NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19. Rina mulai mencium aroma aneh dengan sahabat dekatnya

Jam istirahat siang itu, kantin kampus sudah dipenuhi hiruk-pikuk mahasiswa yang berdatangan. Aku dan Rina duduk di meja pojok yang biasa kami tempati, sepiring nasi goreng di hadapanku namun tanganku sesekali berhenti mengaduknya. Pikiranku masih melayang pada kejadian sore kemarin—saat Arga menatapku dengan tatapan yang begitu lembut dan meyakinkan, hingga seluruh keraguanku luluh lantak seketika. Bibirku tanpa sadar terangkat membentuk senyum tipis, jantungku masih terasa hangat setiap kali terbayang wajahnya.

Tiba-tiba sendok di tangan Rina berhenti bergerak. Ia menatapku lekat-lekat, dahinya sedikit berkerut seakan menemukan sesuatu yang ganjil. Aku buru-buru menurunkan pandangan, berusaha menyembunyikan senyum yang tak sengaja terukir di bibirku.

"Hei, Lisna..." suara Rina terdengar penuh selidik, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil terus menatapku. "Kamu ini... akhir-akhir ini aneh banget ya?"

Aku mengangkat wajah pura-pura bingung. "Aneh? Maksudmu bagaimana, Rin? Aku biasa saja kok."

"Biasa saja katanya?" Rina menggeleng pelan, senyum curiga mulai merekah di bibirnya. "Coba deh perhatiin sendiri. Setiap kali Pak Arga masuk ke kelas, wajahmu langsung berubah. Kamu jadi diam, gugup, dan mata kamu selalu ngikutin kemana pun dia melangkah. Belum lagi kalau dia ngomong—kamu dengerin sambil senyum-senyum sendiri. Itu biasa saja?"

Darah seketika mengalir deras ke wajahku. Panas merambat cepat ke pipi dan telingaku. Aku buru-buru menunduk, berpura-pura mengambil minum agar ia tak melihat rona merah yang pasti sudah sangat jelas di wajahku. "Itu... itu karena dia dosen kita, Rin. Wajar kalau aku memperhatikan dia dengan saksama. Lagipula... dia mengajar dengan baik, jadi wajar kalau aku memperhatikan."

Rina tertawa pelan, tak percaya sama sekali. "Alasan klasik. Tapi bukan cuma itu, Lisna. Ada yang lain. Kemarin, saat Pak Arga tiba di kelas, kamu baru saja masuk dan berpapasan dengannya di pintu. Kamu lupa? Kamu langsung kaku, wajahmu merah padam, dan jalanmu jadi gontai banget. Itu cuma karena dosen?"

Hatiku berdebar kencang. Aku tak menyangka Rina sedetail itu memperhatikanku. Ia adalah sahabatku sejak pertama kali masuk kampus. Ia tahu setiap kebiasaanku, setiap perubahan kecil pada ekspresiku. Menyembunyikan sesuatu darinya ternyata jauh lebih sulit dari yang kubayangkan.

"Dan satu hal lagi..." Rina melanjutkan, suaranya berubah lebih pelan dan serius. "Beberapa kali aku lihat kalian berpapasan di lorong, di perpustakaan, di depan ruang dosen. Selalu berdua, selalu berpapasan di jam yang sama. Dan yang paling aneh... setiap kali ada mahasiswi lain yang dekat-dekat sama Pak Arga, wajahmu langsung berubah murung. Seperti kemarin, saat ada wanita cantik berbicara sama dia di ruang istirahat dosen... kamu langsung pergi tanpa bilang apa-apa. Itu bukan sikap mahasiswi biasa, Lisna. Itu... itu kayak orang yang cemburu."

Kata itu meluncur begitu ringan dari bibir Rina, namun menghantamku begitu keras hingga napasku tertahan. Aku mendongak perlahan, menatapnya dengan mata yang melebar, tak mampu menyembunyikan kekagetanku. "Ce... cemburu? Jangan ngawur ya, Rin. Aku tidak mungkin cemburu sama dia."

