Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Suasana di dalam ruang kelas pagi itu terasa lebih riuh sebelum jam perkuliahan dimulai. Lembaran silabus materi baru untuk bab tiga sudah dibagikan dan tergeletak di atas meja. Di barisan kursi belakang, Gino sudah memutar kursinya seratus delapan puluh derajat, bergabung dengan meja Shirin, Aurel, dan Reyhan yang duduk bersebelahan.
"Oke, wahai para elite maba berprestasi. Saatnya kita bedah monster baru bentukan Pak Baskoro," sela Gino dengan nada dramatis, menepuk lembar kertas bab tiga itu menggunakan pulpennya [Gino]. "Gue lihat sekilas semalam, variabel di bab tiga ini makin abstrak. Banyak rumus komparatif matriks yang bikin mata juling."
Shirin membuka buku catatannya, lalu melirik Aurel yang tampak jauh lebih segar hari ini. "Untung semalam Reyhan udah berbaik hati ngerapiin setengah draf dasar di komputer, kan? Jadi hari ini kita tinggal bagi porsi analisis lapangannya aja."
Aurel mengangguk setuju, senyum cerianya mengembang tanpa beban. Ia melirik Reyhan yang duduk lempeng di sebelahnya sembari membuka laptop denimnya. "Iya, untung ada partner spek dewa yang semalam nggak simulasi mati. Kalau nggak, murni gue udah pingsan duluan liat tabel barunya."
Reyhan yang sedang menggeser kursor laptopnya hanya menyunggingkan senyum tipis yang sangat teduh. Sifat jahil andalannya yang sempat hilang di kafe tempo hari, kini telah kembali sepenuhnya ke permukaan.
"Sama-sama, Partner," sahut Reyhan dengan nada suara beratnya yang tenang, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Aurel. "Gue kan cuma menjalankan fungsi sosial semalam, biar otak maba lo nggak beneran meledak sebelum hari Senin tiba."
"Reyhaaan! Mulut lo lemesnya mulai mirip Gino, ya!" seru Aurel salah tingkah, refleks memukul pelan lengan tegap Reyhan dengan folder kertasnya, memicu rona merah yang samar di pipinya.
Gino langsung meledak dalam tawa pelan sembari menepuk jidatnya. "Hahaha! Nah, gitu dong! Ini baru dinamika kelompok asmara perkuliahan kita yang asli. Sempat dingin kayak kutub utara kemarin di kafe, sekarang udah kompak lagi saling lempar dokumen."
Shirin menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka, lalu mengetuk meja untuk mengembalikan fokus. "Udah, udah, ayo serius sedikit. Biar adil, porsi pembagiannya gimana? Bab tiga ini butuh data survei langsung ke lapangan, loh."
"Gue sama Shirin ambil bagian survei kuisioner ke angkatan atas," tawar Gino sigap, menyusun strategi taktis kelompok [Gino]. "Nah, porsi lo berdua, Rey sama Aurel, bagian olah data statistik akhir dan bikin visualisasi grafiknya di laptop. Gimana? Setuju?"
Reyhan mengangguk tenang, matanya melirik lambat ke arah Aurel yang kini juga ikut mengangguk setuju tanpa ada lagi rasa asing atau tidak nyaman yang mengganjal di hatinya. "Gue aman. Tinggal Aurel aja nanti yang bagian ketik kesimpulan narasi teorinya."
"Siap, Bos! Tugas dilaksanakan!" sahut Aurel dengan gerakan hormat dua jari di pelipisnya.
Tepat saat perdebatan kecil mengenai pembagian tugas itu mereda, pintu kelas terbuka dengan sentakan pelan. Langkah kaki yang tegas dan berwibawa seketika membuat riuhnya ruang kuliah senyap dalam hitungan detik. Pak Baskoro sudah berdiri di depan kelas, meletakkan tas kulitnya dengan bunyi deb yang cukup berat di atas meja dosen.
Belum sempat para mahasiswa membuka buku catatan mereka, dosen senior berwajah kaku itu langsung membetulkan letak kacamatanya dan menatap sekeliling ruangan dengan pandangan mengintimidasi.
