Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 04. Respect
Malam mulai merayap menggantikan senja. Selepas jam kerja berakhir, Acha sempat terdiam sejenak menatap layar ponselnya.
Niat untuk benar-benar mengakhiri segalanya sempat bergejolak, namun dia masih ingin mencoba berbicara kepada Raka untuk yang terakhir kalinya sebagai bentuk sisa-sisa kesabaran yang dia miliki.
Dengan jemari yang sedikit ragu, dia mengetik sebuah pesan singkat, lalu mengirimkannya.
Tidak butuh waktu lama hingga ponselnya bergetar. Balasan dari Raka masuk, namun isinya kembali menyiram hati Acha dengan air dingin.
Raka menjawab dengan nada yang sangat cuek, acuh tak acuh, seolah keberadaan Acha adalah sebuah gangguan bagi waktunya.
Mencoba mencairkan suasana dan mencari topik pembicaraan yang serius, Acha akhirnya menyinggung kabar dari keluarganya.
Dia menceritakan bahwa Fitri—sang adik—sebentar lagi akan segera dilamar oleh seorang pria bernama Pandu.
Acha berharap Raka setidaknya menunjukkan sedikit antusiasme atau memberikan tanggapan selayaknya seorang kekasih yang diajak membahas masa depan pernikahan.
Namun, reaksi Raka di luar dugaan. Dia ikut senang atau merespons dengan hangat, pemuda itu justru langsung menyangkal dan mencibir kabar tersebut dengan nada ketus.
"Dilamar? Ogah banget!" balas Raka ketus lewat pesan singkatnya.
"Ngapain juga buru-buru nikah? Aku sama sekali nggak kepikiran buat menikah dalam waktu dekat!"
Tanpa rasa bersalah, Raka melanjutkan alasannya yang egois. Bagi pemuda itu, urusan komitmen dan pernikahan adalah hal yang sangat jauh dari prioritas hidupnya.
Dia beralasan masih ingin menikmati kebebasannya, melanjutkan hidup sesuka hatinya, dan berdalih sedang fokus mencari pekerjaan—meskipun pada kenyataannya sia hanya bermalas-malasan bersama teman-teman setongkrongannya.
Membaca balasan itu, Acha merasa seolah ada palu tak kasat mata yang menghantam kepalanya telak-telak. Harapan tipis yang sempat tersisa di dalam hatinya kini musnah tak bersisa.
Pesan itu menjadi penutup yang sangat sempurna, menyadarkannya bahwa pria yang selama ini dia harapkan untuk menjadi pelabuhan masa depannya ternyata adalah seorang pengecut yang alergi pada kata tanggung jawab.
Acha menatap layar ponselnya nanar. Pantulan cahaya dari benda pipih itu memperlihatkan wajahnya yang terlihat begitu lelah, namun seiring detik berjalan, ekspresi lemah itu perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata yang kian tajam.
Tidak ada lagi rasa sedih yang mendalam, tidak ada lagi isak tangis yang tertahan. Yang tersisa di dadanya kini hanyalah kelegaan yang luar biasa—seolah beban berton-ton yang selama ini dia pikul seorang diri akhirnya terangkat lepas.
"Ternyata emang bener ya, kita nggak bisa memaksa seseorang untuk tumbuh dewasa kalau dia sendiri nyaman jadi benalu," gumam Acha pelan, berbicara pada dirinya sendiri di dalam kamar kos sementara Vika sibuk merapikan barang-barang mereka di sudut ruangan.
Tanpa ragu sedikit pun, Acha membuka aplikasi perpesanan di ponselnya. Jari-jarinya bergerak mantap, tanpa ada rasa gemetar seperti sebelumnya.
Dia mengetikkan sebuah kalimat terakhir yang singkat, tegas, dan menjadi titik akhir bagi hubungan toksik yang selama ini membelenggu hidupnya.
“Kalau kamu dari awal nggak punya niat serius dan cuma mau manfaatin aku aja, mulai sekarang kita selesai, Raka. Jangan cari aku lagi.”
Begitu pesan terkirim, Acha langsung menekan tombol block pada kontak Raka, menyusul platform media sosial lainnya.