"Kenapa tidak mungkin?" Rina mencondongkan tubuhnya sedikit ke arahku, matanya menatapku tajam seakan ingin membaca isi hatiku. "Dia orang biasa saja? Atau ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku, sahabatmu sendiri? Aroma aneh ini sudah tercium sejak lama, Lisna. Semakin hari semakin kuat. Dan aku yakin... bukan aku saja yang merasakannya. Teman-teman yang lain juga mulai memperhatikan."

Kata-kata Rina membuatku terdiam. Dadaku terasa sesak. Aku takut. Bukan takut pada Rina, melainkan takut rahasia besar itu mulai terbongkar. Padahal Arga dan aku baru saja berjanji untuk menjaganya tetap tersembunyi. Padahal kami baru saja mulai merasakan kehangatan itu. Jika Rina saja sudah mencium baunya, bagaimana dengan yang lain? Bagaimana jika tersebar ke seluruh kampus? Bagaimana dampaknya bagi nama baik Arga, bagi keluargaku, bagi masa depan kami berdua?

"Aku tidak menyembunyikan apa-apa, Rin..." jawabku pelan, meski bibirku mengatakannya, hatiku tahu itu bukan kebenaran sepenuhnya. "Kamu berlebihan saja kok. Mungkin karena aku... aku menghormatinya sebagai dosen yang baik, jadi aku memperhatikannya lebih dari yang lain. Itu saja."

Rina menghela napas pelan, seakan tak sepenuhnya percaya namun memilih untuk tidak mendesak lebih jauh saat itu. "Oke, kalau itu yang kamu bilang. Tapi ingat ya, Lisna... kita ini sahabat. Kalau ada apa-apa, kalau ada masalah, atau kalau ada sesuatu yang berat kamu pikul sendiri... jangan ragu cerita sama aku. Aku siap mendengarkan dan membantu. Jangan dipendam sendiri, nanti malah jadi beban yang berat."

Nada bicaranya begitu tulus dan penuh kasih sayang, membuat hatiku terasa perih karena rasa bersalah. Aku ingin sekali bercerita. Ingin sekali mengeluarkan semuanya dari dadaku dan berbagi dengan sahabatku ini. Namun aku tak bisa. Kesepakatan itu masih berlaku. Rahasia itu harus tetap tersimpan rapat, setidaknya untuk saat ini.

"Terima kasih, Rin..." ucapku pelan, menyentuh tangannya di atas meja. "Aku tahu kamu peduli sama aku. Dan aku menghargai itu. Tapi percayalah... belum saatnya untuk membicarakan hal itu. Nanti... kalau sudah waktunya, aku pasti akan cerita sama kamu. Semuanya."

Rina tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Baiklah. Aku tunggu sampai saat itu tiba. Tapi sampai saat itu juga... hati-hati ya, Lisna. Perhatian orang lain mulai tertuju ke kalian berdua. Jangan sampai hal yang tak diinginkan terjadi sebelum kalian siap untuk mengumumkannya."

Kata-kata terakhir Rina itu terngiang terus di telingaku sepanjang sisa jam istirahat. Ia tak langsung menuduh, namun ia tahu. Ia merasakannya. Dan itu berarti rahasia kami tak lagi seaman dulu. Langkah kaki kami di depan orang-orang harus jauh lebih berhati-hati dari sebelumnya. Karena di dekat kami, ada sahabat yang penuh perhatian, dan mungkin saja mata-mata lain yang mulai memperhatikan hal yang sama.

Sore itu, saat berjalan pulang, aku menyadari satu hal penting: menyembunyikan cinta itu ternyata jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan. Karena tak peduli seberapa rapat kami menyembunyikannya, mata orang-orang yang mengenal kita—terutama sahabat terdekat—selalu mampu mencium aroma aneh itu. Aroma yang bernama cinta, yang berusaha disembunyikan namun selalu tercium lebih kuat dari apa pun.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!