Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA BAB 32 — DISIPLIN LENGAN KEMEJA DAN MODU
SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA
BAB 32 — DISIPLIN LENGAN KEMEJA DAN MODUL GIZI
Posisi duduk yang kini berpindah ke sebelah Sinta tidak membuat Dean mengendurkan ketertiban porsinya sedikit pun. Setelah memesan seared salmon dengan saus lemon mentega untuk Sinta dan porsi dada ayam panggang tanpa bumbu berlebih untuk dirinya sendiri, pria itu melipat serbet kainnya dengan lipatan presisi sebelum meletakkannya di pangkuan.
Namun, sebelum memegang pisau makan, Dean menghentikan tangannya. Dia melirik kerah dan lengan kemeja putihnya yang masih terkancing rapi hingga pergelangan tangan.
"Variabel kenyamanan di ruang privat ini memungkinkan pelonggaran standar busana formal," kata Dean datar, seolah memberikan pengumuman resmi kepada rapat jajaran direksi.
Pria itu kemudian membuka kancing di kedua pergelangan tangannya, lalu menggulung lengan kemeja putihnya dengan sangat rapi hingga batas siku—menampilkan lengan bawah yang kokoh dengan urat-urat yang terbentuk jelas, serta jam tangan mewahnya yang berkilau di bawah lampu gantung chandelier.
Sinta menunduk sedikit, meremas ujung serbet kain di pangkuannya. Topeng anggunnya tetap menempel sempurna di wajah, mengulum senyum yang amat sopan.
[POV Sinta] Aduh, Mak! Ini orang kenapa kalau cuma gulung lengan kemeja aja aura seksi-berbahayanya makin merajalela sih?! Roti sobek di perutnya waktu malam pertama aja belum bisa hilang dari ingatan, sekarang malah pamer otot lengan! Tenang Sinta, tahan... tetap jadi Nyonya Wijaya yang elegan, jangan sampai kamu mendadak loncat terus meluk lengannya di depan pelayan! [POV Sinta Selesai]
"Mas Dean," sapa Sinta lembut dengan intonasi halus yang begitu terjaga. "Apakah posisi gulungan kemejanya sudah membuat Mas lebih leluasa?"
Dean menoleh, menatap wajah istrinya dari jarak kurang dari tiga puluh sentimeter. "Tingkat sirkulasi udara pada permukaan kulit meningkat tiga belas persen. Efisiensi pergerakan saat memotong hidangan dinilai optimal."
"Baguslah kalau begitu," sahut Sinta anggun, jemarinya memegang garpu dengan tata cara table manner terbaik yang dia pelajari demi menjaga CV palsu buatan Papanya.
Beberapa saat kemudian, hidangan mereka disajikan. Sinta mulai memotong hidangan salmonnya dengan sangat perlahan. Namun, sebelum suapan pertama mendarat di mulut Sinta, garpu milik Dean sudah terulur pelan, menahan gerakan tangan istrinya.
Sinta mengerjap halus, mempertahankan tatapan mata cokelatnya yang polos. "Ada apa, Mas Dean?"
[POV Dean]
Berdasarkan analisis visual terhadap komposisi hidangan di piring Sinta, kandungan mikronutrien pada saus mentega tersebut berpotensi memicu retensi cairan seketika jika dikonsumsi dalam jumlah besar tanpa imbuhan serat. Sebagai calon dokter spesialis anak, Sinta memerlukan asupan asam lemak omega-3 yang utuh untuk menjaga stamina di tengah jadwal piket malam rumah sakit yang padat. Saya harus memastikan pola konsumsi hidangan ini berjalan sesuai dengan standar pemulihan nutrisi yang efisien.
"Tingkat ketebalan saus mentega pada potongan salmon tersebut melebihi ambang batas keseimbangan gizi harian," ujar Dean tanpa keraguan sedikit pun. "Tolong sisihkan dua puluh persen saus di pinggir piring sebelum ditelan."
Sinta tetap tersenyum manis, menganggukkan kepalanya dengan amat patuh. "Baik, Mas Dean. Terima kasih sudah memperhatikan asupan nutrisi saya."
Padahal di balik dada dan tenggorokannya, suara "toa masjid" milik Sinta sudah berteriak gemas sampai mau pecah.
[POV Sinta] Ya Tuhan, Pak Robot! Mau makan ikan salmon aja pake dihitung persentase sausnya?! Ini makan siang romantis apa ujian analisis zat gizi laboratorium sih?! Untung ganteng, untung sayang, kalau enggak udah tak jejeli saus mentega itu ke hidungnya yang mancung itu! [POV Sinta Selesai]
Sinta menuruti perintah tersebut, menyingkirkan sedikit saus sesuai instruksi "Pak CEO", lalu menyuap potongan ikan itu ke dalam mulutnya. "Hmm... rasanya sangat lezat, Mas."
Dean menatap bibir Sinta yang sedikit basah oleh sisa minyak salmon. Mata hitamnya mendadak menggelap, mengabaikan potongan dada ayam di piringnya sendiri selama beberapa detik.
"Setelah agenda makan siang ini selesai," bisik Dean dengan suara berat yang serak dan sangat dalam di samping telinga Sinta, "kita akan langsung kembali ke penthouse. Ada beberapa penyesuaian modul domestik tambahan yang perlu didiskusikan secara tertutup."
Sinta menahan napasnya seketika, matanya melebar tipis namun senyum anggunnya tetap dipaksa bertahan. Penyesuaian modul domestik katanya?! Jangan-jangan... amandemen darurat lagi?!