NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Identitas Kamelia

Tetua Frost dan Madam Elena tersentak dari lamunan panjang mereka. Kenangan masa lalu yang selama puluhan tahun coba mereka tekan dan kubur dalam-dalam, tiba-tiba bangkit seperti hantu yang berbisik di telinga.

Tetua Frost bangkit berdiri dari kursinya. Langkah kakinya terdengar berat saat ia berjalan mendekati jendela besar yang terbuka lebar, membiarkan angin salju khas menerpa wajahnya.

"Aku hanya ingin memastikan," kata Tetua Frost datar, suaranya sedingin es yang menyelimuti wilayah mereka. Ia tetap menatap keluar, sama sekali tanpa menoleh ke arah sang istri. "Dia... tetap aman."

Madam Elena mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Gurat kebingungan sekaligus kemarahan mulai membayangi wajah cantiknya yang mulai dimakan usia. Ia melangkah maju, memecah kesunyian kamar dengan suara yang tajam.

"Aman dari apa, Frost? Apa kau mulai peduli pada kedua wanita rendahan itu?!" tanyanya dengan nada suara yang sedikit meninggi, tidak mampu lagi menyembunyikan rasa kebencian yang mendidih di dadanya.

Tetua Frost tidak bereaksi untuk beberapa saat. Tubuhnya mematung seperti patung marmer kuno, sebelum akhirnya ia melirik Madam Elena melalui sudut matanya yang tajam.

"Aku hanya ingin memastikan... apa Aurelia benar-benar anak yang cacat tanpa bakat..." Tetua Frost menjeda kalimatnya, memberikan tekanan berat pada setiap kata berikutnya, "...atau sebenarnya, kekuatan besar di dalam dirinya hanya sedang tertidur."

Madam Elena terdiam seketika, napasnya tertahan. Sesaat kemudian, dia melangkah lebih dekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata suaminya, mencoba mencari celah kebohongan.

"Kau sendiri yang sudah memeriksanya saat itu, kan?" kata Madam Elena tajam, suaranya berdesis penuh penekanan. "Saat Kamelia dan putrinya itu diseret seperti binatang ke tempat ini... kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri! Aurelia tidak memiliki inti roh murni sedikit pun. Tubuhnya rapuh dan menolak alam. Dia tidak akan pernah bisa menampung kekuatan sihir es!"

Tetua Frost kembali terdiam. Kata-kata istrinya memang benar secara logika, namun entah mengapa, ada firasat buruk yang terus mengusik batinnya.

Perasaannya justru baru bisa sedikit lebih tenang jika Aurelia berada dalam jangkauannya. Logikanya berputar keras—bukan karena dia peduli, melainkan karena sebuah ketakutan besar yang egois.

Ia takut jika suatu hari nanti, Aurelia akan tumbuh menjadi musuh paling berbahaya yang mampu meruntuhkan kekuasaan nya.

"Sudahlah. Aku lelah. Aku tidak ingin membicarakan urusan wanita tidak berguna itu lagi," potong Tetua Frost dingin.

Ia membalikkan badan dan memilih untuk melangkah pergi meninggalkan ruangan, mengakhiri perdebatan mereka secara sepihak.

Madam Elena hanya bisa mendengus kencang. Tangannya terkepal sangat erat, menahan gemuruh amarah yang tak tersalurkan di balik dinding-dinding istana yang beku.

Sementara itu, di sudut lain istana, di dalam sebuah kamar gubuk yang dingin. Mata Kamelia terpejam rapat di atas ranjang tuanya, namun jiwanya tidak sedang tertidur.

Memorinya melayang jauh, menembus kabut waktu dan kembali ke masa puluhan tahun yang lalu.

Pertemuan pertamanya dengan Damian.

Saat itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, Kamelia menanggalkan gaun kebesaran klan. Ia berpakaian seperti gadis biasa dari kalangan rakyat jelata, nekat menyelinap keluar dari wilayah terlarang Klan Bayangan.

Di bawah rimbunnya hutan perbatasan, takdir mempertemukannya dengan Damian yang sekarat. Tanpa ragu, Kamelia diam-diam menyelamatkan pria itu dari racun yang di lemparkan oleh musuhnya.

Dia sengaja datang menyamar sebagai gadis polos yang tidak tahu apa-apa, membasuh darah dan mengobati luka-luka Damian dengan jemari gemetarnya.

Dan mungkin, momen itulah yang menjadi awal mula dari petaka indah... di mana mereka berdua saling jatuh cinta.

Saat itu Damian sama sekali tidak mengetahui identitas asli penyelamatnya. Namun Kamelia tahu persis siapa Damian yang sebenarnya.

Sampai--- hubungan Kamelia dan Damian di ketahui oleh keluarga Kamelia. Membuat ayah dan kakak Kamelia marah besar saat tau--- Kamelia menjalin cinta dengan orang yang bukan berasal dari Klan Bayangan. Kamelia melanggar peraturan.

Namun demi cinta yang sangat besar pada Damian, Kamelia nekat mengambil keputusan paling gila dalam hidupnya: melarikan diri dari wilayah Klan Bayangan, melepaskan segala kemewahan, dan menantang maut demi hidup bersama pria yang dicintainya.

