Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.
Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.
Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.
Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
"Gak usah dibahas."
Helga tidak meraih amplop biru pucat yang diulurkan Regina melewati celah pagar besi.
Tangannya tetap berada di stang motor matic hitamnya, menahan beban kendaraan roda dua itu dengan satu kaki yang menapak pada aspal.
Regina menahan posisinya. "Ini ada di kotak OSIS tadi siang, Ga. Orang yang nulis sebut nama bokap elo sama—"
"Gua bilang gak usah, Regina." Suara Helga memotong pelan, tanpa nada tinggi, namun cukup tegas untuk membuat udara sore di antara mereka terasa makin berat.
Helga berkedip sekali, menatap lurus amplop biru itu sebelum mengalihkan pandangan kembali ke wajah Regina.
"Soal bokap gua, itu bukan urusan anak-anak sekolah. Mau ada yang nulis surat kaleng atau apa, gua gak peduli. Tolong jangan campurin urusan itu sama urusan OSIS."
Regina perlahan menurunkan tangannya.
Amplop biru itu merapat ke samping paha celana kainnya.
Tangannya meremas pinggiran kertas surat itu hingga sedikit terlipat.
Krik.
"Gua cuma gak mau elo kena masalah di sekolah," bisik Regina.
"Gua udah biasa kena masalah," sahut Helga datar.
Ia menarik helm bogo hitam dari spion, lalu memakainya.
Klik.
Tali pengikat helm terpasang rapat di bawah dagunya.
"Gua harus ke rumah sakit sekarang. Keburu kasir obatnya tutup."
"Helga—"
"Makasih kue basahnya udah dititip ke Mama lu," potong Helga lagi.
Ia memutar kunci kontak.
Klek.
Mesin motornya menyala dengan raungan halus.
Brum, brum...
Tanpa menanti tanggapan lebih lanjut, Helga memutar stang motornya, membawa kendaraannya melaju meninggalkan lorong perumahan menuju jalan raya utama yang mulai dipenuhi sorot lampu kendaraan malam.
Regina berdiri kaku di samping pagar besi yang terbuka separuh.
Matanya memperhatikan lampu belakang motor Helga yang memerah, makin menjauh hingga akhirnya hilang di tikungan kompleks.
Angin sore berhembus makin dingin, membawa aroma tanah lembap dan bau asap kendaraan tipis.
Regina berbalik perlahan, melangkah melintasi halaman kecil menuju pintu utama.
Langkah kakinya menyeret sandal rumah berbahan karet di atas ubin teras.
Sret, sret.
Pintu kayu terdorong pelan.
Kriieek.
Ratna keluar dari arah lorong dapur sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.
Ia sudah mengenakan daster batik longgar berwarna hijau tua.
"Siapa yang datang, Reg?" tanya Ratna sambil menghentikan usapan handuk di kepalanya.
Matanya melirik ke arah kantong plastik di tangan kiri Regina.
"Eh, kue basahnya udah sampe?"
Regina meletakkan kantong plastik berisi kue lupis dan onde-onde hangat itu di atas meja makan kayu.
Puk.
"Helga, Ma," jawab Regina singkat.
Wajahnya cemberut, bibirnya mengatup rapat.
Ia memalingkan wajah, menyapu pandangan ke arah rak sepatu di dekat pintu tanpa benar-benar melihatnya.
Ratna menaikkan sebelah alisnya.
Ia melangkah mendekati meja makan, meraih kantong plastik itu lalu mencium aroma kue yang menguar halus.
"Loh, kok Helga-nya gak disuruh masuk dulu? Kan Mama mau ganti uang kuenya, sekalian kasih dia minum."
"Dia langsung pergi," balasan Regina terdengar lesu, nyaris seperti bisikan yang tertahan di tenggorokan.
"Langsung pergi?" Ratna mengamati raut muka anak perempuannya yang bertekuk.
"Kalian berantem lagi? Tadi malam kan udah baik-baik aja pas dia ngantar kamu pulang hujan-hujanan."
"Gak berantem," Regina menghentakkan kakinya pelan ke lantai keramik.
Thuk.
"Dia yang buru-buru. Mau ke rumah sakit tebus obat."
Regina tidak menunggu ibunya merespons lagi.
Ia memutar badan, berjalan melintasi ruang keluarga dengan bahu yang agak melengkung ke dalam.
Pintu kamar tidurnya didorong agak keras, lalu ditutup rapat dari dalam.
Brak. Kliik.
Suara kunci pintu terdengar diputar dari dalam.
Ratna berdiri sendirian di dekat meja makan.
