Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bazar
Kini, di rumah itu ada dua wanita hamil. Satu istri sah yang mengandung anak dari pria lain, dan satu adalah orang bayaran yang mengandung anak dari sang kepala keluarga. Dua janin dari ibu dan ayah yang berbeda tumbuh bersama dan beriringan.
Usia kandungan memasuki bulan kedua. Semua berjalan normal. Tidak ada kendala. Dan Sean juga tampak sudah lebih bisa menerima.
Namun, yang berbeda, Jinny kini tidak lagi sedominan sebelumnya di rumah. Ia lebih banyak diam dan pasif. Bahkan Jinny tidak lagi aktif keluar rumah untuk berolahraga maupun bersosialisasi dengan teman-temannya.
Seperti siang ini, Sean menghadiri acara bazar yang diadakan oleh perusahaannya untuk mengecek kelancaran jalannya acara dan memberikan sambutan. Ia berinisiatif mengajak Jinny dan Hanis sekaligus. Jinny sekadar untuk mendampingi sebagai pasangan formal, dan Hanis dibawa untuk refreshing keluar rumah.
Anak-anak Hanis diikutkan dalam lomba yang ada. Seno yang sudah sekolah mengikuti lomba mewarnai. Dino mengikuti lomba menyanyi. Dior sebagai peserta lomba memindahkan bola berdasar warna. Sedangkan anak perempuannya, Icha, hanya diajak dan digendong Rino.
“Aku sama Jinny duduk di depan nanti, kamu sama anak-anak aja. Ini kalau mau jajan, bebas jajan apa aja sama anak-anak,” pesan Rino setengah berbisik ketika mereka masih berada di area parkir, sebelum memasuki area bazar.
Hanis mengangguk patuh. Ia senang sekali ada acara seperti ini sehingga dapat menghabiskan waktu bersama anak-anaknya, sekadar untuk melepas rindu dan menyenangkan keempat anaknya.
Sean merogoh kantongnya. Mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang pecahan besar pada Hanis. “Ini yang buat jajan. Aku sama Jinny duluan.”
Jinny tersenyum pada Hanis kemudian berjalan mengikuti Sean memasuki area bazar. Mereka diarahkan panitia ke sofa yang berada di sisi panggung.
Sementara itu, Hanis berjalan masuk sendirian. Celingukan mencari keberadaan Rino dan anak-anak. Suaminya itu tadi memberi tahu bahwa mereka sudah tiba beberapa saat lalu.
Sosok pria tampan dengan hipseat carrier yang berisi seorang bayi perempuan dengan rok merah muda tampak berdiri di samping area lomba mewarnai. Matanya mengawasi sang anak sulung yang tengah mendirikan meja lipatnya sendiri. Dua orang anak yang lebih kecil berdiri di sisi kanan dan kirinya.
“Mas Rino!” Hanis berlari kecil menghampiri.
“Eh, Nis. Gimana? Lama nggak ketemu kita.”
Hanis mengambil alih Icha dari gendongan suaminya. “Baru minggu lalu lho kita ketemu.”
“Bu! Mau jajan!” rengek Dino pada ibunya.
“Lho, belom makan kalian?” tanya Hanis, mengusap kepala Dino dengan satu tangannya yang tidak menopang tubuh si bungsu.
“Udah, tapi mau itu!” Telunjuk kecil Dino menunjuk booth yang menjual aneka cake dan kue.
“Mau juga, Bu,” Dior ikut merengek.
“Mas, temenin mereka ya? Aku nemenin Seno disini.” Hanis memberikan selembar uang pada suaminya.
Dino dan Dior berjalan riang menuju booth itu bersama ayah mereka. Sedangkan Hanis duduk memangku Icha di kursi penunggu lomba mewarnai.
Pembawa acara memanggil Sean sebagai presiden direktur dari perusahaan penyelenggara acara. Pria itu bangkit dan menaiki tangga menuju ke panggung, menerima mikrofon yang disodorkan kepadanya.
Hanis sontak menoleh ketika suara Sean mulai terdengar dari pengeras suara. Ia memberikan sambutan singkat dan ucapan terima kasih sebelum acara dibuka secara resmi.
Lomba segera dimulai, Seno sesekali melirik ibunya dan tersenyum. Jemari kecil itu mulai membuka kotak crayon barunya. Bersiap untuk mulai lomba mewarnai yang dinanti-nantikannya.
Kertas mulai dibagikan. Seno menuliskan namanya di kolom kanan atas meski tulisannya masih belum rapi dan besar kecilnya tidak sama. Kemudian ia mulai mewarnai gambar yang ada dengan crayonnya.
Hanis memandangi dengan bangga dan haru. Akhirnya ia bisa mengikutkan anaknya ke lomba. Selama ini ia hanya bisa berandai-andai, pasalnya jangankan membeli crayon dan meja lipat, membayar biaya pendaftaran saja ia dan Reno tidak bisa.
Berkat kebaikan hati Sean, kini anak-anaknya memiliki pengalaman seperti kebanyakan anak-anak seusianya. Mereka juga bisa jajan di booth makanan yang ada. Hanis dan Reno dapat menuruti kemauan anaknya sekarang.
...****************...