NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 — Ikatan Darah yang Putus

Darah merah segar terus mengalir deras dari luka tebasan di bahu kiri Mo Han, merembes membasahi kain pakaian hitamnya yang kini berwarna semakin gelap pekat. Rasa perih yang luar biasa menjalar dari luka itu hingga ke seluruh tubuhnya, seakan ada api yang membakar daging dan tulang di bawahnya. Namun Mo Han sama sekali tidak memedulikan rasa sakit itu. Matanya yang tadi masih menyisakan sedikit keraguan dan kebingungan kini telah berubah menjadi sepasang manik mata yang menyala dingin dan tajam, menatap lurus ke arah Paman Wu dengan pandangan yang begitu mengerikan hingga membuat pria tua itu mundur selangkah tanpa sadar.

Di belakangnya, Su Yi berdiri tertahan napas, kedua tangannya menekan mulutnya sekuat tenaga agar tidak menjerit histeris. Air mata mengalir deras membasahi pipinya yang pucat pasi. Ia melihat darah yang terus menetes dari ujung lengan Mo Han, jatuh berderai di atas lantai kayu yang kini basah dan berkilau terkena cahaya lampu ruangan. Setiap tetes darah itu terasa seakan jatuh langsung ke dalam hatinya, melukainya jauh lebih dalam daripada luka yang ada di tubuh suaminya. Ia ingin berlari mendekat, ingin menahan aliran darah itu, ingin merawat luka itu secepatnya. Namun ia tahu betul bahwa kehadirannya di sana justru akan menjadi kelemahan bagi Mo Han. Ia harus tetap berdiri di tempatnya. Ia harus tetap kuat. Karena ia bukan hanya menjaga dirinya sendiri, tetapi juga menjaga kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya — buah cinta mereka yang harus dilindungi dengan nyawa sekalipun.

Paman Wu menarik napas panjang berusaha menenangkan detak jantungnya yang memburu karena kaget sekaligus lelah. Ia menatap wajah Mo Han yang kini terlihat begitu asing baginya. Wajah yang tadi penuh rasa hormat dan kebingungan kini telah berubah menjadi wajah yang begitu tegas, begitu dingin, dan begitu tak tergoyahkan. Sesaat rasa takut menyelinap di hatinya, namun kebencian yang telah dipendamnya puluhan tahun segera menelan rasa takut itu sepenuhnya. Ia mencengkeram kembali pisau yang tadi sempat terlepas dari genggamannya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi menunjuk tepat ke arah dada Mo Han.

"Kau menatapku seperti itu, keponakan?" Paman Wu berucap dengan suara parau yang bergetar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang penuh kepahitan. "Kau seharusnya bersyukur. Kalau saja aku tidak menahan tanganku tadi... wanita itu dan anak yang dikandungnya sudah mati sekarang. Tapi ternyata kau lebih memilih melindungi mereka berdua daripada menghormati ikatan darah yang mengalir di antara kita. Baiklah... kalau begitu biarlah ikatan darah itu putus sepenuhnya hari ini!"

"Sudah putus sejak kau mengangkat tangan terhadap istri dan anakku." Mo Han menjawab dengan suara yang rendah namun begitu berat dan bergema di seluruh ruangan, membuat lantai yang berdebu seakan ikut bergetar. Tangannya yang kanan perlahan terangkat menekan luka di bahunya, menahan aliran darah yang semakin deras. Sedangkan tangan kirinya tergantung bebas di sisi tubuh, siap menangkis serangan apa pun yang datang. Matanya tak berkedip sedikit pun menatap sepasang mata kerabatnya itu. "Aku menghormatimu sebagai pamanku. Aku mempercayaimu sebagai kerabat terdekat keluargaku. Namun kau menyalahgunakan kepercayaan itu. Kau merencanakan kematian ayahku, kau merusak kedamaian keluargaku, dan kini kau berani mengancam nyawa orang-orang yang paling kucintai. Katakan padaku... apa yang masih tersisa dari ikatan darah itu? Apakah masih ada sedikit pun rasa hormat atau kasih sayang yang tersisa di hatimu?"

Paman Wu terdiam seketika. Kata-kata itu menembus dadanya bagaikan anak panah yang tajam. Ia terdiam cukup lama, hanya suara napas berat dan suara hujan yang masih menggila di luar jendela yang terdengar di ruangan itu. Lalu tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, tertawa begitu keras hingga air mata keluar dari sudut matanya. Tawa yang penuh kepahitan, penuh dendam, dan penuh keputusasaan yang tak terlukiskan.

