NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

Dinginnya lantai semen basemen seolah menembus hingga ke dalam tulang.

Sienna terbangun bahkan sebelum alarm di jam waker tua di atas meja kayu kecil berdering. Jam menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh lima menit pagi. Di luar, suara sisa-sisa hujan semalam masih terdengar menetes teratur dari talang air mansion.

Ia mendudukkan dirinya di atas kasur tipis, mengelus pelan pipi kirinya yang masih terasa agak bengkak dan perih. Setiap senyut nyeri di wajahnya menjadi pengingat yang konstan akan posisinya di tempat ini. Ia bukan lagi seorang narapidana di sel nomor 512, melainkan seorang tawanan di bawah pijakan kaki Frederick Nicolas Vance.

Sienna segera membasuh wajahnya di kamar mandi kecil di sudut kamar, merapikan seragam pelayan abu-abunya, lalu mengikat rambut cokelat keemasannya dengan rapi. Sebelum melangkah keluar pintu, ia merogoh saku seragamnya, menyentuh permukaan foto kecil ayahnya yang terlipat rapi.

"Ayah, beri Anna kekuatan untuk bertahan hari ini," bisiknya dalam hati seraya memejamkan mata

Koridor basemen masih remang-remang saat Sienna berjalan menuju dapur utama. Namun, cahaya hangat dan aroma mentega tumis serta kopi segar sudah menyeruak dari arah pintu yang terbuka separuh.

Di dalam dapur, sosok wanita paruh baya berapron putih bersih sedang sibuk memotong sayuran.

"Selamat pagi, Grace," sapa Sienna pelan dari ambang pintu, berhati-hati agar tidak mengejutkan wanita itu.

Grace menoleh, lalu menyunggingkan senyum hangat yang sedikit mengurangi hawa dingin yang mengepung dada Sienna sejak semalam. Sosok ibu tua yang matanya menyimpan kelembutan di tengah rumah yang gersang ini.

"Selamat pagi, Nak," jawab Grace lembut. Ia meletakkan pisau dapurnya dan menghampiri Sienna, matanya langsung tertuju pada sudut bibir Sienna yang memar. Grace mendesah pendek, raut wajahnya dipenuhi rasa iba. "Pipi itu... harus diolesi salep kompres. Tunggu sebentar."

Grace melangkah ke lemari penyimpanan dapur, mengambil sebuah tempat kecil berisi salep herbal. Dengan jemari yang cekatan namun sangat berhati-hati, ia mengoleskan krim dingin itu ke pipi Sienna.

Sienna sempat meringis sedikit, namun rasa dingin salep itu membawa sedikit kelegaan pada lukanya. "Terima kasih, Grace."

"Tuan Nicolas selalu bangun tepat pukul lima pagi," bisik Grace seraya mengembalikan botol salep ke lemarinya.

"Beliau akan berolahraga di ruang kebugaran lantai tiga selama satu jam, lalu minum teh hijau tanpa gula sebelum mandi. Kau yang harus menyiapkan teh itu dan mengantarnya ke lantai tiga tepat pukul enam."

Sienna mengangguk teliti, mencatat setiap detail instruksi itu di dalam kepalanya. "Teh hijau tanpa gula. Pukul enam."

"Dan ingat," lanjut Grace dengan nada bicara yang semakin merendah, "jika kau bertemu dengan Pak Vincent di lantai atas, turuti instruksinya. Pak Vincent adalah pengawal paling senior di sini. Beliau sudah mengabdi sejak almarhumah Nyonya Christina masih ada. Beliau tegas, tapi beliau mengerti mana batas hukum dan mana yang sekadar pelampiasan amarah."

"Pak Vincent..." Sienna mengingat pria paruh baya bertubuh tegap yang menyambutnya di pelataran semalam. "Aku mengerti, Grace."

"Satu hal lagi, Sienna," Grace menggenggam kedua tangan Sienna yang dingin. Matanya menatap lurus ke dalam mata cokelat Sienna.

