"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19 -Kemenangan untuk Aetheria Tech
Dua minggu berlalu tanpa terasa. Selama dua pekan terakhir, Damian dan Felix bekerja tanpa kenal lelah menyempurnakan proyek AI ramah lingkungan mereka. Sementara Lilian, wanita itu setia menjadi garda terdepan—mulai dari yang cerewet mengingatkan jadwal makan, mengurus operasional, hingga memutar otak mencari jalan untuk menyokong modal.
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Hari penentuan di mana panggung megah kompetisi proyek AI akan dibuka oleh Vanguard Earth Initiative (VEI)—konsorsium raksasa yang menjadi impian semua perusahaan teknologi.
Damian berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Ada kilat kepedihan di matanya saat menyadari betapa garis wajahnya sangat mirip dengan Arthur, sosok ayah yang menyukai penderitaannya. Namun, tatapan itu dengan cepat berubah menjadi binar kebanggaan. Dia bukan lagi Damian yang dulu pasrah dihina. Dia sudah melangkah sejauh ini dengan kakinya sendiri.
Hari ini, Damian mengenakan setelan jas hitam elegan yang senada dengan Felix, sedangkan Lilian tampil anggun memikat meski hanya dibalut gaun sederhana.
"Sudah siap?" tanya Lilian seraya melangkah masuk ke kamar Damian. Langkahnya sempat terhenti saat matanya menangkap sosok Damian secara utuh.
"Aduh... tokoh ciptaan gue. Cakep banget kalau di dandanin begini," gumam Lilian dalam hati, bibirnya mengukir senyum tipis penuh rasa bangga.
Merasa ada sesuatu yang kurang di penampilan pria itu, Lilian merogoh saku gaunnya. Dia mengeluarkan sebuah bros perak berukir sulur tanaman dengan batu permata hijau di tengahnya—bros khusus yang dibelinya melalui aplikasi sistem. Bros itu dirancang sebagai jimat keberuntungan sekaligus simbol ikatan tak kasat mata di antara mereka: akar yang kokoh mewakili Damian, dan dedaunan yang memberi kehidupan mewakili Lilian.
Lilian maju satu langkah, lalu menyematkan bros tersebut tepat di kerah jas hitam Damian.
"Nah, sekarang jauh lebih tampan," kata Lilian lembut, membiarkan telapak tangannya mengusap pelan dada Damian yang terbalut jas rapi.
Damian terpaku. Sentuhan hangat tangan Lilian di dadanya membuat detak jantungnya mendadak berpacu liar, jauh lebih kencang daripada rasa gugup menghadapi kompetisi besar yang sudah di pelupuk mata.
Sementara itu di gedung VEI, sudah ramai tamu undangan juga dari berbagai perusahaan yang datang. Yang ingin tahu, perusahaan mana yang akan memenangkan tender proyek tersebut.
"Aku yakin, perusahaan Laurent pasti menang. Secara Tuan Muda Gavin sangat jenius," bisik salah satu tamu undangan.
"Iyaa, aku yakin sih selain Laurent ada juga Draven dan Casanova. Tiga perusahaan besar itu pasti ada salah satu yang masuk."
Gavin tersenyum puas mendengar bisik-bisik dari para tamu, dia pun memutar gelas yang berisikan wine di sampingnya Clara yang mengenakan gaun merah yang sangat mencolok.
"Aku yakin, perusahaan Laurent pasti akan menang." Ujar Gavin percaya diri, Nathan, Loe dan Kai pun mendukung Gavin.
"Tentu saja, Sayang. Siapa lagi yang pantas memenangkannya selain kamu?" sahut Clara dengan nada manja sambil makin erat mengapit lengan Gavin.
Gavin tersenyum makin jemawa. Hari ini dia bukan cuma berniat menyambar proyek bernilai fantastis itu, tapi juga ingin makin memantapkan posisinya di mata dunia bisnis. Siapa yang tidak kenal VEI? Konsorsium raksasa yang dipimpin oleh Alexander Sterling—pria berdarah dingin yang rumornya tidak pernah sudi melirik perusahaan ecek-ecek. Bahkan Arthur Laurent sendiri harus melangkah sangat hati-hati jika berhadapan dengan Sterling.
Namun, di tengah gelak tawa dan rasa percaya diri kelompok Gavin, pintu utama aula gedung VEI mendadak terbuka.
Bisik-bisik yang tadinya meriah perlahan-lahan meredup. Pasang mata para tamu mulai beralih ke pintu masuk.
