NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7.pura pura

Di sudut ruangan istirahat karyawan Cahaya Kopi, Aruna duduk terdiam memandangi secangkir teh manis hangat dan semangkuk sup kaldu yang asap tipisnya masih membubung. Di hadapannya, Mbak Maya mengusap bahunya penuh kelembutan, sementara Rian meletakkan sepotong roti panggang isi keju di atas meja dengan wajah cemberut—wajah berpura-pura kesal yang dibuat-buat untuk menghibur.

"Nih, dimakan. Aku yang memanggang rotinya khusus buat kamu, Na. Kalau kamu nggak habiskan, aku mogok menyapu kafe seminggu," gurau Rian, mencoba memecahkan ketegangan.

Tak lama kemudian, Bagas melangkah masuk dari arah dapur. Pria berbadan tegap itu tidak banyak bicara. Ia hanya meletakkan sebuah handuk kecil yang telah direndam air hangat di samping cangkir Aruna, lalu menatap Aruna dengan sorot mata yang teduh namun penuh perhatian.

"Usap kening sama lehermu pakai handuk hangat itu. Biar pusingmu berkurang," ujar Bagas pelan, suaranya berat dan sarat akan perhatian yang sengaja ia tahan agar tidak terkesan berlebihan.

Menatap tiga pasang mata yang memandangnya penuh ketulusan dan kasih sayang tanpa syarat, pertahanan Aruna runtuh seketika. Pertahanan yang selama bertahun-tahun ia bangun di depan keluarga Rasyara dan Kaivan Adikara hancur begitu saja.

Air mata menetes perlahan dari sudut matanya, bergulir melewati pipinya yang pucat. Seketika, isak tangis yang tertahan di tenggorokannya pecah. Aruna menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya bergetar hebat.

"Lho... Aruna? Kok malah menangis?" Mbak Maya panik dan langsung merangkul tubuh Aruna yang terasa begitu kurus dan ringkih.

"Ada apa, Na? Ada yang s

akit? Cerita sama Mbak..."

"Enggak, Mbak Maya... hiks... Aruna nggak apa-apa..." bisik Aruna di antara isak tangisnya yang pilu.

"Aruna cuma... cuma terharu. Terima kasih banyak ya, semuanya... Kalian baik banget sama Aruna."

Bagas berdiri mematung beberapa langkah di depan Aruna. Jemari tangannya yang berada di dalam saku celemek mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Menyaksikan Aruna menangis seperti ini mengirimkan rasa sakit yang teramat sangat ke dalam dadanya.

Bagas ingin sekali menarik Aruna ke dalam pelukannya, menghapus air mata gadis itu, dan berjanji akan melindunginya dari apa pun yang membuat mata jernih itu terluka. Namun, Bagas menahan diri mati-matian. Ia tahu batasannya. Ia hanya bisa berdiri kaku, menjadi pelindung yang tak bersuara dari balik bayang-bayang.

"Sudah, jangan menangis lagi," kata Bagas lirih, suaranya terdengar makin lembut dari biasanya.

"Makan supnya selagi hangat. Di sini nggak ada yang menuntut kamu untuk jadi sempurna, Na. Kalau kamu lelah, istirahat."

Aruna mengangguk pelan sembari mengusap air matanya menggunakan handuk hangat pemberian Bagas. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam tekanan, Aruna merasakan titik tenang yang teramat sangat di hatinya. Di dalam kafe sederhana ini, ia merasa diakui sebagai manusia yang memiliki hak untuk lelah dan dikasihi.

Namun, kedamaian singkat itu hanya bertahan tak lebih dari sepuluh menit.

Kringgg... Kringgg...

Ponsel Aruna di atas meja bergetar keras, memutus suasana hangat di ruangan itu. Nama yang tertera di layarnya membuat napas Aruna seketika tertahan: Kaivan Adikara.

Dengan tangan bergetar dan jantung yang mendadak berdegup kencang diliputi kecemasan, Aruna menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Ha—Halo, Pak Kai—"

"Kamu di mana sekarang?!"

Suara gelegar amarah Kaivan menghantam gendang telinga Aruna tanpa ampun. Suara pria itu begitu keras, dingin, dan sarat akan kebencian yang meluap-luap, bahkan Mbak Maya yang duduk di sebelah Aruna sempat mendengar desibel suara dingin itu dari luar speaker.

"Saya... saya sedang di tempat kerja, Pak Kaivan," jawab Aruna gagah berani meski suaranya mencicit ketakutan.

"Pulang sekarang juga! Detik ini juga!" bentak Kaivan dari balik telepon.

"Satpam rumah baru saja menelepon saya. Orang tuamu dan kakakmu yang tidak punya malu itu datang ke rumah saya! Mereka masuk ke pelataran seolah-olah tempat itu milik nenek moyang mereka, menuntut disajikan makanan mahal dan bertindak seolah mereka adalah tamu keluarga terhormat!"