"Selamat pagi. Saya tidak suka menunda-nunda pekerjaan," suara berat Pak Baskoro menggema, langsung memotong udara pagi yang sejuk. "Materi bab tiga yang kalian pegang saat ini tidak akan bisa dipahami hanya dengan duduk manis di dalam kelas. Oleh karena itu, hari ini kuliah teori saya tiadakan."
Bisik-bisik instan langsung menjalar di antara barisan kursi mahasiswa, termasuk Gino yang refleks menaikkan sebelah alisnya dengan wajah melongo.
Pak Baskoro mengetukkan bolpoinnya ke meja, menuntut keheningan mutlak. "Sebagai gantinya, sore nanti jam empat tepat, seluruh kelompok wajib melakukan sidak lapangan mendadak ke kawasan industri hilir di pinggir kota. Kalian harus mengambil sampel data primer dan wawancara pelaku usaha di sana secara langsung. Laporannya saya tunggu besok pagi pukul delapan di meja saya. Tidak ada toleransi keterlambatan."
Seketika itu juga, seisi kelas langsung dilanda kepanikan massal. Tugas sidak lapangan mendadak dengan tenggat waktu kurang dari dua puluh empat jam benar-benar menjadi monster baru yang mengerikan di awal semester ini.
Di barisan belakang, Aurel langsung menepuk jidatnya dengan lemas. "Astaga... Pak Baskoro beneran musibah awal semester! Sore nanti kan angkutan ke pinggir kota pasti macet parah, belum lagi kalau turun hujan kayak semalam."
Gino memutar tubuhnya dengan wajah frustrasi yang sangat kocak [Gino]. "Gila! Ini mah bukan sidak lapangan, tapi simulasi kerja rodi maba! Rin, gimana nih?"
Shirin yang juga sempat terkejut, dengan cepat berusaha menguasai keadaan. "Mau nggak mau rencana awal kita harus dirombak total. Gue sama Gino langsung meluncur ke lokasi angkatan atas sekarang buat minta rekomendasi kontak pelaku usaha di sana biar wawancaranya cepat."
Reyhan tetap menjadi satu-satunya orang yang paling tenang di meja itu. Cowok berjaket denim itu menutup layar laptopnya dengan bunyi klek yang tenang, lalu menoleh ke arah Aurel. Sepasang mata teduhnya menatap lekat-lekat pada wajah Aurel yang tampak panik.
"Nggak usah panik, Partner," ucap Reyhan dengan nada suara beratnya yang sangat stabil, mengalirkan rasa aman yang instan ke dalam dada Aurel. "Kawasan industri hilir itu searah sama jalur pintas yang biasa gue lewatin kalau main ke rumah sepupu. Sore nanti jam tiga lewat, lo langsung bareng motor gue aja dari parkiran. Kita langsung amankan bagian pengolahan data statistiknya di lokasi."
Aurel tertegun sejenak menatap profil samping wajah Reyhan yang begitu kokoh dan dapat diandalkan di tengah situasi genting ini. Rasa cemas dan kepanikannya perlahan mencair, tergantikan oleh kehangatan familier yang menenangkan jiwanya.
"Oke, Rey. Makasih ya," sahut Aurel dengan senyum tipis yang tulus.
Ketegangan akibat pengumuman sidak lapangan mendadak dari Pak Baskoro sedikit mengendur begitu bel istirahat berbunyi. Di kantin kampus yang bising oleh denting mangkuk dan riuh obrolan mahasiswa, Shirin, Aurel, Gino, dan Reyhan duduk melingkar di salah satu meja pojok. Di tengah kepulan asap soto ayam yang mereka pesan, suasana mendadak berubah saat ponsel di dekat tangan Shirin bergetar hebat disusul dering yang nyaring.
Shirin mengernyitkan dahi begitu melihat deretan nomor panjang dengan kode luar negeri terpampang di layar. Ia buru-buru menggeser tombol hijau. "Halo, Mama?"
Aurel, Gino, dan Reyhan yang sedang menikmati es teh manis seketika menghentikan aktivitas mereka. Pandangan mereka serempak terkunci pada ekspresi wajah Shirin yang perlahan berubah drastis. Sepasang mata Shirin membelalak sempurna, tangannya yang memegang ponsel mulai bergetar, dan sedetik kemudian air mata haru tampak menggenang di sudut kelopak matanya.
