Xan Yiran adalah polisi bagian kriminal, suatu ketika dia berhadapan dengan kelompok gengster. Apesnya Yiran tertembak oleh ketua gangster itu, kemudian dia terbangun di dunia yang berbeda, dunia zaman kerajaan. Yiran reinkarnasi ke tubuh ratu bodoh yang selalu di permainkan oleh orang orang yang ada di kerajaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian selir.
*Alun-alun kerajaan*
"Lepaskan aku!" teriak selir Xima ketika dia di arak menuju alun-alun kerajaan, wajahnya sudah pucat dengan tubuh kurus. selir Xima dimasukkan ke penjara selama 3 hari, kemewahan yang selama ini dia bangga-banggakan sudah lenyap dari tangannya.
Menteri Cae-bong banyak bisa terduduk lemas, kesombongannya selama ini sudah lenyap tak tersisa. suara teriakannya yang dulu selalu menggelegar itu seperti sudah tertimpa batu super besar, kedua matanya hanya bisa menangis meratapi kesalahan yang sungguh besar dan membuatnya kehilangan nyawa.
Rakyat yang ada di kerajaan Xangui nampak sangat kesal, mereka yang berada di pinggir jalan mereka melempari apapun ke kereta yang dipakai untuk iring-iringan selir Xima dan menteri Cae-bong. Hukuman mati sudah menunggu di depan mereka.
"Dasar orang-orang jahat, kalian pantas mendapatkannya kalian sudah menghianati yang mulia Kaisar!" teriak rakyat, tangan mereka membawa apapun, dari sayur-sayuran buah-buahan hingga bebatuan titik rakyat melempari apapun ke arah menteri Cae-bong dan selir Xima.
Bug..
Bug..
"Dasar kalian rakyat jelata!!" seru rakyat.
"Kalian manusia hina!" seru rakyat yang kemudian melempari kereta penjara. selir Xima hanya bisa berteriak dan mengamuk, berbeda dengan menteri Cae-bong yang hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun, kepalanya tertunduk dengan rasa malu yang teramat.
"Bunuh mereka! hukum yang seberat-beratnya!" teriak rakyat. selir Xima terus mengumpat wanita itu tidak terima karena dirinya di arak.
Ketika berada di alun-alun kota hukuman sudah menanti selir Xima dan Cae-bong. petugas sudah bersiap untuk memberi hukuman tiang gantungan sudah berdiri kokoh dengan tali yang sudah bersiap menjerat mereka.
"Lepaskan aku, lepaskan aku! Aku tidak bersalah!" teriak selir Xima.
Percuma saja dia berteriak dengan sangat keras, karena hukuman sudah menanti di depan mata. "Selir Xima dan menteri Cae-bong sudah melakukan kesalahan fatal, gelarnya sebagai selir dicopot dan dia akan diberi hukuman sedangkan menteri cebong gelarnya juga dicabut dan dia adalah tersangka. Yang mulia Ratu sudah menetapkan memberi mereka hukuman gantung kepada dua manusia ini!" seru hakim yang kemudian melempar papan hukuman akhirnya eksekusi dilakukan hukuman.
"Tidak!!" istri menteri Wang berteriak, berlari menghampiri tempat hukuman. Wanita itu mencoba untuk menghentikan hukuman namun sayangnya dia tidak bisa. "Putriku tidak bersalah! lepaskan dia!" teriak istri menteri Wang.
"Tangkap dia, Karena wanita itu sudah berani mengganggu tempat hukuman!" seru hakim.
selir Xima ditarik menuju tempat eksekusi begitu pula dengan menteri Cae-bong. Suara teriakan dari istri menteri Wang Ji-bai seperti tidak bisa menembus pagar para prajurit, akhirnya hari itu selir Xima ditarik menuju tiang gantungan. Suara teriakan terus menggelegar, suara permintaan tolong terdengar begitu keras. Tali hukuman melilit lehernya, para petugas hukuman mendorong tubuh selir Xima kemudian membuka pintu bagian bawah.
Krekk..
Akhirnya detik-detik terakhir sang selir sampai juga, wanita itu digantung dengan wajah penuh amarah dan mata melotot. Chang-yu yang melihat dari jauh dia hanya tersenyum, wanita itu menanti hari ini dengan waktu yang cukup panjang.
"Kalian berdua pantas menerima hukuman ini." ucap Chang-yu yang kemudian meninggalkan area hukuman.
"Aaaa!!!" suara teriakan nyonya Wang terdengar begitu menyayat hati, wanita itu melihat putrinya dihukum mati, ia berteriak dengan suara yang bentuk keras.
