Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Pagi itu, kediaman Mahardika kembali dipenuhi kesibukan. Adrian dan sang Ayah tengah bersiap sarapan di ruang makan ketika Tomy datang dengan langkah tegap seperti biasanya.
"Pagi... Pak Surya. Pagi, Pak Adrian."
"Pagi, Tom," jawab Pak Surya singkat
Tomy kemudian memandang ke sekeliling ruangan, berusaha mencari sosok seseorang
"Mbak Karina belum datang?"
Pak Surya meletakkan roti dalam piringnya yang belum sempat dimakan
"Belum. Kemarin aku sudah menyuruh Hasto datang ke rumahnya."
"lalu....bagaimana keadaannya, Pak?"
"Ya....Kakinya belum benar-benar sembuh." sanbil menghela napas panjang
"Biarkan saja dia beristirahat sejenak, bisa jadi pikiranya masih tertekan, tadinya aku fikir Karina sudah bisa kembali ke rumah ini."
Adrian yang sejak tadi diam langsung berdecak sinis.
"Rupanya Ayah masih penasaran dengan perempuan itu?"
"Maksudmu?" sahut sang Ayah
"Bukankah Ayah sudah tidak lagi mempekerjakannya di rumah ini?"
"Iya kau benar..."
"Lalu kenapa Ayah masih menyuruhnya kembali?"
Pak Surya tersenyum tipis.
"Ayah cuma ingin tahu keadaanya, dan ayah juga masih membutuhkan."
Adrian menggelengkan kepalanya merasa keberatan dengan pemikiran sang Ayah
"Aku tidak yakin dia akan datang lagi ke rumah ini."
Adrian merasa kesal kemudian berdiri dari kursinya
"Ayo, Tom, jangan terlalu lama dengan Ayah, bisa jadi nanti kamu bisa terhasut oleh pemikiran nya."kata Adrian sambil berjalan keluar, melihat itu Tomy hanya tersenyum kecil dengan expresi bos muda nya itu
"O...iya baik, Pak Adrian, tapi saya bikin satu roti dulu untuk sarapan."
Adrian terus berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang
sementara sang Ayah terus memandangi putra nya sampai keluar ruang makan
"Anak itu masih saja tidak suka dengan Karina." sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya
Tomy tidak menjawab, Ia berpura - pura sibuk menyiapkan roti untuk nya.
"Tom." Pria paruh baya itu kemudian memanggilnya
"Ya, Pak?"
"Coba kamu carikan pekerjaan di kantor yang cocok untuk Karina."
Gerakan tangan Tomy langsung berhenti.
"Apa, Pak?"
"Aku ingin kamu mencarikan tempat untuk Karina bekerja di perusahaan."
Tomy berpikir sejenak, namun sepertinya ini masalah sulit, tidak mudah mempekerjakan orang tanpa ijazah
"Maaf, Pak. Kalau di kantor, rasanya agak sulit."
"Kenapa?"
"Sebagian besar posisi di kantor harus membutuhkan ijazah
Pak Surya mengangkat alis.
"Kenapa tidak bisa? Kamu pikir aku ini siapa?"
Tomy langsung menundukkan kepala nya
"Bukan begitu, Pak."
Ia berpikir beberapa detik sebelum tiba-tiba tersenyum.
"Begini saja pak, bagaimana kalau mba Karina kita jadikan model untuk launcing produk baru kita."
Pak Surya langsung tertarik.
"Produk baru."
"Iya, Pak. Produk baru kita masih membutuhkan model yang pas untuk kampanye."
Pak Surya tersenyum.
"Itu ide bagus, kalau begitu cepat kamu bawa Karina ke sini dan jelaskan kepadanya, sebelum Adrian menemukan model orang lain"
"Baik, Pak."
Tomy bergegas keluar untuk kemudian mengantar Adrian ke kantor, setelah itu ia kembali keluar untuk urusan lain, yaitu pergi ke rumah Karina tanpa sepengetahuan Adrian.
Sesampainya di sana, Tomy menjelaskan maksud kedatangannya, Karina mengikuti nya sampai akhirnya masuk ke dalam rumah mewah Mahardika, sepanjang perjalanan tadi dirinya hanya terdiam dengan seribu pikiran dibenaknya, sampai akhirnya dia harus turun dari mobil dan menemui pak surya,
"Tapi Pak Tomy, apa anda tidak salah mencari orang?" Karina berusaha meyakinkan Tomy agara bukan dirinya yang menjadi model tapi Tomy tetap pada pendapatnya
"Saya yakin mba Karina bisa, Model itu cuma mengikuti arahan fotografer, itu saja."
