Kisah cinta yang terhalang dengan keegoisan orang tua. Namun kembali dipertemukan oleh takdir setelah semuanya berubah.
Cerita hanya fiktif belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Nyonya?" Sapaan dadakan Sari yang mengejutkan Hartati.
"Kamu itu kalau memanggil yang lembut, buat kaget orang saja!" tegur marah Hartati.
"Hehehe. Maap Nyah."
"Maap...Maap!"
"Nyonya, ada kabar penting!" bisik kepo Sari.
"Kabar apa?" Hartati fokus menatap Sari.
"Tadi malam Tuan Bagas dan Neng Mila pulang jam 12 lewat. Sari lihat si Tuan kewalahan mengangkat tubuh neng Mila. Mereka dari mana sih Nyah?"
"Hah?" Sontak Hartati terkejut dan baru teringat dengan pesan Dokter jika Mila membutuhkan waktu berjam-jam untuk istirahat selama perawatan kewanitaannya berlangsung.
"Oh iya yah! Kok aku bisa sampai lupa. Artinya tadi malam mereka pause dong!" Hartati terduduk.
"Ada apa si Nyah sebenarnya!"
"Sudahlah kamu tidak perlu tau urusan majikan!" jawab jutek Hartati.
Tidak lama kemudian. Terlihat Bagas datang dengan pakaian seragam kantor yang rapi.
"Buruan sana kamu pergi?" usir Hartati kepada Sari.
"Baik Nyah!" Angguk patuh Sari meninggalkan pelataran meja makan.
"Huh. Giliran kerjaan langsung dibagi-bagi, giliran gosip enggak boleh dibagi. Si Nyonya enggak asyik ah?" ucap manyun Sari si pelayan kepo.
"Bagas!" Sambut manis dan lembut Hartati.
Pria itu menampilkan wajah kesal kepada Hartati namun ia masih merasa tidak tega marah kepada ibunya.
Hartati mulai sibuk menghidangkan menu sarapan untuk Bagas.
"Bagas hanya minum saja Bu! Nanti sarapannya di kantor saja!" ucap melasnya.
"Eh, jangan begitu, minum jus dan roti ini dulu!" Hartati menyodorkan menu sarapan itu sambil memperhatikan detail wajah cemberut Bagas.
"Mungkin malam ini tertunda. Tapi ibu yakin. Nanti malam Mila pasti sudah bisa!" senyum Hartati.
Bagas masih diam menguyah sarapannya. Tatapannya dingin dan sinis.
"Kalau kamu keberatan dengan biaya perawatan untuk Mila, nanti ibu ganti deh. Ibu janji, tidak membuang biaya yang besar lagi untuk perawatan Mila. Hanya kali ini saja!" ucap tegas Hartati.
"Bu, bukan itu masalahnya. Sampai kapan Ibu terus mencampuri urusan rumah tangga Bagas. Dulu Tyas selalu ibu paksa untuk pinter memasak. Sampai Tyas jadi benci kepada Ibu. Kalian sering bertengkar. Sekarang Mila?"
"Hei...hei...enggak begitu Nak! Ingat, semua demi kebaikan kamu. Menantu zaman sekarang ini saja yang terlalu manja. Minim pelayanan terhadap suami tapi mau disenangkan terus. Coba Ibu dulu kepada mertua. Enggak bisa main-main, suami tetap paling utama pelayanannya!"
"Bu, tentu menantu zaman dulu berbeda dengan menantu zaman sekarang?" Protes Bagas.
"Ibu tidak mendoakan Tyas meninggal. Tapi Tyas istri yang sangat keras kepala dan tidak bisa mengerti diri kamu. Kamu sering drop dan sakit-sakitan dia juga tidak paham. Wajar kalau ibu ini sering protes kepadanya dan ibu tau jika kau sendiri pun tidak mencintai Tyas. Sikapnya sungguh berbeda jauh setelah menikah denganmu!" Penilaian Hartati.
"Tidak perlu membongkar keburukan orang yang sudah meninggal Bu. Bagas cinta kok kepada Tyas!" ia menangkis perkataan ibunya.
"Bukan maksud membongkar keburukannya. Ibu hanya ingin memberikan alasan kenapa kami dulu selalu bertengkar. Aku ini adalah Ibumu. Bagas, bukan sekali dua kali ini ibu berjuang untuk dirimu. Tapi sedari kau masih dalam kandungan. Kenapa ibu harus turut ikut campur dengan kehidupan rumah tanggamu. Cukuplah kemarin kau salah memilih istri. Untuk istri sah yang kedua nanti Ibu tidak ingin kau salah lagi," ucap tegas Hartati.
"Bagas juga belum tentu memilih Mila kan Bu, jadi jangan terlalu dipaksakan!" Protes Bagas.
"Jikapun istri sah mu nantinya bukanlah Mila. Ibu akan tetap akan menilai istri yang kau pilih. Karena Ibu punya cara tersendiri untuk menilai istri yang pantas dan cocok untuk kamu, sampai kau mendapatkan istri yang terbaik. Setelah itu Ibu janji, tidak akan ikut campur lagi untuk urusan rumah tanggamu."
