Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Mata La Bonna De Luca menyalang, menyapu bersih setiap detail di sekitarnya.
Di atas panggung utama Velvet Noir, ia menari mengitari tiang dansa, menyesuaikan gerakannya dengan ritme musik yang menderu keras.
Di balik riasan tebal dan kilauan body oil, fokus Bonna terbagi seutuhnya. Ia menari sembari menunggu saat yang tepat untuk mengikuti instruksi Dorris yang menjanjikan ruangan mana yang harus Bonna masuki secara diam-diam.
"Ingat, Bonna, kau tidak bisa ke lantai atas tanpa kartu akses. Kartunya berwarna silver. Kau harus mencurinya dari seseorang untuk bisa ke lantai atas," suara Dorris terdengar mendesis di telinga Bonna melalui alat earpiece yang menempel rapat di dalam lubang telinganya.
Bonna kembali berdecak pelan dalam hati, menggerakkan kakinya berputar di tiang panggung. Bagaimana caranya dia mencuri kartu akses tanpa membuat perhatian tertuju padanya?
Pertanyaan itu berputar menggebu di kepalanya. Lagipula, Bonna belum melihat satu pun orang yang memiliki kartu akses berwarna silver tersebut, bahkan sampai musik panggung meredup dan Bonna selesai menari bersama rombongan stripper lainnya.
Saat sesi menari usai, Bonna berjalan mengekor di belakang barisan penari lainnya untuk kembali ke ruang rias. Namun, saat Bonna yang berada di posisi paling belakang tengah melangkah menyusuri lorong remang-remang, pandangannya tiba-tiba teralihkan.
Seorang laki-laki berbadan tinggi dengan pakaian serba hitam berjalan searah berlawanan, hendak melewati Bonna dan penari lainnya.
Mata tajam Bonna menangkap kilatan logam tipis dari saku kemeja pria itu. Ada benda mirip kartu dengan warna silver—serupa dengan yang Dorris deskripsikan padanya beberapa menit lalu.
Tanpa membuang waktu, sedetik kemudian Bonna berpura-pura jatuh persis saat laki-laki itu berada tepat di sampingnya. Pria itu hendak melewati Bonna, namun Bonna dengan sengaja menjatuhkan seluruh bobot tubuhnya ke dalam dekapan laki-laki tersebut.
Brak!
Bonna memanfaatkan situasi dan momen kekacauan singkat itu dengan sangat rapi. Jemarinya yang lentur bergerak secepat kilat, menyelam ke saku kemeja laki-laki tersebut dan menjepit kartu silver itu ke dalam kepalan tangannya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya laki-laki itu dengan nada kaget, memegang kedua bahu Bonna sembari membantunya untuk berdiri tegak kembali.
Bonna langsung memejamkan mata dan berpura-pura meringis kesakitan, memegangi pergelangan kakinya. "Maafkan aku... heels yang kupakai terlalu tinggi sampai aku kesulitan berjalan dengan benar."
"Tidak masalah," jawab laki-laki itu singkat, mengibaskan tangannya lalu melanjutkan langkahnya tanpa menyadari kartu akses miliknya yang sebelumnya berada di dalam saku kemeja kini telah berpindah tangan ke genggaman Bonna.
Saat rombongan penari lainnya berbelok ke arah kiri menuju ruang ganti utama, Bonna yang berada di bagian paling belakang tidak lagi mengikuti langkah mereka. Ia secara sigap mengambil jalan memutar, berbelok ke arah kanan menyusuri lorong sepi yang minim penerangan.
Bonna melangkah cepat menuju area lift khusus di ujung koridor—lift yang hanya bisa dipanggil dan dibuka menggunakan kartu silver yang baru saja ia curi. Bonna tidak bisa buang-buang waktu. Laki-laki yang kartunya ia curi itu bisa saja sudah menyadari bahwa barang miliknya telah hilang dan mulai mencurigai penari yang baru saja menabraknya.
Bip.
Sensor mengedipkan warna hijau saat kartu diketukkan. Pintu lift terbuka, membawa Bonna naik ke lantai paling atas.
Saat pintu lift kembali berdecit terbuka di lantai tujuan, apa yang Bonna lihat hanyalah koridor sepi berdinding kayu mahoni yang dingin. Di ujung koridor itu hanya ada satu-satunya ruangan besar. Bonna yakin betul itu adalah ruangan yang Dorris maksud.