Menteri Wang Ji-bai berusaha untuk mengambil jasad putrinya, namun sayangnya Chang-yu memerintahkan kepada hakim kalau jasad selir Xima untuk dibuang ke tempat jauh, seorang penghianat tidak akan bisa dihukum. jasad itu tidak boleh di makamkan di makam keluarga atau kerajaan.
Antara pasrah dan marah menteri Wang Ji-bai hanya bisa tertunduk lesu, jasad putrinya tidak bisa dimakamkan di makam keluarga ataupun makam kerajaan sebagai seorang penghianat. Tubuh selir Xima dan menteri Cae-bong dibuang ke rawa tak berdasar.
Chang-yu memberi peringatan kepada siapapun untuk tidak melanggar batas dan norma kerajaan, hukuman akan diberikan kepada siapapun jika ada yang berani melanggar.
Di tempat menteri Mang-di, pria itu sedang bersama dengan menteri Yu-xin, menteri Jang-suk dan jenderal Fu.
"Yang mulia Ratu benar-benar sangat menakutkan, wanita itu seperti singa yang siap menerjang, aku saja sangat takut melihatnya." ucap menteri Mang-di.
"Sekarang para menteri sayap kiri harus waspada, jika mereka sampai main-main dengan yang mulia Ratu mereka akan mati mengenaskan sama seperti selir Xima dan menteri Cae-bong." kata menteri Jang-suk.
"Yang mulia Ratu benar-benar sungguh luar biasa, setelah kembali dari kematian itu dia sangat berbeda, dia lebih tegas lebih menakutkan dan kita semua harus berhati-hati." lanjut Jenderal Fu.
"Kamu benar sekali jenderal, yang aku lihat ratu yang sekarang sangat berbeda. Dia kejam, berwibawa, tegas dan dia mempunyai pesona yang sangat luar biasa." kata menteri Yu-xin.
"Klan Wang-Xigu harus bersiap-siap untuk kehilangan semuanya, sekarang mereka akan menjadi incaran yang mulia Ratu. masa lalunya yang kelam akan membuat Ratu lebih menakutkan. Percobaan pembunuhan berulang kali itu akan membuat Ratu mengincar semua orang yang sudah jahat padanya." menteri Mang-di kemudian menyeruput teh yang sudah tersaji di meja.
"Apa yang akan terjadi dengan yang mulia Ratu selanjutnya? kekosongan Kaisar di kerajaan ini akan membuat para menteri atau petinggi kerajaan berbondong-bondong untuk menawarkan Putra mereka." ucap menteri Jang-suk.
Huff..," suara helaan nafas jenderal Fu.
"Oh ya jenderal, Kamu kan belum menikah dan tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Sekarang kamu selalu berada di samping yang mulia Ratu, apa kamu tidak berpikir untuk meminang yang Yang mulia Ratu?" tanya menteri Mang-di sembari tersenyum.
Entah itu benar-benar pertanyaan atau candaan.. Jenderal Fu yang hendak minum itu pria itu langsung tersedak wajahnya sedikit memerah dengan tingkah yang sedikit kebingungan.
"Ja-jangan berkata seperti itu menteri, jika sampai yang mulia Ratu mendengar ini bisa-bisa kita dianggap mencari masalah." ucap jenderal Fu. wajahnya yang sedikit memerah itu membuat menteri Mang-di tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha..., jika sampai Jenderal menikah dengan Ratu maka itu adalah keberuntungan besar untuk klan sayap kanan, apalagi jika sampai kamu menjadi Kaisar, aku yakin kita semuanya bisa menguatkan posisi kita." lanjut menteri Yu-xin.
"Sayangnya putraku sudah menikah dan aku hanya mempunyai satu Putra." menteri Mang-di sembari menggelengkan kepalanya.
"Putraku masih kecil, menteri. masa aku yang mau mengajukan diri, bisa-bisa aku langsung dihukum pancung sama yang mulia Ratu." lanjut menteri Jang-suk.
"Bahkan aku tidak punya Putra, Aku punya dua Putri, kalau anakku yang terakhir lahir dan dia Putra, itu pun tidak berguna karena dia bayi baru lahir." kata menteri Yu-xin yang membuat yang lain tertawa terbahak-bahak.
"Kalau begitu kamu pepet terus yang mulia Ratu, jenderal. Buat dia hanya menatap dirimu, apalagi yang mulia Ratu itu kan masih perawan, menikah dengan yang mendiang Kaisar dia tidak pernah disentuh sama sekali." kata menteri Mang-di yang membuat Jenderal Fu semakin kehilangan kata.
Deg..
Deg..
Jantung jenderal Fu berdebar semakin kencang.
*bersambung*