azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga belas
Sejak kejadian itu memang kiano benar-benar menjaga jarak dari azalea, pembicaraan mereka malam itu adalah pembicaraan terakhir yang cukup intens antara mereka.
Usia rania sudah 7 bulan, bayi itu sudah bisa duduk sendiri, pipi gempalnya semakin gembul saja.
Penampilan azalea juga semakin terlihat feminim, rambutnya sudah sebahu panjangnya. Gadis itu juga tak pernah menanggalkan jilbabnya jika keluar rumah. Yah, walau sekarang dirinya sudah sangat jarang keluar dengan kiano.
Pria itu semakin menjaga jarak darinya, azalea tahu kiano hanya tak ingin kejadian seperti malam saat pria itu mabuk terulang lagi.
Walau azalea memakluminya, namun entah mengapa hatinya sakit. Azalea semakin menyadari kalau posisinya di hadapan pria itu hanyalah ibu sambung putrinya.
"mammaa, mammaaa"
Azalea tersentak kaget, mengamati rania yang melonjak-lonjak di atas baby walkernya, alisnya saling tertaut.
"rara ngomong apa barusan nak?"
Azalea mendekati bayi itu yang semakin riang melonjak-lonjak.
"mammmaaa.."
Bola mata azalea berpendar indah, membelalak tak percaya. Ucapan pertama bayi itu memanggilnya.
"ohhh sayang" seru azalea sontak mengangkat rania dari baby walker. Bola mata gadis itu berkaca-kaca terharu, rania memanggilnya mama.
"mbak na!, rara mulai bisa bicara, rara memanggilku mama, mbak" bisik azalea lirih, sudut matanya semakin basah.
Azalea menciumi rania bercampur tangisan haru dan rindu pada kakaknya.
Azalea masih larut dalam kebahagiaan dan rasa haru tidak menyadari kehadiran seseorang yang masuk ke ruang keluarga itu.
"selamat siang"
Azalea tersentak kaget, menoleh. Keningnya mengerut. Bukankah itu sarah, wanita ganjen yang kiano bilang sekretarisnya itu.
"saya ucapin salam tadi, nggak ada yang jawab saya fikir kalian kenapa-kenapa"
"ada apa?" tanya azalea dingin, ia meletakkan rania ke dalam baby walkernya kembali.
Kedua tangannya bersidekap, tanpa sadar azalea bersikap defensif. Sejujurnya azalea tidak menyukai perempuan ini, karena tanpa malu sarah menunjukkan ketertarikannya pada kiano.
Sarah, wanita itu tersenyum manis, walau di mata azalea terlihat mengejek. Tanpa menunggu tawaran azalea untuk duduk, dengan santainya wanita itu mencangkung di depan rania.
"apa kabar anak cantik?"
Alis azalea semakin tertaut, saat wanita itu mendongak, azalea sama sekali tidak merubah raut wajahnya. Azalea tidak suka berbasa-basi dan berpura-pura.
"saya diminta mas kian untuk ambil salin baju untuknya" perlahan sarah berdiri, lalu duduk di sofa dengan mengangkat sebelah kaki menimpa kaki lainnya.
Posisinya terasa sangat memprovokasi, namun azalea memilih tidak menggubris, ia mencangkung di depan rania dan mengangkat rania ke dalam gendongannya.
"mas kian nggak pulang lagi?" tanyanya lirih, azalea tidak melihat ke arah sarah sama sekali, seakan ia bertanya pada dirinya sendiri.
"he-eh" angguk sarah menyebalkan, ada senyum sinis yang tertahan.
"perusahaan sedang sibuk, karena akhir tahun"
Azalea menoleh, namun gadis itu tak bereaksi apapun. Sudah 4 hari kian tidak tidur di rumah, biasanya pria itu hanya mengirim pesan padanya, meminta azalea mengirimkan pakaian untuknya via kurir.
Namun mengapa kali ini, pria itu meminta sekretaris ganjennya ini datang ke rumah. Apakah kiano benar-benar tidak perduli akan permintaannya 3 bulan yang lalu.
"kenapa tidak via kurir saja, seperti biasa?"
Sarah mengedikkan bahu dengan raut wajah menyebalkannya.
"mungkin mas kian ingin melihatku dekat dengan putri cantiknya itu" ujarnya dengan menunjuk rania yang ada di gendongan azalea dengan dagunya.
Bola mata azalea menyipit sinis, menatap sarah penuh permusuhan.
"oh yah, btw. Mas kian udah cerita padaku tentang pernikahan pura-pura kalian"
Wanita itu tersenyum tipis, terlihat sinis. Azalea malah melihatnya lebih mirip sebuah seringaian pamer.
"bukankah mas kian akan menceraikanmu jika rara berusia 2 tahun?" nada suara wanita itu semakin menjadi-jadi, terdengar tawa memprovokasi dengan nada menyepelekan azalea keluar dari bibirnya yang merah merona, matanya yang bermaskara tebal menatap azalea dengan tatapan iba.
"sebaik itu mas kian padaku, dia nggak ingin membiarkan aku capek mengurus rara dari bayi merah"
"sudah?" tanya azalea dengan raut malasnya, sarah terlihat bingung, perempuan itu masih menatap azalea.