Karina masih terlihat ragu.
"Tapi saya gak yakin."
"Ini justru kesempatan buat mba Karina, karna langsung dipilih sama pak surya, gak perlu ada tes tes segala, banyak orang yang sudah sukses cuma karna jadi model, sekali shoot dapat uang 10 juta."
Mendengar uang sepuluh juta mata Karina langsung membelalak
"Apa....sepuluh juta?"
Tomy mengangguk " Iya dan bisa lebih."
Karina terdiam beberapa saat, sambil terus membayangkan uang 10 juta itu, Jika mendapatkan beberapa kali pemotretan, ia bisa mengumpulkan uang dengan cepat. Pikirannya langsung tertuju kepada ibunya, setidaknya Ia bisa segera membeli rumah, Karina menggenggam tangannya sendiri. Dalam benaknya ini adalah jalan yang tepat untuk bisa mengejar impian nya, kemudian ia teringat akan Adrian, Karina kembali terlihat ragu dengan pria muda itu
"Tapi....bagaimana dengan Pak Adrian?"
mendengar nama Adrian Tomy tertawa kecil.
"Kalau hanya saya yang membawa Mbak Karina mungkin saya yang akan kalah, "Tapi kalau Pak Surya yang memutuskan, Pak Adrian tidak akan bisa menolaknya."
Jawaban itu membuat hati Karina semakin yakin untuk melangkah, Keduanya kemudian melanjutkan langkah mereka menemui pak Surya yang sedang berada di taman belakang rumah nya.
Begitu melihat mereka, Pak Surya tersenyum.
"Kamu sudah menjelaskan semuanya kepada Karina?"
"Sudah, Pak, dan mbak Karina sudah setuju."
Pak Surya menatap Karina.
"Bagus."
"Tapi Pak..., lalu bagaimana dengan pekerjaan saya di rumah ini?"
"Untuk sementara waktu kamu bisa bekerja disana."
"Bagaimana jika pak Adrian melihat ku disana, dia pasti tidak akan suka."
"Pak Adrian akan tahu setelah foto kamu dimuat di sampul produk." jawab Tomy dengan tenang.
Namun suasana itu tiba-tiba terhenti ketika ponsel Tomy bergetar, nama Adrian tertera di sana,
"Maaf pak, sepertinya pak Adrian sudah mencari saya."
"Katakan kalau kamu sedang bersama ku, tapi jangan bilang dengan Karina." jawab pria paruh baya itu yang tidak menginginkan putranya tahu tentang rencana barunya.
Sementara Tomy menjawab panggilan tersebut sambil melangkah kekuar dari rumah Mahardika.
Sesampainya di kantor Mahardika Group, Tomy langsung menuju ruang kerja Adrian. Pria itu berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia sedang menunggu seseorang.
Begitu mendengar pintu terbuka, Adrian langsung menoleh. Tomy mulai merasa tidak nyaman. Ia Khawatir akan pertanyaan yang akan dilontarkan Atasanya, dan dirinya tidak mungkin mengatakan bahwa, baru saja menjemput Karina dan membawanya ke rumah Mahardika.
"Bagaimana perkembangan kampanye produk baru?"Kata Adrian masih sambil berdiri didekat jendela, Tomy menarik nafas lega, pertanyaanya bukanlah tentang darimana dia tadi.
"Sudah saya usahakan pak, besok atau lusa sudah mulai pemotretan."jawab tomy tenang.
"Kau sudah dapatkan Modelnya?"
"Eeemm, belum pak, tapi hari ini pasti aku bisa mendapatkan nya."
"Bagaimana dengan katrin?" kata Adrian kemudian duduk dikursi kerja nya
Tomy langsung panik setelah nama katrin disebutkan, dan tentu saja Tomy menolaknya dengan berbagai alasan, dan kali ini Adrian seperti mengikuti saran sang asisten pribadinya
"Aku tidak mau ini gagal, kau harus bisa membuat produk ini meluas ke pasaran."
Adrian mempercayakan pada Tomy dan dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa model yang sedang mereka bicarakan sebenarnya sudah dipilih oleh Tomy dan Ayahnya tanpa sepengetahuan diri nya.