Tangannya masih memegang kotak kue basah yang hangat.
Ia menggelengkan kepala pelan, menghela napas panjang melalui hidung.
"Dasar anak muda," gumam Ratna pada dirinya sendiri.
Tangannya mengambil sebuah piring mika dari lemari dapur, memindahkan onde-onde itu satu per satu agar tidak terlalu lembap terkena uap air di dalam plastik.
Pukul 18.25 WIB.
Di dalam kamar tidur berukuran empat kali empat meter itu, lampu meja belajar memancarkan cahaya kuning redup.
Regina duduk di tepi ranjang berseprai merah muda.
Buku pelajaran Fisika kelas 12 terbuka di atas mejanya, namun pulpen karakter yang dipegangnya hanya berputar-putar di antara jari telunjuk dan jempolnya tanpa menyentuh kertas.
Tuk. Tuk.
Ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya.
"Regina? Mama masuk ya, Nak?" suara Ratna terdengar dari luar.
Regina tidak menjawab, namun ia bergeser sedikit ke tengah ranjang, menarik bantal busa ke pangkuannya dan memeluknya erat-erat.
Gagang pintu bergerak turun.
Klek.
Ratna melangkah masuk membawa cangkir keramik berisi teh melati hangat.
Pintu dibiarkannya membiaskan sedikit cahaya terang dari koridor luar.
Ratna meletakkan cangkir teh di atas meja belajar dekat buku Fisika yang terbuka, lalu berjalan mendekati ranjang.
Ia duduk di tepi kasur, tepat di samping Regina.
Busa kasur melesak pelan menyerap bobot tubuhnya.
"Minum tehnya dulu. Masih hangat," kata Ratna lembut.
Regina menyandarkan dagunya di atas bantal yang dipeluknya.
Matanya menatap lurus ke arah pola garis-garis pada kain seprai.
"Regina gak haus, Ma."
"Bukan masalah haus atau enggaknya," sahut Ratna sambil mengusap pelan punggung tangan Regina yang tergeletak pasif.
"Wajah kamu dari tadi pas masuk kamar udah kayak lipatan baju belum disetrika. Kenapa? Helga ngomong apa sama kamu?"
Regina menarik napas pendek.
Tenggorokannya terasa sedikit kering saat mencoba merangkai kata.
"Helga itu... kok keras kepala banget sih, Ma?" tanya Regina tiba-tiba. Suaranya agak bergetar pelan di ujung kalimat.
Ratna tersenyum tipis.
Matanya menatap lembut ke arah anak tunggalnya itu.
"Keras kepala gimana maksud kamu?"
"Dia tuh apa-apa disimpan sendiri," Regina membetulkan posisi pelukan bantalnya, meremas ujung kainnya hingga kusut.
"Tadi di sekolah dia dimarahin Guru BK gara-gara nanggung salah temennya. Terus tadi sore pas Regina nanya soal surat kaleng yang bawa-bawa nama papanya, dia langsung nutup diri. Bilang gak usah dibahas, bilang bukan urusan Regina."
Ratna mendengarkan tanpa memotong.
Jarinya bergerak pelan mengusap helai rambut Regina yang terurai di bahu.
"Terus dia langsung pergi gitu aja buat tebus obat mamanya ke rumah sakit," lanjut Regina. Suaranya makin merendah.
"Dia kerja serabutan dari pagi sampe malam. Di kafe, di bengkel, di stand foto... Tapi kalau ditanya, ekspresinya selalu biasa aja. Kayak gak ada beban sama sekali. Padahal Regina tahu dia pasti capek banget."
Ratna mengangguk-angguk kecil. "Kamu kasihan sama dia?"
Regina terdiam selama tiga detik.
Jarinya memutar-mutar benang tiras di sudut bantal.
"Regina bukan cuma kasihan, Ma," bisik Regina pelan.
Wajahnya agak menunduk, menyembunyikan pipinya yang mendadak terasa hangat.
"Regina... Regina suka sama Helga."
Ratna tidak terkejut.
Tangan ibunya yang hangat berpindah mengusap jemari Regina, menggenggamnya pelan.
"Mama udah tahu."
Regina menoleh cepat.
Matanya membelalak tipis.
"Mama tahu dari mana?"
"Cara kamu nungguin SMS dia dari tadi siang," sahut Ratna dengan kekeh tipis yang sangat pelan.
"Cara kamu bolak-balik nengok jendela depan tiap ada suara motor lewat. Anak Mama kan cuma kamu, ya Mama tahulah."
Regina menggigit bibir bawahnya.
