"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Tegas Nora
"JANGAN BERGERAK! KALIAN BERDUA DITAHAN ATAS TUDUHAN ANOMALI IDENTITAS!!" teriak seorang petugas dari balik megapon.
Lampu sorot mobil patroli konsorsium menyilaukan mata, memancarkan pendar putih yang memotong kegelapan malam.
Nora refleks menjerit kecil, tubuhnya bergetar hebat sambil mencengkeram pinggang jaket Nio dari belakang.
"Hah... N-Nio... g-bagaimana ini...? M-mereka punya senjata lengkap...!" cemas Nora dengan vokal putus-putus.
"Gue bilang jangan panik," pangkas Nio dingin, jemarinya sigap menekan besi penutup manhole di bawah kakinya.
'Cih! Polisi konsorsium ini cuma anjing suruhan Zero yang cuma tau perintah tangkap!' batin Nio menggeram.
Nio menendang pinggiran penutup manhole dengan tumit sepatu booted-nya hingga celah besi itu terbuka lebar.
Uap lembap dari saluran air bawah tanah langsung menguar keluar, menyebarkan bau tanah basah yang menyengat.
"Tundukkan kepalamu dan lompat!" perintah Nio tegas, menarik lengan Nora tanpa memberi jeda ragu.
"Aaaah!!" jerit Nora terkejut saat tubuhnya ditarik paksa masuk ke dalam lubang gelap itu.
Brak!
Nio menutup kembali manhole besi itu tepat saat letusan tembakan pasukan konsorsium menggema di atas jalanan.
Mereka berdua jatuh meluncur ke dalam saluran pembuangan air yang senyap, mendarat di atas pijakan beton basah.
Nora terduduk lemas di beton dingin, napasnya memburu kacau dengan seluruh jemari tangan gemetaran hebat.
"Ngh... N-Nio... kakiku... kakiku gemetaran banget..." rintih Nora pasrah, air mata ketakutannya menetes pelan.
Nio berlutut tepat di depan Nora, menahan kedua bahu wanita itu dengan cengkeraman tangannya yang kuat dan dominan.
"Tatap mata gue sekarang, Nora," tegur Nio tegas, menghentikan kepanikan wanita itu seketika.
Nora mendongak ragu-ragu, menatap manik mata Nio yang memancarkan ketenangan mutlak di tengah kegelapan bawah tanah.
"N-Nio... aku... aku takut banget tereliminasi... Aku gak mau hilang seperti Milo..." bisik Nora memohon perlindungan.
"Selama lu penurut dan ikuti semua kata-kata gue, gak akan ada satu orang pun yang bisa menghapus lu," pangkas Nio mantap.
Sensasi dominasi yang terpancar dari aura Nio mendadak menembus benteng mental Nora yang sedang rapuh.
Rasa takut yang tadinya menguasai dada Nora perlahan mengecil, berganti menjadi kepatuhan mutlak pada sosok pria di depannya.
'Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata. Tapi wanita ini butuh kepastian nyata,' batin Nio.
Nio meraba tekstur selembar kertas kosong di sakunya—sebuah penyangkalan sederhana untuk meyakinkan presensinya sendiri di dunia.
"N-Nio... kamu gak akan tinggalkan aku, kan...?" tanya Nora dengan suara bergetar pelan.
"Gue gak pernah ingkar janji pada klien," jawab Nio datar.
Nora menarik napas panjang, mengusap air matanya sendiri lalu menangkupkan kedua tangannya di atas jemari Nio.
"Aku... aku paham sekarang, Nio..." gumam Nora, vokalnya mendadak berubah menjadi pasrah dan bulat.
"Paham apa?" tanya Nio alisnya terangkat sebelah.
"Kehidupanku... seluruh eksistensiku... aku serahkan penuh ke tanganmu mulai detik ini," ujar Nora mantap tanpa ada keraguan.
"Gak usah drama. Gue cuma butuh lu gak merepotkan langkah gue selama di lapangan," pangkas Nio tanpa terbuai.
'Hah... dasar cewek, dalam kondisi dikejar pasukan begini sempat-sempatnya bikin ikrar pasrah!' batin Nio mengomeli reaksi emosional Nora.
"Aku serius, Nio! Mulai sekarang aku bakal turuti semua perintahmu tanpa membantah satu kata pun!" seru Nora menegaskan.
"Bagus. Kalau begitu berdiri dan usap keringat di wajahmu itu," balik Nio menguji kepatuhannya.
Nora seketika berdiri tegak, menyapu sisa air mata di pipinya dengan lengan baju tanpa membantah sedikit pun.
"Sudah, Nio. Aku siap," usik Nora cepat, berdiri merapat sangat dekat di samping tubuh Nio.
Nio menyalakan senter kecil dari gawai mininya, memancarkan pendar redup yang menyinari koridor pembuangan air.