"Hormat? Kasih sayang?" Paman Wu berteriak keras sambil menunjuk dadanya sendiri dengan ujung pisau yang tajam. "Di mana rasa hormat itu saat ayahmu mengambil semua yang menjadi hak milikku? Di mana kasih sayang itu saat aku diusir dan dihina seolah aku bukan bagian dari keluarga ini? Selama puluhan tahun aku menanggung penghinaan dan kemiskinan sendirian! Dan kemudian ayahmu meninggal dunia dengan tenang mewariskan segala kekayaannya kepadamu! Kau hidup bahagia, kaya raya, dicintai semua orang! Sedangkan aku? Aku hidup dalam kegelapan dan kemiskinan! Apa keadilan itu? Apa keadilan yang kau bicarakan kepadaku?"

"Kau salah!" Mo Han melangkah maju selangkah, suaranya meninggi namun tetap penuh ketegasan. "Ayahmu tidak pernah mengusirmu! Dia selalu menyisakan bagianmu! Tapi kau yang serakah! Kau tidak pernah puas! Kau menginginkan semuanya! Dan ketika ayahmu tidak menyerahkan semuanya kepadamu... kau merencanakan kejahatan yang begitu kejam! Kau melukai orang-orang tak berdosa hanya demi memenuhi ambisimu yang gelap! Katakan padaku... siapa yang sebenarnya salah di antara kita berdua?"

Paman Wu tergagap mendengar pertanyaan itu. Wajahnya berubah merah padam menahan amarah yang meluap-luap. Ia tidak bisa menyangkal kebenaran yang terucap dari bibir keponakannya itu. Dan karena tidak sanggup membantah kebenaran itu, ia memilih untuk melampiaskan segala amarahnya dengan kekerasan. Dengan muka yang menegang penuh kebencian, Paman Wu melesat maju bagaikan iblis yang lepas dari belenggunya, mengayunkan pisau tajam ke arah dada Mo Han dengan kekuatan penuh.

"Hanya ada satu kebenaran di dunia ini! Yang kuat berkuasa dan yang lemah binasa!" Paman Wu meraung keras sambil mengayunkan senjatanya berkali-kali. "Serahkan semuanya kepadaku! Atau ikutlah bersama ayahmu ke neraka!"

Mo Han tidak mundur. Ia tidak menghindar. Saat pisau tajam itu melesat ke arahnya, ia bergerak dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat mata. Tubuhnya miring menghindari sayatan pertama, lalu menepis lengan kanan Paman Wu dengan telapak tangan kirinya yang keras dan tepat sasaran. Suara benturan terdengar nyaring di ruangan itu, namun Paman Wu tidak berhenti. Ia menyerang lagi dan lagi dengan amarah yang membabi-buta. Setiap sayatan pisau itu membawa dendam puluhan tahun yang tak pernah usai. Setiap gerakannya penuh niat membunuh yang begitu nyata.

Namun semakin lama pertarungan itu berlangsung, semakin terlihat perbedaan kekuatan di antara keduanya. Mo Han menangkis setiap serangan itu dengan tenang dan terukur. Meskipun darah terus mengalir dari lukanya dan rasa sakit semakin menjadi-jadi, namun gerakannya tetap kokoh dan tak tergoyahkan. Ia tidak menyerang balik. Ia masih menahan diri. Karena di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih berharap pria tua itu menyadari kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Namun Paman Wu justru menganggap kelembutan hati itu sebagai kelemahan fisik. Ia semakin gencar menyerang, semakin nekat, semakin berbahaya. Dan pada satu titik di mana Mo Han sedikit lengah karena rasa sakit yang menyerang bahunya, Paman Wu memanfaatkan celah itu sepenuhnya. Dengan satu gerakan cepat, ia mengayunkan pisau tajam ke arah leher Mo Han dengan kekuatan penuh.

Su Yi menjerit histeris melihat itu. "MO HAN!! HATI-HATI!!"

Mendengar teriakan itu, mata Mo Han seketika melebar. Tanpa berpikir panjang, ia memutar tubuhnya dan menangkis lengan Paman Wu dengan kedua tangannya yang kuat. Pisau itu melesat menyayat udara berdesir tajam tepat di depan wajahnya. Namun momentum serangan itu begitu kuat hingga membuat keseimbangan Paman Wu terguncang. Tubuh pria tua itu terhuyung ke belakang, terpeleset di atas lantai yang licin terkena darah yang tumpah, dan jatuh terjerembap ke belakang dengan kepala membentur tepi meja kayu yang keras dengan suara benturan yang nyaring dan mengerikan.

Pisau yang dipegangnya terlempar jauh melayang di udara lalu jatuh berdenting di lantai. Paman Wu terbaring diam di lantai yang berdarah itu, tubuhnya menggigil hebat, dan perlahan darah mulai merembes keluar dari pelipisnya yang terbentur keras. Ruangan itu seketika menjadi hening senyap. Hanya suara napas berat Mo Han dan suara tangis tertahan Su Yi yang terdengar di tengah keheningan yang mencekam itu.

