Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keharuan yang Mendalam
Di dalam ruang perawatan VIP yang bernuansa putih bersih, suasana terasa begitu sunyi dan damai. Aroma obat antiseptik berpadu dengan sepoi angin AC yang menyejukkan ruangan.
Di atas ranjang pesakitan berbalut selimut putih, Evita Desniati perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya. Cahaya lampu ruangan yang terang membuatnya sempat mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya. Kepalanya terasa sedikit pusing, dan perban putih bersih melilit rapi di pelipis kanannya.
Evita menolehkan kepalanya pelan ke sisi kanan tempat tidur. Hal pertama yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri adalah sosok ibunda tercintanya, Bu Yekti, yang sedang duduk bersimpuh sambil menggenggam erat tangan kirinya, menciumi punggung tangan Evita sambil menangis sesenggukan penuh rasa syukur. Di samping sang ibu, Pak Santoso berdiri tegak dengan mata berkaca-kaca, mengelus lembut rambut putrinya.
"Ibu... Ayah..." bisik Evita dengan suara yang terdengar sangat parau dan serak, tenggorokannya terasa kering.
Mendengar suara putri mereka memanggil, Bu Yekti langsung mendongakkan kepalanya dengan mata sembab. Wajahnya berseri penuh kebahagiaan di tengah sisa air mata.
"Evita! Anakku... Kamu sudah sadar, Nak? Ya Allah, terima kasih ya Allah..." jerit Bu Yekti penuh haru, merangkul tubuh Evita dengan hati-hati agar tidak melukai selang infus di tangannya. "Ibu sangat khawatir... Ibu takut kehilangan kamu, Nak..."
"Evita baik-baik saja, Ibu... Jangan menangis lagi ya," ucap Evita tersenyum lemah, membalas genggaman tangan ibunya dengan penuh kehangatan.
Evita kemudian mengalihkan pandangannya sedikit ke arah sudut ruangan. Di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan senja kota sore hari, berdiri sosok pria berjas hitam arang dengan postur tegap yang luar biasa memukau.
Ma Yong Hua.
Pria Tionghoa itu berdiri seorang diri dengan kedua tangan disatukan di depan dada. Wajahnya yang biasa terlihat dingin, keras, dan penuh wibawa kini tampak begitu gelisah, menyembunyikan rasa cemas luar biasa yang baru saja ia rasakan selama berjam-jam menunggu di luar ruang operasi. Sepasang mata sipit Ma Yong Hua menatap lurus ke arah ranjang Evita, memancarkan kelegaan yang tak terhingga saat melihat wanita itu membuka mata dan tersenyum kepadanya.
****
Evita menatap Ma Yong Hua lekat-lekat. Ada binar ketulusan dan cinta yang mendalam terpancar dari tatapan mata mereka berdua. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Evita tahu persis bahwa pria inilah yang kembali mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya dari maut.
Ma Yong Hua melangkah pelan mendekati ranjang tempat tidur Evita. Ia berhenti tepat di sisi kanan, lalu menundukkan sedikit tubuhnya sejajar dengan ranjang.
"Kamu sudah sadar, Evita..." ucap Ma Yong Hua dengan suara baritonnya yang sangat lembut, bergetar halus menyembunyikan kelegaan hatinya. "Bagaimana keadaanmu? Apakah masih ada bagian tubuhmu yang terasa sakit?"
Evita menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang menenangkan. "Aku sudah jauh lebih baik, Tuan Yong Hua... Terima kasih... Terima kasih karena Tuan selalu datang menyelamatkanku di saat-saat paling mengerikan."
Ma Yong Hua mengulurkan tangan kanannya yang kokoh, lalu dengan sangat hati-hati dan penuh kasih sayang, ia menyentuh lembut jemari Evita yang bebas dari selang infus. "Jangan pernah katakan terima kasih untuk hal seperti itu, Evita," bisik Ma Yong Hua tulus tepat di dekat telinganya. "Sudah menjadi sumpahku untuk memastikan tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang berani melukaimu lagi."
