Maemunah, gadis lajang berumur 25 thn yang belum bisa dewasa sedikit pun. Sifatnya sangat bebas dan suka bergaul dengan remaja yang bukan seumurannya. Gadis ini tidak suka bekerja dan hanya senang bermain, padahal teman" seumurannya banyak yang sudah sukses berkerja dan menikah. Putri babe Rojali dan Nyak Markoneng ini kerap kali menjadi biang kerok dan terkenal dengan kenakalannya. Sifat ini sudah ia miliki sedari kecil senang membuat onar dan membuat pusing kedua orang tuanya. Tak tahu entah cara apa lagi agar Mae beranjak dewasa, kedua orang tuanya memutuskan mencari seorang lelaki untuknya. Mae jelas menolak keras hal ini. Ia tak mau menikah dan berpacaran karena tak mau ribet. Itu melelahkan baginya, menjalani kehidupan seperti yang diinginkan barulah menyenangkan menurutnya. Akankah ada lelaki yang bisa merubah sikap buruknya itu? Berhasilkah orang tuanya mencari lelaki yang cocok dengannya? Temukan jawabannya lewat cerita novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
"Pelan-pelan E!" Prince mendudukkan Mae ke kasur kamarnya. Mae hanya diam dan menurut.
"Kamu duduk dulu, biar aku ambilkan es batu untuk mengompres lukamu," suruhnya.
"Tak perlu, gue baik-baik saja lagi pula dokter juga dah ngobatin tadi," cegat Mae menolaknya.
"Aku tau, tapi kamu juga perlu pengobatan dariku. Jadi, menurut lah!" bujuknya.
"Hmm terserah lu, gue nurut aja." Mae mengangguk dan membiarkan Prince berbuat sesuatu untuknya.
"Oke gadis baik," ucap Prince tersenyum sambil mengelus lembut kepala Mae.
Prince lalu pergi keluar untuk mengambil kompresan. Sementara Mae melihat ke sekeliling kamar yang baru saja ia kunjungi itu. Terlihat sangat rapi dan sangat berbeda dengan kamarnya yang berantakan padahal dirinya seorang gadis. Saat melihat-lihat, mata Mae tertuju pada mug unik yang dirasa pernah dilihatnya dulu. Dengan perlahan, gadis ini berdiri menuju meja kecil didepannya untuk mengambil benda tersebut.
"Perasaan nih mug kaya pernah liat gue?" pikirnya saat melihatnya dari dekat.
"Gue sentuh boleh kali ya?" Mae akhirnya memberanikan diri untuk menyentuhnya. Saat meneliti secara detail mug tersebut, gadis ini melihat ada tulisan nama di bagian mug nya dan di sertai tanda love.
"Mae-Prince?" gumamnya sambil sedikit tersenyum dan terus memegangi mug tersebut.
Di kantor. Catalina sudah merasa lelah menunggu Prince yang tak kunjung datang. Ia akhirnya memilih bangkit untuk menemui King.
King sendiri kini sedang duduk istirahat sambil meminum airnya di sisi panggung. Catalina mendekat dan dengan lesu duduk disebelahnya.
"Hufh..." Desahan panjang keluar dari mulut gadis ini. King menoleh untuk bertanya.
"Ada apa dengan dirimu?"
"Aku lelah menunggu Prince," jawab Catalina.
"Memang Prince tak datang kembali ke kantor?" King bertanya kembali.
"Tak tau, ku kesini ingin memintamu untuk mengantarkan ku ke tempatnya," jawabnya lagi.
"Sekarang?" King sedikit terkejut.
"Iya lah ayo!" Catalina berdiri dan mencoba menariknya untuk bangkit. King mengangguk-angguk dan berjalan mengikuti sang sahabat walau sedikit malas.
Kembali di kediaman rumah Prince. Setelah Mae selesai melihat mug yang berhasil membuatnya tersenyum senang, ia beralih ke sebuah foto dua anak kecil yang tak lain adalah dirinya dan juga Prince saat acara pentas sekolah dulu.
"Ckckck lu mang cantik Prince," decak kagum gadis ini menggeleng tak percaya sambil memegang foto tersebut.
