NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34. Pita di Perbatasan

Enam bulan setelah Tang Yue memberikan pita biru pertama kepada Xiao An di "Ruangan Karpet" Akademi Bunga Plum dan setelah anak itu mulai bicara lagi dan mulai membantu mencuci cangkir di dapur klinik, sebuah surat datang dari barat yang dibawa oleh seorang kurir dengan kaki yang bengkak karena berjalan tanpa henti selama dua minggu melewati jalur gunung yang berlumpur, surat yang ditulis dengan tulisan anak kecil yang tidak rapi tetapi dengan tinta yang ditekan begitu kuat sampai menembus kertas, "Kak Yue, aku pulang ke desaku di Perbatasan Batu Hitam, di sini tidak ada ruangan karpet, tidak ada pita, hanya ada orang-orang yang diam seperti aku dulu, bolehkah aku membuat satu di sini, meskipun aku baru sembilan tahun dan tidak punya banyak uang dan hanya punya satu pita biru yang Kak Yue kasih?"

Tang Yue membaca surat itu di paviliun pada pukul lima pagi sambil masih memakai selimut, dan begitu selesai, dia langsung berlari ke kamar orang tuanya tanpa mengetuk, sebuah kebiasaan yang sudah tidak dia lakukan sejak umur sepuluh tahun, "Ayah, Ibu, Xiao An mau buat Pojok Pita di perbatasan!"

Tang Hyun yang masih setengah tidur karena semalam lembur memperbaiki alat kulit untuk tabib cacat baru di selatan, duduk dengan mata mengantuk, "Di perbatasan mana?"

"Perbatasan Batu Hitam, Ayah, tempat yang paling miskin, tempat yang bahkan 'Proyek Tangan Kiri' belum sampai karena jalanannya hancur," jawab Tang Yue dengan napas terengah, "dia mau buat sendiri."

Xinyue mengambil surat itu, membacanya pelan, lalu menatap suaminya, "Ingat dulu waktu kita mulai klinik pertama? Tidak ada yang percaya. Hanya ada kita berdua dan satu panci obat yang bocor."

"Aku ingat," jawab Tang Hyun, "dan kita gagal tujuh kali."

"Maka kita bantu dia agar dia tidak perlu gagal tujuh kali," kata Xinyue, "kita kirim bahan."

Maka hari itu juga, tanpa menunggu persetujuan dewan akademi, tanpa menunggu stempel Kaisar Tang Ming, Tang Yue, Tang Hyun, dan Xinyue mengepak tiga karung besar, karung pertama berisi kain warna-warni sisa dari gudang akademi yang tidak terpakai karena warnanya terlalu mencolok, karung kedua berisi benang, gunting, dan jarum yang dibuat khusus agar bisa dipakai anak kecil, dan karung ketiga berisi teh, gula, dan buku catatan kecil yang di halaman pertamanya sudah ditulis oleh Tang Yue sendiri, "Cara membuat ruangan untuk duduk bersama, oleh Kak Yue, untuk Xiao An, agar tidak sendirian."

Tang Ming yang melihat persiapan itu hanya menggeleng sambil tertawa, "Kalian bertiga selalu membuat keputusan tanpa aku. Tapi kali ini aku ikut. Kirim pengawal dua orang, dan kirim juga kayu. Karena kalau dia mau buat Pojok Pita, dia butuh atap."

Dua minggu perjalanan yang melelahkan dengan kereta yang rodanya sering tersangkut di lumpur dan dengan malam yang harus dihabiskan di pos penjagaan yang bocor atapnya, akhirnya membawa Tang Yue dan dua pengawal ke desa Perbatasan Batu Hitam, sebuah desa yang memang sesuai namanya, tanahnya hitam, rumahnya dari batu hitam, dan wajah orang-orangnya juga hitam karena debu tambang, sebuah tempat yang tidak ada di peta istana karena terlalu kecil, dan ketika Tang Yue sampai, Xiao An sedang duduk di depan gubuknya yang setengah roboh, dengan pita biru yang sudah pudar di pergelangan tangannya, dan ketika melihat Tang Yue, dia tidak berlari, dia hanya berdiri, dan matanya yang dulu kosong sekarang berkaca-kaca.

"Kak Yue, Kak Yue datang beneran," bisiknya.