Darah Aruna serasa berhenti mengalir seketika. Muka Aruna yang baru saja agak membaik kembali menjadi putih pucat bak mayat. Papah... Mamah... Karin... kenapa mereka melakukan ini?! batinnya berteriak histeris.

"Keluarga murahanmu itu benar-benar tidak tahu diri!" lanjut Kaivan dengan kalimat-kalimat pedas yang menghujam ulu hati Aruna.

"Sejak awal kecurigaan saya memang benar! Kamu dan keluargamu sengaja merencanakan semua skenario jebakan utang ini agar kalian bisa menumpang hidup dan mengeruk kekayaan keluarga Adikara, kan?! Pulang dan usir mereka sebelum saya menyuruh pengawal melemparkan mereka ke jalanan!"

Tut... tut... tut...

Panggilan diputus secara sepihak oleh Kaivan.

Aruna mematung dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Seluruh badannya berguncang hebat, bukan lagi karena lemas fisik, melainkan karena rasa malu dan ketakutan yang teramat sangat.

Kata-kata Kaivan bahwasanya ia dan keluarganya adalah 'orang murahan yang ingin menumpang hidup' terus bergema seperti petir yang menyambar jiwanya.

"Na? Ada apa, Na? Telepon dari siapa itu?" tanya Mbak Maya cemas melihat perubahan drastis pada raut wajah Aruna.

Aruna bergegas berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang. "Mbak Maya... Rian... Mas Bagas... Aruna harus pulang sekarang. Maaf banget, Aruna harus pergi!"

"Tapi keadaan kamu belum fit, Na!" seru Bagas refleks melangkah maju hendak menahan tangan Aruna, namun jemarinya berhenti di udara—tidak berani menyentuh Aruna.

"Siapa yang telepon kamu sampai bikin kamu panik begitu? Biar saya antarkan!"

"Nggak usah, Mas Bagas! Terima kasih banyak! Aruna bisa sendiri!" tolak Aruna dengan mata berair, lalu berlari keluar dari kafe tanpa sempat mendengarkan panggilan teman-temannya lagi.

Bagas berdiri di ambang pintu kaca kafe, menatap punggung Aruna yang berlari tergesa-gesa menyusuri jalan raya. Pandangan mata Bagas berubah begitu tajam dan pekat. Ada perasaan marah yang tak membual bergulat di dalam benaknya.

Ia tidak tahu siapa pria bersuara dingin di telepon tadi, tetapi Bagas bersumpah, ia sangat membenci siapa pun yang telah merenggut senyuman dan kedamaian dari wajah Aruna.

Pukul 09.30 WIB.

Aruna sampai di depan rumah megah milik Kaivan setelah menggunakan ojek dengan kecepatan tinggi. Di pelataran rumah yang luas itu, sudah terparkir mobil sedan mewah milik Kaivan. Pria itu ternyata sudah membatalkan semua agenda rapat pentingnya dan pulang lebih awal demi melampiaskan amarahnya.

Di sudut teras rumah, Rendra, Rosmala, dan Karin sedang berdiri dipagari oleh dua orang pengawal pribadi Kaivan yang berbadan tegap. Wajah Karin tampak bersungut-sungut kesal, sementara Rosmala sibuk berkacak pinggang menuntut agar dibukakan pintu rumah.

"Aruna!" seru Rosmala begitu melihat putrinya berlari mendekat.

"Kamu ini bagaimana sih?! Masa rumah suamimu dikunci rapat begini?! Mamah, Papah, sama Karin kan mau lihat-lihat rumah baru kamu! Mau syukuran kecil-kecilan! Malah dihalang-halangi sama satpam kurang ajar ini!"

Aruna berhenti di hadapan keluarganya dengan dada naik turun menahan napas dan emosi.

"Mamah... Papah... Mbak Karin... kenapa kalian ke sini tanpa bilang sama Aruna dulu?" bisik Aruna dengan suara yang bergetar hebat.

"Lho! Kenapa harus bilang?!" sahut Karin sinis dengan gaya angkuhnya.

"Ini rumah suami kamu yang kaya raya itu kan? Rumah adik kandung aku sendiri! Ya wajar dong kalau kita mau datang, minta makan siang, atau menginap sehari dua hari! Lagipula tiga puluh miliar itu kan uang kompensasi pernikahan kamu, masa kita nggak boleh menikmati fasilitas rumah ini sedikit pun?!"

"Cukup!"

Sebuah suara gelegar yang penuh intimidasi memotong ucapan Karin.

Dari balik pintu utama yang terbuka lebar, Kaivan melangkah keluar. Jas lamanya sudah dilepas, kini ia hanya mengenakan kemeja putih dengan kancing atas terbuka dan lengan tergulung.

Sorot matanya yang sehitam malam memancarkan kebencian yang teramat sangat, menatap keluarga Rasyara seolah-olah mereka adalah hama yang merusak pemandangannya.