Dia tidak butuh penjelasan, tidak butuh drama panjang, dan sama sekali tidak butuh penyesalan dari pria pengecut itu.
Vika yang melihat tindakan tegas sahabatnya langsung melempar senyum lebar penuh dukungan, lalu mengangkat dua jempolnya tinggi-tinggi.
Malam itu, di bawah temaram lampu kos baru mereka, Acha resmi membebaskan hatinya.
Babak baru dalam hidupnya telah dimulai, di mana dia tidak lagi hidup untuk memenuhi ego orang lain, melainkan berdiri tegak demi kebahagiaan dan masa depannya sendiri.
Beberapa hari setelah keputusannya pindah kos dan mengakhiri hubungan dengan Raka, hari yang dinanti-nanti oleh keluarga Acha pun tiba.
Hari ini adalah hari wisuda Fitri, sang adik. Suasana di kediaman keluarga Acha terasa begitu sibuk dan penuh suka cita, sementara Acha sendiri bersiap di tempat yang berbeda.
Sebelum berangkat ke tempat acara, Acha sempat mampir ke rumah Ibu Ema, atasannya di tempat kerja.
Atas kebaikan hati sang atasan, anak perempuan Ibu Ema yang bernama Stella—seorang gadis yang sangat terampil dalam dunia kecantikan dan tata rias—menawarkan diri untuk mendandani Acha agar tampil istimewa di hari bahagia adiknya.
Di depan meja rias, Stella dengan telaten memoles wajah Acha, menata rambutnya, serta memakaikan kebaya yang pas di tubuhnya. Ketika proses make-over itu selesai, Acha tertegun sejenak menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajahnya yang biasa terlihat lelah dan pucat kini tampak begitu segar, anggun, dan memancarkan pesona yang selama ini tertutup oleh beban hidup yang berat.
"Wah, Acha cantik banget! Sumpah, pangling!" puji Stella dengan mata berbinar-binar melihat hasil karyanya.
Acha tersenyum tulus sambil mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Stella dan Ibu Ema.
Namun, di balik penampilan barunya yang memukau, sebuah masalah kecil sempat membuat Acha pusing. Kendaraan untuk menuju ke tempat wisuda mendadak menjadi kendala karena jadwal yang padat.
Di saat yang bersamaan, sebuah motor berhenti di halaman depan. Raka muncul dengan wajah masam dan gerutu yang tak henti-hentinya keluar dari bibirnya.
Pemuda itu sebenarnya sangat enggan datang dan sama sekali tidak berniat menjemput Acha. Namun, dia tidak punya pilihan lain.
Sehari sebelumnya, Alfian—kakaknya Acha yang dikenal tegas dan disegani—telah memberikan ancaman telak kepada Raka.
Alfian memperingatkan dengan nada dingin agar Raka bertanggung jawab menjemput Acha dan mengantarnya ke acara wisuda Fitri, atau Raka akan berurusan langsung dengannya.
Terpaksa oleh rasa takut pada ancaman Alfian, Raka akhirnya datang dengan terpaksa. Dia bersandar di samping motornya dengan muka ditekuk, menatap malas ke arah pintu kosan, sama sekali tidak menyadari bahwa gadis yang kini melangkah keluar menghampirinya adalah Acha dengan penampilan yang jauh lebih cantik dan anggun dari biasanya.
Raka mendengus kasar untuk kesekian kalinya. Dia menendang kerikil kecil di bawah kakinya dengan perasaan dongkol yang teramat sangat.
Di dalam hatinya, dia terus merutuki Alfian yang dianggapnya gemar ikut campur urusan orang lain. Kalau bukan karena ancaman kakaknya Acha itu yang terdengar begitu serius dan menakutkan.
Raka bersumpah dia lebih memilih tidur sepuasnya di rumah dari pada harus panas-panasan menjemput Acha demi menghadiri acara wisuda keluarga yang sama sekali tidak penting baginya.
"Ngapain juga gua harus repot-repot jemput dia? Nyusahin aja!" gerutu Raka pelan sambil melipat tangan di dada, wajahnya semakin ditekuk masam.