"Aku janji, kan?" jawab Tang Yue sambil berlutut agar sejajar, "kalau kau mau buat pojok, maka aku datang bantu."

Hari pertama mereka tidak membangun apa-apa, mereka hanya duduk, karena itu yang diajarkan di Kelas Luka yang Tidak Terlihat, duduk dulu, lihat dulu, dengar dulu, dan Xiao An membawa Tang Yue berkeliling desa, menunjukkan rumah-rumah yang pintunya tertutup rapat, menunjukkan sumur tempat para ibu mencuci baju tanpa bicara, menunjukkan bekas tambang tempat ayah Xiao An dulu bekerja sebelum dipenggal karena mencuri beras yang ternyata bukan untuk dijual melainkan untuk diberikan kepada anak-anak yang lapar.

"Di sini banyak yang seperti aku," kata Xiao An pelan, "tidak bicara."

Tang Yue mengangguk, "Maka kita buat tempat agar mereka mau bicara."

Hari kedua, mereka membersihkan satu sudut gubuk Xiao An yang bocor, sudut yang hanya berukuran dua kali dua meter, dan Tang Yue bersama pengawal memaku kayu yang dikirim Kaisar, menutup lubang atap dengan kain tebal, lalu menggelar tikar jerami yang dibeli dari pasar terdekat, dan di atas tikar itu mereka meletakkan teko tanah liat, dua cangkir retak, dan satu kotak kayu kecil berisi pita-pita yang sudah mereka potong semalam.

Hari ketiga, tidak ada yang datang, hanya angin yang masuk lewat celah dinding, dan Xiao An yang sudah berusaha paling keras mulai menunduk, "Mungkin... mungkin tidak ada yang mau."

Tang Yue menuang teh, meskipun tehnya dingin karena kayu bakar basah, "Ibu bilang, waktu dia pertama buka Ruangan Karpet, juga tidak ada yang datang selama seminggu. Tapi dia tetap duduk. Setiap hari. Sampai ada yang berani masuk. Jadi kita duduk."

Mereka duduk, dan di hari kelima, datang seorang nenek tua dengan punggung bungkuk, nenek yang kehilangan dua cucunya dalam longsor tambang tahun lalu dan yang sejak itu hanya duduk di depan rumah menatap batu, dan nenek itu masuk tanpa berkata apa-apa, duduk di sudut, mengambil satu cangkir teh, memegangnya dengan kedua tangan, dan menangis tanpa suara, dan Tang Yue dan Xiao An tidak bertanya, mereka hanya duduk di sampingnya, dan Xiao An, dengan tangan kecilnya, mengeluarkan satu pita kuning yang dia buat sendiri, pita yang tidak rapi, dan meletakkannya di depan nenek itu.

"Nenek boleh ambil kalau mau," bisik Xiao An, "kalau tidak mau juga tidak apa-apa."

Nenek itu mengambil pita kuning itu, menggenggamnya erat, dan untuk pertama kalinya dalam setahun, dia berbisik, "Dingin."

Tang Yue langsung mengerti, karena itu kata yang sama yang dulu Xiao An katakan, jadi dia menyelimuti nenek itu dengan kain, "Sekarang sudah tidak dingin lagi, Nek."

Sejak hari itu, "Pojok Pita Batu Hitam" mulai dikunjungi, bukan ramai, hanya satu atau dua orang sehari, ada seorang ayah yang kehilangan anak karena demam, ada seorang gadis yang dipukuli suaminya, ada seorang anak laki-laki yang tidak bisa bicara setelah melihat tambang meledak, dan mereka semua tidak disuruh cerita, mereka hanya disuruh duduk, minum teh, dan jika mau, ambil pita.

Sebulan berlalu, dan tikar jerami itu sudah penuh dengan noda teh, dinding kayu sudah penuh dengan tulisan arang dari anak-anak yang tidak bisa bicara tetapi bisa menggambar, dan kotak pita yang awalnya hanya berisi dua puluh potong sekarang sudah berisi hampir seratus, karena orang-orang desa mulai membawa kain mereka sendiri, memotongnya, dan membuat pita untuk orang lain, sebuah siklus yang bahkan Tang Yue tidak sangka akan terjadi secepat itu.

