Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Pertiwi
Malam merayap makin pekat dan mencekam di atas langit kota Madiun. Hujan deras yang mengguyur sejak petang telah menyisakan gerimis tipis yang konstan, meninggalkan hawa dingin yang merayap menusuk hingga ke dalam tulang sumsum.
Jarum jam dinding tua di lorong tengah menunjuk tepat di angka dua belas malam. Suara dentangnya mengalun berat dua belas kali, memecah kesunyian rumah yang terasa kian asing.
Warung Nasi Broto di bagian depan memang telah tutup sejak tiga jam lalu dan sepi dari hiruk-pikuk pelanggan, namun bau sangit uap kluwek, sisa gajih cair, dan bumbu pekat masih menggantung kental di udara.
Bau gurih masakan itu beradu kencang dengan aroma minyak tanah, kelembapan dinding semen yang basah, serta bau anyir yang samar-samar merembes keluar dari dalam kamar belakang.
Di dalam kamar yang hanya diterangi remang-remang bohlam kuning lima watt, Galang duduk bersimpuh di atas lantai semen yang dingin. Posisinya tak bergeser sedikit pun dari samping kasur.
Tangan kanannya tak pernah melepaskan genggaman jemari Pertiwi yang kian membatu, kaku, dan mengecil. Suhu tubuh anak gadis itu kini justru berbalik secara drastis—jika beberapa jam lalu dahinya memancarkan panas yang membakar bagaikan bara api, kini kulitnya mendadak berubah menjadi sedingin es yang membeku di tengah padang salju.
Napas Pertiwi makin pendek, patah-patah, dan berat. Setiap hembusan napasnya menyuarakan derak halus menyerupai ranting kering yang hendak patah.
Ruam kehitaman yang semula hanya menjalar di area leher dan lengan, kini telah menutup penuh seluruh permukaan dadanya.
Di tengah kegelapan kamar yang remang, guratan-guratan hitam berbentuk sulur akar itu seolah-olah hidup—berdenyut lambat dan memancarkan pendar keperakan samar yang mengerikan, menegaskan bahwa racun ghaib pesugihan telah menguasai seluruh aliran darahnya.
"Mas ... Galang ...." Suara Pertiwi mengalun bagai bisikan angin malam yang nyaris kehilangan daya. Matanya yang cekung dan berlingkar hitam menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, tanpa fokus.
Galang mendekatkan telinganya ke bibir Pertiwi yang pecah-pecah dan menghitam. Tangannya yang lain membelai lembut rambutnya yang terasa makin kasar dan rapuh. "Sabar, Tiwi ... Mas di sini. Mas akan terus jaga Tiwi. Jangan takut ya ...," bisik Galang dengan tenggorokan yang menyempit hebat menahan lelehan air mata amarah dan keputusasaan.
Meski pada dasarnya usia Galang satu tahun lebih muda. Namun, keduanya memiliki ikatan yang seolah Galang adalah sang kakak. Jarak usia yang begitu dekat juga membuat keduanya jauh lebih akrab dan saling menyayangi.
"Bapak ... ada di sudut kamar, Mas," bisik Pertiwi lagi. Jemarinya yang dingin dan kaku gemetar pelan di dalam genggaman Galang. "Bapak berdiri di samping Mas Bayu. Mereka berdua ... mereka melambaikan tangan ... manggil-manggil Tiwi ...."
Jantung Galang serasa berhenti berdetak seketika. Hawa dingin menjalar dari telapak kakinya langsung menuju tengkuk. Ia menoleh cepat ke sudut kamar yang gelap gulita di dekat lemari kayu tua peninggalan ayahnya.
Secara kasat mata, tak ada siapa-siapa di sana selain bayangan hitam perkakas kusam. Namun, panca indera batin Galang yang kebal terhadap efek hipnotis pesugihan justru merasakan kehadiran ghaib yang teramat padat dan menghimpit—sebuah presensi yang membawa aroma busuk tanah kuburan basah, minyak duyung, dan kembang kantil yang mulai membusuk.
Tiba-tiba, tanpa ada angin kencang atau tanda-tanda kerusakan arus listrik, seluruh pendar cahaya di dalam rumah padam seketika.
CTAK!
Kegelapan pekat yang membekukan langsung menyergap seluruh sudut ruangan. Suara deru gerimis tipis dan derik jangkrik di luar rumah mendadak senyap total, seolah-olah seluruh dimensi alam nyata dipaksa bungkam oleh daya ghaib yang mahadahsyat.
Suasana menjadi begitu hening hingga suara detak jantung Galang sendiri terdengar seperti dentuman drum di dalam dadanya.
Dalam kegelapan mutlak itu, hawa dingin yang luar biasa mendadak menusuk tengkuk Galang hingga bulu kuduknya berdiri tegak. Bau amis darah segar yang kental dan aroma minyak mayat menyembur kuat dari balik celah pintu kamar yang tertutup rapat.
Kreeeeek ....
Pintu kamar terdorong terbuka pelan-pelan dengan sendirinya, menyuarakan gesekan kayu yang ngilu. Dari balik kegelapan lorong luar, langkah kaki berdetuk lambat dan teratur.
Tuk ... tuk ... tuk.
Galang memutar tubuhnya, pasang badan melindungi Pertiwi yang terbaring lemah di belakang punggungnya. Tangannya meremas potongan kain linen tua di dalam saku celananya—kain yang kini bergetar hebat dan memancarkan rasa dingin yang menusuk tulang.
Di ambang pintu kamar, berdiri sosok tinggi hitam besar dengan wajah tanpa bentuk yang jelas, kecuali dua pasang mata merah menyala bagaikan bongkahan bara api yang menyala di tengah kegelapan malam. Merekalah entitas penjaga kuali dapur pesugihan.
