NovelToon NovelToon
SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:45
Nilai: 5
Nama Author: Omni Tales

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkas Nirnama Nomor 0

Suara raungan sirine helikopter membahana tepat di atas atap mobil, memancarkan pendar cahaya putih yang menyilaukan mata.

"N-Nio... mereka mengepung kita... g-bagaimana ini?!" cemas Nora sambil mencengkeram lengan Nio erat-erat.

"Tetap menunduk dan pegangan yang kuat," pangkas Nio tenang, jemarinya sigap menekan tombol transmiter nirkabel.

Sinyal frekuensi tinggi langsung menyembur dari perangkat peretas Nio, mengacaukan sensor navigasi helikopter patroli di atas mereka.

Bzzzt!

Lampu sorot helikopter mendadak berkedip liar sebelum akhirnya padam akibat gangguan arus frekuensi pendek.

Nio membanting kemudi ke kiri dengan gerakan terukur, mengarahkan mobil meluncur masuk ke gang sempit yang senyap.

Rintangan barikade kendaraan taktis terlampaui seketika, menyisakan deru mesin mobil yang meraung menembus kegelapan jalanan.

Dua puluh menit kemudian, Nio mematikan mesin mobil di dalam bunker kumuh bawah tanah Sektor Sembilan.

Keheningan pekat kembali menekan ruangan terasing itu, hanya tersisa pendar redup dari layar laptop Nio yang menyala.

"N-Nio... tempat ini aman, kan...?" bisik Nora pelan, mengusap lehernya yang dibasahi keringat dingin.

"Cukup aman untuk membongkar data. Serahkan pelat mikronya," ujar Nio sambil mengulurkan tangan tanpa menatap Nora.

Nora menyerahkan pelat mikro berlapis kaca itu dengan jemari gemetar, memilih duduk merapat di samping Nio.

"Ngh... baunya agak lembap di sini, tapi aku merasa lebih tenang kalau di dekatmu," gumam Nora lirih.

"Bagus. Tahan emosimu sebentar," balas Nio singkat sambil menancapkan pelat mikro ke slot pembaca laptopnya.

Layar monitor Nio langsung berkedip liar, memuntahkan deretan kode amorf yang rusak akibat pembatasan sirkuit gedung arsip.

Jemari Nio menari cepat di atas keyboard, melakukan rekonstruksi pola algoritma untuk memulihkan struktur data yang terdegradasi.

'Cih! Proteksi enkripsi ganda begini cuma membuang-buang waktu saja!' batin Nio menggeram dalam hati.

Nio menghentikan gerakan tangannya sejenak, meraba tekstur selembar kertas kosong di sakunya untuk mengembalikan fokus otaknya.

"Bagaimana, Nio? Apa data Milo bisa dibaca...?" tanya Nora ragu-ragu dengan vokal bergetar.

"Bisa. Tapi ada residu berkas enkripsi tingkat tinggi yang memblokir folder utamanya," jawab Nio datar.

Nio menyuntikkan skrip dekripsi tandingan, memaksa sistem melepaskan berkas rahasia yang tersembunyi di dalam sirkuit.

Bip!

Sebuah folder merah bertuliskan PROYEK MNEMNOSYNE mendadak muncul di tengah pendar layar monitor.

Nio mengklik folder tersebut, menampilkan rekaman log eksperimen rahasia yang tercatat tepat sepuluh tahun lalu.

Di baris teratas dokumen digital itu, tertera sebuah judul tebal yang membuat pupil mata Nio membesar seketika.

Dokumen Rahasia: Proyek Mnemnosyne - Subjek 0 (Subjek Nirnama).

"P-proyek Mnemnosyne...? Apa itu, Nio...?" gumam Nora heran, ikut membaca tulisan di layar.

"Eksperimen awal penghapusan identitas manusia secara total dari jaringan digital dan ingatan publik," sahut Nio rendah.

Nio menggeser kursor ke bawah, membaca catatan medis dan riset teknis yang terlampir pada dokumen rahasia tersebut.

Subjek 0 adalah preseden pertama pengujian protokol tabula rasa. Seluruh rekaman lahir, silsilah keluarga, serta jejak ingatan subjek telah diekstrak dan dieliminasi tanpa sisa.

'Hah?! Eksperimen penghapusan identitas?! Jadi sepuluh tahun lalu sudah ada korban pertama?!' batin Nio terkejut.

Nio menekan tombol pembuka lampiran foto identitas Subjek 0 yang terenkripsi di dalam dokumen tersebut.

Namun, gambar wajah pada berkas rahasia itu telah tereliminasi dan digantikan oleh simbol kertas putih polos.

