Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Belum sempat Clark dan Dante melangkah jauh ke dalam, suara wanita terdengar jernih dan tegas dari belakang.
"Dante."
Langkah keduanya terhenti seketika. Clark berbalik perlahan dan melihat sesosok wanita berjalan mendekat dengan anggun, gaun hitam yang dikenakannya terlihat begitu mewah.
'Pasti itu Freya..'
Freya berhenti tepat di hadapan mereka berdua. Tatapannya menyapu wajah Dante terlebih dahulu, seakan tak percaya pria yang dulu begitu dingin dan tak tersentuh itu kini berdiri di samping wanita lain.
Lalu pandangannya beralih perlahan kepada Clark, menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan senyum yang tampak ramah namun menyembunyikan ribuan bilah tajam yang siap melukai.
"Sudah begitu lama kita tak berjumpa, Dante..." ucapnya pelan, nada bicaranya penuh makna yang tak sepenuhnya tersampaikan.
"Aku tak merasa perlu menghitung waktu yang berlalu," jawab Dante dingin tanpa bermaksud menyembunyikan perasaannya yang tak bersahabat sama sekali.
Senyum di bibir Freya seketika membeku, namun ia segera menguasai diri kembali dan menatap Clark seolah baru saja menyadarinya.
"Jadi... kaulah Clark," ucapnya pelan, menatap lekat-lekat seakan ingin menemukan kekurangan yang tak terlihat oleh mata biasa.
Clark mengangguk sopan, tak ingin kehilangan ketenangannya walau napasnya seakan tertahan di tenggorokan.
"Benar. Saya Clark."
Freya tersenyum tipis kembali, tatapannya menyiratkan penghinaan yang samar namun terasa begitu menyakitkan.
"Saya harus mengakui sesuatu... kau ternyata jauh lebih sederhana daripada yang saya bayangkan."
Dante hendak melangkah maju dan membela istrinya, namun Clark lebih dulu meremas lembut telapak tangan suaminya, memberi isyarat agar ia membiarkannya berbicara sendiri. Clark pun menatap Freya lurus ke manik matanya yang menyembunyikan kecemburuan mendalam.
"Dan Anda pun ternyata berbeda dari yang saya bayangkan," ucap Clark tenang, senyumnya tak kalah anggun meski hatinya berdebar kencang. "Saya membayangkan wanita yang sejak kecil dipersiapkan untuk menjadi nyonya keluarga Leone akan jauh lebih dewasa dan bijaksana daripada sekadar melontarkan perkataan yang tak perlu di telinga orang lain."
Udara di sekitar mereka seketika membeku. Beberapa orang yang menyaksikan dari kejauhan tak sengaja menahan napas, tak menyangka wanita yang tampak lembut itu ternyata mampu menjawab dengan begitu tegas dan cerdas. Dante menatap istrinya tak jauh dari samping, dan perlahan sudut bibirnya terangkat bangga, dan sepenuhnya tenang.
Freya membuka mulutnya hendak membalas, namun suara dentang tongkat yang menghantam lantai batu terdengar mendahuluinya.
Tok... tok... tok...
Langkah itu berat dan penuh wibawa. Vittorio muncul dari pintu utama yang terbuka lebar, matanya yang menua namun tetap tajam menatap ketiga orang yang berdiri membeku di halaman itu satu per satu.
"Sepertinya pertemuan hari ini akan jauh lebih menarik daripada yang sempat saya duga..." ucapnya pelan namun terdengar begitu jelas, senyum tipis yang penuh tipu muslihat terukir di wajahnya yang keriput namun penuh kekuasaan.
Keheningan seketika menyergap ruangan yang megah itu. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita mulai"
Semua orang yang terkait mulai masuk ke dalam ruang utama, kemudian Vittorio duduk di tengah dan tanpa basa-basi langsung bertanya, "Bisakah saya mendapat jawaban dari Clark, Apa yang membuatmu merasa pantas berdiri di tengah keluarga Luca dan menjadi pendamping Dante?"
Pertanyaan itu menggantung berat di udara. Namun Clark justru tersenyum lembut, seakan pertanyaan itu bukanlah sesuatu yang menakutkan baginya.
"Pantas?" ulangnya dengan tenang, seakan kata itu sedang ia timbang maknanya. "Menurut pendapatku, tak seorang pun berhak menilai apakah aku pantas mendampingi Dante hanya dengan melihat dari mana asalku atau nama apa yang kusandang."
Vittorio mengerutkan kening, menatapnya dengan pandangan yang semakin tak terduga.
