Putri Wening adalah seorang gadis yang lemah lembut. Dia tinggal bersama ibu dan ayah angkatnya. Suatu hari Wening mendapati ayah angkatnya bersikap tidak wajar. Saat dia tau sikap ayahnya yang tidak baik, lantas dia pun ketakutan. Hingga dia langsung mencari sahabatnya untuk mencari jalan keluar.
Ayu Pratama teman Wening memberi saran agar dia menikah dan pindah dari rumah. Wening setuju, atas usulan Ayu dia membuat janji dengan seseorang yang diatur Ayu.
Tapi setelah bertemu orangnya, Wening kaget ternyata orang yang dipilih oleh Ayu adalah Paman Ayu, Max Pratama.
CEO terkaya dikota Jakarta.
Apakah mereka akan menikah dan hidup bahagia?
Apakah Wenning akan berhasil pergi dari rumah? Dan mendapatkan Suami yang baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon мυмυ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana yang gagal
Semua orang terdiam mendengar omongan Wening. Mereka merasa kaget dan merasa takut. Meraka saling bergumam sendiri. "Istri Tuan Pratama."gumam mereka. Tiba tiba mereka malah menertawakan Wening.
"Hahaha ... hahaha ... hahaha ... Kamu istri dari Tuan Pratama? Lalu aku ini adalah ayahnya Tuan Pratama! Hahaha ... hahaha."ucap Hendra. "Betul itu hahaha ... hahaha ... hahaha."ucap lainnya.
Mereka tidak ada yang percaya omongan Wening. Wening hanya diam, kenapa mereka tidak percaya. Lalu Wening melihat botol dimeja. Dengan keberanian yang tersisa. Dia mengambil botol tersebut dan memukulnya ke meja.
"Prang ... prang. Semua orang langsung berhenti tertawa, melihat apa yang dilakukan Wening. Lalu Wening mengambil pecahan botol yang tersisa ditangannya. Lalu dia mengarahkan pecahan tersebut ke arah Hendra dan lainnya.
"Jangan mendekat! Semua orang langsung panik. mereka tidak ada yang mendekat ke arah Wening. Wening masih mengarahkan pecahan tersebut kepada mereka semua.
Melihat semua orang tidak ada yang berani mendekat. Wening perlahan mundur, saat dirasa cukup dia langsung membanting sisa pecahan botol ke lantai. Lalu diapun berlari menuju pintu.
"Hai ... mau lari kemana kamu?ucap Hendra. Tapi Wening tidak mendengarkan sama sekali. Dia langsung berlari dan membuka pintu. "Kejar dia ayo."ucapnya pada bagas dan Adit. Lalu mereka bertiga keluar mengejar Wening.
Sementara diruangan lain. Max sedang berkumpul dengan teman temannya. Semua orang sedang asyik berbincang dan minum minum. Tapi Max hanya diam saja, sambil melihat ke arah hapenya.
Dia berusaha mengirim pesan kepada Wening. Tapi pesannya hanya ceklis satu. Dia terus mencoba mengirim pesan ke Wening tapi, tidak ada balasan sama sekali. Malahan hasilnya sama saja ceklis satu. Melihat itu Max hanya menghela nafas.
Salah satu temanya yang melihat itu langsung mendekati Max. "Max, kenapa melamun terus?padahal baru kali ini kita bisa berkumpul."ucap temannya itu. Setelah berbicara seperti itu, dia langsung duduk di sebelah Max.
Belum sempat menjawab. Seseorang datang dan berkata. "Kalian kumpul-kumpul disini kenapa tidak ada yang mengundangku?ucap Rani. Iya seseorang yang datang itu adalah Rani. Dia berbicara seperti itu sambil melirik ke arah Max.
Max yang melihat itu hanya diam saja. Dan menatap tajam ke arahnya dengan menampilkan senyum devilnya. Dia tetap diam dan ingin melihat apa yang mau Rani lakukan disini. Rani yang melihat itu langsung memberanikan diri berkata.
"Ka Max."ucapnya. Max hanya menjawab. "Sudah aku jelaskan kan? Rani Cahaya. Urusan kita belum selesai. Jaga sikapmu."ucap Max dengan dingin.
Teman yang lain langsung berbisik. "Semua orang sudah tahu. Ka Max sudah menikah. Putri keluarga Cahaya masih saja mengganggu dia. Ini namanya pelakor."bisik salah satu teman Max.
Rani yang mendengar itu langsung kesal. "Semua ini karena Putri Wening. Setelah malam ini, kita lihat apa lagi yang bisa kamu gunakan untuk bertahan disisi Ka Max."batin Rani dengan tersenyum.
Tiba tiba Max langsung berdiri dari duduknya. Dia langsung berkata. "Aku pulang duluan iya?lain kali kita berkumpul lagi."ucapnya. Teman Max yang melihat itu langsung menjawab. "Baru jam segini, kan? Langsung pulang saja."tanya nya.