Wajahnya makin cemberut, namun pelukannya pada bantal sedikit merenggang.
"Tapi Regina sebal sama dia, Ma. Kenapa sih dia harus nanggung semuanya sendirian? Papanya bercerai terus nikah lagi, mamanya sakit parah di rumah sakit, dia harus cari uang sendiri buat sekolah sama bayar obat... Dia itu masih SMA, Ma. Umur kita kan sama. Kenapa dia harus sekuat itu di masa remajanya?"
Ratna menarik napas panjang, tatapannya menerawang ke arah jendela kamar yang menampilkan kegelapan malam kompleks.
"Regina," panggil Ratna pelan. "Orang yang dibentuk sama keadaan sulit dari kecil itu beda sama kita. Helga itu bukan gak mau cerita atau sok kuat. Dia cuma gak biasa bersandar sama orang lain."
"Tapi kan ada Regina... ada temen-temennya," sela Regina lirih.
"Buat anak kayak Helga, minta tolong atau kelihatan lemah di depan orang yang dia pedulikan itu rasanya takut," jelas Ratna dengan nada sangat lembut.
"Dia takut jadi beban buat kamu. Dia tahu kamu anak pintar, sekolahnya lancar, keluarganya utuh. Dia gak mau masalah hidupnya yang rumit itu bikin kamu ikutan pusing."
Regina tertunduk.
Kata-kata ibunya masuk tepat ke dalam lubuk hatinya.
Jarinya meremas jemari ibunya balik.
"Terus Regina harus gimana, Ma?" tanya Regina. "Regina gak suka diginiin. Dia kayak bikin benteng tinggi banget yang gak bisa Regina tembus."
Ratna meraih cangkir teh melati dari meja belajar, lalu menyodorkannya ke tangan Regina.
"Nih, minum dulu tehnya. Udah agak dingin."
Regina menerima cangkir keramik itu, memegang melingkar dengan kedua telapak tangannya untuk merasakan sisa kehangatan cangkir.
Sleeerp.
Ia menyesap teh itu sedikit.
Rasa manis pahit melati menyentuh lidahnya.
"Kamu gak perlu paksa robohin bentengnya Helga," ucap Ratna seraya merapikan poni rambut Regina yang menutupi dahi.
"Cukup ada di sana. Kasih tahu dia kalau kamu gak bakal pergi cuma gara-gara tahu hidup dia rumit. Anak kayak Helga itu cuma butuh bukti kalau ada orang yang mau terima dia apa adanya, tanpa harus menuntut dia jadi sempurna."
Regina menatap permukaan air teh di dalam cangkirnya yang bergelombang tipis.
"Kalau dia tetap gak mau cerita gimana?"
"Ya biarin," sahut Ratna santai. "Sediain aja kue basah kalau dia datang. Atau beliin dia es teh manis pas dia lagi capek kerja. Hal-hal kecil kayak gitu justru yang paling berharga buat orang yang tiap hari harus bertarung sama hidup."
Regina menghembuskan napas panjang.
Wajah cemberutnya perlahan melunak, digantikan oleh raut wajah yang lebih tenang meskipun masih ada sisa kelelahan emosional di matanya.
"Mama kok sok tahu banget sih soal cowok?" gumam Regina pelan, berusaha mengalihkan suasana.
Ratna tertawa kecil, menepuk paha Regina pelan.
Puk.
"Ya jelas tahulah! Papa kamu dulu waktu pendekatan sama Mama juga sukanya belagu. Sok-sok bisa benerin genteng bocor sendiri padahal tangannya gemeteran karena takut ketinggian."
Regina ikut tertawa tipis, tawa pertama yang keluar dari mulutnya sejak sore tadi.
"Papa beneran gitu?"
"Beneran!" sahut Ratna sambil berdiri dari kasur.
"Yaudah, diminum tehnya sampe habis. Terus belajar Fisikanya. Jangan dibayangin terus mukanya Helga di buku rumus."
"Mama apa sih!" cetus Regina sambil memalingkan wajahnya yang mendadak merona merah.
Ratna melangkah menuju pintu kamar.
Sebelum keluar, ia memegang gagang pintu dan menoleh kembali ke arah Regina.
"Oh iya, besok Sabtu kan libur. Mama mau masak soto ayam. Kamu SMS Helga, suruh dia mampir makan siang kalau gak ada shift kerja."
Regina membelalak.
"Ma! Kenapa harus Regina yang SMS?!"
"Lah, yang suka sama Helga siapa? Masa Papa kamu?" sahut Ratna jahil, lalu cepat-cepat keluar dan menutup pintu kamar.