Kamelia kembali membuka matanya. Dadanya sesak. Tangannya terkepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha keras menahan badai emosi yang berkecamuk.

"Ayah... Kakak..." gumamnya lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Maaf—"

Suara Kamelia tercekat di tenggorokan. Air matanya luruh. Kamelia sangat yakin bahwa Ayah dan kakaknya pasti begitu membenci dirinya atas keputusan bodoh yang telah ia ambil.

Dia tidak pernah menyesal memilih cinta, meskipun jalan yang dilaluinya berakhir tragis.

Namun, penyesalan terbesar yang terus menggerogoti jiwanya adalah—ia telah mengecewakan keluarga yang menyayanginya.

Namun ternyata, apa yang berkecamuk di dalam pikiran Kamelia sama sekali tidak pernah terjadi.

Sementara itu, jauh di wilayah sebelah timur yang tersembunyi dari dunia luar, terdapat sebuah daerah yang selalu diselimuti kabut abadi. Kabut sihir yang mampu menipu pandangan siapapun yang mencoba mendekat.

Di balik perlindungan mistis itulah berdiri sebuah wilayah yang sangat luas dan megah: Wilayah Klan Bayangan.

Berbeda dengan kelima Klan lainnya yang agung namun penuh kasta, Klan Bayangan tidak mengenal sistem bangsawan. Bagi mereka, semua keluarga adalah setara. Dan pemimpin tertinggi yang mengomandoi Klan ini adalah Tetua Omran.

Di dalam istana megah milik Klan Bayangan, ketegangan terasa begitu kental. Di ruang pribadinya, Tetua Omran sedang duduk termenung di kursi kebesarannya.

Tangannya yang gemetar tampak memeluk erat sebuah lukisan seorang wanita cantik bermata jernih—dia adalah Kamelia, putri tercintanya yang memilih pergi.

Klek.

Pintu ruangan besar itu terbuka perlahan. Charon, putra sulungnya sekaligus kakak kandung Kamelia, melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah kaki yang berat.

"Ayah," panggil Charon, membungkuk memberi salam dengan nada suara yang sarat akan kelelahan.

Tetua Omran tidak menjawab. Matanya sama sekali tidak beralih dari lukisan Kamelia yang ada di pelukannya. Keheningan yang mencekam sempat merayap di antara mereka selama beberapa detik sebelum sang tetua akhirnya bersuara dengan nada rendah yang bergetar.

"Kau... sudah menemukan keberadaan adikmu?" tanya Tetua Omran, menyuarakan pertanyaan yang sama setiap harinya selama bertahun-tahun.

Dengan bahu yang lesu, Charon menggelengkan kepalanya perlahan. Tatapannya jatuh ke lantai, tak sanggup menatap mata sang ayah.

"Maaf, Ayah. Aku belum bisa menemukannya," katanya dengan suara yang amat lirih, nyaris seperti bisikan putus asa.

BRAK!

Tetua Omran bangkit berdiri dengan kemarahan yang meledak-ledak. Dalam satu sentakan tangan yang dipenuhi energi magis, barang-barang berharga di atas meja ruangan itu dihantam hingga berhamburan dan hancur berkeping-keping di lantai.

"Berani-beraninya kau kembali ke hadapanku dengan kata maaf, Charon?!" geram Tetua Omran, napasnya memburu, sementara matanya menyalang merah menahan kesedihan yang mendalam. "Sudah 35 tahun...tapi kau masih belum bisa menemukannya?!"

Charon hanya terpaku, menerima amarah sang ayah dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya.

Di balik topeng ketegasannya sebagai calon pemimpin, hatinya sendiri hancur berkeping-keping karena merindukan adik kecilnya yang ia cari tanpa lelah, bukan untuk dihukum, melainkan untuk dibawa pulang ke rumah.

Tetua Omran berdiri dari kursinya. Dadanya kembang kempis, dan tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, memancarkan aura dendam yang pekat. Matanya menyala merah, menyiratkan murka seorang ayah yang hancur.

"Siapapun pria yang telah berani merebut putriku dari rumahnya... aku bersumpah, aku pasti akan mencabik jiwanya dan membunuhnya dengan tanganku sendiri!" desis Tetua Omran, suaranya terdengar seperti bisikan kematian yang menggema dari kegelapan.

Tetua Omran tahu benar bahwa Kamelia telah menjalin hubungan rahasia dengan seorang pria yang jelas bukan berasal dari Klan Bayangan.

Namun, Kamelia begitu keras kepala dan bodoh karena memilih untuk menyembunyikan rapat-rapat identitas pria itu demi melindunginya.

Kamelia hanya berkata saat itu ' aku mencintai seorang pria, dia yang terbaik' namun Kamelia tidak pernah memberitahu identitas pria itu.

Dan kini, fakta bahwa putra sulungnya yang paling berbakat pun gagal menemukan petunjuk tentang pria misterius itu membuat kemarahan Tetua Omran semakin tak terkendali.

Mereka mengira Kamelia sedang hidup bahagia di luar sana bersama pria pilihannya. Namun, tanpa pernah disadari oleh Tetua Omran maupun Charon, putri yang sangat mereka rindukan itu justru sedang menderita dalam kegelapan, disiksa tanpa ampun, dan menjalani hidup yang penuh penderitaan bersama putri yang dilahirkannya.

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!