Dengan napas tertahan, jemari Bonna menggenggam gagang pintu emas ruangan tersebut. Ternyata pintu itu tidak terkunci. Bonna mendorongnya pelan, lalu menyelinap masuk ke dalam ruangan yang remang-remang dan minim cahaya tersebut.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, Bonna menekan alat komunikasi di telinganya.
"Dorris, aku sudah berada di dalam," bisik Bonna seraya menekan benda yang berada di telinganya.
Hening.
Tidak ada jawaban dari Dorris diseberang Sana. Hanya ada suara white noise yang berdenting tipis.
Keheningan itu membuat Bonna mengerutkan kening. Apa mungkin alat yang terpasang pada telinganya ini rusak? Atau detektif brengsek itu sengaja memutus salurannya?
Tanpa ada arahan dari suara Dorris, Bonna memutar otak dan memutuskan untuk menggeledah laci-laci meja kerja kayu yang berdiri megah di tengah ruangan tersebut.
Yang Dorris inginkan adalah barang bukti yang bisa memberatkan pemilik tempat ini—seorang ketua mafia yang nama lengkapnya bahkan sempat terlupakan oleh Bonna karena rasa panik yang merayap.
Bonna mengobrak-ngabrik isi setiap laci dengan cepat namun hati-hati. Kertas-kertas transaksi, tagihan barang mewah, hingga botol minuman mahal tersusun di sana. Tidak ada satu pun barang penting yang bisa Bonna bawa untuk mencapai keinginan Dorris agar ia tidak perlu kembali ke balik jeruji besi yang dingin.
Saat rasa frustrasinya memuncak, mata Bonna tak sengaja menangkap sudut salah satu lemari kayu besar di sudut ruangan.
Di balik pintu lemari yang terbuka sedikit, terdapat sebuah brankas besi tebal tertanam kokoh di dinding.
Bonna melangkah mendekat dan mencoba membuka brankas tersebut. Namun usahanya sia-sia. Brankas besi itu sangat sulit untuk dibuka; pintunya terkunci rapat oleh sistem keamanan digital. Bonna harus memasukkan kombinasi kode angka untuk membukanya.
Bonna mengacak-acak rambut sebahunya yang acak-acakan. Ia frustrasi luar biasa. Di saat-saat kritis seperti ini, Dorris justru tidak bisa ia ajak bicara!
Apa mungkin ia telah dijebak oleh detektif sialan itu?
Seharusnya, cara untuk membobol brankas seperti ini sudah diberitahukan oleh Dorris dari awal agar ia tidak meninggalkan bekas di tempat kejadian.
Oh, shit! ucap Bonna dalam hati, merutuki nasibnya.
Namun, saat Bonna tengah berada di puncak rasa frustrasinya, tiba-tiba saja...
Cklek.
Lampu utama ruangan tersebut menyala terang benderang seketika.
Sebelum Bonna sempat berpaling atau melangkah untuk bersembunyi, ia sudah lebih dulu merasakan sensasi dingin dari sebuah moncong logam tebal yang menempel tepat di pelipis kanannya.
Sentuhan itu begitu presisi. Tanpa perlu menoleh dan melihatnya pun, Bonna sudah bisa menebak dengan sangat jelas benda apa itu.
Benda itu tidak lain adalah senjata api berkaliber tinggi yang bisa meledakkan isi kepalanya hingga berceceran ke lantai hanya dalam hitungan satu detik.
"Well, apa yang kau lakukan di sini? Aku tidak ingat memiliki tamu spesial seorang wanita."
Suara tersebut terdengar teramat berat, dingin, dan bergema penuh kuasa di dalam ruangan yang sunyi. Nada bicaranya begitu tenang, namun justru menyimpan intonasi membunuh yang pekat.
Senjata di pelipisnya makin menekan kulit Bonna, membuat gadis itu kesulitan untuk sekadar menelan ludahnya sendiri. Bulu kuduknya berdiri hebat; rasa dingin menjalar dari leher hingga ke ujung kakinya.
Pria di belakangnya terkekeh pelan—sebuah kekehan gelap tanpa humor sedikit pun—sebelum kembali berkata dengan nada yang menusuk tulang:
"Sepertinya aku harus membunuh lebih banyak orang hari ini, gara-gara Dorris!"