"Mae!!" Seseorang memanggilnya dan membuat dirinya terkejut.
Mae yang terkejut langsung menyembunyikan foto tersebut ke belakang.
"Eh Prince hehe," kekehnya.
"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Prince penasaran.
"Tak ada cuma ini," jawabnya sambil menunjukkan foto tersebut.
"Kamu!" tunjuk Prince langsung sebab terkejut. "Cepat taruh kembali!!" suruhnya langsung.
Mae menggeleng. "Gue masih pengin liat foto lu yang pake gaun, kagak boleh?"
"Jangan nakal, cepat taruh kembali!" suruh Prince lagi.
Mae masih menggeleng disertai gaya meledek. Tak tahan dengan itu, Prince menghela nafasnya panjang lalu menaruh baskom yang di bawanya ke meja.
"Mae, ku bilang letakkan kembali!" pinta Prince sedikit menekankan nada bicaranya.
"Tak, kalo mau coba ambil sendiri!" Tantang Mae padanya sambil bersiap untuk mundur ke belakang.
Prince mengangguk untuk meladeni dan mulai melangkah menghampiri. Karena Prince maju, Mae pun mulai perlahan mundur ke belakang. Tanpa sadar kaki Mae menabrak kasur yang berada di belakangnya. Sulitnya menjaga keseimbangan, Mae akhirnya terjatuh ke kasur di susul dengan Prince yang hendak meraih foto tersebut.
"Aduh!!" rintih Mae karena kakinya yang tergelincir terasa berdenyut kembali. Prince yang juga jatuh di atasnya menatap gadis tersebut sebentar. Mae terdiam terpaku karena Prince menatapnya. Diam-diam Prince mengambil foto tersebut di saat Mae teralihkan. Setelah berhasil, Prince hendak bangkit kembali namun ternyata ia terpeleset dan menyebabkan dirinya jatuh kembali di atas tubuh Mae dengan posisi bibirnya yang menyentuh bibir lembut Mae.
Mata Mae melebar karena terkejut. Di saat itu juga Catalina datang melihatnya. Gadis tersebut masuk tanpa izin karena melihat pintu rumah yang terbuka. King sudah memperingatinya namun Catalina tetap ngeyel dan masuk secara sembarangan. King yang pasrah mengikutinya dari belakang.
Mae dan Prince yang masih berciuman tak menyadari kehadiran Catalina di sana. Catalina memilih diam saja dan dengan kesal berbalik kembali. King yang baru sampai menjadi bingung karena tiba-tiba Catalina menariknya kembali untuk keluar.
"Maaf," ucap Prince setelah melepas ciumannya. Mae yang masih tak terkendali hanya diam menahan malu.
"Se-sebaiknya kamu istirahat saja, ku akan tidur di ruang tamu. Selamat malam!" pamitnya cepat karena salah tingkah.
Mae masih terdiam sementara Prince mulai melangkahkan kakinya cepat untuk keluar. Setelah kepergiannya, gadis ini langsung menghela nafasnya panjang sambil memegangi dadanya yang berdetak.
"Apa tadi? Tuk kedua kalinya gue ciuman sama si Prince."
"Astaga!!!"
Mae yang tak bisa menahan lagi rasa senangnya, mulai berguling-guling kegirangan. Ia bahkan melupakan rasa nyeri di kakinya untuk saat ini.
................
King yang tak mengerti apa yang terjadi dengan sahabatnya itu, masih mengendarai sepeda motornya membawa sang sahabat mengelilingi kota.
"Cat, kamu ingin kemana?" tanyanya sedikit menoleh ke belakang
"Jalan saja, bawa aku ke tempat yang tenang," jawab Catalina.
King mengangguk menurut dan mulai menambah kecepatan motornya melaju menuju tempat yang dimaksud sahabatnya. Sepanjang jalan, Catalina terus membayangkan yang baru saja di lihatnya. Ia sedikit meneteskan air matanya sebab cemburu dan patah hati.
Karena tak tahu harus membawa sahabatnya pergi kemana. King akhirnya teringat tempat yang sangat cocok untuk sahabatnya itu. Motornya terus melaju hingga berhenti di tepi jalan yang lumayan sepi.