Di samping makhluk mengerikan itu, Pak Sapta berdiri tegap memegang tongkat berkepala naganya. Pria tua itu tidak memegang lampu tempel mau pun senter; pendar merah dari mata sosok tinggi di sampingnya sudah cukup untuk membiaskan senyum kaku dan dingin yang terukir sempurna di wajahnya.
"Waktunya telah tiba, Galang," ucap Pak Sapta. Suaranya tidak keluar melalui udara, melainkan berupa gema berat yang bergetar langsung di dalam rongga kepala dan benak Galang.
"Pergi kamu iblis! Jangan sentuh Tiwi!" jerit Galang histeris. Seluruh keberaniannya memuncak saat ia mencoba berdiri untuk menerjang Pak Sapta dan sosok hitam tersebut.
Namun sebelum Galang sanggup menggerakkan kakinya, gelombang hawa ghaib yang amat tebal dan berat menghantam dadanya secara telak.
BUMM!
Galang tersungkur kembali ke atas lantai semen. Tubuhnya mendadak kaku total, tak sanggup digerakkan sama sekali dari leher hingga ujung kaki, seolah-olah seluruh persendiannya telah dipaku oleh pasak-pasak tak kasat mata. Ia hanya bisa terbaring miring, menatap horor ke arah tempat tidur Tiwi.
Dari atas kasur busa, tubuh Pertiwi mendadak mengejang hebat. Tulang-tulangnya terdengar berkeretak. Tubuh anak gadis itu perlahan terangkat beberapa sentimeter dari permukaan kasur tanpa ada satu pun tangan manusia yang menyentuhnya.
Matanya membelalak lebar hingga memutih penuh, dan dari tenggorokannya yang menyempit, meluncur sebuah erangan panjang yang melengking kaku, memecah keheningan malam yang mencekam.
"MAS GALANG! TOLONG TIWI! PANAS, MAS!"
Srrttt ....
Uap hitam pekat yang berbau anyir menyengat merembes keluar dari mulut, hidung, dan kedua telinga Pertiwi. Uap itu berputar di udara, lalu ditarik secara paksa menuju telapak tangan sosok tinggi hitam yang membungkuk di ambang pintu.
Uap hitam itu bukan sekadar asap—itu adalah sari kehidupan, energi vital, dan darah murni Pertiwi yang disedot habis tanpa sisa.
Galang berjuang setengah mati melawan kelumpuhan ghaib yang mengikat tubuhnya. Pembuluh darah di lehernya menegang, dan air mata amarah serta keputusasaan menyembur deras membasahi pipinya.
"BERHENTI! JANGAN PERTIWI! AMBIL NYAWAKU SAJA! AMBIL NYAWAKU!"
Pak Sapta hanya terkekeh pelan—sebuah tawa dingin tanpa empati yang merayap bagaikan ular di atas lantai.
"Darahmu tidak ada harganya, Galang."
Secara perlahan, erangan Pertiwi mulai melemah. Tubuhnya yang terangkat di udara terkulai jatuh kembali ke atas kasur busa dengan hentakan kaku.
Dada anak gadis itu tak lagi bergerak naik turun. Kejang-kejang di jemarinya berhenti seketika. Pendar keperakan dari ruam hitam di kulitnya pun perlahan-lahan memudar dan padam, menyisakan jasad yang kaku, pucat pasi, dan mengering bagaikan ranting kayu tua yang telah mati bertahun-tahun.
Di dalam saku celana Galang, potongan kain linen tua bergetar mencapai puncaknya sebelum akhirnya terbelah dua secara ghaib. Di atas kain tersebut, sebuah garis merah tebal otomatis tergores dan mencoret nama Pertiwi Broto—menandakan bahwa transaksi tumbal kedua telah sah dan tercatat di alam ghaib.
Bersamaan dengan tumbangnya jasad Pertiwi, dari arah dapur belakang rumah terdengar suara gemuruh yang amat mengerikan.
GLUK ... GLUK ... GLUK.
Kuah rawon di dalam kuali raksasa mendidih secara liar di atas tungku yang mati! Uap harum bumbu kluwek yang teramat gurih, pekat, dan memikat mendadak menyebar kental keluar dari area dapur, merayap cepat menyusuri lorong tengah dan memenuhi seluruh ruangan rumah—sebuah penanda mistis bahwa persembahan jiwa dan darah anak kedua telah berhasil diterima dan dilarutkan ke dalam kuali pesugihan.
Listrik rumah mendadak menyala kembali dengan kedipan cepat.
CTAK!
Pendar cahaya dari lampu bohlam kuning kembali menerangi kamar yang basah oleh duka. Sosok tinggi hitam dan Pak Sapta telah menghilang dari ambang pintu, menyisakan aroma kembang kantil membusuk yang pekat menggantung di udara.
Bersamaan dengan menyalanya lampu, kelumpuhan di tubuh Galang menghilang. Ia merangkak histeris di atas lantai semen, menggapai dan memeluk jasad Pertiwi yang telah dingin membatu.
"Tiwi ... bangun, Tiwi .... Mas di sini ...," rintih Galang, suaranya pecah menjadi jeritan duka yang menyayat hati di tengah rumah yang membisu. "Maafkan Mas ... maafkan Mas Galang nggak bisa jaga kamu ...."
Tak ada jawaban. Hanya keheningan malam dan deru mendidih dari kuali dapur di belakang yang terus bergejolak, siap menyambut ribuan pembeli yang akan kembali membanjiri Warung Nasi Broto esok hari untuk menikmati hasil persembahan darah yang kedua.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya