"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 09
"Hanin, masuk!" perintah tegas Ibu itu mengejutkanku, lebih terkejut lagi saat suaranya kembali lembut saat berbicara dengan Mbak Naura.
Sial, aku sangat cemburu.
"Harsa, kamu juga masuk!" ujar Ibu kali ini dengan nada rendah. Kenapa aku merasa dianak tirikan?
"Aku mau kerja, Bu!" tolakku.
"Kamu mau ikut badjingan itu?" pekik Ibu dengan mata menajam. Aku tersentak, jelas tak menyangka Ibu akan semarah itu.
"Mas Firman bukan badjingan, Bu! Justru orang yang berlaku baik, bisa jadi sebaliknya!" aku melirik sinis pada Mas Harsa, kebencianku semakin menjadi-jadi kala melihat laki-laki itu hanya menunduk tak berani menatapku.
"Masuk, atau kamu mau keluar sekalian dari rumah ini," ancam Ibu. Aku menoleh pada Mas Firman, dia mengangguk tipis tanpa kata lalu pergi.
Tubuhku seolah diseret paksa masuk, kami duduk di ruang tamu sofa usang. Mbak Naura dan Mas Harsa masih sama diam, padahal aku menanti kejujuran mereka.
"Apa yang terjadi? Kenapa Firman bisa datang kemari setelah sekian lama?" Ibu menatap kami bergantian, saat melihatku tatapannya menajam.
"Aku kerja di pabrik Mas Firman!" jawabku apa adanya.
"Astaga Hanin, bisa-bisanya kamu kerja sama laki-laki yang bukan hanya Ibu benci tapi juga kakakmu. Apa kamu nggak memikirkan perasaan Mbakmu?"
"Mbak Naura terus! Kenapa Ibu terus saja memikirkan perasaan Mbak Naura, hah? Ibu selalu memikirkannya tanpa tanya sama aku, aku gimana."
"Nin," lirih Mas Harsa.
"Apalagi Mas? Kamu juga mau bilang kalau apa yang kamu lakukan sama Mbak Nau itu bohong? Jadi Haikal anakmu atau anak Mas Firman?" Aku tersenyum mengejek. Kulihat wajah Mbak Naura merah padam.
Plak...
"Ngomong apa kamu, Nin?" sentak Ibu, aku bahkan baru sadar kalau tangannya yang mulai keriput mendarat di pipiku hingga menciptakan rasa panas sekaligus sakit.
"Ngomong kalau sebenarnya Haikal itu anak Mas Harsa sama Mbak Naura!"
"Hanin, jangan lancang kamu!"
Aku lebih tak menyangka Ibu se-emosi itu padaku, pandanganku menatap tajam ke arah Mas Harsa yang pengecut. Cih! Begitu bilang jatuh cinta padaku, cinta seperti apa?
Aku tersenyum, "Ibu sangat menyayangi Mbak Naura, ya? Sampai gak pernah mikir perasaan anak sendiri. Aku jadi ragu, siapa anak kandung Ibu sebenarnya," sinisku membuat Ibu terdiam.
"Kalau kalian nggak ada hubungan apa-apa kenapa pagi itu Mbak Naura memeluk lengan Mas Harsa? Dan kenapa Mas Harsa ada di kontrakan Mbak Naura saat Haikal sekolah?"
Ibu, Mbak Naura maupun Mas Harsa diam.
"Ibu yang nyuruh Harsa buat cek Mbakmu."
Deg...
"Yakin Mas Harsa cuma cek?"
"Nin, ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Mbak Nau gak ada hubungan apa-apa."
"Nggak seperti yang aku pikirkan? Aku melihat dengan mataku sendiri Mas, bahkan tetangga Mbak Nau sibuk gibahin kalian, katanya; Mbak Naura sering bawa masuk laki-laki ke kontrakan?"
Naura pias, ia menunduk.
Sial, pintar sekali dia bersandiwara.
"Nin, percaya sama aku?" mohonnya memelas.
"Aku lebih percaya sama cerita Mas Firman sayangnya, gimana dong?"
"HANIN !!!" wajah Ibu sudah murka, tapi aku tak peduli.
"Apa perlu, aku harus melihat kalian secara live sendiri sedang bercinta baru kalian mengaku?"
Lihat saja, ada tanda merah di bawah telinga Mbak Naura meski samar.
"Kenapa Mbak Naura diam? Gak mau membela diri? Atau lagi kumat, eh aku lupa kalau selama ini Mbak hanya pura-pura! Permisi." Aku bangkit dan meninggalkan mereka untuk masuk ke dalam kamar.
"Hanin benar-benar keterlaluan," ujar Ibu. Aku masih bisa mendengarnya di balik kamar yang memang tak kedap suara. Apalagi suara Ibu masih terdengar emosi.
"Sudahlah, Bu. Mungkin Hanin masih syok," ujar Mbak Naura menenangkan. Aku yang mendengar sampai mual, punya muka berapa sih dia?
"Aku minta maaf, Bu. Seharusnya aku memang tak menemui Naura tanpa Hanin." Kali ini suara Mas Harsa. Dasar! Dia benar-benar pengecut.
Aku meremas tas yang masih menggantung di bahu, rasanya muak kesal dan pusing menghadapi semua ini. Kalau saja Mas Harsa mengaku dan memilih tanggung jawab pada Mbak Naura dan Haikal, mungkin aku akan lebih legowo. Tapi dia memaksaku untuk tetap berada di sisinya? Apa nggak gila.
"Gimana kalau aku dan Ibu datang kesini, Bu? Buat melamar Hanin, mungkin dia butuh kepastian jadi uring-uringan."
"Silahkan saja, Harsa. Mungkin itu ada benarnya," ujar Ibu. "Oh ya, Ibu mau ke depan dulu tadi belum sempat belanja!"
Sejak itu, keheningan terjadi di ruang tamu. Aku menghela napas, rasanya disini seperti aku yang anak tiri.
Hening!
"Hanin kemana tadi?" suara Mas Harsa meski samar.
"Palingan kabur lewat pintu belakang, itu kamarnya aja kuncinya di luar."
"Bekasnya untung sudah hilang!"
Apa? Bekas apa? Apa tanda merah di leher Mbak Naura. Sialan kamu Mas Harsa! Aku menghela napas kasar, kesal karena sikap mereka padahal selama ini aku sudah menganggap Mbak Naura seperti kakak kandungku sendiri.
"Aku olesin pake fondation, lagian kamu pake acara datang pagi-pagi, biasa juga malem."
"Ya kalau malem kan masih tahan!" lirih Mas Harsa.
"Jadi udah gak tahan?" goda Mbak Naura.
"Ya kalau sekarang masih aku tahan-tahan."
Sial, otakku benar-benar mengarah ke hal negatif itu. Meski sudah mengetahui dari Mas Firman entah kenapa aku jyjyk sendiri saat mendengar mereka membahasnya.