"Ma? Serius? Mama nggak lagi bercanda, kan?" suara Shirin bergetar pecah, sarat akan rasa tidak percaya yang membuncah. Setelah mendengarkan penjelasan panjang dari seberang telepon selama beberapa menit dengan air mata yang mulai meluncur di pipi, Shirin akhirnya mengangguk kuat. "Iya, Ma. Shirin tunggu di rumah. Dah, Mama."
Klik. Sambungan telepon terputus. Shirin langsung meletakkan ponselnya dengan tangan gemetar, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sembari terisak pelan.
Aurel yang panik melihat sahabatnya menangis langsung bergeser merangkul pundak Shirin dengan erat. "Rin! Lo kenapa? Ada masalah apa di sana? Cerita sama gue, Rin!"
Gino yang biasanya hobi bercanda pun mendadak memasang wajah serius dan cemas. "Iya, Rin. Ada apa? Jangan bikin kita panik, dong."
Shirin perlahan menurunkan tangannya, menatap ketiga sahabatnya dengan wajah yang basah namun dihiasi oleh senyuman paling lega yang pernah mereka lihat. "Bukan berita buruk, Rel, Gin... itu tadi Mama. Orang tua gue telepon, mereka bilang hari ini mereka lagi siap-siap terbang pulang ke Indonesia dari luar negeri."
Shirin menjeda kalimatnya untuk menyeka air mata, napasnya naik-turun karena bahagia. "Mama bilang... krisis di sana udah lewat. Perusahaan keluarga kami yang sempat goyang di luar negeri sekarang udah membaik total dan stabil lagi!"
Seketika itu juga, atmosfer cemas di meja pojok kantin langsung meledak menjadi sorak kegembiraan. Aurel langsung memeluk Shirin dengan sangat erat, ikut berteriak girang tanpa memedulikan tatapan heran dari mahasiswa di meja sebelah. "Ya ampun, Shirin! Alhamdulillah! Gue ikut seneng banget, Rin! Akhirnya beban lo selama ini lepas juga!"
"Gila! Ini baru namanya plot twist terbaik awal semester!" seru Gino heboh, langsung menepuk meja dengan penuh semangat dan mengacungkan kedua jempolnya [Gino]. "Fiks, penderitaan lo berakhir, Rin! Nasi soto siang ini biar Reyhan yang bayar sebagai bentuk syukuran ganda!"
Reyhan yang duduk lempeng di sebelah Gino hanya terkekeh renyah sembari menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya. Ia menatap Shirin dengan binar mata yang teduh dan tulus. "Selamat ya, Rin. Kabar baik yang sangat tepat waktu."
Di balik kebahagiaan yang meluap-luap di meja kantin siang itu, Aurel perlahan melepaskan pelukannya pada Shirin
****
Sore harinya, Shirin bersama Bang Gavin dan istrinya yang bernama Febi segera meluncur menuju bandara internasional untuk menjemput kepulangan orang tua mereka. Semburat jingga di langit sore menemani perjalanan mereka yang dipenuhi rasa syukur. Setelah dokumen penyelesaian akhir perusahaan di luar negeri beres sepenuhnya, hari ini adalah momen yang paling dinantikan oleh keluarga besar mereka [Gino].
Di dalam mobil, Bang Gavin fokus mengendalikan kemudi membelah jalanan kota, sementara Kak Febi yang duduk di sampingnya sesekali memeriksa pembaruan jadwal mendarat pesawat melalui ponselnya.
"Gimana, Feb? Jadwal landing-nya aman, kan? Nggak ada penundaan lagi kayak kemarin?" tanya Bang Gavin sembari melirik sekilas ke arah sang istri.
Kak Febi tersenyum manis lalu mengangguk menenangkan. "Aman, Mas. Barusan aku cek status penerbangannya, pesawat Mama sama Papa dijadwalkan mendarat tepat waktu sekitar tiga puluh menit lagi. Jalur keluar terminal kedatangan internasional juga masih terbilang lancar."
Shirin yang duduk di kursi penumpang bagian belakang mengembuskan napas panjang dengan perasaan yang luar biasa lega. Sifat khawatirnya yang sempat menggunung selama awal semester akibat memikirkan krisis perusahaan keluarga, kini benar-benar telah runtuh tanpa sisa. Beban berat di pundaknya menguap begitu saja, digantikan oleh kebahagiaan yang membuncah karena tahu keluarganya kini sudah kembali stabil dan utuh.