Pintu rumah perlahan terbuka dari dalam. Suara ketukan hak sepatu yang ringan terdengar, disusul oleh sesosok wanita berbalut kebaya modern berwarna lembut dengan tatanan rambut elegan serta riasan wajah yang terpancar sempurna.
Raka, yang tadinya menunduk sambil memainkan ponsel dengan malas, lantas mengangkat wajahnya. Dia berniat melontarkan cacian bernada protes karena menganggap Acha terlalu lama bersiap.
Namun, tepat saat pandangan mereka beradu, kata-kata yang sudah di ujung lidah Raka seketika tertelan bulat-bulat.
Pria itu terpaku di tempatnya. Rahangnya sedikit mengendur, dan matanya membelalak tak percaya.
Sosok yang berdiri di hadapannya saat ini seolah bukan Acha yang biasa dia kenal—gadis sederhana yang sering kali terlihat kusam, kelelahan, dan selalu pasrah menghadapi sikap kasarnya.
Di hadapannya kini berdiri seorang wanita anggun yang begitu memesona, memancarkan aura percaya diri dan kecantikan yang membuat siapa pun yang melihatnya akan terpesona.
Untuk beberapa detik, Raka kehilangan suaranya. Ada rasa kagum yang tiba-tiba menyergap, namun bersamaan dengan itu, rasa gengsi dan keterkejutan bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya.
Keterkejutan Raka sempat membuatnya terdiam beberapa saat, namun sifat egois dan acuh tak acuhnya dengan cepat kembali mendominasi.
Tanpa memuji atau sekadar melontarkan komentar positif atas penampilan Acha yang begitu memukau, Raka hanya mendengus pelan dan menyuruh Acha segera naik ke atas motornya.
Perjalanan menuju sekolah tempat digelarnya acara wisuda Fitri ditempuh dalam keheningan yang kaku.
Acha memilih untuk duduk diam di atas motor tanpa berniat membuka percakapan, sementara Raka mengendarai kendaraannya dengan ugal-ugalan, seolah ingin lekas menuntaskan tugas paksa dari Alfian tersebut.
Setibanya di halaman sekolah Fitri yang sudah dipenuhi oleh para tamu undangan, orang tua, dan para wisudawan, Raka langsung mematikan mesin motornya.
Belum sempat Acha turun sepenuhnya dan merapikan lipatan kebaya yang dia kenakan, Raka sudah buru-buru bersuara dengan nada ketus.
"Udah, kan? Loh udah sampai sini dengan selamat sesuai janji gua kepada A Alfian," ucap Raka ketus tanpa sedikit pun menatap wajah Acha.
Dia langsung memutar balik arah motornya. "Gua mau langsung pulang. Males banget masuk ke dalam, rame, bikin pusing. Urusin sendiri sana."
Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari Acha, Raka langsung menarik gas motornya meninggalkan area sekolah dengan kecepatan tinggi.
Dia sama sekali tidak memiliki niat sedikit pun untuk mendampingi kekasihnya—atau wanita yang baru saja dia sadari berpenampilan sangat cantik hari itu—masuk ke dalam aula demi merayakan momen penting keluarga Acha.
Acha menatap kepergian punggung Raka yang melenggang begitu saja tanpa rasa bersalah. Tidak ada lagi rasa sesak atau air mata kekecewaan seperti dulu.
Acha justru menghela napas panjang dengan perasaan ringan, semakin yakin bahwa keputusan bulatnya untuk memutuskan hubungan beberapa waktu lalu adalah hal paling tepat yang pernah dia lakukan dalam hidupnya.
Senyum tipis terukir di bibir Acha. Dia sama sekali tidak merasa kecil hati ataupun kesal ditinggal begitu saja oleh Raka. Sebaliknya, kepergian pemuda egois itu justru terasa seperti beban berat yang akhirnya runtuh dari pundaknya.
Tanpa kehadiran Raka, dia tidak perlu lagi merasa cemas memikirkan mood buruk pria itu atau merasa malu atas sikapnya yang tidak tahu sopan santun di tengah keluarga besar.
Acha merapikan lipatan kebaya dan selendangnya, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menghirup udara pagi yang hangat. Dengan langkah kaki yang ringan dan penuh percaya diri, dia berjalan memasuki gerbang sekolah Fitri.
