Lusia Irene seorang dokter yang sedang sekolah spesialis onkologi di salah satu rumah sakit polisi. Karena dokter pembinanya adalah seorang polisi. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun Lusia belum perna membuka hatinya buat hadirnya seorang laki - laki. Karena traumanya atas rumah tangga orangtuanya yang berpisah karena adanya orang ketiga. Papanya berselingkuh di usianya sudah enam belas tahun. Apakah Lusia Irene bisa merasakan cinta hadir di kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh Cinta
Gio membawa Lusi ke butik langganan mami dan kakaknya. Butik ini punya tantenya, adik kembar maminya tante Heny. Gio dan tantenya ini kompak. Apapun rahasia Gio akan tersimpan rapi pada tantenya ini.
"Cantik dek. Baru dan terakhir."
"Iya, tante doain ya."
"Siap."
Lusi sedikit kaget, lagi - lagi penyambutan untuk Gio dirasa sangat istimewa. Ketika Lusi sedang duduk konsultasi baju yang digunakan. Dia mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Nada suaranya seperti baru saja dia dengar. Karena rasa penasarannya Lusi pun membalik badannya.
"Lusi... Kamu disini."
"Selamat siang kak Rahel."
Rahel langsung mencium pipi kiri dan kanan Lusi. Makan malam semalam, tentu membawa kesan sendiri buat kakaknya Gio, dia sangat suka dan jatuh cinta pada pembawaan seorang Lusia Irene ini. Rahel tahu, pasti Lusi tidak mungkin Lusi sendiri. Pasti laki - laki Abraham itu ada disini juga yang tak lain adalah adeknya sendiri.
"Gio mana?"
"Lagi bersama yang punya butik." Lusi langsung di gandeng tangannya menuju ruangan khusus tantenya. Gio kaget karena kakak perempuannya ada juga disini.
"Lus, ini tante kami. Dia yang punya putik ini." Lusi tersenyum akhirnya pertanyaan dalam hatinya terjawab.
"Senang berkenalan dengan tante."
"Tante Heny ini kembarannya mami, tepatnya adenya mami."
Gio kembali dimarahi oleh kakaknya karena tidak mengenal Lusi kepada tante mereka. Rahel kesini karena dia mau mengukur baju buat peresmiaan hotel terbaru mereka nanti.
"Karena kamu disini, maka kamu pun harus ukur jas warnanya sama dengan kak Roland dan Kellen. Lusi juga kamu sekalian ukur bajunya buat acara itu."
"Kak... Maaf."
"Ngak ada penolakan ya dek."
Lusi menatap kearah Gio. Dia berpikir kenapa harus meluas seperti ini ya dia ada di keluarga Abraham. Padahal status dia dengan Gio hanya teman biasa.
"Kamu sudah terjebak, keluargaku sudah mengikat kamu."
"Mas aku ngak enak sama keluargamu."
"Kenapa apa mereka jahat sama kamu."
"Ngak, tetapi kita kan ngak ada hubungan yang spesial."
"Siapa bilang." Gio memarkirkan mobilnya disebelah kiri. Gio menatap Lusi dengan tanpa berkedip. Tangan Lusi sudah kedinginan.
"ijinkan aku masuk ke hatimu dek. Jujur aku suka sama kamu waktu kita pertama bertemu di lapangan padel. Aku jatuh cinta padamu Lusia Irene." Lusi menatap Gio, dia tidak menyangka bahwa Gio akan mengungkapkan perasaannya. Gio memegang tangan Lusi yang kedinginan bukan karena AC mobil ini, tetapi karena kegugupannya.
"Tetapi kamu belum kenal aku."
"Ijinkan aku mengenal kamu dek bersama keluargamu."
"Keluargaku tidak sekelas dengan keluargamu mas. Jangan memiliki perasaan itu nanti kamu malu memiliki aku."
"Aku tidak peduli dengan status sosial. Ijinkan aku mencintaimu dek." Air mata Lusi sudah mengalir di kedua pipinya. Gio melap air mata itu dengan kedua tangannya secara lembut.
"Aku mencintaimu Lusia Irene." Lusi hanya mengangguk. Tubuh kecil milik Lusi dibawa kedalam pelukannya.
"Aku juga mencintaimu mas." Gio begitu bahagia waktu mendengar, Lusi membalas cintanya. Semakiin erat dia memeluk perempuan yang dia cintai. Gio mencium kening Lusi sangat lama. Akhirnya dia bisa meluluhkan hati perempuan ini. Malam ini Gio mengajak Lusi makan malam di sebuah pusat jajanan. Sesuai keinginan Lusi, bahwa dia ingin makan lalapan ikan mujair. Pusat jajanan ini ada di pasar malam yang dilaksanakan oleh pemda setempat.