"Makasih ya, Bang Gavin, Kak Febi, udah repot-repot jemput Shirin dulu ke kampus tadi," ucap Shirin tulus dari kursi belakang.
Kak Febi menoleh ke belakang, mengelus pelan lengan adik iparnya itu dengan penuh kasih sayang. "Sama-sama, Shirin Sayang. Kamu kan juga sudah berjuang fokus kuliah di kampus kemarin waktu Mama Papa di luar negeri. Sekarang tugas kita tinggal menyambut mereka pulang dengan senyuman terbaik."
Mendengar kalimat hangat dari Kak Febi, Shirin mengangguk kuat dengan binar mata yang berbinar bahagia. Ia menyandarkan punggungnya ke jok mobil sembari menatap pendar lampu jalanan yang mulai menyala di sepanjang jalur menuju bandara. Pikirannya sempat melayang sekilas pada Aurel, Gino, dan Reyhan yang mungkin saat ini sedang sibuk mengolah data primer di kawasan industri akibat tugas mendadak Pak Baskoro. Shirin tersenyum tipis. Ia merasa sangat beruntung memiliki sahabat-sahabat yang selalu pasang badan mendukungnya, dan sore ini, di tengah perjalanan bersama abang dan kakak iparnya, Shirin tahu bahwa lembaran hidupnya yang baru telah resmi dimulai dengan penuh kehangatan.
Suasana di terminal kedatangan internasional bandara sore itu begitu ramai dan padat. Denting suara pengumuman jadwal penerbangan berkali-kali menggema, bersahutan dengan langkah kaki ratusan orang yang hilir mudik. Namun, bagi Shirin, semua kebisingan itu mendadak senyap begitu sepasang matanya menangkap dua sosok yang sangat ia rindukan melangkah keluar dari pintu pembatas bagasi.
Mama dan Papa berjalan beriringan, mendorong troli koper dengan gurat lelah yang tak mampu menyembunyikan binar bahagia di wajah mereka.
"Mama! Papa!" pekik Shirin tertahan.
Tanpa memedulikan langkahnya yang tergesa-gesa, Shirin langsung berlari membelah kerumunan orang. Di belakangnya, Bang Gavin dan Kak Febi mengikuti dengan senyum lebar yang mengembang sempurna. Begitu jarak mereka terkikis, Shirin langsung menghambur ke pelukan sang mama, mendekapnya dengan sangat erat seolah takut sosok di depannya akan menghilang lagi.
Isak tangis haru yang sejak kemarin ditahannya kini pecah sepenuhnya di pundak sang mama. Bahu Shirin berguncang hebat, meluapkan seluruh rasa rindu, cemas, dan beban berat yang ia pikul sendirian selama perusahaan keluarga mereka sempat bergoyang di luar negeri.
"Anak gadis Mama... kangen banget Mama sama kamu, Sayang," bisik Mama dengan suara yang ikut bergetar pecah, mengusap-usap punggung Shirin penuh kasih sayang. Air mata haru ikut meluncur di pipi wanita paruh baya itu saat ia mencium puncak kepala putrinya berulang kali.
Papa yang berdiri di samping mereka tidak bisa menyembunyikan binar matanya yang berkaca-kaca. Pria itu langsung melingkarkan lengan kekarnya, merangkul Mama dan Shirin sekaligus dalam satu dekapan keluarga yang begitu kokoh dan hangat. "Terima kasih ya, Shirin, sudah jadi anak baik dan tetap fokus kuliah di sini selama Papa dan Mama beresin urusan di sana. Sekarang semuanya sudah selesai, Papa sudah pulang."
Bang Gavin dan Kak Febi yang menyaksikan pemandangan itu ikut mendekat, menyalami dan memeluk kedua orang tua mereka bergantian. Rasa syukur yang teramat besar menyeruak, memenuhi sudut terminal kedatangan sore itu dengan kehangatan yang luar biasa.
Shirin perlahan melepaskan pelukannya, menyeka sisa air mata di pipinya sambil menatap wajah kedua orang tuanya yang kini tampak jauh lebih tenang dan sehat. Gumpalan rasa takut dan hari-hari sepi yang sempat mengungkungnya selama awal semester ini kini bener-bener telah runtuh dan hancur tanpa sisa. Sore itu, di tengah riuhnya bandara internasional, Shirin tahu bahwa badai di keluarganya telah resmi berlalu, dan lembaran hidup yang baru serta penuh kehangatan telah resmi menanti mereka di rumah.