Begitu dia tiba di area aula tempat acara wisuda dilangsungkan, kehadiran Acha langsung menarik perhatian beberapa pasang mata. Penampilannya yang anggun berkat sentuhan tangan Stella membuat orang-orang pangling.
"Acha! Ya ampun, Teh!" seru Fitri antusias begitu melihat kakaknya mendekat.
Gadis yang masih mengenakan toga wisuda itu langsung berlari kecil menghampiri Acha dengan mata berbinar. "teh Acha cantik banget! Sumpah, pangling gue, kirain artis mana tadi!"
Suci dan Alfian yang berdiri tidak jauh dari Fitri turut menghampiri. Suci menatap Acha dengan penuh kagum dan senyum terkembang, sementara Alfian mengangguk pelan memberikan apresiasi.
"Wah, pantas saja tadi lama bersiap, ternyata hasilnya luar biasa. Bikin kagum yang lihat," puji Alfian dengan nada santai, lalu melirik ke sekitar.
"Eh, mana si Raka? Tadi katanya mau nganter sampai dalam."
Acha tersenyum tenang menanggapi pertanyaan sang kakak ipar. "Udah langsung pulang, Raka. Katanya ada urusan mendadak."
Alfian mendengus geli, seolah bisa menebak tabiat asli Raka yang memang pemalas dan pengecut. Namun, dia tidak memperpanjang hal itu karena tidak ingin merusak suasana bahagia hari ini.
Di tengah kehangatan pelukan keluarga dan sorot mata bangga dari orang tuanya, Acha merasa dunianya jauh lebih utuh dan bahagia.
Hari ini bukan hanya tentang merayakan kelulusan sang adik, melainkan juga perayaan atas kebebasan jiwa Acha yang akhirnya terlepas dari bayang-bayang pria toksik. Masa depan yang cerah dan mandiri kini telah menantinya di luar sana.
Acara wisuda Fitri berlangsung dengan penuh khidmat dan kebahagiaan. Setelah sesi foto bersama keluarga dan beramah tamah dengan para guru selesai, rangkaian acara hari itu akhirnya ditutup pada siang menjelang sore hari.
Acha bersama Ranti, dan Alfian bersiap untuk beranjak pulang meninggalkan halaman sekolah.
Namun, sebelum mereka beranjak, sebuah motor tua yang sangat dikenal Acha mendadak berhenti di pelataran parkir.
Raka datang kembali untuk menjemputnya, persis seperti tugas wajib yang sebelumnya dibebankan oleh Alfian.
Melihat kedatangan Raka, Acha langsung menghampirinya dengan raut wajah dingin dan sorot mata yang tajam. Tanpa menunggu Raka membuka mulut, Acha langsung mencecar pemuda itu dengan nada tegas penuh kekesalan.
"Mau apa lagi kamu dateng kesini? Tadi kan udah sok-sokan pergi ninggalin aku begitu aja tanpa tanggung jawab!" cecar Acha skakmat, meluapkan kekesalannya atas sikap egois Raka tadi pagi.
Mendapat serangan kata-kata dari Acha, Raka tidak langsung marah seperti biasanya. Dia justru mengubah gestur tubuhnya menjadi melas.
Wajahnya ditekuk sedih, menciptakan sandiwara seolah dia sedang menanggung beban hidup yang sangat berat.
"Cha... please, jangan ngomel dulu. Aku terpaksa ninggalin kamu tadi karena bener-bener panik," ucap Raka dengan nada melas yang dibuat-buat.
Dia lantas mulai melancarkan jurus aktingnya, menceritakan sebuah kebohongan atau drama baru.
"Tadi pas nyampe rumah, bapak aku tiba-tiba jatuh dari WC, Cha! Lemes banget badannya, harus secepatnya dibawa ke dokter. Tapi... tapi di dompet aku bener-bener lagi kosong melompong, nggak pegang uang sepeser pun."
Raka menatap Acha dengan mata berbinar penuh harap, jemarinya meraba saku celana seolah menunjukkan keputusasaannya.
"Kamu tahu kan aku lagi susah banget nyari kerja? Tolongin aku, Cha... pinjami aku uang buat biaya bapak berobat ke dokter. Kasian bapak aku..."