Mo Han berdiri terpaku di tempatnya, napasnya memburu, dadanya naik turun menahan rasa sakit dan pergolakan batin yang luar biasa. Matanya menatap tubuh kerabatnya yang terbaring lemah di lantai itu dengan tatapan yang bercampur aduk — kaget, cemas, sedih, namun juga penuh kepahitan yang tak terlukiskan. Ia melangkah pelan mendekat, berniat membantu pria tua itu bangkit. Namun saat ia berlutut di samping tubuh Paman Wu dan menatap wajahnya yang pucat pasi, tangan pria tua itu perlahan terulur meraih lengan baju Mo Han dengan cengkeraman yang lemah namun masih tersisa sisa kekuatan.

Paman Wu membuka matanya perlahan, menatap wajah keponakannya yang tampak begitu sedih dan bingung di hadapannya. Sudut bibirnya bergetar pelan mencoba membentuk senyum yang penuh kepahitan sekaligus penyesalan yang terlambat datang. Darah mengalir dari pelipisnya turun membasahi pipi keriputnya yang tampak begitu renta dan rapuh saat itu.

"Kau... seharusnya membiarkanku membunuhmu..." Paman Wu berucap dengan suara lemah yang hampir tak terdengar, napasnya tersendat-sendat seakan ada beban berat yang menindih dadanya. "Karena... karena aku tidak akan pernah berhenti... aku tidak akan pernah berhenti mengambil apa yang menjadi hakku... bahkan jika harus membunuhmu... dan wanita itu... dan anakmu..."

Mendengar ancaman yang masih terucap dari bibir yang hampir tak bertenaga itu, hati Mo Han terasa perih dan dingin seketika. Ia menatap mata kerabatnya itu lekat-lekat, lalu perlahan mengangguk pelan dengan wajah yang kembali tenang namun penuh ketegasan yang tak tergoyahkan.

"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti mereka berdua." Mo Han berucap pelan namun tegas, suaranya terdengar begitu mantap dan tak bisa dibantah. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti mereka. Termasuk kau, Paman. Jika kau masih terus berniat buruk terhadap mereka... maka dengan ini aku menyatakan bahwa ikatan darah di antara kita telah putus sepenuhnya. Mulai detik ini... aku tidak lagi mengenalmu sebagai pamanku. Dan jika kau kembali berniat jahat terhadap keluargaku... aku tidak akan segan-segan menghadapimu dengan segala cara yang kumiliki."

Paman Wu tersenyum miring mendengar pernyataan itu, senyum yang penuh kepahitan sekaligus kesadaran bahwa ia telah kalah sepenuhnya. Tangannya yang meraih lengan Mo Han perlahan terlepas jatuh ke lantai. Matanya perlahan terpejam, dan tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga sepenuhnya.

"Kalah..." Paman Wu menggumamkan kata itu pelan sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya. "Aku kalah... sepenuhnya..."

Mo Han berdiri perlahan dari posisinya berlutut. Ia menatap tubuh Paman Wu yang terbaring tak sadarkan diri itu dalam diam cukup lama. Hatinya terasa perih dan berat. Ia tidak pernah membayangkan bahwa hubungan kekeluargaan mereka akan berakhir dengan cara yang begitu menyakitkan dan penuh darah. Namun di sisi lain, ia tahu bahwa ia tidak memiliki pilihan lain. Keselamatan Su Yi dan anaknya jauh lebih berharga daripada apa pun di dunia ini. Dan ia tidak akan pernah menyesali apa pun yang telah ia lakukan demi melindungi mereka berdua.

Perlahan Mo Han berbalik arah. Ia melangkah mendekati Su Yi yang masih berdiri terpaku di tempatnya dengan wajah basah oleh air mata. Saat berdiri tepat di hadapan istrinya, ia melihat ketakutan yang masih menyelimuti mata jernih itu. Tanpa banyak bicara, ia merentangkan kedua lengannya dan menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukan yang erat namun tetap lembut. Ia membiarkan kepala Su Yi bersandar di dadanya, mendekapnya seakan ingin menyalurkan seluruh kekuatan dan ketenangannya kepada wanita yang dicintainya itu.

"Tidak ada yang perlu ditakuti lagi, sayangku..." Mo Han berbisik lembut di telinga istrinya sambil mengusap punggungnya pelan dengan tangan yang tidak terluka. "Semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang akan menyakiti kita lagi. Mulai sekarang... tidak ada bahaya yang berani mendekat. Aku berjanji."

Su Yi memeluk erat pinggang suaminya dengan kedua tangannya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu sambil menangis sejadi-jadinya. Ia menangis karena lega, menangis karena sedih, dan menangis karena bahagia karena mereka berdua selamat dari bahaya yang mengerikan itu. Ia merasakan detak jantung Mo Han yang berdetak kencang namun tetap kuat di bawah telinganya, dan dari detak jantung itu ia merasakan ketenangan yang luar biasa mengalir ke dalam hatinya.

