Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
“Karena hidup memang tidak pernah sempurna.” Tira mengusap ujung kerudungnya. “Aku tidak pernah meminta rumah besar. Aku tidak pernah meminta kamu membiayai semua keinginanku. Aku bahkan bersedia tinggal di rumah kontrakan kalau memang itu yang kita mampu. Aku cuma ingin kamu mengambil keputusan.”
Dimas memandangnya. “Aku sudah mengambil keputusan.”
“Kapan?” Tira bertanya cepat.
Dimas terdiam. “Maksudku, aku sudah memutuskan kamu adalah orang yang akan aku nikahi.”
“Tapi kapan?” Tira mengulang. “Bukan siapa. Aku tahu kamu memilih aku. Yang aku tanyakan kapan.”
Dimas tidak menjawab.
Tira mengangguk pelan. Ia sudah menduga. “Bahkan sekarang kamu tidak bisa menjawab.”
“Tira, jangan dibuat rumit.”
“Aku tidak membuatnya rumit, Mas. Justru aku sedang menyederhanakannya.” Tira menatap lelaki itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kita sudah delapan tahun. Kita sudah lulus. Kita sudah bekerja. Kita punya penghasilan. Keluargamu tidak bergantung kepadamu. Keluargaku juga tidak meminta aku menunggu. Jadi apa sebenarnya yang kamu tunggu?”
Dimas membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
Tira menunggu beberapa detik. Kemudian ia tertawa kecil, getir. “Aku benar-benar ingin tahu.”
“Aku cuma ingin semuanya lebih siap.”
“Kapan kamu merasa siap?”
Dimas menggeleng. “Aku tidak tahu.”
Jawaban itu membuat dada Tira terasa kosong. Bukan marah. Bukan kecewa. Lebih seperti seseorang yang akhirnya mendapatkan jawaban setelah bertahun-tahun mencari, tetapi jawaban itu ternyata tidak sesuai dengan apa yang ingin didengarnya. Dimas tidak tahu kapan ia siap. Berarti selama ini Tira menunggu sesuatu yang bahkan Dimas sendiri tidak tahu kapan akan terjadi. “Kalau begitu, aku kasih kamu waktu,” kata Tira.
Dimas langsung menoleh. “Berapa?”
Tira menarik napas. “Dua minggu.”
Dimas tertawa kecil karena mengira Tira bercanda. “Dua minggu?”
“Iya.”
“Kamu serius?”
“Sangat.”
“Memangnya dua minggu bisa mengubah semuanya?”
Tira memandangnya lurus. “Bukan dua minggu yang harus mengubah semuanya, Mas. Dua minggu cukup untuk menunjukkan apakah kamu memang mau menikah denganku atau tidak.”
Dimas terdiam.
Tira tidak menuntutnya membawa rombongan keluarga dalam dua minggu. Ia tidak meminta akad dua minggu kemudian. Ia hanya meminta sebuah kepastian. Kalau memang Dimas ingin menikahinya, datanglah kepada keluarganya. Bicarakan tanggal. Susun rencana. Tidak perlu mewah. Tidak perlu sempurna. Yang penting ada langkah nyata. “Aku tunggu sampai dua minggu,” katanya lagi. “Kalau setelah dua minggu kamu masih belum tahu kapan kita menikah, aku akan menganggap kamu memang tidak punya tujuan ke sana.”
Dimas tampak tidak nyaman. “Kamu mengancam aku?”
“Tidak.” Tira menggeleng. “Aku sedang menyelamatkan diriku sendiri.”
Setelah malam itu, Tira benar-benar menunggu. Ia tidak menghubungi Dimas lebih dulu. Tidak bertanya bagaimana keputusannya. Tidak mengingatkan tanggal. Ia ingin melihat apakah Dimas akan bergerak tanpa didorong.
Hari pertama berlalu. Dimas masih seperti biasa. Hari ketiga, mereka masih saling berkirim pesan. Hari kelima, Dimas mengajaknya makan malam. Hari ketujuh, ia mengirim bunga. Hari kesepuluh, ia mengajak Tira menonton. Tira menerima semua itu dengan hati yang semakin berat. Sebab Dimas seolah-olah melakukan segala hal kecuali satu hal yang paling ia tunggu yaitu membicarakan pernikahan.