"Jawaban yang cukup berani."
"Aku belum selesai," potong Clark tenang. Suasana kembali membeku, semua mata terpaku pada sosok ramping yang berdiri tegak itu.
"Aku memang tidak lahir dari keluarga berpengaruh atau bergelar," lanjutnya dengan suara yang jernih dan tegas. "Aku tak membawa nama besar yang bisa dipamerkan, tak pula memiliki kekayaan yang setara dengan kekayaan yang kalian miliki."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya meresap ke dalam hati setiap orang yang mendengar. Beberapa orang tersenyum sinis, seakan telah menang sebelum perdebatan usai. Namun Clark tak tergoyahkan sedikit pun. "Lantas... apakah itu berarti aku tak berhak mencintai pria yang menjadi suamiku?"
Tak ada yang menjawab. Keheningan menjadi saksi atas pertanyaan sederhana namun begitu tajam itu.
Clark memalingkan wajahnya sejenak kepada Dante. Pria itu sedari tadi hanya berdiri diam, namun sepasang matanya tak pernah lepas dari wajah istrinya.
"Dante tak memilihku karena siapa keluargaku. Ia memilihku karena ia sendiri menginginkanku." Kalimat itu jatuh bagai batu yang menghantam permukaan air, membuat raut wajah banyak orang di ruangan itu berubah tak tenang. "Dan aku pun memilihnya sepenuh hatiku."
Clark menggenggam jemari Dante erat, seakan mencari kekuatan sekaligus memberikannya. "Maka jika kalian ingin tahu alasan apa yang membuatku berdiri di sini sebagai istrinya, tanyalah langsung kepadanya. Sebab aku tak pernah memaksanya untuk menikah denganku."
Salah seorang pria paruh baya yang duduk di sisi kanan meja panjang tiba-tiba terkekeh pelan, suaranya terdengar penuh cemooh. Wajahnya yang keras menyiratkan bahwa ia telah melihat banyak hal dalam hidupnya, dan tak mudah dikejutkan oleh perkataan seorang wanita muda.
"Berani sekali kau bersuara begitu. Apa kau membayangkan bahwa cukup dengan membuat Dante jatuh cinta, kau akan mampu bertahan hidup di tengah keluarga yang penuh bahaya seperti ini?"
Clark menatapnya lurus tanpa menunduk.
"Maaf, Tuan... kapan aku pernah berkata bahwa aku ingin menjadi seperti kalian?" tanyanya tenang. "Aku tak datang kemari untuk merebut kedudukan siapa pun. Aku tak datang kemari pula untuk membagi harta atau meminta kekuasaan."
Pandangannya menyapu seluruh wajah yang ada di ruangan itu. "Aku berdiri di sini semata-mata karena suamiku memintaku untuk tak meninggalkan sisinya. Itulah satu-satunya alasan yang kumiliki."
Dante menatap punggung ramping itu, merasakan sesuatu yang hangat dan membanggakan mengalir deras di dadanya. Wanita ini tak membutuhkannya untuk membela setiap kata yang terucap. Ia mampu membela dirinya sendiri dengan kelembutan yang tak tertembus.
Vittorio menatapnya semakin tajam, seakan sedang mengukur seberapa jauh keteguhan hati wanita itu.
"Kau paham betul siapa Dante?"
"Tentu saja," jawab Clark mantap.
"Dia adalah pewaris tunggal keluarga Luca. Segala bahaya yang mengancam keluarga ini akan jatuh pula kepadanya."
"Aku mengetahuinya."
"Dia memiliki musuh yang tak sedikit. Banyak orang menginginkan nyawanya."
"Itu pun aku tahu."
"Suatu hari kelak, ia akan memimpin seluruh keluarga ini dan semua yang ada di bawah namanya."
Clark tersenyum lembut, menatap suaminya sekilas sebelum kembali menatap lawan bicaranya.
"Itulah sebabnya aku memilih untuk tetap berdiri di sisinya."
Vittorio mengerutkan kening semakin dalam.
"Karena kau ingin kelak menjadi Nyonya Besar keluarga Luca?"
"Karena aku adalah istrinya."
Jawaban itu terlontar begitu cepat, begitu tegas, dan begitu tulus hingga membuat ruangan itu kembali hening seketika. Dante sendiri sempat menoleh ke arahnya, terkesan oleh ketegasan yang tak pernah ia ragukan.
"Aku tak membutuhkan gelar atau kedudukan untuk mencintai seseorang," tambah Clark pelan namun tegas.
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