"Nio... lihat ini... ada catatan transaksi nama pejabat konsorsium di lampiran bawah!" seru Nora menunjuk layar.

"Tunggu sebentar. Jangan geser fokusnya dulu," tegur Nio tegas tapi tenang.

"Ah... m-maaf Nio, aku terlalu terburu-buru..." bisik Nora pelan sambil menarik jarinya kembali.

Nio terus menyusuri rincian teks di dalam berkas rahasia itu, menemukan nama Zero tertera sebagai kepala teknis proyek.

Catatan Zero: Subjek 0 adalah karya terbaikku. Dia adalah bukti bahwa manusia bisa dibebaskan dari penderitaan identitas. Namun, dia melarikan diri sebelum pembersihan memori tahap akhir selesai.

Nio tertegun sejenak, meremas selembar kertas kosong di dalam saku pakaiannya dengan makin kencang.

Sensasi terasing yang luar biasa mendadak menyergap batin Nio, membuat pelipisnya berdenyut nyeri.

'Argh! Kenapa dada gue mendadak sesak begini?! Apa kertas kosong di saku gue ini ada hubungannya sama Subjek 0?!' batin Nio bergulat dengan pikirannya sendiri.

"N-Nio... kamu kenapa...? Wajahmu agak pucat..." tanya Nora cemas, refleks meletakkan tangannya di lengan Nio.

"Gue gak apa-apa. Cuma butuh jeda napas sebentar," pangkas Nio dingin, membiarkan tangan Nora menempel di lengannya.

Nora menatap profil samping wajah Nio dengan tatapan hangat, merasakan dorongan emosional yang kuat untuk terus mendukung pria itu.

"Nio... apa kamu kenal siapa Subjek 0 ini...?" tanya Nora berbisik pelan.

"Gue tidak kenal siapa pun. Gue cuma pakar data yang mau menyelesaikan kasus ini sampai tuntas," sahut Nio tajam.

Nio mengklik lampiran kedua di dalam folder tersebut, yang berisi daftar manifes korban penghilangan berantai terbaru.

Di baris nomor 47, nama Milo tertera jelas beserta kode lokasi penyimpanan residu memori fisiknya.

"MILO!! ITU NAMA ADIKKU, NIO!! DIA MASIH ADA!!" jerit Nora histeris bercampur gembira, matanya berkaca-kaca.

"Kendalikan suaramu. Suara keras di bunker bawah tanah bisa memicu pantulan gema ke luar," pangkas Nio mengingatkan.

Nora seketika menutup mulutnya dengan kedua tangan, mengangguk cepat sambil menahan air mata bahagianya.

"M-maaf... aku reflek senang banget... terima kasih, Nio..." rintih Nora lega.

"Bagus. Sekarang baca lokasi penyimpanan residu memori adikmu ini baik-baik," ujar Nio sambil menunjuk baris koordinat.

"Stasiun Induk Sektor Sembilan... Lokus Loker B-12..." baca Nora dengan vokal bergetar.

"Zero menyimpan semua data fisik korban di loker stasiun itu sebelum mengeliminasinya secara permanen," jelas Nio.

"J-jadi kita harus ke sana sekarang...?" tanya Nora berharap.

"Iya. Tapi tempat itu pasti sudah dijaga ketat oleh anak buah Zero dan pasukan konsorsium," pangkas Nio.

Nio mencabut transmiter nirkabelnya dari slot laptop, lalu mengemas seluruh peralatannya ke dalam tas hitam dengan cepat.

Nora berdiri, mengikuti pergerakan Nio dengan tatapan penuh kepercayaan.

"Nio... apa pun yang kita hadapi di stasiun nanti, aku bakal ikut di sebelahmu," tegas Nora mantap.

"Pastikan langkahmu cepat dan jangan tertinggal. Ayo jalan," sahut Nio datar.

"Iya, Nio," bisik Nora patuh, melangkah merapat di samping tubuh Nio.

Mereka keluar dari bunker bawah tanah, berjalan menyusuri koridor beton yang senyap dan berbau lembap.

Suara gemuruh kereta api malam terdengar samar-samar dari kejauhan, menandakan Stasiun Induk semakin dekat.

Namun, tepat saat mereka melangkah keluar dari pintu darurat bunker, sebuah bayangan amorf berdiri menanti di balik pendar lampu jalanan.

Pria tinggi kurus berpakaian serba hitam itu memegang sebuah detonator jarak jauh di tangan kanannya.

"Selamat malam, Subjek 0. Sudah sepuluh tahun aku menunggu momen reuni kita ini," tegur Zero dengan kekehan dinginnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!