"Nyonya Claudia biasanya turun ke ruang makan pukul tujuh pagi bersama Tuan Muda Liam. Sebisa mungkin, hindari berada di area utama saat mereka ada di sana. Rumah ini seperti kolam racun; semakin sedikit kau menyentuh airnya, semakin aman dirimu."

Peringatan Grace terdengar sangat jelas. Sienna bisa merasakan bahwa ketegangan di mansion ini bukan hanya berasal dari dendam Nico padanya, melainkan ada perang dingin yang tak kasatmata di antara penghuni rumah kaya raya ini.

Pukul lima lewat empat puluh lima menit.

Sienna berdiri di depan meja dapur, memperhatikan uap tipis yang membumbung dari cangkir porselen putih berisi teh hijau hangat. Ia meletakkan cangkir itu di atas nampan perak yang telah disiapkan Grace, lalu menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian.

Langkah kakinya menaiki tangga melingkar menuju lantai tiga terasa begitu berat. Setiap pijakan seolah menuntut tenaga ekstra dari tubuhnya yang lelah. Lantai tiga mansion Vance adalah area pribadi, berdiri dari ruang kebugaran, kolam renang indoor, dan area ruang kerja.

Saat Sienna melangkah menyusuri lorong berlantai marmer hitam yang dingin, suara debukan keras bertubi-tubi bergema dari balik pintu kaca berburam di ujung koridor.

Brak! Brak! Brak!

Sienna berhenti sejenak. Itu adalah suara pukulan ritmis yang bertenaga menghantam sandsack.

Dengan tangan gemetar, Sienna memutar gagang pintu kaca itu dan melangkah masuk ke dalam ruang kebugaran.

Udara di ruangan itu terasa hangat dan pekat oleh aroma peluh. Di tengah ruangan, Nico berdiri hanya dengan mengenakan celana olahraga hitam. Tubuh bagian atasnya bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot punggung dan dadanya yang terbentuk sempurna, dilapisi lapisan tipis keringat yang berkilat di bawah lampu ruangan. Tangannya terbungkus handwrap hitam yang sudah agak basah.

Nico meluncurkan serangkaian pukulan kombinasi ke sandsack berat di hadapannya. Setiap tinjuan memancarkan kekuatan mentah dan amarah yang meledak-ledak, seolah-olah pria itu sedang melampiaskan dendam yang tak pernah usai pada benda mati tersebut.

Sienna mematung di dekat pintu, menggenggam nampannya erat-erat. Ia merasa canggung dan terintimidasi oleh aura maskulin yang begitu dominan dari pria itu.

"T-Tuan Vance..." panggil Sienna pelan, suaranya hampir tertelan oleh deru napas Nico yang memburu.

Pukulan Nico terhenti seketika. Samsak berat di hadapannya berayun pelan. Pria itu menyapu keringat di dahinya dengan lengan bawahnya, lalu perlahan memutar tubuhnya menghadap Sienna.

Dada Nico naik-turun cepat. Matanya yang berwarna kelabu gelap menatap Sienna dengan tajam dari atas ke bawah.

"Kau terlambat dua menit," kata Nico, suaranya serak dan dalam akibat latihan berat.

Sienna menurunkan pandangannya ke arah lantai. "Maafkan saya Tuan. Teh hijau Anda sudah siap."

Nico melangkah mendekat. Langkah kakinya yang tanpa alas sepatu tidak menimbulkan suara sedikit pun di atas matras olahraga. Ia mengambil handuk putih yang menggantung di tepi matras, menyapu keringat di leher dan dadanya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari wajah pucat Sienna.

Nico berhenti tepat di depan Sienna. Hawa panas dari tubuhnya merambat naik, mengalahkan dinginnya udara pendingin ruangan.