Tira bahkan sempat berpikir mungkin Dimas sedang menyiapkan kejutan. Mungkin ia akan datang ke rumah. Mungkin ia sedang menghubungi orang tuanya. Mungkin ia sudah membeli cincin. Mungkin ia hanya menunggu waktu yang tepat. Harapan memang aneh. Ia bisa membuat seseorang bertahan bahkan ketika bukti-bukti di depan mata sudah berkata sebaliknya. Hari keempat belas tiba. Tidak ada Dimas di rumahnya. Tidak ada keluarganya. Tidak ada cincin. Tidak ada pembicaraan tentang tanggal. Bahkan tidak ada pesan yang mengatakan, “Tira, aku siap.” Yang ada hanya pesan biasa dari Dimas pagi itu. Jangan lupa sarapan. Hari ini aku banyak kerjaan.
Tira membaca pesan itu sambil duduk di tepi tempat tidur. Lama sekali. Kemudian ia meletakkan ponselnya. Saat itulah sesuatu dalam dirinya akhirnya berhenti berharap. Bukan karena cintanya hilang. Bukan karena tiba-tiba ia membenci Dimas. Justru karena ia masih mencintainya, Tira sadar bahwa ia tidak boleh terus menggantungkan hidupnya pada seseorang yang tidak tahu kapan akan memilihnya.
Tira akhirnya sampai di titik lelahnya. Ia sudah menyerah dengan hubungan bersama Dimas. Ia menangis, hanya ingin menangis tanpa harus mencari tahu pada hatinya sendiri alasan menangisnya. Entah karena marah karena akhirnya Dimas tak kunjung melamar, atau sedih, atau kecewa atau mungkin justru Tira lega karena akhirnya ia tahu harus mengambil keputusan apa.
***
Sore itu ayahnya kembali menyebut nama Fahri. Lelaki dua puluh tujuh tahun yang bekerja di sebuah BUMN, yang beberapa waktu sebelumnya datang dengan cara sederhana dan mengatakan bahwa ia ingin mengenal Tira untuk tujuan yang jelas. Awalnya Tira menolak bahkan sebelum mengenalnya. Tetapi setelah semua yang terjadi dengan Dimas, untuk pertama kalinya ia bersedia membuka pintu yang selama ini ia tutup rapat.
Ia bertemu Fahri. Mereka berbicara. Tidak ada gombalan. Tidak ada janji manis. Fahri bahkan tahu bahwa Tira masih memiliki masa lalu. Namun lelaki itu berkata, “Saya tidak bisa menjanjikan Tira akan langsung mencintai saya. Tapi kalau Tira bersedia menikah dengan saya, saya akan berusaha menjadi suami yang pantas untuk Tira.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi Tira pulang dengan dada yang terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak meminta dirinya menunggu. Ada seseorang yang datang dengan niat. Ada seseorang yang berani mengatakan, aku ingin menikahimu, bukan suatu hari nanti aku akan menikahimu.
Dua hari kemudian Tira memberikan jawabannya kepada ayah. “Tira bersedia, Yah.” Dan keputusan itu akhirnya membuat undangan pernikahan berada di atas meja Dimas dua pekan kemudian.
Sekarang, setelah Tira pergi, Dimas baru memahami bahwa selama ini bukan tidak ada kesempatan untuk menikahi Tira. Kesempatan itu ada. Uang ada. Pekerjaan ada. Waktu ada. Restu keluarga pun kemungkinan besar tidak akan menjadi masalah. Yang tidak pernah ada adalah keberanian untuk berhenti berkata “nanti”. Dimas menatap jalan dari balik kaca mobilnya. Untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar kehilangan Tira. Bukan karena ada lelaki lain yang lebih tampan, lebih kaya, atau lebih hebat darinya. Ia kehilangan Tira karena seorang lelaki lain berani melakukan sesuatu yang selama delapan tahun tidak sanggup ia lakukan. Datang dan mengajaknya menikah.
***
“Dia ngasih undangan.” Dimas menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur di kamar kos Amanda. Wajahnya kusut, kemejanya masih sama dengan yang ia kenakan ketika bertemu Tira beberapa jam lalu.
Amanda yang sedang duduk di depan meja rias menoleh. “Siapa?”
“Tira.”
“Kenapa?”
“Dia akan nikah sama orang lain.”
Tangan Amanda yang sedang merapikan rambut langsung berhenti. “Masa?”
Dimas tertawa hambar. “Aku juga awalnya nggak percaya. Tapi, Tira itu bukan anak yang suka drama, apalagi soal nikah." Aghhh, reflek Dimas meninju udara untuk meluapkan emosinya.