"Kau terluka..." Su Yi berbisik pelan sambil menatap bahu yang berdarah itu dengan mata yang kembali berkaca-kaca. "Darahmu terus mengalir... kita harus segera mengobatinya..."

Mo Han menunduk menatap wajah istrinya yang penuh kekhawatiran itu, lalu tersenyum lemah sambil mengusap air mata di pipinya dengan punggung jarinya yang berlumuran darah. "Luka ini tidak ada apa-apanya. Selama kau dan anak kita selamat... rasa sakit apa pun akan hilang dengan sendirinya. Yang penting... kau tidak terluka. Kau dan anak kita... aman."

Su Yi menatap mata suaminya lekat-lekat, lalu perlahan mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Mo Han dengan penuh kasih sayang. "Kau rela menukar nyawamu demi kami berdua... bukankah begitu?"

"Tanpa ragu sedikit pun." Mo Han menjawab tegas tanpa menatap ke arah lain. "Karena nyawaku bukan milikku lagi. Nyawaku adalah milikmu dan milik anak kita. Jika harus memilih antara nyawaku dan nyawa kalian berdua... aku akan memilih nyawa kalian berdua seribu kali tanpa ragu."

Su Yi tersenyum haru mendengar itu, lalu perlahan mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka dalam satu kecupan yang hangat, lembut, dan penuh rasa syukur yang tak terhingga. Di tengah ruangan yang berdarah dan penuh sisa-sisa pertarungan itu, di tengah kelelahan dan rasa sakit yang mereka rasakan, kecupan itu menjadi saksi bahwa cinta mereka jauh lebih kuat daripada kebencian, jauh lebih abadi daripada waktu, dan jauh lebih berharga daripada nyawa itu sendiri.

Setelah beberapa saat terbuang dalam keheningan yang penuh kasih sayang itu, Mo Han perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap pintu ruangan yang kini terbuka lebar, lalu menatap tubuh Paman Wu yang masih terbaring tak sadarkan diri di lantai. Ia mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi pengawal kepercayaannya yang berada tak jauh dari kediaman itu. Suaranya kembali tenang, tegas, dan penuh wibawa seperti biasanya.

"Datanglah ke kamar tidur utama sekarang juga. Bawa tim medis bersamamu. Dan bawa orang-orang untuk mengamankan seseorang yang terluka di sini. Pastikan semuanya ditangani dengan baik dan tidak ada kebocoran informasi ke mana pun."

Setelah menutup telepon, Mo Han kembali berdiri di samping Su Yi. Ia merangkul bahu istrinya lembut dan membimbingnya menjauh dari tempat pertarungan itu menuju teras yang terbuka ke arah taman yang kini telah berhenti dihujani hujan. Udara segar yang berbau tanah basah segera menyambut mereka berdua. Langit perlahan mulai terang kembali, menyisakan semburat ungu kemerahan yang indah di ufuk timur — tanda bahwa malam yang gelap dan mencekam itu akhirnya telah berlalu.

Su Yi bersandar lemah di dada Mo Han sambil menatap langit yang perlahan menjadi terang. Tangannya masih erat menggenggam tangan suaminya yang hangat dan kokoh. Ia merasakan jari-jari Mo Han mengusap punggung tangannya pelan, seakan memberi kekuatan dan ketenangan tanpa henti.

"Segalanya akan baik-baik saja, bukan?" Su Yi berbisik pelan menatap wajah suaminya yang tampak lelah namun tetap tersenyum menatapnya dengan penuh kasih sayang.

Mo Han mencium keningnya lembut, lalu menatap langit yang mulai cerah itu dengan tatapan penuh harapan dan tekad yang tak tergoyahkan.

"Ya. Segalanya akan baik-baik saja. Malam yang gelap telah berlalu. Dan mulai hari ini... tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi musuh yang bersembunyi di balik kedamaian. Kita akan membangun masa depan yang cerah. Bersama-sama. Untuk kita berdua. Dan untuk anak kita yang akan lahir ke dunia ini dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian."

Su Yi tersenyum mendengar itu, lalu menyandarkan kepalanya kembali ke dada bidang suaminya sambil memejamkan matanya dengan tenang. Di dalam hatinya, ia berdoa agar janji itu selalu terjaga selamanya. Dan ia tahu... selama mereka berdiri berdampingan, selama cinta mereka tetap menyala dan tak pernah padam... tidak ada bahaya yang terlalu besar, tidak ada musuh yang terlalu kuat. Karena cinta mereka adalah kekuatan yang akan selalu melindungi mereka, hingga cahaya pagi yang terang menyinari seluruh hidup mereka selamanya.

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!