Suara gemericik air basah terdesir pelan, menciptakan suasana senyap yang menekan di sepanjang terowongan bawah tanah.
"Saluran ini mengarah langsung ke fondasi bawah Stasiun Induk Sektor Sembilan," jelas Nio sambil melangkah duluan.
Nora mengikuti tiap tapak kaki Nio dari belakang, memperhatikan bahu tegap Nio yang seolah menjadi benteng kokohnya.
"Nio... apa di stasiun nanti kita akan ketemu Zero lagi...?" tanya Nora berbisik pelan.
"Mungkin. Pria itu terobsesi menjadikan gue preseden eksperimennya yang gagal," sahut Nio datar.
"Kenapa dia menyebutmu Subjek 0, Nio...? Apa kamu benar-benar tidak ingat masa lalumu...?" tanya Nora hati-hati.
"Gue gak butuh masa lalu untuk hidup di hari ini," pangkas Nio dingin.
"T-tapi... bagaimana kalau ingatanmu yang hilang itu sebenarnya kunci untuk mengalahkan Zero...?" celek Nora ragu.
Nio menghentikan langkahnya mendadak, membuat Nora yang berjalan merapat refleks menabrak dada tegap Nio.
Aduph!
"N-Nio... maaf... aku gak sengaja..." ringis Nora panik, wajahnya memerah karena jarak mereka yang sangat dekat.
Nio menunduk menatap Nora, membiarkan tubuh wanita itu bersandar pasrah di dadanya tanpa menolak.
"Ingatan atau bukan, gue yang bakal menentukan akhir dari kasus ini," tegur Nio rendah tepat di depan wajah Nora.
Deru napas Nio yang hangat terasa mengusap pelipis Nora, membuat napas wanita itu tertahan akibat desakan dominasi.
"I-iya, Nio... aku percaya... aku tunduk sama semua keputusanmu..." desah Nora lirih dengan mata terpaku.
'Bagus. Wanita ini sudah gak bakal bikin ulah atau panik sendiri lagi,' batin Nio lega melihat kepatuhan penuh Nora.
Nio melepas pegangannya, menyusuri jalan setapak di lorong beton hingga melihat sebuah tangga besi tua yang menjulang ke atas.
Tangga besi itu menembus plafon terowongan, mengarah langsung ke area balik pintu layanan Stasiun Induk.
"Itu jalur masuk menuju Lokus Loker B-12," tunjuk Nio ke arah tangga besi yang berkarat.
"A-aku naik duluan atau kamu, Nio...?" tanya Nora patuh.
"Gue duluan. Lu panjat tepat di bawah gue dan jangan pernah tengok ke bawah," perintah Nio singkat.
Nio mulai memanjat anak tangga besi tua itu dengan gerakan cepat dan taktis.
Nora memanjat perlahan di belakangnya, menggenggam besi dingin dengan jemari yang masih sedikit basah oleh keringat.
Pendar cahaya terang terpancar dari balik pintu besi di ujung atas tangga, menandakan mereka sudah sampai di area stasiun.
Nio mendorong pintu layanan yang tak terkunci itu secara perlahan, mengintip situasi koridor dalam stasiun.
Keheningan luar biasa menyambut mereka, namun residu ketakutan masih terasa menyengat di udara stasiun yang dingin.
Deretan loker penyimpanan barang berbahan baja berjejer rapi di sepanjang dinding koridor bawah tanah stasiun.
Di ujung barisan loker tersebut, nomor B-12 memancarkan pendar merah dari layar tombol sandi digitalnya.
"Itu lokernya, Nio...!" bisik Nora bergetar gembira.
"Jangan terburu-buru. Tempat senyap begini biasanya menyimpan anomali perangkap," pangkas Nio menahan bahu Nora.
Nio melangkah pelan mendekati Loker B-12, mengeluarkan perangkat pemindai kecil untuk memeriksa arus kabel di dalam loker.
Namun, belum sempat Nio menyentuhkan alat pemindainya ke panel loker, suara derap langkah kaki berat terdengar mengepung koridor dari dua arah.
Empat sosok pria berbadan tegap berpakaian serba hitam keluar dari balik pilar stasiun, mengokang senjata api otomatis mereka.
Di tengah-tengah pasukan itu, seorang pria paruh baya berambut ubanan berjalan santai dengan senyum sinis di wajahnya.
"Lama tidak berjumpa, anak angkatku... atau harus kupanggil kamu dengan nama Subjek 0...?" tegur pria itu dingin.
Nio membeku seketika, matanya melebar menatap sosok pria tua yang sangat dia kenali itu.
'K-Kael?! Paman Kael pemilik kedai...?! Bagaiaman bisa dia ada di sini bersama pasukan Zero?!' batin Nio berguncang hebat.