Surat laporan pertama dikirim Xiao An ke Chang'an dengan tulisan yang sudah lebih rapi, "Kak Yue, Pojok Pita sudah ada 37 pita digantung. Nenek sudah datang setiap hari. Ayah yang kehilangan anak sudah mau tersenyum. Aku sudah ajarkan cara membuat pita kepada tiga anak lain. Terima kasih."

Tang Hyun membaca surat itu di paviliun dan menunjukkan kepada Xinyue, "Lihat. Putri kita membuat sesuatu yang hidup."

Xinyue mengangguk, "Karena dia tidak mengajari cara menyembuhkan. Dia mengajari cara menemani."

Pada bulan ketiga, Kaisar Tang Ming mengirim tim inspeksi kecil ke Perbatasan Batu Hitam, bukan untuk memeriksa pajak, melainkan untuk melihat pojok itu, dan tim itu kembali dengan laporan yang membuat dewan istana terdiam, "Di desa yang paling miskin, di sudut gubuk yang bocor, ada ruangan yang setiap sore penuh dengan orang yang duduk bersama, tidak ada dokter, tidak ada obat, hanya ada teh, pita, dan seorang anak sembilan tahun yang berkata 'tidak apa-apa kalau tidak mau bicara'."

Tang Ming langsung mengeluarkan dekrit baru, bahwa setiap desa perbatasan harus memiliki "Pojok Pita" dan bahwa Xiao An, meskipun baru sembilan tahun, diangkat sebagai "Penjaga Pita Pertama", sebuah gelar kehormatan yang belum pernah ada sebelumnya, dan ketika surat dekrit itu sampai, Xiao An sedang mengajari seorang anak lain cara mengikat simpul.

Tang Yue yang sudah harus kembali ke Chang'an untuk melanjutkan sekolah, berjanji akan kembali setiap tiga bulan, dan sebelum pergi, dia memberikan satu pita baru kepada Xiao An, pita merah yang sama dengan pita milik ibunya, "Ini pita kedua untukmu, An. Karena kau sudah bukan hanya penerima. Kau sudah jadi pemberi."

Xiao An menggenggam pita merah itu, lalu mengikatnya di samping pita biru yang sudah pudar, "Aku akan jaga pojok ini, Kak. Sampai Kakak datang lagi."

Perjalanan pulang Tang Yue memakan waktu dua minggu, dan begitu sampai di Chang'an, dia langsung berlari ke akademi dan berdiri di depan kelas ibunya, "Ibu, berhasil!"

Xinyue memeluk putrinya, "Aku tahu. Karena kau berani duduk."

Malam itu, Tang Hyun, Xinyue, dan Tang Yue makan bersama, dan Tang Yue bercerita tentang nenek, tentang ayah yang kehilangan anak, tentang dinding yang penuh gambar arang, dan Tang Hyun mendengarkan dengan alat kulit di tangannya, dan dia berkata, "Dulu aku menyelamatkan putriku dengan darah. Sekarang putriku menyelamatkan orang lain dengan pita."

Xinyue menambahkan, "Dan kita semua diselamatkan oleh seorang anak sembilan tahun yang berani membuat pojok."

Di luar, bulan bersinar di atas Chang'an, dan di Perbatasan Batu Hitam yang jauh, di gubuk kecil yang atapnya masih bocor sedikit, ada lampu minyak yang masih menyala, dan di bawah lampu itu, Xiao An sedang duduk bersama nenek, dengan dua pita di tangannya, menunggu orang berikutnya yang mungkin tidak akan bicara, tetapi yang pasti tidak akan sendirian.

Sebelum tidur, Tang Yue menulis di jurnalnya, "Hari ini aku mengerti apa yang Ayah maksud dengan menyelamatkan. Menyelamatkan bukan selalu membawa keluar dari kabut. Kadang menyelamatkan adalah membuat kabut itu terasa tidak terlalu dingin, dengan duduk bersama."

Xinyue membaca tulisan itu dan tersenyum, dan Tang Hyun yang melihat dari samping berkata, "Maka kita sudah menyelamatkan banyak orang. Dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan."

Dan di Perbatasan Batu Hitam, angin membawa bau teh dingin dan bau kayu bakar, tetapi di dalam pojok itu, ada kehangatan yang tidak bisa diukur dengan termometer, kehangatan dari dua pita kecil yang berkibar di atas pintu gubuk.

1
Oppojaya
😍😍
Oppojaya
mantappppp....👍👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!