Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Bismillah
Hawa mengerjapkan mata sesekali karena cahaya matahari yang menyorot masuk ke kamarnya pagi ini. Berhubung hari libur Hawa memang sedikit bermalas-malasan sejenak dikamar. Mengingat nanti malam akan diadakan pertemuan keluarganya dengan keluarga Hasby mengenai perjodohan itu. Memikirkannya saja membuatnya pusing,bimbang dan ragu. Tapi setelah berbicara dengan Ibunya kemarin ada sedikit kelegaan dalam hatinya, yang tidak tahu karena apa. Ibu merasa senang dengan keputusan Hawa yang menyetujui perjodohan tersebut. Hawa mencoba berpikir positif dan membangun mentalnya supaya kuat dengan segala sesuatunya nanti.
Hawa bergegas ke kamar mandi, dengan mandi bisa mengusir rasa lemas dibadannya. Menjadikan segar dan bersemangat lagi. Setelah selesai Hawa pergi keluar kamar.
"Buuu,, dimana?"
Rumah terasa sunyi sepi, Hawa mencari kedapur dan tidak menemukan Ibunya. Dirinya bingung.
"kemana ibunya pergi tanpa pamit" gumam dalam hatinya. Tak lama terdengar suara membuka pintu depan. Hawa menoleh dan menemukan sang Ibu tersenyum sambil memamerkan sesuatu didalam plastik putih.
Aku dengan semangat menghampiri, dan tentu saja benar dugaanku. Bakso. Makanan kesukaanku, Ibu selalu membelikanku bakso ketika ada rejeki lebih. "Alhamdulillah terimakasih Bu, ayo kita makan bersama Bu" kataku sambil mencari mangkuk untuk menuang bakso yang masih mengepulkan asap tipis. Aroma dari bakso menguar memenuhi ruang makan tersebut. Sungguh menggoda sekali.
Ibu tersenyum melihatku memakan bakso dengan lahapnya. Apa lagi ditambah sambel. Mantap sekali. Beliau juga ikut menikmatinya. Setelah selesai Hawa membantu Ibu memasak untuk suguhan nanti malam.
Mengingat itu Hawa kembali jantungnya berdegup dengan cepat. Semoga dimudahkan semuanya.
Setelah semuanya selesai Hawa pergi kekamar untuk sholat dan menyiapkan buku untuk jadwal hari senin besok. Karena kelelahan akhirnya Hawa ketiduran dengan buku yang belum sempat dia bereskan.
Sampai Azan ashar berkumandang membangunkan Hawa. Hawa langsung menegakkan badannya dan memandang sekitar. Melihat buku yang masih berantakan membuatnya tersenyum kecil. Langsung membereskan semuanya, Hawa bersiap untuk sholat.
"Bu,, apa nanti malam jadi?"
"Tentu saja nak., apa kamu berubah pikiran?"
Ibu menegang sebentar sambil menatap Hawa.
"Tidak Bu,, mana mungkin berubah pikiran. Aku sudah memikirkannya lama" ungkap Hawa mengulum senyumnya. Senyum Ibu mengembang setelah mendengar jawaban Hawa. Lega. Mungkin itu gambaran perasaan Ibu.
waktu berlalu dengan cepat dan saat yang ditunggu telah tiba. Sebentar lagi keluarga Hasby datang kerumahnya. Jemari Hawa sudah dingin karena saking gugupnya menunggu. Ibu sesekali melirik Hawa yang terlihat tegang. Sudut matanya menyipit karena tersenyum hangat.
"Assalamu'alaikum jeng"
Seruan dari depan pintu membuyarkan lamunan Ibu. Hawa pun bertambah gugup. Mereka berdiri dan berjalan ke depan untuk membukakan pintu untuk tamunya tersebut.
"Wa'alaikumsalam, iya jeng.. mari-mari masuk"
Merekapun masuk dan duduk diruang tamu kecil itu. Bercerita dengan begitu akrab dan hangatnya.
"Maksud kedatangan kami kesini karena Hasby memberi tahu bahwa dia bersedia melakukan perjodohan itu." Papah memulai pembicaraan serius itu.
Hasby sekilah melirik Hawa. Hawa terlihat menunduk
"Iya Pak, Hawa kemarin juga bilang. Dia mau menerima perjodohan tersebut" Ibu menimpalinya.
"Karena anak-anak sudah setuju dan mereka mau merahasiakan selama masih sekolah. maka malam ini seperti keputusan awal. Cincin tanda bahwa perjodohan ini berlanjut tetap harus dipakai"
Hawa melihat cincin emas yang terlihat simple tapi elegant itu dengan hati yang berdebar. Terlihat sangat manis dijarinya. Hasby melirik sekilas dan tersenyum singkat. Gemas dengan tingkah Hawa. Setelah memakaikan cincin dilanjut makan malam bersama.
Dengan menu yang cukup sederhana dan kehangatan antar dua keluarga. Acara makan malam selesai dengan baik.
Hawa mengulum senyum salah tingkah karena mengingat acara penyematan cincin oleh Mamah. Wajahnya bersemu merah karena malu. Hasby juga merasakannya.
***
Mapel jam pertama setelah upacara bendera hari ini adalah olahraga. Favorit Hawa. Walaupun dia tidak selalu bisa, tapi Hawa selalu senang jika pergi kelapangan.