Lusi di ajak Gio menikmati wahana permainan di tempat ini selesai mereka makan. Dan benar Gio melihat wajah bahagia dari seorang Lusia Irene. Hanya sesederhana ini membahagiakan perempuan ini.
Berbeda dengan pacar pertamanya, waktu pertama kali pacaran sudah meminta makan di restoran mahal, membeli barang - barang mahal. Sebenarnya semua pengeluaran itu tidak masalah bagi seorang Gio Abraham, karena dia mencintai kekasihnya itu. Namun Lydia berselingkuh bukan sekali dua kali Gio mengetahui melihat dengan matanya sendiri. Bahkan rekan - rekan Gio juga melihat. Namun lagi - lagi Lydia berdalih dengan kebohongannya. Sampai kali terakhir Gio sendiri mengrebek Lydia dan pasangannya tanpa sengaja saat dia menjalankan misinya menangkap pengedar narkoba di hotel yang sama. Sekali operasi dia menangkap dua pelaku sekalian. Lydia bersama Zero selingkuhannya juga pengedar Narkoba.
Saat itu Gio tidak banyak bicara, namun keesokan harinya. Gio menemui orangtuanya dan memperlihatkan vidio rekaman Lydia bersama Zero di sebuah hotel. Dan saat itu dia menyatakan bahwa dia sudah tidak ada hubungan dengan Lydia, dan rencana pertunangan dibatalkan.
Sebagai laki - laki ini kali kedua seorang Gio Abraham menyatakan perasaannya kepada perempuan. Melihat Lusi begitu bahagia malam ini. Gio bertekat akan membahagiakannya. Dan mengetahui tembok apa yang membuat seorang Lusia Irene sukar sekali membuka dirinya.
"Langsung istirahat ya."
"Terima kasih buat malam ini."
"Saya juga berterima kasih karena juga mencintai saya. Jadi ngak berasa berjuang sendiri. I love you." Gio mencium kepala Lusi.
"I love you too." Gio melihat kekasihnya masuk ke dalam unit apartemennya melalui life. Dan dia berjanji besok pagi akan datang menjemput Lusi dan mengantarnya ke rumah sakit tempat dia menjadi dokter residen. Sebagai intel Gio kerjanya diluar kantor jadi dia bebas jam berapa saja ke kantornya.
Lusi baru pertama kali merasakan jatuh cinta di usianya sudah dua puluh enam tahun, dan merasakan dicintai oleh orang lain begitu bahagia. Sejak sekolah dia menutup dirinya kepada laki - laki siapa pun yang mau mendekatinya. Dia tidak percaya kepada sosok laki - laki, setelah merasakan apa yang dia dan mamanya rasakan setelah penghianatan yang papanya lakukan. Saat itu Lusia Irene sudah kelas sebelas. Sangat sakit ingat peristiwa itu, papanya diam - diam mempunyai hubungan gelap dengan mantan pacarnya lagi. Sayangnya usia mereka sudah tidak muda lagi. Papa sudah usia lima puluhan, padahal Lusi tahu bahwa selama ini mamanya yang menemani dalam suka mau pun susah. Lusi yang meminta mamanya untuk berpisah. Dia tidak mau mamanya menjadi wanita yang gampangan. Kondisi saat itu mamanya hanyalah pegawai biasa dan papanya yang merupakan seorang pejabat.
Sampai mau tidur saja masih terbayang seorang Intelejen gagah dan ganteng mengungkapkan kata aku mencintaimu. Lusi berdoa semoga Gio, tidak seperti papanya.
Jam delapan pagi, Gio sudah ada dikawasan apartemen Lusi yang berdekatan dengan kantor pusat Adiguna Grup. Waktu mobilnya berpapasan dengan mobil kaka perempuannya. Rahel merasa kaget. Dia pun menurunkan kaca mobil dan menyapa adeknya.
"Perlu sama kaka?"
"Percaya diri amat kak."
"Terus ngapain kamu disini?"
"Lusi tinggal di salah satu unit apartemen Gardenia."
"O ya. Nomor berapa?"
"Lima ratus satu."
"Salam ya sama Lusi, kakak pengen jalan berdua dengan dia."
"Jangan dulu kak, aku baru kemarin jadian sama dia."
"Jadi kemarin - kemarin itu belum jadian. Susah ya."
"Susah baget mendapat hatinya. Temboknya tinggi."
"Tetapi sekarang sudah kan, sudah resmi pacaran kan." Gio mengangguk.