Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)
Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.
Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)
Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Langit malam di atas kota Jakarta tampak begitu bersih, dihiasi oleh taburan bintang yang berkilauan di balik kubah kaca lantai paling atas Ar-Rasyid Tower. Di dalam aula perjamuan privat yang didekorasi dengan ribuan bunga mawar putih dan lampu kristal gantung bergaya klasik, alunan musik orkestra gesekan biola dan selo mengalun lembut, menciptakan suasana yang begitu sakral, mewah, dan menenangkan.
Malam ini adalah perayaan tertutup eksklusif—sebuah pesta kemenangan atas diraihnya kontrak konsorsium energi hijau nasional senilai triliunan rupiah serta pembersihan total sisa-sisa sindikat korporasi gelap yang selama ini mencoba merusak stabilitas keluarga Ar-Rasyid. Hanya para jajaran direksi inti, mitra bisnis terpercaya, serta keluarga terdekat yang diundang untuk menghadiri momen bersejarah tersebut.
Keisha Azalea Pramesti berdiri di dekat balkon kaca transparan yang menghadap langsung ke panorama cakrawala ibu kota. Ia mengenakan gaun malam panjang berwarna rose gold berpotongan mermaid dengan sulaman kristal halus yang berkilau setiap kali terkena pantulan cahaya lampu. Rambut cokelat panjangnya ditata rapi dalam gaya chignon elegan, memperlihatkan jenjang lehernya yang indah serta anting berlian kecil yang memancarkan kemewahan bersahaja.
Langkah kaki tegap mendekat dari arah belakang. Aroma khas cedarwood yang sangat ia kenal menyapa indra penciumannya sebelum sepasang lengan kokoh melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuhnya bersandar nyaman ke dada bidang sang suami.
"Kau melamun lagi, Ratu-ku," bisik Alexander Ar-Rasyid parau, suaranya yang rendah dan hangat bergema lembut di telinga Keisha. "Apakah malam kemenangan ini masih kurang meriah untukmu, hingga kau lebih memilih menatap lampu-lampu kota di luar sana?"
Keisha tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya ke bahu Alex. Jemari lentiknya meraba tangan suaminya yang melingkar posesif di pinggangnya. "Aku tidak sedang melamun, Alexander. Aku hanya meresapi ketenangan ini. Rasanya baru kemarin kita berdiri di ruangan yang sama dengan segala ancaman, kecurigaan, dan intrik kotor yang siap meledak kapan saja."
Alex mengecup lembut puncak kepala istrinya, menyalurkan kehangatan yang begitu mendalam. "Badai itu sudah berlalu, Keisha. Tidak ada lagi Victor, tidak ada lagi Marc Laurent, dan sekarang, bahkan bayangan Richard Vance di Eropa sudah dibekukan selamanya oleh otoritas hukum. Dunia kita sekarang aman sepenuhnya."
Keisha berbalik secara perlahan di dalam dekapan suaminya, lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher Alex. Manik mata cokelatnya menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria yang telah menjadi seluruh hidupnya.
"Kau berjanji tidak akan ada lagi rahasia di antara kita, kan?" goda Keisha dengan binar mata penuh jenaka, meskipun ada ketulusan mutlak di balik kalimatnya.
Alex tersenyum miring—senyuman menawan yang selalu berhasil membuat jantung Keisha berdegup kencang bahkan setelah bertahun-tahun pernikahan mereka. Ia merunduk sedikit, mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
"Satu-satunya rahasiaku adalah seberapa besar rasa cintaku padamu yang terus bertambah setiap hari, Keisha," bisik Alex sungguh-sungguh, suaranya sarat akan emosi yang begitu tulus. "Dan itu bukan rahasia lagi, karena kau adalah pemilik mutlak dari seluruh jiwa dan raga ini."
Mereka berdua menyatukan bibir dalam sebuah ciuman yang manis, hangat, dan penuh rasa syukur. Diiringi alunan musik orkestra yang lembut dari sudut ruangan, ciuman itu menjadi simbol kemenangan sejati atas segala air mata, perjuangan, dan cinta yang diuji oleh waktu.
Beberapa meter dari tempat mereka berdiri, di dekat meja jamuan makan malam, Theodore Vance berbincang akrab dengan beberapa direktur senior perbankan nasional. Pria tua asal Swiss itu mengangkat gelas champagne-nya, lalu menatap ke arah Alexander dan Keisha yang tengah berpelukan mesra di dekat balkon.
"Mereka benar-benar pasangan yang luar biasa," puji Theodore kepada rekan bicaranya. "Alexander membangun fondasi baja korporasi, sementara Keisha memberikan jiwa dan estetika yang membuat imperium itu tak terkalahkan. Tidak ada dinasti bisnis lain di Asia yang mampu menandingi kekuatan mereka saat ini."
