Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ONe Night 32
"Tolong, tolong jangan bunuh saya. Tidak, jangan."
Lucien membulatkan matanya melihat reaksi Cattleya yang sangat ketakutan melihat wajahnya. Dia lalu mengarahkan padangannya kepada Countess Elia, dan wanita itu hanya menggelengkan kepalanya tanda dia tidak tahu.
"Catty, ini aku Cienlu. Aku Lucien. Aku tidak akan melakukan apa yang kamu katakan itu," ucap Lucien. Dia berusaha mendekat namun Cattleya terus beringsut mendur. Cattleya menggelengkan kepalanya berkali-kali, dan semakin mengeratkan cengkeraman tangannya pada selimut yang menutupi tubuhnya.
Lucien hendak menyentuh Cattleya, tapi wajah yang pucat pasi, tubuh yang bergetar hebat itu membuat Lucien menggenggam udara. Dia juga memundurkan tubuhnya.
"Catty, lihat. Aku sudah menjauh. Aku tidak akan menyentuhmu."
Cattleya hanya membisu. Ia juga menutup matanya rapat dengan nafas yang tidak beraturan.
"Catty, tenang ya. A-aku tidak akan melakukan apa-apa. Ambil nafas dalam-dalam dan buang perlahan."
Lucien berusaha menenangkan Cattleya. Tapi bukannya tenang, Cattleya malah jatuh pingsan lagi.
"Catty!!! Elia, panggil tabib sekarang!!!"
"B-baik baginda."
Lucien berlari mendekat. Membawa tubuh Cattleya ke dalam pelukannya. Ia menyingkirkan surai rambut wanita itu, dan mengusap keringat yang memenuhi wajah.
"Kenapa kamu jadi sepeti ini Cattleya? kenapa kamu jadi sangat ketakutan kepadaku? Kamu yang kutahu adalah wanita kuat, kenapa jadi seperi ini?"
Lucien mengusap wajahnya kasar. Cattleya yang sekarang sungguh sangat berbeda. Wanita itu seolah menjadi orang lain.
"Jangan bunuh saya!"
Kata-kata Cattleya itu sangat mengusik hati dan pikiran Lucien. Ia tidak mengerti mengapa Cattleya bisa bicara demikian.
Lucien kembali mengingat-ingat, dimana lagi mereka bertemu dulu, dan apakah dulu ia pernah mengancam nyawa Cattleya. Tapi sekeras apapun Lucien membongkar ingatannya, hal seperti itu tidak pernah terjadi.
"Bagaimana keadaan Catty?"
"B-baginda, Yang Mulia agaknya syok dan memiliki trauma."
"Lalu?"
Sang tabib terdiam. Saat perjalanan dari kantornya hingga ke kamar, Rogie sudah mendengar selintas cerita dari Countess Elia tentang keadaan Cattleya. Maka dari itu dia sangat takut untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
"Katakan!" pekik Lucien. Sang kaisar tahu bahwa ada yang ingin dikatakan Rogie, tapi tabib itu takut dan ragu.
"B-begini Baginda. Yang Mulia nampaknya syok. D-dan hal yang perlu kita lakukan adalah .... menjauhkan beliau dari sumber penyebab syok dan trauma yang di deritanya."
Mata Lucien langsung membelalak. membuat keringat Rogie semakin mengucur deras. Dia tidak menyangka akan mendengar hal itu.
Lucien memijit keningnya yang berdenyut. Niat dia membawa Cattleya ke sini adalah membuatnya hidup dengan tenang dan aman. Akan tetapi siapa sangka Cattleya malah akan merasa terancam, dimana penyebabnya bukan orang lain, tapi Lucien sendiri.
"Maksudmu aku harus menjauhkan diriku dari Cattleya?"
"S-saya tidak berkata demikian Baginda, saya ... ."
"Sudahlah. Haaahm, Elia. Siapkan Istana Bulan. Biar Cattleya berada di sana. Kamu rawat dan layani dia dengan baik."
Lucien pasrah. Dia sebenarnya ingin bertanya mengapa Cattleya sangat takut pada dirinya. Namun agaknya saat ini bukan waktu yang tepat. Cattleya ketakutan dengan keberadaan Lucien.
"Ayah ... ibu tenapa? Apa ibu cakit?"
Leoric memaksa masuk ke kamar Lucien.
"Sini Ayah gendong. Ibu cuma lelah, Ibu akan kembali lagi setelah istirahat. Apa Leo bisa temani ibu?"
"Ya Leo akan temani Ibu."
Lucien menghela nafasnya panjang. Ia lalu mengangkat tubuh Cattleya dan memindahkannya sendiri menuju ke istana bulan.
"Aku harap, kau bisa memberitahuku mengapa kamu sangat ketakutan terhadapku, Cattleya."
TBC