Mendengar cerita itu, benteng pertahanan Acha yang tadinya sudah kokoh mendadak goyah. Sifat iba dan tulus yang memang sudah mendarah daging di dalam diri Acha langsung mengambil alih.
Meskipun dia tahu betul rekam jejak Raka yang sering berbohong dan memanfaatkan kebaikannya, rasa kemanusiaan dan kekhawatiran jika cerita itu benar-benar terjadi membuat hatinya melunak.
Acha menghela napas panjang, menatap Raka dengan tatapan sarat akan kekecewaan sekaligus rasa kasihan. Tanpa berkata banyak lagi, dia membuka tasnya, mengambil dompet, lalu merogoh lembaran uang dari dalamnya.
Acha menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu rupiah kepada Raka. "Nih... ambil. Gunakan beneran buat berobat bapak kamu, jangan buat yang aneh-aneh lagi, Raka."
Raka langsung menyambar uang seratus ribu itu dengan kilatan mata penuh kemenangan di balik wajah melasnya.
Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Raka buru-buru berpamitan dengan alasan harus segera pulang mengurus ayahnya, padahal aslinya dia sudah punya rencana lain untuk menghabiskan uang tersebut bersama teman-temannya.
Acha menatap punggung Raka yang melaju pergi, menyadari bahwa dia baru saja kembali terjebak dalam perangkap manipulasi pria itu, namun dia berjanji pada dirinya sendiri—ini adalah untuk terakhir kalinya dia membiarkan dirinya dibodohi.
Tidak berselang lama setelah Raka pergi dengan membawa uang seratus ribu rupiah pemberian Acha, langit sore yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi gelap gulita.
Awan hitam menggantung rendah, disusul oleh gemuruh petir yang bersahutan. Tak lama kemudian, hujan turun dengan sangat deras, mengguyur jalanan kota tanpa ampun.
Di tengah derasnya air hujan, ponsel Acha kembali berdering. Nama Raka tertera di layar. Dengan perasaan enggan, Acha mengangkat panggilan tersebut.
Suara Raka terdengar panik dan tergesa-gesa di seberang sana, bersaing dengan suara air hujan yang menimpa aspal.
"Cha! Lu masih di tempat wisuda adika lu, kan? Buruan deh, ke sini sekarang!" seru Raka to the point.
Acha mengernyitkan dahi, bingung. "Maksudnya gimana? Aku kan udah mau siap-siap pulang ke kos bareng keluarga."
"Enggak, kamu balik ke tempat kerja kamu sekarang! Naik ojek atau gimana terserah!" perintah Raka tanpa rasa bersalah.
"Motor aku mogok di jalan dekat kantor lu. Habis bensin! aku nggak pegang duit cash lagi, uang yang aku kasih tadi udah kepotong buat... eh maksudnya, buruan ke sini jemput aku atau bawain bensin!"
Mendengar permintaan egois itu di tengah cuaca yang sangat buruk, dada Acha mendadak panas. Dia menatap ke luar jendela gedung di mana air hujan tumpah ruah membentuk genangan di mana-mana.
"Kamu gila ya, Rak?! Hujan di luar lagi deras banget, badai begini disuruh ke sana!" balas Acha dengan nada tinggi, meluapkan kekesalannya yang sudah di ubun-ubun.
"Lagian kan motor habis bensin gara-gara kamu tadi jalan-jalan nggak jelas! Udah tahu mau ngebut, kenapa nggak isi bensin dari tadi? Udah sana, isi bensin dulu sendiri ke pom bensin terdekat!"
"Tapi Cha—"
Pip.
Acha langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Kali ini, dia benar-benar menutup pintu toleransi untuk kebiasaan buruk Raka yang selalu menggampangkan segalanya.
Di seberang sana, Raka yang basah kuyup berdiri di samping motornya hanya bisa mengumpat kesal mendapati teleponnya diputus begitu saja.
Sadar tidak ada lagi celah untuk memanfaatkan Acha di tengah cuaca ekstrem itu, dengan terpaksa dan wajah tertekuk masam, Raka akhirnya menuntun motornya berputar balik menuju pom bensin terdekat di bawah terjangan air hujan yang dingin.