Tiga orang melangkah masuk secara bersamaan. Felix berjalan tegap di sebelah kiri, Lilian tampil anggun memikat dalam balutan gaun sederhananya di sebelah kanan, dan tepat di tengah-tengah mereka... berdiri Damian.
Setelan jas hitam yang membalut tubuh tinggi Damian membuat auranya terpancar luar biasa tegap dan dominan, dilengkapi dengan bros perak bersimbol sulur tanaman yang berkilau di kerah jasnya. Tidak ada lagi sisa-sisa pria lemah yang bisa ditindas seperti dulu.
Gelas wine di genggaman Gavin mendadak berhenti berputar. Matanya melebar penuh rasa tidak percaya.
"Damian...?" bisik Clara kaget, gaun merahnya yang mencolok terasa langsung kalah telak oleh pesona dingin dan elegan yang dibawa Damian.
Nathan dan Kai saling pandang, sementara Gavin mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai buku jari tangannya memutih. Bagaimana bisa "sampah" yang baru saja keluar dari keluarga Laurent bisa berdiri di panggung yang sama dengannya?
"Kamu .. ngapain kamu disini? Ini tempatnya orang-orang berkelas, bukan orang buangan seperti kamu Damian." Cibir Gavin, sementara Clara terpesona pada Damian. Lilian yang menyadari, langsung melotot pada Clara.
"Dasar gatal," desis Lilian.
Damian tersenyum miring, dia tak menanggapi ucapan Gavin dan mengajak Falix dan Lilian duduk di tempat yang sudah dia sediakan. Bisik-bisik kembali terdengar, mereka berbicara jika Damian adalah Tuan Muda asli keluarga Laurent.
Gavin mengepalkan tangannya, saat semua orang tahu bahwa dia hanya lah anak angkat saja.
"Awas saja kamu Damian." Gavin mengepalkan tangannya.
"Liat, Vin. Itu bukannya Felix pegawai Laurent? Kenapa dia sama Damian?" tanya Leo.
"Iyaa, gue ingat betul dia di pecat secara tidak hormat." Sahut Nathan.
"Sudah-sudah acara akan segera di mulai, Tuan Alexander akan baik ke atas panggung." Sela Kai.
Suasana aula megah gedung VEI mendadak hening total begitu lampu utama diredupkan dan spotlight menyorot ke arah panggung utama.
Seorang pria muda berdiri tegap di tengah panggung. Berusia sekitar awal tiga puluhan, pria itu memancarkan aura dominasi yang dingin, tegas, dan sangat karismatik. Balutan jas double-breasted kustom mewahnya membungkus sempurna tubuh tingginya. Dialah Alexander Sterling—pemimpin tertinggi VEI yang berhasil mengguncang panggung bisnis internasional di usia yang sangat muda.
"Selamat malam, semuanya," suara bariton Alexander bergema berat melalui pengeras suara, tenang namun penuh penekanan.
"Saya tidak akan membuang waktu Anda dengan pidato panjang yang membosankan. Malam ini, VEI berkumpul untuk mencari satu hal: Masa Depan."
Alexander membetulkan letak jam tangan mewahnya sebelum menyapu pandangan ke seluruh hadirin. "Banyak perusahaan besar memamerkan kecerdasan buatan yang hanya mengejar profit dan efisiensi, tanpa memikirkan dampaknya pada lingkungan. Tapi untuk proyek ini, VEI tidak butuh sistem kuno yang dibungkus nama besar. Kami mencari AI yang cerdas, efisien, dan benar-benar ramah lingkungan (Green AI)."
Sambil tersenyum tipis—senyum tajam yang membuat para petinggi perusahaan menahan napas—Alexander menunjuk ke arah layar proyektor raksasa di belakangnya.
"Sistem penilaian VEI telah menguji seluruh proposal dan prototype secara real-time. Dari puluhan peserta, hanya ada tiga kandidat terbaik yang sistemnya memenuhi standar ketat kami untuk melakukan presentasi langsung di panggung ini."
Gavin menegakkan dadanya, tersenyum jemawa sambil merapikan kerah jasnya. Dia sangat yakin bahwa nama Laurent Group pasti bertengger di peringkat pertama.
Namun, ketika layar raksasa itu menyala dan menampilkan hasil Top 3...
-Peringkat 3:Casanova Corp
-Peringkat 2:Draven Group
-Peringkat 1:Aetheria Tech
Aula mendadak gempar! Bisik-bisik kaget langsung pecah di setiap sudut ruangan.
Bersambung ...
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja
dia kau Gagav