"yappingnya sudah?"
Wajah sarah seketika memerah, sepertinya wanita itu tersinggung.
"kalau sudah, aku akan siapkan salin mas kian"
Tanpa menunggu jawaban sarah, azalea meninggalkan wanita itu yang menghentakkan kakinya kesal.
Matanya menatap nyalang azalea, sungguh azalea tipe gadis yang tangguh. Gadis itu tidak terprovokasi sama sekali oleh ucapan dan tingkahnya.
Sarah masih kesal, bagaimanapun ia takut kiano akan tertarik pada azalea. Dia nggak boleh kalah, mungkin dengan naima dulu, dirinya merasa kalah cepat. Tapi dengan azalea, sarah tidak akan membiarkan kesempatan yang sudah ditunggunya sejak lama hilang begitu saja.
Sarah tersentak kaget, azalea meletakkan pakaian kiano tepat di sampingnya, gadis itu menatap sarah sinis dengan ekor matanya.
"tolong sampaikan ke mas kian, besok kalau nggak pulang lagi. Biar aku kirimkan pakaiannya lewat kurir saja, nggak usah kamu jemput kemari"
Sarah sudah membuka mulutnya, tapi azalea sudah berlalu meninggalkannya begitu saja.
Lagi-lagi sarah menghentakkan kakinya kesal, sepertinya jalan untuk mendekati kiano dan rania tidak akan mudah.
Sarah meraih pakaian kiano, dengan melangkah panjang dan sedikit gusar, sarah meninggalkan rumah itu tanpa pamit, azalea masuk ke kamarnya begitu saja tanpa ucapan apapun.
Azalea menyambar ponsel dari atas meja riasnya, menggulir kontak dengan sedikit kasar. Mencari nama kiano, beberapa kali azalea mendengus kesal.
'kalau mas kian nggak bisa menghargai aku, paling tidak hargai janji yang mas kian ucapkan'
Tanpa menanti balasan pria itu, azalea meletakkan ponselnya di atas meja. Dengan kesal azalea duduk bersimpuh di lantai, merapikan pakaian rania. Perlahan air matanya luruh, rasa sakit di dadanya terasa menyesakkan.
Azalea tak menduga perasaan yang ia miliki untuk kiano bisa sesakit ini, azalea tak kuasa menahan air matanya, tanpa sadar suara tangisannya terdengar pilu.
Azalea menangisi hatinya yang malang, yang tak sadar diri berani-beraninya jatuh cinta pada pria yqng jelas-jelas tak pernah menganggapnya wanita.
"drrrrttttt, drrrrttttt" suara getaran dari ponsel di atas meja, menyentakkan azalea dari tangisan pilunya.
Perlahan azalea meraih ponselnya tanpa berdiri, matanya memicing. Panggilan dari kiano, apa pria ini menghubunginya karena pesan yang ia kirim tadi.
["assalamualaikum za"]
Azalea mengernyitkan keningnya, suara kiano terdengar panik.
["za.."]
"ada apa mas?" jawab azalea dengan suara seraknya.
["bapak dan ibu sedang otw ke rumah za, aku sebentar lagi pulang, usahakan kamu pindah ke kamarku segera zaaa"]
"hah?" mata azalea membeliak kaget, sangking kagetnya azalea sampai lupa kalau dia sedang kesal pada kiano.
"serius mas?"
["serius zaa, tadi aku minta tolong supir kantor menjemput bapak dan ibu ke terminal, buruan pindahin barang kamu ke kamarku"]
"mati aku" seru azalea, sontak berdiri."mas aku matiin yah, aku beberes dulu"
["iya zaaa, buruan. 5 menit lagi aku sampai rumah"]
Azalea pontang panting merapikan seluruh pakaian dan skincare, dengan lincah memindahkan semuanya ke dalam kamar kiano.
Matanya mengitari kamarnya bersama rania itu, setelah memastikan bahwa tidak ada lagi barang pribadinya di kamar, azalea menyemprotkan parfum ruangan untuk menyamarkan aromanya yang tertinggal di kamar itu.
Azalea menarik pintu kamar, bersamaan dengan suara salam dari luar.
"walaikumussalam" sahut azalea riang, kedua orangtuanya dan kiano yang ternyata bersamaan sampai sudah berada di ruang tengah, di depan buaian rania yang masih tertidur pulas.
Azalea salim dengan takzim, mencium punggung tangan kedua orangtuanya itu.
"ibu kangen, nduk" peluk buk danila erat ke tubuh putri bungsunya itu. "apa ini?" buk danila menyentuh kunciran azalea, terdengar tawa kecilnya senang.
"bapak dan ibu pasti capek, istirahat saja dulu!" ujar kiano menyela pembicaraan, pria itu tiba-tiba menoleh ke arah azalea.
"kamar untuk bapak dan ibu sudah beres?, sayang!"
Azalea terbelalak kaget, bola matanya membulat sempurna. Kiano yang menyadari kalau azalea terkejut, dengan lincah menarik tubuh mungil itu ke dalam rengkuhan tangannya, kiano memeluk pundak azalea.
"kamar untuk bapak dan ibu sudah beres?"
"sudah mas" sahut azalea dengan suara tercekat dan nafas tertahan.
Bersambung...
.