Di tengah guyuran hujan yang semakin lebat, Raka dengan susah payah menuntun motornya hingga tiba di area SPBU terdekat. Suasana pom bensin terlihat cukup lengang karena cuaca buruk.
Raka langsung mendorong kendaraannya ke dekat mesin dispenser bahan bakar, tubuhnya basah kuyup dan menggigil kedinginan.
Petugas SPBU segera menghampiri dengan ramah. "Mau isi apa, Mas?" tanya petugas tersebut.
Sebelum Raka sempat menjawab, Acha—yang rupanya menyusul ke pom bensin menggunakan payung untuk memastikan keadaan atau karena terbawa rasa kasihan—tiba-tiba datang mendekat. Mendengar petugas menawarkan jenis bahan bakar, Acha langsung menyela cepat.
"Isi Pertalite saja, Mas!" seru Acha dari balik payungnya. Dia lantas merogoh dompetnya dan memperlihatkan selembar uang pecahan lima belas ribu rupiah kepada Raka.
"Rak, isi Pertalite saja ya. Uang cash aku tinggal sisa limabelas ribu ini, takutnya kalau pakai Pertamax uangnya nggak cukup."
Mendengar usulan Acha, Raka langsung mendengus kesal dan menolak mentah-mentah. Dia melotot ke arah Acha seolah-olah gadis itu baru saja mengatakan hal yang bodoh.
"Ih, kamu gimana sih, Cha! Motor Beat kayak gini tuh nggak boleh sembarangan diisi Pertalite!" protes Raka dengan nada menggurui, meski sedang kedinginan.
"Kalau motor Beat diisi Pertalite, nanti mesinnya malah ngadat terus mati di jalan! Motor aku tuh harus diisi Pertamax, paham?!"
Acha menatap Raka dengan sebelah alis terangkat, merasa heran sekaligus jengkel dengan alasan yang dilontarkan kekasihnya itu.
Di dalam hatinya, dia tahu persis bahwa motor matic sejuta umat seperti Honda Beat justru merupakan jenis kendaraan harian yang paling umum menenggak bahan bakar bersubsidi seperti Pertalite, dan sama sekali tidak akan mendadak "mati" hanya karena salah bensin seperti yang dibesar-besarkan Raka.
Namun, di tengah situasi yang basah kuyup dan kepala yang mulai pusing akibat emosi, Acha memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan konyol itu.
Acha menghela napas panjang, menahan gemuruh di dadanya yang kian memuncak. Mengapa selalu ada saja alasan konyol dan drama yang keluar dari mulut Raka setiap kali mereka berurusan dengan uang?
"Terserah kamu deh, Raka. Mau Pertamax atau apa, yang penting uang cash aku di dompet cuma sisa limabelas ribu itu doang. Kalau kurang, urus sendiri ya, aku nggak punya uang lagi," ucap Acha tegas, menyodorkan uang pecahan tersebut dengan ekspresi dingin.
Raka mendengus pelan, tampak tidak puas, namun dia tidak punya pilihan lain karena memang tidak memegang uang sepeser pun.
Dengan wajah tertekuk masam, dia akhirnya meminta petugas SPBU untuk mengisi bahan bakar sesuai dengan uang yang ada, sembari tetap menggerutu pelan menyalahkan Acha yang dianggapnya perhitungan.
Setelah pengisian bahan bakar selesai dan transaksi beres, Raka sama sekali tidak mengucapkan terima kasih.
Dia langsung menaiki motornya, meninggalkan Acha yang masih berdiri terpaku di bawah naungan payung kecil di pinggir area pom bensin, diguyur cipratan air hujan dari kendaraan yang lalu-lalang.
Melihat punggung Raka yang kembali melaju tanpa memperdulikan keadaannya, Acha merasakan kelegaan yang luar biasa aneh di dalam hatinya. Tidak ada lagi rasa sakit hati atau air mata penyesalan.
Yang ada hanyalah keyakinan yang semakin mengakar kuat—bahwa pria di hadapannya ini benar-benar tidak layak untuk dipertahankan sedetik pun lagi.
Be to continued