Rendra dan Rosmala seketika bungkam, ciut melihat aura mengintimidasi dari menantu kaya mereka.

"Pak Kaivan..." cicit Rendra mencoba tersenyum manis. "Kami cuma mau silaturahmi—"

"Silaturahmi?" Kaivan tertawa dingin yang sangat menyayat hati.

"Jangan membuang ludah dengan kata-kata manis di rumah saya, Tuan Rendra. Tiga puluh miliar sudah ditransfer penuh ke rekening perusahaanmu. Itu adalah harga jual putrimu dan batas akhir hubungan bisnis kita. Kamu tidak punya hak sepeser pun untuk menginjakkan kaki di tanah rumah ini!"

Kaivan menoleh ke arah dua pengawal pribadinya.

"Bawa mereka keluar dari kompleks ini sekarang. Jika mereka berani datang lagi, hubungi kepolisian atas tuduhan memasuki pekarangan tanpa izin!"

"Apa-apaan kamu ini, Kaivan?! Kami ini mertuamu!" teriak Rosmala tak terima saat kedua pengawal mulai menggiring mereka dengan tegas menuju luar gerbang.

"Kalian bukan keluarga saya," sahut Kaivan datar tanpa beban.

Setelah keluarga Rasyara diseret keluar dari pekarangan dengan teriakan histeris Karin dan ibunya, suasana di pelataran rumah megah itu kembali diliputi kesunyian yang mencekam.

Kaivan membalikkan badan, menatap Aruna yang berdiri menunduk di tengah teras. Bahu gadis itu bergetar pelan, air matanya menetes meresapi lantai marmer.

"Masuk," perintah Kaivan dengan nada yang tak menerima bantahan.

Aruna melangkah lambat mengekor di belakang Kaivan masuk ke dalam ruang tengah. Begitu pintu utama tertutup rapat dan terkunci dari dalam, Kaivan berbalik secara mendadak.

"Puas kamu?!" bentak Kaivan tepat di hadapan wajah Aruna.

Aruna terlonjak kaget, matanya yang basah menatap Kaivan dengan rasa takut yang amat sangat.

"Pak Kaivan... saya sungguh tidak tahu kalau keluarga saya akan datang—"

"Jangan berbohong!" potong Kaivan dengan suara baritonnya yang menggelegar, mencengkeram bahu Aruna dengan cukup kuat—bukan untuk menyakiti secara fisik, melainkan untuk melampiaskan murkanya.

"Kamu yang memberitahukan alamat rumah ini pada mereka, kan?! Kamu mau menunjukkan pada keluarga rakusmu itu kalau kamu berhasil jadi 'Nyonya' di rumah ini?! Kamu mau kalian semua menumpang hidup dan mengeruk harta saya perlahan-lahan?!"

"Tidak, Pak Kaivan! Demi Allah tidak!" tangis Aruna pecah, suaranya parau menahan perih di dadanya.

"Saya tidak pernah berikan alamat ini pada siapa pun! Saya tidak pernah menginginkan harta Anda sedikit pun! Kenapa Anda selalu memandang saya sejijik itu?!"

"Karena dari awal kamu dan keluargamu memang sama saja!" desis Kaivan, menatap Aruna dengan penuh prasangka buruk yang membara.

"Pura-pura lugu, pura-pura bekerja keras di kafe murah itu, pura-pura tidak butuh uang... padahal di belakang saya, kalian sudah menyusun rencana untuk menggerogoti kekayaan Adikara Group!"

Cengkeraman tangan Kaivan di bahunya terlepas saat Aruna tersungkur pelan ke lantai, tak sanggup lagi menahan rasa lemas tubuhnya dan himpitan rasa sakit di hatinya.

Kaivan berdiri menjulang di atas Aruna, menatap gadis yang meringkuk menangis di atas lantai dingin itu tanpa seberkas pun rasa iba.

"Mulai hari ini, batas waktumu berada di luar rumah dipotong!" ancam Kaivan dengan kalimat dinginnya.

"Selesai kerja di kafe jam berapa pun, kamu harus langsung pulang! Dan ingat, jika keluarga murahanmu itu berani menginjakkan kaki di sini lagi, saya tidak akan segan-segan membatalkan seluruh perjanjian dan menuntut perusahaan ayahmu hingga bangkrut total!"

Dengan langkah lebar dan dingin, Kaivan meninggalkan Aruna sendirian yang tergugu menangis di atas lantai ruang tengah yang luas.

Dalam kegelapan dan dinginnya sangkar emas itu, Aruna meremas dadanya sendiri yang terasa begitu hancur. Prasangka buruk Kaivan telah menghempaskannya ke titik terendah, memadamkan seluruh cahaya kedamaian singkat yang baru saja ia rasakan beberapa jam lalu di kafe.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!