Selain melihat rumput hijau tapi juga melihat Hasby dan teman-temannya bermain basket. Tanpa sengaja Hasby memandang Hawa yang sedang melakukan pemanasan bersama teman-temannya. Lucu sekali melihat Hawa yang bertubuh mungil itu. Berlari mengelilingi lapangan. Sesekali dia berhenti dan tertawa bersama Asrina. Tanpa sadar Hasby mengangkat bibirnya sedikit, mungkin dimaksud tersenyum kecil.
Pelajaran olahraga tersebut menyenangkan sekali. Walaupun wajah Hawa memerah karena panas. Dia masih duduk dipinggir lapangan dengan Asrina, istirahat sebentar setelah lelah berolahraga.
Tiba-tiba ada yang menyodorkan dua botol air mineral dingin kehadapan Hawa dan Asrina. Melihat itu otomatis mereka melihat siapa yang memberikan air minum itu.
"Kenapa ya kak?
Hawa bingung menatap kakak kelasnya itu.
" Ambil, buat minum kalian!" ucap Rio, salah satu teman Hasby. Pergi begitu saja setelah memberikan air mineral itu. keduanya melongo melihat itu.
"Alhamdulillah,, makasih kak. nggak sekalian baksonya kak?" teriak Asrina. Membuat seisi lapangan menoleh kepadanya.
Hawa menundukkan kepala karena malu. Asrina malah cengar-cengir sambil mengucap maaf. Sungguh lucu memang.
Semuanya bubar dan kembali ke kelas masing-masing. Melanjutkan apa yang sudah menjadi kewajiban mereka semua.
Teng teng teng
Bel pulang sekolah telah berdering. Hawa dan Asrina mulai mengemas kembali buku dan peralatan tulisnya kedalam tas. Mereka berjalan kehalaman sekolah dan berpisah karena Asrina ke parkiran motor dan Hawa menuju halte menunggu angkutan umum.
"pulang neng?" sapa Pak Udin ramah, satpam disekolahnya.
"iya pak, mari pak duluan" ucap Hawa tersenyum ramah.
"Hati-hati ya neng"
"iya pak, terimakasih"
Hawa menunggu angkutan yang lewat. Tapi angkutan pertama penuh, jadi dia menunggu angkutan selanjutnya. Sampai tiga angkutan penuh semua. Hawa mengerutkan keningnya,heran kenapa angkutan selalu penuh.
Tin tin tin
Hawa mendongak karena terkejut suara klakson mobil. Ternyata Hasby orangnya.
"Masuk! Titahnya tegas dan datar
"em tidak usah kak, terimaksih"
"mau nunggu sampai kapan?"
"aku bisa naik ojek kak."
Hawa mengerucutkan bibirnya, karena ucapan Hasby. Hasby melihat dan menggelengkan kepalanya pelan
"Udah sore, pasti Ibu khawatir kalau kamu belum pulang"
Hasby memandang jalanan lurus dibalik kemudi mobilnya dengan tenang. Hawa menghela nafas lalu berjalan dan membuka pintu belakang mobil. Karena setiap Hasby mengantarnya pulang, dia selalu duduk dibelakang.
Jarak yang jelas karena mereka belum menjadi mahram. Hawa senang karena Hasby pun menjaga jarak tersebut.
Setelah melirik dari spion tengahnya, Hasby mulai menjalankan mobilnya perlahan. Suasana yang begitu kaku dan canggung membuat Hawa sedikit gugup. Hawa mengalihkan pandangan keluar kaca mobil. Melihat pohon,dan langit membuat sedikit kegugupannya berkurang. Sampai mobil melambat di depan gang rumahnya.
Dia keluar dengan pelan dan hati-hati. "Terimakasih kak atas tumpangannya"
"ehm ya"
Sangat datar sekali. Membuat Hawa jengkel.
"Hati-hati" berbicara dengan sangat ketus. Hasby selalu saja membuat dirinya mudah jengkel. Hasby hanya menganggukkan kepalanya pelan dan mulai menjalankan mobilnya.
Diteras rumah sudah duduk Ibu dengan memetik sayur kangkung yang mau ditumisnya untuk makan malam.
Padahal itu hanya pengalihan kegelisahan Ibu karena Hawa tak kunjung pulang. Padahal sebentar lagi memasuki waktu maghrib.
Tapi melihat ada mobil yang berhenti diujung gang dan Hawa keluar dari dalamnya, membuat Ibu bertanya-tanya. Ibu dengan saba menunggunya sampai dirumah
"Assalamu'alaikum Bu, maaf Hawa terlambat pulang"
Hawa meraih tangan Ibunya dan menciumnya pelan. Mendongak melihat Ibunya yang hanya diam saja.
"Pulang sama siapa tadi Hawa??" ibu menunggu dengan sabar, padahal sudah sangat penasaran sekali.
"Kak Hasby Bu, tadi angkutannya penuh terus, tiba-tiba kak Hasby nganterin pulang" jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"waah,, baik sekali nak Hasby ini,, sampai-sampai putri Ibu dianterin. Jangan-jangan mau lanjut nikah sekalian. Biar bisa pulang pergi bareng" goda Ibu dengan mata berbinar.
"Ibuuu...." Hawa dengan sebal masuk kerumah. Hawa bergegas mandi karena sebentar lagi maghrib.
Teringat dengan yang dibilang Ibu membuatnya merasa bahagia. kedua pipinya mulai memerah. Dia membayangkan bagaimana nanti kalau mereka sudah menikah dan tinggal di satu rumah. Membayangkannya saja sudah membuatnya gugup setengah mati.