"Kenapa pipimu diolesi krim itu?" tanya Nico mendadak. Tangannya terulur, jemarinya yang masih terbungkus handwrap kasar menempel tepat di bawah dagu Sienna, memaksa wajah wanita itu mendongak.

Sienna meringis pelan saat kain kasar handwrap itu menggesek kulit sensitif di dekat lukanya. "Grace... Grace yang mengoleskannya pagi tadi, Tuan."

Mata kelabu Nico berkilat dingin saat mendengar nama pelayan seniornya. "Aku tidak pernah memberi izin pada siapa pun di rumah ini untuk merawat lukamu."

"Maafkan saya, Tuan Vance... Grace hanya..."

"Tugasmu di sini adalah menerima rasa sakit, bukannya mencari simpati dari pelayan lain," potong Nico tanpa perasaan. Tangannya menekan dagu Sienna sedikit lebih keras sebelum melepaskannya dengan kasar.

Nico mengambil cangkir teh dari atas nampan perak yang dipegang Sienna. Ia menyesap teh hijau itu sedikit, lalu tanpa peringatan, meletakkan kembali cangkir yang masih panas itu ke atas nampan dengan gerakan sengaja yang memicu cipratan air teh mengenai punggung tangan Sienna.

Sienna tersentak, menahan pekikan perih saat cairan panas itu membakar kulit punggung tangannya yang halus. Namun ia tetap berdiri tegak, memegang nampan itu agar tidak jatuh.

Nico memperhatikan reaksi Sienna dengan tatapan dingin tak tersentuh. "Bawa nampan ini turun. Dan pastikan seluruh jendela di ruang perpustakaan lantai satu sudah dibersihkan sebelum pukul delapan."

"Baik... Tuan Vance," bisik Sienna seraya menunduk rapat, menahan rasa panas yang memerah di punggung tangannya.

Saat Sienna berbalik untuk melangkah keluar, sesosok pria tegap berdiri di ambang pintu ruangan.

Pak Vincent.

Pengawal senior itu menatap Sienna sejenak, memperhatikan kulit tangan Sienna yang memerah serta luka di pipinya. Pak Vincent lalu mengangguk tipis pada Sienna, sebuah isyarat tanpa suara agar gadis itu segera pergi dari sana.

Sienna bergegas melewatinya dan melangkah cepat menuruni tangga.

Di dalam ruang kebugaran, Pak Vincent berjalan mendekati Nico yang sedang melepaskan handwrap dari jemarinya.

"Ada laporan baru dari panti jompo Nenek Elena, Tuan Nicolas," kata Pak Vincent dengan suara berat dan tenang.

Nico tidak menoleh. "Bagaimana kondisi wanita tua itu?"

"Kesehatannya stabil, namun ingatan beliau semakin memburuk. Beliau terus-menerus memanggil nama anak laki-lakinya dan nama Sienna," terang Pak Vincent. Ia jeda sejenak sebelum menambahkan, "Pengawas kami di sana melaporkan bahwa tidak ada pergerakan mencurigakan dari pihak luar."

Nico melemparkan handwrap-nya ke atas meja kecil. "Tetap awasi tempat itu. Jangan biarkan Sienna memiliki akses sekecil apa pun untuk menghubungi wanita tua itu tanpa seizin dariku."

"Baik, Tuan." Pak Vincent ragu sejenak, namun kemudian kembali bersuara. "Tuan... bolehkah saya menyampaikan satu hal?"

Nico memicingkan matanya, menatap pengawal lamanya itu. "Bicaralah, Pak Vincent."

"Saya telah berada di sisi Anda sejak mendiang Nyonya Christina masih ada," kata Pak Vincent perlahan dan penuh kehati-hatian.

"Saya tahu betul penderitaan yang Anda tanggung selama sebelas tahun ini. Namun... mengenai gadis Sinclair itu, evaluasi dari lembaga pemasyarakatan menyatakan bahwa selama sebelas tahun ia tidak pernah sekali pun menunjukkan perilaku agresif atau kriminal."

