan sorot mata hangat seperti biasa.

"Mama belum tidur kenapa?" tanya Isabella, dia membawa sang Mama masuk kedalam kamar.

Keduanya duduk di tepi ranjang besar milik Isabella, dan keheningan langsung terjadi tanpa siapapun duga.

"Kamu baik-baik saja, sayang?" tanya Melody. Dia harus tahu karena sebagai ibu dia harus memastikan semuanya.

"Aku baik, memang kenapa, Ma?"

"Mama hanya khawatir karena kamu terlalu banyak di khianati!" kata Melody dengan tatapan sendu.

"Ma, mereka tidak penting dan aku akan baik-baik saja!" ucapnya, apa yang dia ucapkan adalah kebenaran dan dia tak merasa di khianati karena kehancuran sudah dia dapatkan di kehidupan pertama.

"Mama senang dengarnya, istirahat lah!" mengecup kening Isabella sebelum meninggalkan kamar sang Putri.

Isabella tersenyum lembut, dia menatap punggung sang Mama yang mulai hilang di balik pintu kamarnya yang di tutup.

Keadaan markas Davis, tempat eksekusi terlihat pengap dan bau besi menergap saat Arion tiba bersama Matthew.

"Selamat datang, Tuan!" para penjaga menyapa Matthew dan Arion yang baru tiba.

Mereka hanya mengangguk saja dengan langkah yang tak pernah benar-benar berhenti di sana.

"Dimana mereka?" tanya Matthew.

"Penjara bawah tanah sesuai perintah anda!" jawabnya.

Matthew mengangguk, dia mengajak Arion untuk menemui kedua pengkhiatan itu secara pribadi.

Pintu besi ruang bawah tanah terbuka saat Arion dan Matthew masuk kesana. Keduanya melihat bagaimana sosok Darel tengah terduduk di lantai yang dingin.

Darel yang merasakan kehadiran seseorang di sana segera mendongak. Kilatan kebencian itu terlihat jelas tanpa bisa di tutupi lagi.

BRAK!

"Lepaskan aku sekarang!" teriak Darel, dia memukul penjara besi itu dengan kuat.

Arion dan Matthew hanya saling memandang dingin Darel dengan kilatan tajam yang memancarkan aura dendam masalalu.

"Lepaskan? Apakah setelah mengkhianati putri Davis kamu akan di maafkan?" suara dingin Arion menyapa dengan sarkastik.

"Diam! Kamu hanya orang asing dan tidak berhak untuk ikut campur!" seru Darel, dia selalu menganggap Arion adalah rival karena pria itu lahir dan menjadi pewaris De Luca jelas itu yang membuat dia iri.

"Orang asing ini lah yang justru memegang nyawamu Darel Marco!" bisik Arion, dia mendekat dan keduanya saling menatap penuh permusuhan.

Mata Darel berkilat bwnci, napasnya terengah dengan dada yang naik turun menahan emosi.

Sedangkan Arion, dia tetap tenang dan tak pernah merasa goyah saat Darel menatap penuh permusuhan.

"Nikmati semuanya Darel!" bisik Arion.

"Lepaskan aku Arion! Kamu tidak berhak mengurung aku karena Isabella mencintai aku!" teriaknya.

Arion hanya menganggap semuanya angin lalu, dia akhirnya berlalu bersama Matthew yang tidak mengatakan apapun.

Namun, Matthew sempat melirik sekilas. Sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana tanpa sepatah katapun.

Darel mengamuk, sumpah serapah terus terlontar tanpa henti dari bibir pria yang di kehidupan pertama begitu sukses karena tangan Isabella.

Posisi tak jauh beda terjadi pada Lyra saat Matthew datang, dia langsung merangkak mendekat pada Papa angkanya.

"Pa, aku tahu Papa pasti datang, tolong keluarkan aku, Pa!" minta Lyra, dia benar-benar tak suka tempat pengap dan bau itu.

"Untuk apa saya mengeluarkan pengkhiatan dan orang yang merencakan pembunuhan? Apa kamu pikir Matthew Davis itu terlalu bodoh hingga kamu nekad?" suara dingin Matthew membuat perasaan Lyra sesak.

Dia tahu Matthew tak pernah bicara lembut padanya, walaupun begitu Lyra tahu pria itu menyayangi dia layaknya putri sendiri. Namun, hatinya tak puas saat kasih sayang dan harta itu harus di bagi dengan Isabella.

"Pa, aku ini anak Papa, apa mungkin Papa tega?" Lyra mengeluarkan air mata untuk menumbuhkan rasa iba di hati Matthew.

"Simpan saja air matamu Lyra! Karena kamu akan menetap di sini hingga batas waktu yang belum pasti!" putus Matthew.

DEGH!

Wajah Lyra pucat pasi saat ucapan itu meluncur begitu saja membuat dia merasakan nyeri di ulu hatinya.

"Pa, setega itu, kah?" tanya Lyra tak percaya.

"Iya, karena kamu sendiri pun tega hampir membunuh saya, Istri dan putri kandung saya!"

Mata Lyra berkaca-kaca dia benar-benar tak menyangka jika itulah kebencian Matthew padanya dengan rahang mengeras sempurna.

"Jaga mereka berdua! Pastikan semuanya aman sampai batas waktu!" tegas Matthew.

"Pa, jangan tinggalkan aku!" seru Lyra panik, tubuhnya benar-benar lemas dan tangannya hanya bisa terulur seolah berusaha menyentuh Matthew.

Air mata Lyra jatuh, dadanya sesak luar biasa saat Matthew tak menoleh sekalipun dan seolah tidak mau turut campur.

"Ini semua gara-gara wanita sialan itu!" desisnya dengan nada dingin.

Tangan Lyra terkepal erat hingga buku jarinya tatapan matanya penuh kebencian yang tak bisa ia sembunyi kan kembali.

Pagi harinya.

Matahari menyorot cahaya nya masuk lewat celah jendela sebuah kamar mewah.

Isabella perlahan membuka mats saat sinar matahari menerpa matanya, dia menoleh dan tersenyum tipis seolah ini adalah tidur juga bangunnya yang paling nyaman setelah sekian lama.

Menggeliatkan badannya, Isabella merasa tubuhnya agak ringan seolah seluruh beban berat itu di ambil dari sana. Namun, dia belum benar-benar tenang jika masih ada musuh tersembunyi di belakangnya.

Isabella turun dari ranjang, hari ini dia harus pergi kesuatu tempat demi menemui seseorang. Dia yakin orang itu masih ada dan sehat sekarang sebelum tragedi itu kembali terulang dan merenggut paksa semuanya.

"Aku akan datang dan menyelamatkan semua orang di kehidupan ku sebelumnya!" gumam Isabella, dengan tekad kuat ingin melindungi mereka yang rela berkorban untuknya.

1
Irsyad layla
ini sebenarnya keluarga de luca apa Marco bingung jadinya
Hamzari20: Marga Marco untuk Darel dan Marga De Luca untuk Arion
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!