****
Pak Santoso dan Bu Yekti yang melihat interaksi penuh kehangatan di antara keduanya hanya bisa tersenyum simpul, menyadari bahwa putri mereka kini berada di tangan pelindung yang benar-benar tepat dan tulus mencintainya.
Namun, di belahan kota yang gelap gulita di bawah jembatan layang tua kawasan pinggiran ibu kota, suasana yang sangat kontras dan mengerikan sedang terjadi.
Viola Sanustika terduduk seorang diri di atas tumpukan kardus bekas di bawah kolong jembatan yang kotor dan bau sampah. Ia bernapas terengah-engah dengan dada naik turun tidak beraturan. Kedua kakinya tampak kotor berlumuran lumpur hitam karena ia berlari tanpa alas kaki sejauh beberapa kilometer untuk melarikan diri dari kejaran anak buah Ma Group.
Rambut panjangnya kusut masai, pakaiannya compang-camping tanpa sisa kemewahan sosialita yang pernah ia banggakan. Namun di balik kehancuran fisik yang luar biasa itu, sorot mata Viola justru memancarkan kilatan kegilaan mutlak yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
Viola mendongakkan kepalanya menatap langit malam kelam di sela-sela beton jembatan, lalu perlahan-lahan ia meremas kedua tangannya sendiri hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri sampai mengeluarkan darah.
"Sialan... Sialan kalian semua...!" desis Viola dengan suara parau yang bergetar hebat penuh kebencian yang mendalam. "Kalian kira dengan mengalahkanku di rumah sakit, kalian bisa memenangkannya, hah?! Ma Yong Hua! Evita! Kalian pikir aku akan menyerah begitu saja?!"
Viola tiba-tiba mendatarkan pandangannya ke depan, lalu melepaskan tawa yang sangat nyaring, tajam, dan menggema memantul di dinding beton kolong jembatan—sebuah tawa khas tokoh antagonis yang benar-benar kehilangan akal sehatnya, sangat teatrikal, sadis, dan penuh dengan dendam kesumat yang siap meledak menjadi bencana maut jilid berikutnya.
"Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha! Belum selesai! Permainan ini baru akan mencapai puncaknya! Sumpah demi nyawaku, aku akan kembali dengan cara yang paling keji, paling brutal, dan paling mematikan untuk merenggut nyawa kalian berdua di atas kuburan kalian sendiri! Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha!"
Tawa histeris Viola melebur bersama suara gemuruh kereta malam yang melintas di atas jembatan, menyisakan ancaman kematian yang siap menyengat kapan saja di episode-episode penutup selanjutnya.
****
Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui celah jendela kaca kamar VIP Rumah Sakit Internasional Santa Carolus, menghangatkan ruangan yang bernuansa putih bersih tersebut. Suasana di dalam ruangan terasa jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya.
Di atas ranjang pasien, Evita Desniati tampak duduk bersandar pada bantal empuk dengan warna kulit yang mulai kembali merona segar. Perban di pelipis kanannya sudah diganti dengan plester kecil, dan infus di punggung tangan kanannya telah dilepas oleh tim medis pagi tadi. Meskipun gerakan tubuhnya masih menyisakan sedikit rasa ngilu di bagian siku akibat insiden jatuh di tangga darurat kampus, senyuman tipis yang menenangkan kini menghiasi wajah cantiknya.
Pintu kamar perlahan terbuka, menampilkan sosok Dokter Hartono—dokter spesialis bedah yang memimpin tim medis perawatan Evita—didampingi oleh seorang perawat muda.
"Selamat pagi, Nona Evita. Bagaimana perasaan Anda pagi ini?" sapa Dokter Hartono ramah sambil memeriksa grafik catatan medis di tangannya.
Evita membalas senyuman sang dokter dengan sopan. "Selamat pagi, Dok. Pagi ini saya merasa jauh lebih baik. Rasa pusing di kepala saya sudah hilang sepenuhnya, dan tubuh saya sudah tidak terlalu kaku."