"Apa maksudmu?" suara Nico mendadak turun satu oktaf, menjadi sangat berbahaya.

"Maksud saya, Tuan... apakah Anda yakin tidak ada detail yang terlewat dari malam kejadian itu? Pada saat kejadian, gadis itu baru berusia tiga belas tahun-"

"Cukup, Pak Vincent!" bentak Nico keras, suaranya menggema di seluruh ruang kebugaran. Pria itu melangkah maju dengan mata memerah oleh amarah yang meletup. "Aku melihatnya dengan mataku sendiri. Tangan berdarah milik gadis itu memegang senjata yang menembak mati ibuku. Jangan pernah sekali pun kau mencoba membela keluarga kriminal itu di hadapanku!"

Pak Vincent langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maafkan saya, Tuan Nicolas. Saya tidak bermaksud meragukan Anda."

Nico bernapas berat, dadanya naik-turun melampiaskan emosi yang meledak. "Tinggalkan aku sendiri."

"Baik, Tuan." Pak Vincent memberi hormat penuh hormat lalu mundur perlahan meninggalkan ruangan, meninggalkan Nico dalam kesunyian yang membakar.

Nico memegang tepi meja kayu dengan kedua tangannya, memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan malam itu kembali menerjang benaknya seperti badai, tubuh ibunya yang tak bernyawa, genangan darah di rumput, dan wajah Sienna kecil yang memegang pistol.

Dia bersalah, bisik Nico dalam hatinya, berusaha meyakinkan jiwanya yang mendadak goyah. Dia harus membayar semuanya.

Sementara itu, di ruang makan utama lantai satu yang megah, suasana pagi terasa sangat kaku.

Claudia Ophelia duduk di kursi utama sebelah kanan, menikmati sarapan buah zaitun dan roti panggang dengan gerakan yang sangat anggun. Di sampingnya, Liam duduk bersandar dengan malas, memainkan ponsel mewahnya tanpa menyentuh makanan di piringnya.

Suara gesekan kain seragam pelayan menarik perhatian Claudia. Matanya yang tajam menatap Sienna yang sedang membawa ember kecil dan kain lap menuju arah ruang perpustakaan di sebelah ruang makan.

Claudia menatap punggung Sienna yang menjauh, lalu menoleh pada anaknya.

"Liam," panggil Claudia dengan suara pelan namun menuntut.

Liam mendongak dari ponselnya. "Ada apa, Ibu?"

"Apakah itu perempuan yang dibawa Nicolas semalam?" tanya Claudia, dagunya terangkat sedikit ke arah lorong perpustakaan.

"Ya," jawab Liam malas seraya tersenyum miring. "Anak kurir yang katanya membunuh Tante Christina. Nico membawanya ke sini untuk dijadikan pelayan pribadi atau lebih tepatnya, tempat pelampiasan dendam."

Matanya Claudia memicing. Ada kilatan kecemasan yang sangat halus berkelebat di balik sepasang mata indahnya, namun wanita itu dengan cepat menyembunyikannya di balik senyuman dingin.

"Kenapa Nicolas tidak membiarkannya membusuk di luar sana saja?" gumam Claudia.

"Siapa yang tahu apa yang ada di otak gila Kakakku itu?" cibir Liam, menyandarkan sikunya di meja. "Tapi menurutku ini menarik. Nico sangat terobsesi membenci perempuan itu. Jika terjadi sesuatu pada Sienna... Nico pasti akan sangat terpukul atau makin kehilangan kendali."

Claudia menoleh pada anaknya dengan tatapan tajam dan penuh peringatan. "Jangan bertindak bodoh, Liam. Jangan campuri urusan Nicolas dengan perempuan itu. Biarkan Nicolas melampiaskan amarahnya sampai puas. Semakin Nicolas terdistraksi oleh dendam pribadinya, semakin sedikit perhatian yang ia berikan pada urusan akuisisi saham perusahaan minggu depan."