Para tamu di sekitar Theodore mengangguk setuju, memberikan tatapan kagum bercampur hormat kepada pasangan CEO dan desainer ternama tersebut.
Di tengah suasana pesta yang begitu harmonis, tiba-tiba pintu utama aula perjamuan terbuka lebar. Siska, sekretaris pribadi Alexander, melangkah masuk dengan langkah cepat namun tetap tenang. Ia berjalan langsung menghampiri tempat Alex dan Keisha berdiri, membawa sebuah map kulit hitam tipis.
Alex melepaskan rangkulannya perlahan, menoleh ke arah sekretaris setianya dengan tatapan tajam penuh antisipasi. "Ada laporan apa lagi, Siska? Apakah ada pergerakan mencurigakan dari sisa aset Meridian Capital?"
Siska membungkuk hormat sejenak sebelum menyerahkan map tersebut kepada sang CEO. "Bukan ancaman baru, Tuan Alexander. Ini adalah laporan resmi dari departemen hukum kejaksaan agung yang baru saja masuk satu jam lalu mengenai status aset sitaan."
Alex membuka map tersebut dengan gerakan tenang, membaca lembar demi lembar dokumen resmi berstempel basah. Di sampingnya, Keisha ikut melirik isi dokumen tersebut.
"Seluruh aset properti komersial bekas milik faksi Victor Ar-Rasyid dan jaringan Meridian Capital di kawasan Menteng dan Jakarta Selatan..." baca Alex dengan suara bariton rendahnya, "...telah dialihkan sepenuhnya atas putusan pengadilan kepada yayasan amal independen dan... sebagian besar dihibahkan secara resmi atas nama Azalea Label Foundation."
Keisha membelalakkan matanya kaget, menatap suaminya dengan ekspresi tak percaya. "Dihibahkan atas nama Azalea Label Foundation? Seluruh aset properti komersial itu bernilai ratusan miliar rupiah, Alex!"
Alex menutup map tersebut, lalu melirik istrinya dengan senyuman tipis yang penuh arti. "Julian dan Victor mencoba merebut tanah tempat galeri senimu berdiri melalui cara-cara kotor. Jadi, sudah sepantasnya jika seluruh aset jarahan mereka disita oleh negara dan dikembalikan untuk memperluas galeri serta pusat pendidikan seni mudamu."
Keisha merasakan dadanya bergemuruh hebat. Rasa haru dan bangga bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Ia tidak menyangka suaminya akan merancang langkah hukum yang begitu telak—bukan hanya menghancurkan musuh secara finansial, tetapi juga mengubah reruntuhan keserakahan mereka menjadi monumen kebaikan dan kejayaan bagi dunia seni yang dicintainya.
"Kau benar-benar pria yang mengerikan sekaligus paling luar biasa di dunia ini, Alexander Ar-Rasyid," ucap Keisha tulus, manik matanya berkaca-kaca karena rasa bahagia yang meluap-luap.
Alex meraih tangan kanan Keisha, mencium jemari wanita itu dengan penuh takzim di hadapan para tamu undangan yang mulai memperhatikan mereka. "Aku hanya memastikan bahwa segala hal di dunia ini berputar pada poros yang seharusnya, Ratu-ku."
Ketua dewan direksi Ar-Rasyid Group mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, lalu meminta perhatian seluruh tamu di dalam ruangan melalui mikrofon kecil.
"Hadirin sekalian," suara sang ketua direksi menggema hangat ke seluruh penjuru aula. "Mari kita angkat gelas kita untuk merayakan bukan hanya kemenangan korporat kita hari ini, tetapi juga untuk menghormati dua sosok luar biasa yang telah membuktikan bahwa integritas, ketulusan, dan cinta sejati adalah mahkota tertinggi dari dinasti Ar-Rasyid. Untuk Tuan Alexander dan Nyonya Keisha!"
"Untuk Alexander dan Keisha!" seru seluruh tamu serempak mengangkat gelas mereka, diiringi tepuk tangan meriah yang bergemuruh memenuhi ruangan.
Alex dan Keisha saling berpandangan, menyunggingkan senyuman paling bahagia di sepanjang hidup mereka. Di bawah cahaya ribuan lampu kristal dan langit malam Jakarta yang tenang, lembaran baru dalam buku kehidupan mereka terbuka lebar—bukan lagi sebagai cerita tentang kontrak pernikahan paksa di atas kertas kumal, melainkan sebagai legenda abadi tentang raja dan ratu yang menaklukkan dunia bersama-sama, melangkah pasti menuju masa depan tanpa batas yang terbentang di hadapan mereka.