Klek.
Regina meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas meja belajar.
Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu meja belajar.
Di atas meja, di sebelah buku Fisika, ponselnya tergeletak pasif.
Regina merogoh saku celananya, mengeluarkan amplop biru pucat yang tadi tidak sempat diambil oleh Helga.
Ia membuka lipatan amplop itu perlahan, membaca tulisan tangan bergaris tebal di dalamnya sekali lagi.
Tulisan di kertas itu berisi coretan rumor mengenai kepindahan ayah Helga dan status pernikahan barunya di Jakarta, lengkap dengan nomor telepon seseorang yang mengaku sebagai saksi kunci keributan di garasi rel kereta api kemarin malam.
Regina mengambil korek api kayu kecil dari dalam laci meja belajarnya—korek yang biasa dipakai untuk menyalakan lilin aromaterapi.
Srettt... Ptuk!
Nyala api kecil berkobar di ujung batang korek.
Regina menyulutkan api itu ke ujung amplop biru pucat di atas asbak kaca meja belajarnya.
Kertas itu terbakar perlahan, bergulung hitam menjadi abu.
Suara kerisik kertas terbakar—Krik, krik—memenuhi sudut meja belajarnya hingga api padam sepenuhnya meninggalkan asap tipis beraroma kayu terbakar.
Regina meraih ponselnya.
Jemarinya menari di atas layar sentuh, membuka aplikasi SMS dan mengetik sebuah pesan pendek untuk nomor Helga.
Pesan untuk Helga:
"Besok Sabtu jam 12 siang Mama masak soto ayam di rumah. Elo wajib mampir makan siang. Gak terima alasan shift kerja, gua udah nanya ke Pak Yudi kafe elo libur besok."
Ia menatap pesan itu selama beberapa detik, lalu menekan tombol kirim.
Layar ponselnya meredup.
Di luar sana, suara sirene ambulans jauh terdengar melintas di jalan raya utama, membahana pelan menembus sunyinya malam kota Bandung.
Regina mematikan lampu meja belajarnya, membiarkan kamarnya kembali diselimuti kegelapan dan bayangan tipis cahaya bulan dari balik gorden jendela.
Sementara itu, pada pukul 19.10 WIB di lorong koridor lantai dua RSUD Kota.
Bau obat antiseptik dan cairan pembersih lantai menyengat kuat di udara.
Lampu neon putih memancarkan cahaya dingin yang memantul di atas lantai keramik mengkilap.
Helga duduk sendirian di atas kursi besi panjang di luar ruang perawatan VIP Catelya.
Di pangkuannya, terdapat satu kantong plastik putih berisi empat botol obat cairan dan dua strip pil antibiotik yang baru saja ditebusnya dari apotek lantai dasar.
Uang kasbon lima ratus ribu rupiah dari Pak Yudi kini tersisa dua lembar puluhan ribu yang kumal di saku jaketnya.
Ponsel di saku celananya bergetar sekali.
Bzzzt!
Helga mengeluarkan ponselnya.
Ia membaca pesan SMS dari Regina yang baru saja masuk.
Raut wajahnya tidak berubah, tetap datar dan tenang.
Namun, ibu jarinya menahan tombol layar ponsel sedikit lebih lama dari biasanya, membuat cahaya layar ponsel menyinari separuh wajahnya yang lelah di tengah remang koridor rumah sakit.
Cklek.
Pintu kamar perawatan di depannya terbuka.
Seorang dokter wanita paruh baya berkacamata melangkah keluar membawa papan klip catatan medis.
"Keluarga Ibu Barisma?" panggil dokter itu pelan.
Helga berdiri dari kursi besi.
Plastik obat di tangannya bergemerisik.
Krik.
"Saya anaknya, Dok," sahut Helga netral.
Dokter itu menatap Helga dengan pandangan prihatin yang tertahan.
"Bisa bicara sebentar di ruangan saya? Ada hasil laboratorium terbaru mengenai kondisi ginjal ibu kamu yang harus kita bahas malam ini."
Helga memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jaket tanpa sempat membalas SMS dari Regina.
"Bisa, Dok," jawab Helga pendek.
Ia melangkah mengikuti dokter tersebut menyusuri lorong rumah sakit yang sepi.
Saat Helga melangkah masuk ke dalam ruangan dokter pukul 19.18 WIB, seorang pria paruh baya berkemeja rapi dan berjaket kulit hitam tampak sedang duduk menunggunya di dalam ruangan—pria yang wajahnya sangat mirip dengan foto yang dicoret spidol hitam di balik kertas resep obatnya.