Max tidak melihat kearah temannya. Dia langsung menjawab. "Aku ada kelinci kecil dirumah. Tidak bisa ditinggal sendirian."ucap Max sambil memegang cincin dijari nya.
Teman yang lain menimpali. "Sudah menikah itu berbeda iya. Ternyata Ka Max sampai segitunya iya. Kapan kapan kalau ada kesempatan. Ajak Kaka ipar kesini, biar kami bisa berkenalan."ucapnya.
"Lain kali saja."jawab Max. Setelah mengatakan itu. Samar samar Max mendengar seseorang memanggil dia. "Max Pratama tolong!teriak seseorang dari luar." Max yang mendegar itu langsung kaget. Dia seperti mendengar suara Wening. Dia langsung keluar, dan tanpa perduli tentang apapun.
Bahkan Rani pun dia tidak pedulikan. Dia melewatinya begitu saja. Rani yang melihat itu langsung kesal dan hampir mengejarnya. Tapi di cegah oleh teman Max. "Nona Rani, jangan ganggu ka Max lagi. Jika tidak mau menanggung resikonya."ucapnya. Rani langsung diam, tapi perasaan dia tidak tenang.
Sementara disisi Wening. Dia berhasil keluar dari ruangan itu. Dia berjalan sempoyongan dan dia mencoba berlari dengan memegang tembok. Hendra yang menyusulnya, melihat Wening langsung mencoba mengejarnya.
"Dia disana, ayo cepat tangkap dia kembali."ucap Hendra kepada kedua temannya. Lalu dia berteriak kepada Wening. "Jangan lari, sini kamu! Akan aku berikan pelajaran!ucap Hendra dan berlari ke Wening."
Wening yang sudah pusing hanya mencoba kabur. Dia meraba raba apa yang bisa dia pegang. Kepalanya terasa berat. Dia mencoba bertahan menahan semuanya. Saat dia mendengar teriakan Hendra dan lainnya dia mencoba berlari.
"Itu dia. Cepat tangkap". Mendengar itu Wening panik dan mencoba lari. Tapi kepalanya tidak bisa diajak kerja sama. Dia hampir saja jatuh, tapi samar samar dia melihat bayangan seseorang mendekatinya. Dia mengenali orang tersebut. Iya dia itu suaminya, Max Pratama. Lalu diapun memanggil suaminya. "Tuan Pratama."ucapnya berlari kearahnya.
Sementara Max. Dia yang melihat Wening langsung berlari kearah Wening. Raut wajahnya terlihat panik melihat keadaan istrinya. Dia langsung menangkap tubuh Wening yang sudah lemas. Dia langsung memeluk Wening didadanya.
Max yang melihat keadaan Wening seperti itu langsung menampilkan Expresi dingin dan tajam. Lalu dia melihat ke arah lain, terlihat seseorang mengejar Wening. Saat Hendra melihat Max yang memegang Wening. Dia langsung ketakutan.
"Tuan ... Tuan Pratama."ucapnya terbata bata. Hendra yang melihat tatapan Max langsung bersujud. Dia langsung menampar pipinya sendiri. Plak ... plak ... plak ... sementara temannya yang lain hanya diam dan berdiri dibelakang Hendra.
"Saya ... saya tidak tahu ... Nona Wening itu wanita anda."ucapnya dengan panik. Max hanya menatapnya tajam sambil memegang badan Wening. Lalu Rama dan rombongannya datang. Melihat keadaan itu dia hanya menghela nafas.
"Tuan Pratama."ucapnya menyapa tuannya. Lalu dia langsung memberikan isyarat kepada bodyguard nya untuk mengurus Hendra. Mereka langsung tanggap, mereka dengan cepat membawa Hendra pergi. Tak lupa juga dua orang teman nya.
Mereka dibawa paksa. Hendra yang ketakutan langsung berteriak. "Tuan Pratama ... Tuan Pratama maafkan saya."ucapnya. Tapi tak ada yang menggubrisnya. Para bodyguard pun tak menghiraukan teriakan dia. Mereka langsung diseret pergi.
Dijarak yang tidak terlalu jauh. Rani melihat semua itu, dia langsung bersembunyi didekat dinding. "Dia lagi lagi selamat. Menyebalkan sekali , kenapa susah sekali mengusir dia."batin Rani. Lalu dipun segera pergi agar tidak ketahuan Max.
Setelah kepergian mereka semua. Wening langsung pingsan. Max yang melihat itu langsung menahan badan Wening. Lalu dia pun menggendong Wening. Wening langsung memeluk erat leher Max. "Selidiki dengan benar. Siapa dalangnya. Cari tahu detailnya."ucapnya kepada Rama dan langsung pergi membawa Wening.
Rama yang mendengar perintah dari tuannya langsung mengangguk. "Baik Tuan."jawabnya. Setelah kepergian Max. Rama langsung segera bertindak. Dia harus menyelesaikan semua. Kalau tidak, tuannya pasti akan marah. Karena semua menyangkut istri kesayangan tuan nya.