Liam mendengus pelan, namun ia tidak membantah ibunya. Ia tahu betul betapa liciknya strategi ibunya dalam mengamankan posisi mereka di keluarga Vance.

"Aku mengerti, Ibu," kata Liam seraya berdiri dari kursinya. "Aku mau keluar dulu. Ada janji bertemu dengan Isabelle di kafe pusat kota."

"Ingat pesan Ibu," panggil Claudia saat Liam berjalan menjauh. "Bawa Isabelle ke pihak kita. Jika kau bisa memenangkan hati gadis dari keluarga Douglas itu, posisi kita di Vance Group akan jauh lebih kuat daripada Nicolas."

Liam hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik, melangkah keluar dari ruang makan.

Setelah Liam pergi, Claudia meletakkan cangkir tehnya. Wanita itu berdiri dari kursi dan berjalan perlahan menuju pintu perpustakaan yang terbuka sedikit.

Dari celah pintu, Claudia memperhatikan Sienna yang sedang berlutut di lantai kayu, menyapu dan membersihkan debu di sudut-sudut lemari buku yang tinggi dengan penuh kesabaran. Wajah gadis itu tampak begitu polos, dipenuhi guratan kelelahan dan ketakutan.

"Kau seharusnya tetap di penjara, Gadis Kecil," batin Claudia dengan amarah yang tersembunyi.

Di dalam perpustakaan yang sunyi, Sienna mengusap peluh di dahinya dengan lengan seragamnya.

Tangannya yang menyapu debu di kolong lemari buku tua mendadak menyenggol sesuatu di bagian paling dalam. Sienna menunduk, mengulurkan tangannya untuk mengambil benda itu.

Itu adalah sebuah bingkai foto kayu kecil yang sudah tertutup debu sangat tebal, tampaknya terjatuh dan terselip di sana bertahun-tahun lalu tanpa ada yang menyadari.

Sienna mengusap debu dari kaca bingkai foto itu dengan ujung kain lapnya.

Begitu gambar di balik kaca itu terlihat jelas, napas Sienna mendadak terhenti.

Foto itu memperlihatkan suasana sebuah pesta ulang tahun yang mewah di halaman belakang. Di dalam foto itu, terdapat sosok anak laki-laki, Nico muda dan ibunya yang tersenyum anggun. Namun bukan itu yang membuat jantung Sienna berdegup kencang hingga terasa mau melompat keluar.

Di latar belakang foto tersebut, di sudut remang-remang dekat pintu dapur luar, terlihat sosok seorang pria yang memegang kamera lensa panjang dengan lampu kilat yang menyala. Pria itu mengenakan pakaian serba hitam dengan tanda pengenal media menggantung di lehernya.

Seorang fotografer.

Sienna mengingat malam kejadian itu dengan sangat jelas. Sewaktu ia berlari mencari ayahnya di halaman belakang, ia sempat melihat kilatan cahaya kamera berulang kali dari balik semak-semak dekat kolam ikan sebelum suara letusan senjata pecah.

"Fotografer itu, Dia ada di sana malam itu. Dia memotret segalanya," batin Sienna gemetar hebat.

Sebelum Sienna sempat meneliti foto itu lebih jauh, suara langkah kaki yang berat dan tegas mendadak terdengar dari arah pintu perpustakaan.

"Apa yang sedang kau lakukan di sana?"

Suara Nico yang dingin dan menekan memecah kesunyian ruangan.

Sienna tersentak panik. Secara refleks, ia menyembunyikan bingkai foto tua itu di balik lipatan lipatan kain lap di dekat kakinya, lalu berdiri terburu-buru dengan wajah pucat pasi.

Nico melangkah masuk ke dalam perpustakaan, matanya yang tajam menatap Sienna dengan rasa curiga yang mendalam.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!