"Kenapa berhenti?" tanya Catalina bingung.
"Turunlah dan ikuti aku!" suruh King sambil melepas helm miliknya.
Catalina melihat ke sekeliling sebentar sebelum ia mengangguk dan turun dari motor. Ia mulai berjalan mengikuti pria di depannya. Jalanan menuju tempat tersebut sedikit sulit. Catalina bahkan merasa sulit untuk berjalan. King yang peduli mengulurkan tangannya untuk memegang tangan sahabatnya.
Sedikit waktu berjalan, mereka berdua akhirnya sampai di sebuah bukit kecil dengan pemandangan kota yang penuh dengan gemerlap cahaya.
Catalina yang takjub segera berlari ke tepi bukit dan berteriak untuk menghilangkan beban di pikirannya.
"Aaa!!!"
Setelah merasa reda, King mulai mencoba untuk bertanya pada sahabatnya.
"Jadi, ada apa denganmu? Kenapa kamu pergi begitu saja dari rumah Prince? Mereka baik-baik saja kan?" Beberapa pertanyaan langsung keluar dari mulutnya.
"Ya mereka sangat baik-baik saja hingga berhasil membuatku patah hati," jawab Catalina yang mulai menundukkan kepalanya sedih.
"Apa maksudmu?" King bertanya lagi dan mulai fokus pada sahabatnya.
Catalina menoleh untuk menjelaskan. "Prince dan Mae mereka berciuman dan tepat di depan mataku King."
"Ha? Mereka berdua?" King tak percaya.
"Iya, aku jadi tambah yakin jika mereka itu bukan hanya sekedar atasan dan bawahan. Uhuk uhuk!" Ucap Catalina yang tiba-tiba saja terbatuk-batuk.
"Cat, kamu sepertinya mulai demam." Mendengar gadis sebelahnya batuk, ia langsung mengkhawatirkannya.
"Aku baik-baik saja," ucap Catalina pelan.
King yang tak tega melepas jaketnya dan mengenakannya ke tubuh Catalina. "Pakai ini, aku tak mau sahabatku sakit!" suruhnya.
Catalina menghela nafasnya. "Hufh, terima kasih King."
King mengangguk. "Mhm. Jika kamu sudah merasa baikan bilang ya. Biar ku antar pulang," tawarnya.
Catalina mengangguk pelan. Mereka berdua kini duduk sambil menikmati pemandangan malam dari atas bukit di tengah cuaca yang cukup dingin karena jam sudah hampir menuju dini hari.
Di sisi lain, Mae tak bisa tidur samasekali. Saat Prince menciumnya tadi, ia sedikit melihat ada seseorang yang mirip dengan Catalina berdiri di pintu tadi. Namun karena terbawa suasana, ia jadi tak memperdulikannya. Mae jadi sedikit khawatir, takut jika memang benar itu Catalina. Tapi semoga saja itu bukanlah gadis tersebut dan hanya perasaan Mae sendiri saja.
Mae pun memilih bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dengan perlahan karena kakinya masih sedikit sakit. Ia hendak ke dapur untuk mengambil minum. Namun langkahnya harus berhenti ketika melihat Prince yang tertidur di sofa dengan tubuh tanpa selimut. Mae berjalan menghampiri dan menggeleng sebentar sebelum dirinya memilih menyelimuti lelaki tersebut.
Mae tak langsung pergi melanjutkan niatnya. Ia tiba-tiba berjongkok di samping sofa karena terpana dengan wajah Prince yang sangat mempesona disaat tidur. Saat melihat bibir merah Prince, ia teringat kembali dengan kejadian beberapa jam yang lalu.
"Prince, kenapa lu nyium gue?" gumamnya.
Mendengar ada suara Prince membuka matanya perlahan. Mae terkejut dan segera bangkit untuk pergi. Namum, tangannya tiba-tiba di tarik olehnya hingga terduduk. Prince lalu membisikinya dan mengatakan perasaannya di sana.
"Itu karena aku menyukaimu. Jadilah pacarku!"
Mae menoleh terkejut dan Prince kembali menciumnya.
BERSAMBUNG
ngakak terus sama kelakuan Mae😂