Hartati pergi meninggalkan Bagas dengan perasaan sedih.
Tak lama kemudian. Bagas datang menghampiri dan menyentuh lembut bahu sang Ibu.
"Bagas minta maaf yah Bu. Yah sudah, terserah ibu saja. Bagas percaya kepada ibu," Bagas mengambil dan mencium pangkal tangan ibunya lalu meninggalkan keberadaan wanita itu untuk kembali bekerja.
Hartati memandangi langkah Bagas dari belakang dengan dua bola mata yang berkaca-kaca. Sosok anak kebanggaannya itu cukup bertanggung jawab terhadap keluarga.
"Bagas percayalah Nak. Ibu hanya ingin melihat kau bahagia bersama wanita yang tepat. Tidak ada maksud lain. Sebenarnya ibu juga ingin sekali cepat-cepat pulang. Tapi hati ini selalu sedih melihat kondisimu!" ucap mewek Hartati.
Mila berhasil membuka mata di pukul delapan pagi.
"Huah, apakah penyiksaan itu sudah selesai!" ungkap Mila duduk dengan kondisi setengah sadar. Dua bola matanya mulai terbuka lebar dan memperhatikan susana keberadaan dirinya.
"Ini kan kamar Bagas?" ucap Mila mulai mengingat-ingat kejadian sebelum pagi itu terjadi.
"Sepertinya kami tidak melakukan hubungan badan tadi malam, syukurlah?" ungkapnya bangkit meninggalkan kasur.
Mila tertegun dengan langkahnya yang semakin melambat saat berpapasan dengan cermin, takjub melihat perubahan wajah dan kulitnya hingga membuat bibir tebalnya itu tersenyum lebar.
"Secepat ini? Sungguh luar biasa?" ungkapnya begitu puas dengan hasil treatment terbaik.
Wanita itu semakin berputar kegirangan bermain dengan rambut halusnya yang panjang. Dirinya semakin bahagia ketika melihat diatas sofa ada sebuah tas paket istimewa yang berisi lengkap untuk perawatan kecantikan wanita mulai dari skincare, body care, treatment hair dan lainnya serta vitamin kecantikan kulit dan kewanitaan.
"100 juta? Benar-benar memberikan hasil yang memuaskan!" Peluk manja Mila pada tas paket kecantikannya itu.
Dibawah derasnya guyuran shower. Mila begitu bahagia tak jemu-jemu menikmati perubahan indah pada tubuhnya. Bermanja-manja sendiri. Hal itu merupakan salah satu kebahagiaan rahasia Mila. Ia bebas berekspresi tanpa ada Bagas di kamar mandi.
"Kalau si Mbak tau sekarang kulitku semakin kinclong, pasti dia nangis cemburu..Hihi!"
Kesenangan itu langsung terbaca oleh Hartati setelah melihat video Mila yang senang merawat diri di kamar Emma. Selain untuk kebutuhan biologis Bagas. Hartati sengaja memberikan perawatan yang super mahal kepada Mila agar menjadi ancaman dan tuntutan ganti rugi Hartati jika kelak Mila tidak bisa melayani Bagas dengan baik selama 3 bulan. Sehingga Mila tidak bisa menolak setiap perintah-perintah Hartati. Ia sungguh sosok ibu sekaligus nenek yang cerdas.
Setelah selesai memakai pakaian rumahan yang bagus. Mila merapikan kamar Bagas kemudian keluar dan menutup pintu kamar.
"Seharian enggak bertemu dengan anakku. Emma, bunda kangen berat?" ucapan haru Mila. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya saat menuju kamar Emma.
Dua bola mata Mila sedikit membesar ketika menatap pukul sudah diangka sembilan pagi dan Ia mulai berpikir.
"Waduh. Bangun jam segini harus bisa akting di depan mertua, kalau tidak, bisa gawat?" Ungkapnya berlari cepat kembali masuk ke dalam kamar Bagas dan memberikan sentuhan lipstik pucat dan setelah berpapasan dengan Hartati wanita itu langsung berakting lesu.
"Maaf Bu, Mila kesiangan."
Hartati fokus melihat perubahan Mila dari atas sampai bawah bagaikan seorang tahanan.
"Artinya tadi malam kamu liburkan?" tanya seram Hartati.
"Memang belum boleh kata Dokternya?" jawab anggun Mila.
"Artinya juga nanti malam harus di gas terus, jangan ada alasan lagi!" pinta kocak Hartati dengan wajah serius tanpa senyuman. Ia lalu pergi meninggalkan Mila menuju kamarnya.
"Gas? Gas, emang knalpot rusak di Gas terus?" ungkap sebel Mila menghadapi sang mertua.
trimakasih banyak kaaaaa🙏🙏🙏🙏 akhir'y pecah telor
bikin karya baru yoook
Doa Bu Wirda tembus ke langit sehingga anak² beliau bisa mendapatkan kebahagiaan,,,
Very cepat datang dong tolong bos Bagas jangan sampai terlambat,,,
Mila jangan keluar nurut apa kata Bagas tetap di dalam mobil saja
Emang paling susah ngurusin anak mertua di lawan takut dosa, sudah bawel ya apalagi monster biawak😂😂😂