PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
BAB 33 — KEMBALI KE TEMPAT KELAHIRAN
Pagi datang dengan suasana yang berbeda.
Tidak ada lagi rasa tenang seperti biasanya.
Sejak panggilan Arven semalam, seluruh rumah persembunyian menjadi lebih sunyi.
Semua orang sibuk mempersiapkan perjalanan.
Ergan memeriksa perlengkapan keamanan.
Beberapa anggota keamanan memastikan kendaraan sudah siap.
Sementara itu...
Eiri berdiri di depan jendela kamar.
Menatap langit yang mulai cerah.
Tangannya menggenggam gelang perak kecil yang ditemukan di dalam kotak kayu.
Gelang itu terlihat sederhana.
Namun entah kenapa...
Benda kecil itu terasa sangat berarti.
"Jadi ini milikku sejak bayi..."
Bisiknya.
Selama bertahun-tahun, Eiri selalu berpikir dirinya tidak memiliki apa pun dari masa kecilnya.
Tidak ada foto.
Tidak ada kenangan.
Tidak ada benda yang tersisa.
Tapi sekarang...
Semuanya mulai kembali.
Tok...
Tok...
Pintu kamar diketuk.
"Eiri."
Suara Mahendra terdengar.
Eiri segera menyimpan gelang itu.
"Masuk."
Mahendra masuk perlahan.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam.
Mahendra melihat wajah Eiri yang terlihat lebih kuat dari sebelumnya.
"Kau yakin ingin pergi?"
Eiri menatapnya.
"Aku takut."
Mahendra sedikit terkejut.
Karena Eiri jarang mengatakan hal itu.
"Aku takut menemukan sesuatu yang tidak bisa aku terima."
Ia menunduk.
"Tapi aku lebih takut jika aku terus hidup tanpa mengetahui kebenaran."
Mahendra berjalan mendekat.
"Kau tidak harus menghadapi semuanya sendiri."
Eiri menatapnya.
"Kenapa kau selalu ada untukku?"
Mahendra terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun jawabannya sangat dalam.
"Karena sejak awal..."
"Aku tidak pernah ingin melihatmu terluka."
Eiri tersenyum kecil.
"Mahendra..."
"Hmm?"
"Terima kasih."
Mahendra hanya mengangguk.
Namun tatapannya menunjukkan sesuatu yang tidak ia ucapkan.
---
Beberapa jam kemudian...
Rombongan mereka meninggalkan rumah persembunyian.
Perjalanan menuju Pulau Arkan membutuhkan waktu berjam-jam.
Sebuah kapal besar sudah menunggu di pelabuhan pribadi.
Eiri berdiri di depan kapal.
Menatap lautan luas di depannya.
"Aku pernah datang ke sini?"
Tanyanya.
Alena yang berdiri di sampingnya mengangguk.
"Ya."
"Namun saat itu kau masih bayi."
Eiri melihat Alena.
"Kenapa aku tidak tinggal di sana?"
Wajah Alena berubah sedih.
"Karena malam itu..."
"Terjadi pengkhianatan besar."
Mahendra menoleh.
"Pengkhianatan?"
Alena mengangguk.
"Ada seseorang dari dalam pulau yang membantu Arven."
"Dia memberikan informasi tentang keberadaan keluarga Eiri."
Ergan mengepalkan tangan.
"Jadi selama ini ada pengkhianat?"
"Ya."
Jawab Alena.
"Dan sampai sekarang..."
"Kami tidak pernah tahu siapa orangnya."
Suasana kembali hening.
Kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan.
---
Setelah perjalanan panjang...
Pulau itu mulai terlihat.
Sebuah pulau besar dengan pepohonan lebat dan bangunan tua di tengahnya.
Eiri berdiri diam.
Anehnya...
Saat melihat pulau itu...
Dadanya terasa sesak.
Seperti ada bagian dari dirinya yang mengenali tempat tersebut.
"Kita sudah sampai."
Kata Alena.
Ketika kaki Eiri menyentuh tanah pulau itu...
Tiba-tiba kepalanya terasa sakit.
Sebuah bayangan muncul.
Suara seorang wanita.
Tangisan bayi.
Dan suara pria yang berteriak.
"Lindungi dia!"
Eiri langsung memegang kepalanya.
"Eiri!"
Mahendra segera menangkap tubuhnya.
"Eiri, kau baik-baik saja?"
Napas Eiri memburu.
"Aku..."
"Aku melihat sesuatu."
Alena mendekat.
"Apa yang kau lihat?"
Eiri menatapnya.
"Ayahku."
"Dia sedang menggendongku."
"Dan dia mengatakan..."
Eiri berhenti.
"Apa?"
Alena bertanya pelan.
Eiri menatap bangunan tua di depan mereka.
"Dia berkata..."
"Jangan biarkan mereka menemukan darah terakhir Arkan."
Semua orang terdiam.
Mahendra mengerutkan kening.
"Darah terakhir Arkan?"
Alena menatap Eiri dengan wajah pucat.
"Jadi..."
"Ingatanmu mulai kembali."
Eiri menatap Alena.
"Apa maksudnya?"
Alena menarik napas panjang.
"Lima belas tahun lalu..."
"Ayahmu tidak hanya melindungimu karena kau anaknya."
"Ia melindungimu karena kau adalah..."
"Ahli waris terakhir Pulau Arkan."
Mata Eiri membesar.
Namun sebelum ia sempat bertanya...
Suara tepuk tangan terdengar dari belakang.
Perlahan...
Semua orang berbalik.
Arven berdiri di sana.
Dengan senyum tipis di wajahnya.
"Selamat datang kembali..."
Datang kamana? Komen lah..
"Putri kecil Arkan."
Bersambung...