Sementara kebahagiaan besar sedang menyelimuti Shirin di bandara, atmosfer yang sepenuhnya berbeda justru sedang dihadapi oleh Aurel dan Reyhan. Di bawah bentangan langit pinggir kota yang menggelap dan mulai menumpahkan gerimis senja, kawasan industri hilir itu terasa begitu dingin. Deru mesin pabrik yang bersahutan dari kejauhan berbaur dengan kepulan uap air yang membuat udara semakin menusuk tulang.
Di dalam sebuah kedai kopi kecil beratap seng di pinggir area industri, Aurel sedang duduk dengan draf kertas bab tiga yang mulai sedikit lembap. Jari-jarinya bergerak supercepat di atas kibor laptop, mengetik narasi kesimpulan dengan sisa-sisa fokus yang ia punya. Sesekali, ia meniup telapak tangannya sendiri demi mengusir rasa kaku akibat hawa dingin yang menembus celah dinding kedai.
Di sebelahnya, Reyhan sedang memegang lembar tabel data primer hasil wawancara mereka dengan tiga pelaku usaha lokal satu jam yang lalu. Ekspresi wajah cowok berjaket denim itu tetap lempeng dan tenang andalannya, seolah tekanan waktu kurang dari dua puluh empat jam dari Pak Baskoro sama sekali tidak memengaruhi logikanya.
"Rey, ini variabel perbandingan statistiknya fiks pakai model yang lo buat semalam, kan?" tanya Aurel dengan suara yang sedikit bergetar menahan dingin, matanya tidak beralih dari layar laptop. "Gue takut kalau salah interpretasi, besok pagi jam delapan kita beneran dihabisi sama Pak Baskoro."
Reyhan tidak langsung menjawab. Ia meletakkan lembar kertas data itu perlahan, lalu meraih cangkir teh hangat milik Aurel yang sejak tadi diabaikan pemiliknya. Ia menggeser cangkir itu hingga tepat berada di dekat punggung tangan Aurel.
"Minum dulu, Partner. Tehnya keburu dingin, nanti otak maba lo makin kaku buat mikir rumus," ucap Reyhan dengan nada suara beratnya yang sangat tenang dan stabil—sebuah pembawaan yang selalu berhasil mengalirkan rasa aman yang instan ke dalam dada Aurel.
Aurel menoleh sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipis yang tulus sebelum meneguk teh hangat tersebut. Rasa hangat dari cangkir itu perlahan menjalar, sedikit meredakan ketegangan di pundaknya.
Reyhan kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah laptop Aurel. Jemari tangannya yang panjang mulai menari di atas kibor dengan cekatan, membantu menyusun kembali bagan visualisasi grafik yang sempat berantakan akibat eror data. "Struktur narasinya udah bener, Rel. Lo nggak usah cemas. Bagian rumus statistiknya biar gue yang kunci malam ini sebelum kita balik. Target besok pagi di meja Pak Baskoro dijamin aman."
Melihat bagaimana Reyhan selalu pasang badan secara taktis dan tenang dalam menghadapi situasi genting perkuliahan mereka, dada Aurel perlahan dihangatkan oleh sebuah debaran baru yang semakin nyata. Rasa asing dan canggung yang sempat membuatnya tidak nyaman di kafe tempo hari kini benar-benar telah larut.
Walaupun labirin buntu hatinya yang dihuni oleh cinta sepihak kepada Bang Edward belum sepenuhnya runtuh—dan rasa perih itu terkadang masih mampir saat mengingat sang kakak—kehadiran Reyhan di sisinya malam ini terasa seperti sebuah payung kokoh yang menjaganya di tengah badai tugas. Aurel tersenyum tipis menatap profil samping wajah Reyhan yang fokus pada layar. Di tengah gerimis senja kawasan industri ini, ia sadar dirinya tidak lagi berjalan sendirian menghadapi dunia perkuliahan yang berat.
Di tengah deru mesin pabrik dan rintik gerimis yang semakin rapat menghantam atap seng kedai kopi, suara raungan mesin motor sport yang sangat familier tiba-tiba memecah keheningan jalanan luar. Lampu sorot depannya membelah temaramnya senja, sebelum akhirnya motor itu berhenti tepat di depan kedai.
Begitu pengendaranya mematikan mesin dan membuka kaca helm fullface-nya, sosok Bang Edward muncul dengan jaket kulit hitamnya yang sedikit basah terkena air hujan.
Aurel yang sedang mengetik di depan laptop langsung menghentikan jemarinya. Sepasang matanya membelalak sempurna, menatap tidak percaya ke arah luar pintu kedai. "Lho... Bang Edward?!"
"Aurel, buruan beres-beres laptop lo. Kita balik sekarang sebelum gerimisnya berubah jadi badai!" seru Bang Edward dengan suara lantangnya yang khas, melangkah masuk ke dalam kedai sembari mengibaskan sisa-sisa air di bahunya.
Melihat kehadiran senior sekaligus cowok yang selama ini dicintainya dalam diam itu datang menjemputnya sendiri ke pinggir kota, hati Aurel seketika membuncah oleh rasa bahagia yang luar biasa. Senyum cerianya langsung terbit dengan begitu lebar tanpa bisa ia tahan. Rasa lelah, dingin, dan jenuh akibat seharian memeras otak membedah variabel bab tiga mendadak menguap begitu saja ke udara.
Bang Edward melangkah mendekat, lalu dengan gerakan alami seorang kakak yang protektif, ia mengusap pelan pucuk kepala Aurel yang sedikit lembap. "Lagian lo ada-ada saja sih, Rel. Sidak lapangan mendadak kok sampai ke pinggir kota begini. Untung radar intel gue tajam, jadi langsung tahu titik koordinat lo dari si Gino."
Sentuhan lembut di kepalanya dan jarak yang mendadak terkikis begitu dekat dengan Bang Edward seketika membuat tubuh Aurel menegang kaku. Jantungnya bergeser ritme menjadi jauh lebih cepat, berdegup begitu kencang dan bergemuruh hebat di dalam dadanya. Rasa deg-degan yang teramat besar bercampur dengan sensasi hangat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya mendadak kelu untuk sekadar menyusun kalimat.
Di hadapan Bang Edward yang berada sedekat ini, Aurel sadar sepenuhnya bahwa labirin buntu di hatinya tidak pernah bergeser barang satu senti pun. Pesona orang baru sepesona Reyhan sekalipun terbukti langsung kalah telak hanya dengan satu kehadiran nyata dari cowok di depannya ini.
Reyhan yang sejak tadi duduk lempeng di sebelah Aurel, perlahan menutup layar laptopnya dengan bunyi klek yang tenang. Sepasang mata teduh milik cowok berjaket denim itu mengamati bagaimana binar mata Aurel berubah menjadi begitu hidup dan penuh asmara saat menatap Bang Edward—sebuah binar mata yang tidak pernah sekalipun ditujukan gadis itu kepadanya.
Reyhan menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat hambar di sudut bibirnya, mengukuhkan kembali langkah mundurnya secara teratur. "Folder datanya udah gue amankan semua di flashdisk, Bang. Silakan kalau Aurel mau dibawa balik duluan, biar drafnya gue yang bawa pulang malam ini."
"Oke, Rey! Makasih ya udah jagain adek gue dari tadi. Sori nih gue bawa balik duluan, radar pengamanan rumah udah siaga satu soalnya," sahut Bang Edward sembari meraih tas ransel Aurel dan menyampirkannya ke bahunya sendiri, lalu menoleh ke arah Aurel. "Yuk, Rel. Naik ke motor gue."
Aurel mengangguk cepat dengan wajah yang memerah padam menahan debaran jantungnya yang masih tidak karuan. Sembari melangkah keluar menuju motor sport hitam Bang Edward, Aurel sempat melirik sekilas ke arah Reyhan yang melambaikan tangan dengan ekspresi luar biasa tenang tanpa beban. Di bawah guyuran gerimis senja kawasan industri malam itu, Aurel perlahan naik ke jok belakang motor Bang Edward, mendekap erat tasnya dengan perasaan campur aduk antara kebahagiaan yang manis sekaligus getir yang mendalam di lembaran hidupnya.